Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 81

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 81

"Aku akan berbicara baik-baik dengan mereka, nanti aku perdaya hingga mereka mau pulang ke kampung halaman mereka," ujarnya.

"Biarlah di sana mereka menanti hingga putus asa?"

Lantas ia tertawa terbahak-bahak.

Kembali bangkit hawa amarah Kwee Ceng, hingga ia mengayunkan sebelah tangannya ke daun jendela dan mulutnya pun hendak terbuka.

"Jangan turuti adat!" demikian bisikan yang ia dengar di telinganya, dibarengi dengan sebuah tangan halus yang menutup mulutnya, sementara tangan yang lain menarik lengannya.

Betapa merdu bisikan itu. Cuma sejenak, pemuda ini insaf akan kekeliruannya, maka ia menoleh kepada si nona manis di sisinya dan tersenyum.

Karena itulah Oey Yong mencegahnya.

Kemudian ia mengintai pula ke dalam kamar.

"Tua bangka she Bok itu sangat licin," terdengar suara Wanyen Kang.

"Telah aku bujuk dia, tetapi dia tak mau makan umpan. Maka biarlah dia ditahan lagi beberapa hari untuk melihat apakah akhirnya dia mau menurut atau tidak."

"Aku lihat nona itu bagus paras dan gerak-geriknya, aku suka dia," ujar sang nyonya. "Aku pikir hendak berbicara dengan ayahmu agar kau diizinkan menikah dengannya. Bukankah dengan begitu selesai sudah semuanya?"

"Ah, Mama, ada-ada saja!" ujar sang putra sambil tertawa. "Kita dari keluarga apa? Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang nona kangouw? Ayah sering bilang padaku bahwa ia hendak mencarikan jodoh dari keluarga agung. Sayangnya, Ayah bersaudara dengan raja yang sekarang."

"Apakah yang membuatmu merasa sayang?" nyonya itu bertanya.

"Sebab," sahut sang putra, "kalau tidak, pasti aku akan mendapatkan putri raja dan menjadi menantu raja!"

Nyonya itu menghela napas, ia tak bicara lagi.

"Ma, ada satu lagi hal yang lucu," Wanyen Kang berkata pula, tak ketinggalan tawanya. "Tua bangka she Bok itu bilang ingin bertemu denganmu, ingin ia bicara sendiri untuk mendapat kepastian, setelah itu barulah ia mau mempercayai aku."

"Tidak, nanti aku bantu kau memperdaya orang, itulah perbuatan yang tidak baik!" sahut si ibu.

Wanyen Kang tertawa geli, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Oey Yong dan Kwee Ceng mendapat kesempatan memperhatikan kamar itu. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu kasar. Pembaringan serta perlengkapannya mirip dengan kepunyaan kebanyakan petani di Kanglam; semuanya kasar dan jelek. Di tembok tergantung tombak serta sebuah pacul. Di pojokan ada sebuah mesin tenun.

Maka, menyaksikan semua itu, mereka menjadi heran. "Wanita ini mulia sebagai selir, mengapa ia tinggal dalam kamar dengan perlengkapan semacam ini?" pikir mereka.

Tiba-tiba Wanyen Kang menekan dada dan sakunya, lalu terdengar dua kali pekikan perlahan.

"Eh, apakah itu?" sang ibu bertanya.

"Oh, hampir aku lupa!" sahut putranya, agaknya ia terperanjat. "Tadi di tengah perjalanan pulang aku melihat seekor kelinci yang terluka, aku bawa dia pulang. Mama, coba kau tolong obati dia."

Ia lantas mengeluarkan kelinci putih itu dan meletakkannya di atas meja. Karena kakinya patah, binatang itu tidak dapat berjalan.

"Anak yang baik!" kata si nyonya. Ia lantas mencari obat untuk mengobati kelinci itu.

Lagi-lagi darah Kwee Ceng bergolak. Ia sungguh membenci kelicinan dan kekejaman itu, terutama karena digunakan untuk memperdaya seorang ibu yang hatinya demikian mulia. Tidakkah binatang yang harus dikasihani itu sengaja disakiti? Bukankah sang ibu telah didustai untuk mengobati binatang yang sengaja disiksa? Kalau terhadap ibu sendiri saja ia mendusta demikian, maka bisa diketahui buruknya sifat anak itu.

Oey Yong yang tubuhnya menempel dengan tubuh si pemuda merasakan tubuh orang di sampingnya gemetar. Ia menginsafi bahwa orang itu sedang sangat gusar. Tentu saja ia khawatir kawannya ini meluapkan hawa amarahnya hingga Wanyen Kang memergoki mereka. Ia lantas memegang tangan si pemuda, lalu menariknya untuk diajak mengundurkan diri.

"Jangan pedulikan dia, mari kita pergi mencari obat," bisiknya.

"Tahukah kamu obat itu disimpan di mana?" tanya Kwee Ceng.

Nona itu menggeleng. "Aku tidak tahu," sahutnya.

"Mari kita cari." Kwee Ceng bimbang. Di mana mesti mencari obat di istana yang demikian besar? Bukankah berbahaya kalau mereka kepergok See Thong Thian atau lainnya? Namun, ia tidak sempat berpikir lama.

Pikirannya berhenti secara tiba-tiba karena telinganya mendengar orang mengoceh seorang diri dan di depan matanya berkelebat sinar api.

"Anak yang manis, kalau kau tidak mencintai aku, kau mencintai siapa lagi? Maka, kau kasihanilah aku." Sembari memperdengarkan suaranya yang berlagu, terlihatlah seseorang berjalan dengan perlahan. Ia mencekal sebuah tenglong.

Selagi Kwee Ceng hendak menyembunyikan diri di balik pohon, Oey Yong justru maju menyongsong orang itu hingga ia tercengang, lalu diam bagai patung dengan hati yang terguncang hebat. Oey Yong telah mengancamnya dengan sebatang pisau belati.

"Siapa kau?" tanya si nona dengan membentak, namun suaranya pelan.

Orang itu kaget dan ketakutan. Selang beberapa detik baru ia dapat menyahut dengan suara terbata-bata. Ia adalah pengurus surat-surat di istana itu.

"Kau menjadi pengurus, bagus!" kata si nona. "Di mana disimpan obat-obatan yang hari ini pangeran mudamu perintahkan untuk dibeli?"

"Semua itu Siauw-ongya yang simpan sendiri, aku... aku tidak tahu."

Oey Yong mencekal tangan orang itu dengan tangan kirinya untuk menekan, sementara ujung pisaunya ditempelkan pada kulit leher. Orang itu kesakitan, akan tetapi ia tidak berani berteriak.

"Kau hendak bicara atau tidak!" si nona mengancam.

"Benar-benar aku tidak tahu," jawab orang itu dengan gugup.

Oey Yong mengerahkan tenaga di tangan kirinya, lalu dengan suara membeletak, patahlah tangan kanan si pengurus itu. Ia membuka mulut untuk berteriak, tetapi dengan cepat si nona menyambar kopiah orang itu untuk menyumbat mulutnya. Maka hanya sekali saja ia mengeluarkan suara keras tertahan, lalu roboh pingsan.

Kwee Ceng tidak menyangka seorang nona yang demikian cantik dan halus gerak-geriknya dapat berbuat demikian telengas; ia tercengang dan tak dapat berkata apa-apa.

Oey Yong menotok dua kali ke arah iga pengurus istana itu agar ia sadar. Ia menarik kopiah tadi untuk disumbatkan kembali ke mulutnya. "Apakah kau ingin tangan kirimu pun dipatahkan?" tanyanya.

Pengurus itu lantas menangis dan menjatuhkan diri berlutut. "Dengan sebenarnya aku tidak tahu, percuma kalau nona membunuh aku," katanya.

Sekarang Oey Yong mempercayainya, tetapi ia berkata, "Sekarang pergi kau kepada pangeranmu itu, bilang bahwa kau jatuh dan patah tangan. Katakan bahwa tabib bilang kau perlu obat hiat-kat, gu-cit, thim-tha, dan bu-yok. Obat itu semua tak dapat dibeli di kota raja ini, maka kau mintalah kepada pangeran itu."

Pengurus itu telah membuktikan bahwa si nona tidak main-main, ia pun menurut.

"Siauw-ongya ada pada ibunya, lekas-lekas kau pergi padanya!" perintah Oey Yong. "Aku akan mengikutimu. Jika kau tidak mendengar perkataanku dan sengaja membuka rahasia, akan aku patahkan batang lehermu, akan aku kerek matamu!"

Tubuh orang itu gemetar, ia merayap bangun, lalu dengan menggertakkan gigi menahan sakit, ia lari ke arah kamar Onghui, si selir.

Wanyen Kang masih ada pada ibunya, mereka masih bercakap-cakap. Ia heran ketika melihat datangnya pengurus itu yang bermandikan peluh dan air mata, dengan setengah menangis ia memohon diberi obat. Ia mengaku seperti yang diajarkan Oey Yong.

"Kasihlah dia obat!" kata Onghui yang hatinya lemah. Ia melihat muka orang itu pucat pasi dan merasa kasihan.

Wanyen Kang mengernyitkan alisnya. "Semua obat itu ada pada Nio Losianseng," katanya. "Pergi kau ambil sendiri!"

"Tolong Ongya memberikan sehelai surat," pengurus itu meminta.

Onghui lantas menyediakan perabot tulis. Wanyen Kang menulis beberapa kata untuk si Nio Losianseng, yakni Io Cu Ong. Pengurus itu mengangguk-angguk mengucapkan terima kasih.

"Lekas kau pergi!" perintah Onghui. "Sebentar sesudah sembuh baru kau haturkan terima kasihmu!"

Pengurus itu lantas bertindak keluar. Ia baru berjalan beberapa langkah saat pisau belati sudah terasa di pundaknya.

"Pergi kepada Nio Losianseng!" perintah Oey Yong setengah berbisik.

Orang itu berjalan, baru beberapa puluh langkah, ia sudah terhuyung, rupanya tak sanggup menahan rasa sakit.

"Sebelum kau dapatkan obat itu, jangan harap jiwamu selamat!" si nona mengancam lagi.

Kaget hamba itu, ia mengeluarkan keringat dingin. Entah dari mana datangnya tenaga, ia dapat berjalan terus. Sekarang ia berjalan dengan menemui beberapa hamba lainnya; mereka heran melihat ia diikuti oleh si nona dan pemuda itu, tetapi tidak ada di antara mereka yang bertanya apa-apa.

Setibanya di kamar Nio Cu Ong, pintu kamar tertutup dan terkunci. Pengurus itu bertanya kepada seorang hamba dan mendapat jawaban bahwa Nio Losianseng sedang menghadiri perjamuan pangeran di ruang Hoa Cui Kok.

Kwee Ceng merasa kasihan melihat orang itu seperti tidak kuat berjalan, ia lantas mencekal tubuh orang tersebut untuk dipapah. Bersama-sama mereka menuju ke tempat pesta itu.

"Berhenti! Siapa kamu!" Itulah teguran dari dua orang yang menyongsong beberapa langkah dari Hoa Cui Kok. Mereka masing-masing memegang golok dan cambuk.

"Aku hendak menemui Nio Losianseng," sahut si pengurus sambil memperlihatkan surat Siauw-ongya.

Ia lantas dibiarkan lewat. Ketika Kwee Ceng dan si nona ditanya, pengurus itu mendahului menerangkan, "Mereka kawan kita."

Oey Yong berlaku tenang. Ia mengenali dua orang itu, yakni dua dari keempat Hong Ho Su Koay, yaitu Sim Ceng Kong dan Ma Ceng Hiong. Mereka sebaliknya tidak mengenali orang yang telah berdandan sebagai seorang nona. Hanya melihat Kwee Ceng, mereka tercengang dan hendak mengangkat tangan. Tapi sejenak itu, mereka tidak dapat menyerang dengan golok dan cambuk mereka. Tiba-tiba saja iga mereka kaku karena dengan kecepatan yang luar biasa, Oey Yong telah menotok mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment