Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 70

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 70

Tiba-tiba ia ingat bahwa ia tidak bermusuhan dengan si kongcu, ia lantas menggeser incarannya ke posisi semula. Di luar dugaannya, si kongcu yang menangkis dengan tangan kiri segera membalas serangan dengan tangan kanan ke arah pinggangnya sebanyak tiga kali berturut-turut. Kwee Ceng berkelit dengan menggeser pinggangnya, lalu ia membalas. Namun, si kongcu memanfaatkan kesempatan itu untuk memegang tangan kanan Kwee Ceng, menariknya dengan kaget, dan secara bersamaan menendang paha pemuda itu.

Tidak ampun lagi, pemuda itu terguling jatuh. Bok Ek menonton dari bawah benderanya sementara lukanya telah dibalut rapi oleh putrinya. Melihat Kwee Ceng roboh tiga kali, ia lantas maju untuk membantunya bangun. Ia tahu sekarang bahwa pemuda itu bukan lawan si kongcu yang jauh lebih unggul. Ia pun berkata, "Lao-tee, mari kita pergi, jangan layani manusia hina ini!"

Kwee Ceng bangkit dengan mata kabur dan kepala pening. Ia merasa sangat gusar, sehingga setelah dibantu berdiri, ia melepaskan diri dari tangan Bok Ek dan maju kembali untuk menyerang. "Eh, kau masih belum takluk?" ujar si kongcu seraya mundur. Kwee Ceng tidak menyahut, ia hanya terus merangsak. "Jikalau kau tetap menggangguku, jangan salahkan aku jika berlaku kejam!" ancam kongcu itu.

"Kembalikan sepatu orang itu!" bentak Kwee Ceng. "Kalau tidak, aku tidak mau tahu!" Kongcu itu tertawa melihat lawan yang berkukuh namun bertingkah konyol. "Bukankah nona itu bukan adikmu?" ia bertanya. "Kenapa kau seperti hendak mengadu nyawa memaksa aku menjadi toakomu?"

"Kurang ajar!" maki Kwee Ceng. "Aku tidak kenal dia, siapa bilang dia adikku!" Ia gusar karena kongcu itu mengejeknya sebagai toaku, atau ipar. Itulah cacian di antara orang Pakhia, tetapi Kwee Ceng tidak memahaminya, ia hanya merasa sangat dongkol. Karena dicaci begitu, ia ditertawakan oleh pengikut si kongcu. Si kongcu sendiri merasa lucu sembari mendengus. "Tolol, awas!" serunya seraya menyerang.

Kwee Ceng melawan, sehingga perkelahian berlanjut kembali. Kali ini pemuda itu berlaku waspada dan tidak lagi mudah dipancing. Ia kalah cerdik tetapi bersemangat, sehingga si kongcu pun mulai kewalahan. Pertempuran seru itu ditonton oleh semakin banyak orang. Bok Ek mulai merasa tidak enak hati; ia tahu jika polisi datang, ia bisa mendapat masalah. Ia juga khawatir karena di antara kerumunan orang, tampak beberapa individu bermata tajam dengan raut muka luar biasa, bahkan ada yang membawa senjata. Di antara mereka, ada pula yang membicarakan silat kedua anak muda itu dan bertaruh siapa yang akan menang.

Bok Ek perlahan menggeser posisinya ke dekat para pengiring si kongcu. Ia melihat tiga orang yang menarik perhatian. Yang pertama adalah pendeta Tibet bertubuh besar dengan kopiah berlapis emas dan jubah merah yang mencolok. Ia berdiri tegak hingga melebihi tinggi semua orang. Orang kedua sudah lanjut usia dengan rambut putih bersih, namun mukanya bercahaya segar dan tanpa keriput. Karena wajahnya yang luar biasa, usianya sulit ditebak. Orang ketiga bertubuh pendek, nampak sangat gesit, mukanya bersinar merah, dan matanya mencorong tajam.

Melihat mereka, Bok Ek terkejut. "Leng Tie Siangjin," kata salah satu pengiring, "Baik kau maju dan hajar bocah itu. Kalau mereka bertempur terus dan siauw-ongya salah tangan hingga terluka, hilanglah jiwa kami semua!" Pendeta Tibet itu hanya tersenyum tanpa menjawab. Si rambut putih tertawa, "Paling kakimu yang dikemplang patah! Mustahil ongya hendak menghendaki jiwamu."

Bok Ek terperanjat mendengar sebutan siauw-ongya dan ongya (pangeran muda dan pangeran). Jika begitu, bencana besar akan terjadi jika si pangeran terluka. "Jangan takut!" sahut si orang kerdil dengan suara nyaring yang mengejutkan orang-orang di sekitarnya. "Siauw-ongya lebih lihai daripada lawannya!" Si rambut putih tertawa lagi, "Siauw-ongya telah belajar ilmu silat belasan tahun, sayang jika tidak dipertontonkan di muka orang banyak. Dia tentu tidak senang ada orang yang membantunya."

"Eh, Saudara Nio, coba bilang," tanya si orang kerdil dengan suara pelan, "Ilmu silat siauw-ongya itu dari partai mana?" Si rambut putih tertawa, "Jika mataku tidak salah, itulah ilmu silat dari kaum agama Coan Cin Kauw." "Sungguh aneh!" kata si kerdil. "Bukankah kaum Coan Cin Kauw itu bangsa aneh? Kenapa mereka justru mewariskan kepandaiannya pada siauw-ongya?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment