Chapter 89
"Ma, aku hendak bicara denganmu," katanya.
"Besok saja," sahut sang ibu.
"Sekarang aku lelah sekali." Mendapati ibunya tidak hendak membuka pintu, pangeran ini menjadi semakin curiga.
"Aku hendak bicara sebentar saja, setelah itu aku pergi," ia berkata lagi.
Tiat Sim menduga orang bakal masuk ke dalam. Ia melepaskan Sek Yok dan bergegas ke jendela dengan niat melompat keluar, tetapi ketika ia mendorongnya, jendela itu keras. Rupanya ada orang yang menahannya dari sebelah luar.
Pauw Sek Yok segera menunjuk ke lemari, maksudnya menyarankan suaminya itu masuk ke dalamnya untuk bersembunyi.
Tiat Sim menurut. Ia memang tidak rela meninggalkan istrinya itu. Ia lantas bertindak ke lemari yang ditunjuk itu untuk menjambret pintunya agar terbuka.
Begitu pintu lemari terpentang, tiga orang menjadi terkejut sekali. Di dalam lemari itu tampak Kwee Ceng. Melihat siapa orang itu, ia menjadi gugup hingga mengeluarkan jeritan tertahan.
Wanyen Kang khawatir mendengar jeritan ibunya; ia takut ibunya diganggu orang jahat. Dengan pundaknya, ia segera menabrak pintu kamar itu hingga daun pintunya terjeblak terbuka. Sebelum orang menerobos masuk, Kwee Ceng menarik Tiat Sim ke dalam lemari, yang pintunya segera ia tutup pula.
Wanyen Kang mendapati ibunya bermuka pucat dan bermandikan air mata. Di dalam kamar itu tidak ada orang lain. Ia menjadi curiga sekali.
"Ma, apa yang terjadi?" tanyanya.
"Tidak apa-apa," sahut sang ibu sambil menenangkan diri.
"Hatiku tidak tenteram." Putra itu menghampiri ibunya dan menyandarkan diri. "Ma, aku tidak akan main gila lagi," katanya. "Aku minta supaya kau jangan bersusah hati. Dasarlah anakmu yang buruk ini."
"Nah, pergilah," kata ibu itu. "Aku mau tidur."
"Ma, apakah tidak ada orang masuk ke mari?" putra itu bertanya lagi.
"Siapakah dia?" tanya ibunya, hatinya berdenyut.
"Orang jahat telah menyusup masuk ke dalam istana," Wanyen Kang memberitahu.
"Begitu?" tanya ibunya. "Sekarang lekas kau pergi tidur. Urusan itu jangan kau campuri!"
Wanyen Kang tertawa. "Tentara pengawal semuanya kantong nasi! Ma, baiklah, tidurlah!"
Putra ini memberi ucapan selamat malam, tapi saat ia hendak mengundurkan diri, ia melihat ujung baju di sela-sela lemari, maka kembali timbul kecurigaannya. Ia batal pergi dan mengambil tempat duduk. Ia menuang teh ke dalam cangkir untuk diminum dengan perlahan-lahan. Sembari minum, pikirannya bekerja, "Di dalam lemari itu ada seseorang bersembunyi, entah ibu mengetahuinya atau tidak."
Ia menghirup teh beberapa kali, baru kemudian bangkit dan bertindak perlahan-lahan. "Ma," katanya, "Bagaimana tadi permainan tombakku? Bagus atau tidak?"
"Lain kali aku larang kau menghina orang karena mengandalkan pengaruhmu," sahut sang ibu.
"Siapa mengandalkan pengaruh, Ma?" sahut si anak. "Aku bertempur dengan anak tolol itu dengan mengandalkan kepandaianku."
Ia telah sampai di tembok, tangannya mengulur ke arah tombak. Begitu cekatan ia mencekal senjata itu—yang ia lakukan dengan luar biasa cepat—dan mendadak ia menikam ke arah lemari. Itulah gerakan "burung hong terbang, ular naga melayang".
Pauw Sek Yok melihat itu, ia kaget bukan main hingga roboh pingsan. Namun, Wanyen Kang telah menahan gerakan tangannya, batal ia menikam lemari saat ujung tombak hampir mengenai daun pintu. Ia melihat ibunya roboh.
"Ah, ibu tahu di dalam lemari ini ada orang?" pikirnya.
Ia menyandarkan tombaknya untuk membangunkan ibunya. Sambil berbuat begitu, ia tetap mengawasi lemari. Sek Yok sadar perlahan-lahan; saat ia mendapati lemari tidak kurang satu apa pun, hatinya menjadi lega. Hanya saja, karena kaget, tubuhnya menjadi lemah sekali. Wanyen Kang menyaksikan kelakuan ibunya.
"Ma," katanya keras, "Aku ini anak kandungmu atau bukan?"
"Tentu saja," sahut ibunya. "Kenapa kau bertanya begini?"
"Kalau begitu, kenapa ada sesuatu yang disembunyikan dariku?" si anak bertanya lagi.
Hati Pauw Sek Yok terguncang hebat. Ia berpikir, "Kejadian ini mesti dijelaskan kepada anak ini. Biarlah mereka, ayah dan anak, bertemu, setelah itu barulah aku mencari jalan pintas. Aku telah kehilangan kehormatanku; inilah kesalahan besar yang tidak dapat diperbaiki lagi, maka di dunia ini aku tidak bisa hidup bersama Tiat Sim."
Karena memikirkan hal itu, air matanya bercucuran deras. Wanyen Kang mengawasi ibunya, ia heran dan curiga.
"Kau duduklah baik-baik, dengarkan aku bicara," kata sang ibu kemudian.
Putra itu menurut, ia duduk, tetapi tombaknya masih dipegang.
"Apakah kau sudah melihat ukiran empat huruf di gagang tombak itu?" tanya Pauw Sek Yok.
"Sedari kecil telah aku menanyakannya," jawab anak itu. "Tetapi Ibu tidak hendak menjelaskan siapa Yo Tiat Sim itu."
"Sekarang aku akan menerangkannya kepadamu," kata ibu itu.
Tiat Sim dalam lemari mendengar nyata pembicaraan antara ibu dan anak itu. Hatinya terguncang hebat. Ia berpikir, "Sekarang dia telah menjadi seorang pangeran, mana mungkin dia mau mengikuti aku seorang rakyat kasar? Dia hendak membuka rahasia, mungkinkah dia hendak menyuruh anaknya mencelakaiku?"
Ia lantas mendengar perkataan Pauw Sek Yok, "Tombak ini tadinya berada di Dusun Gu-kee-cun di Kota Lim-an, ibu kota Kerajaan Song di Kanglam. Aku sengaja menitahkan orang melakukan perjalanan jauh ribuan li untuk mengambilnya. Senjata di tembok dan semua perabotan dalam ruangan ini, seperti meja, bangku, lemari, dan pembaringan, tidak ada satu pun yang bukan dibawanya dari Lim-an."
"Sampai sejauh itu aku tidak mengerti," kata Wanyen Kang. "Kenapa Mama suka sekali tinggal di rumah bobrok ini? Anakmu membawakan perabot rumah tangga yang baru, tetapi semua itu Ibu tolak."
"Kau menyebut rumah ini bobrok?" tanya sang ibu. "Aku justru merasa ini jauh lebih bagus dibandingkan istana yang indah, yang segalanya serba dilukis, diukir, dan berperabot mentereng! Anak, kau tidak beruntung, kau tidak dapat tinggal di rumah bobrok ini bersama-sama dengan ayah dan ibu kandungmu sendiri."
Jantung Tiat Sim berdenyut; pedih ia merasa. Wanyen Kang tertawa.
"Ma, makin lama kau bicara, makin aneh!" katanya. "Mana bisa ayah tinggal di sini?"
Sek Yok menghela napas. "Kasihan ayahmu itu, selama delapan belas tahun dia berkelana di dunia kangouw. Oleh karena itu, mana bisa dia berdiam dengan tenang dan tenteram di rumah ini?"
Putra itu heran hingga ia mengawasi dengan mata terbuka lebar. "Ma, apakah maksud perkataanmu?" tanyanya saking heran.
"Tahukah kau siapa ayahmu yang sebenarnya?" Sek Yok bertanya dengan suara keras.
"Ayahku adalah adik Sri Baginda, dialah Pangeran Chao Wang," sahut Wanyen Kang. "Kenapa Mama bertanya begitu?"
Ibu itu bangkit, ia memeluk tombak besi itu, lantas air matanya turun dengan deras. "Kau tidak tahu, Anak, itulah tidak heran," katanya sesenggukan. "Kau tidak dapat disesalkan. Tombak ini—inilah senjata ayahmu yang sejati!"
Ia lantas menunjuk pada ukiran empat huruf di gagang tombak. "Ini barulah namanya ayahmu itu!"
Tubuh sang putra gemetar. "Ma, pikiranmu kacau," katanya. "Nanti aku pergi memanggil tabib."
"Aku kacau kenapa?" Ibu itu berseru. "Apakah kau menyangka kau adalah orang bangsa Kim? Kau adalah orang Han! Kau bukannya bernama Wanyen Kang, tetapi nama kau ialah Yo Kang!"
Mendengar disebutnya nama Yo Kang itu, Kwee Ceng segera teringat satu nama yang ia rasa kenal baik. Ia hanya lupa di mana ia pernah mendengar itu. Kemudian ia ingat, sewaktu masih kecil, di sana ada sebuah pisau belati yang gagangnya berukiran dua huruf "Yo Kang". Pisau itu pernah dipakai menikam mati Tan Hian Hong si Mayat Perunggu, lalu lenyap entah ke mana.
Wanyen Kang heran bukan kepalang. Ia lantas memutar tubuhnya. "Nanti aku minta Ayah datang ke mari!" katanya.
"Ayahmu ada di sini!" ujar Sek Yok.
Lantas ia bertindak cepat ke arah lemari untuk membuka pintunya. Sesudah itu, ia memegang tangan Yo Tiat Sim untuk ditarik keluar.
"Oh, kiranya kau!" seru pangeran itu yang mendadak saja menikam ke arah tenggorokan lawan.
Tiat Sim berkelit, sedangkan Sek Yok menjerit, "Inilah ayahmu! Apakah kau masih tidak percaya?"
Lantas ia membenturkan kepalanya ke tembok hingga tubuhnya roboh ke lantai. Wanyen Kang kaget, ia memutar tubuhnya untuk melihat ibunya yang kepalanya mandi darah dan napasnya kembang kempis. Saking tergugu, ia berdiri mematung.
Tiat Sim menerjang istrinya, lalu memeluk dan mengangkatnya untuk dibawa lari keluar dari rumah itu.
"Lepaskan!" teriak Wanyen Kang yang kaget sekali. Ia masih sadar, maka sambil melompat dengan gerakan "Seekor belibis keluar dari rombongannya", ia menyerang punggung Yo Tiat Sim.