Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 04

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 04

Siauw Thian menghampiri mayat pemimpin untuk memeriksa sakunya. Ia menemukan sepotong surat titah dari Tio Tayjin, residen Lim-an, yang bisa "menggonggong" seperti anjing. Surat itu adalah titah rahasia untuk membekuk pembunuh Ong To Kian, yang merupakan hasil kerja sama dengan pihak bangsa Kim karena si residen telah didesak oleh utusan negara Kim.

Mengetahui hal itu, orang she Kwee menjadi sangat marah. Sementara itu, Tiat Sim mendengarkan seruan dan menyekal beberapa potong yauw-pay yang ditemukannya dari beberapa mayat. Yauw-pay itu adalah tanda kedudukan atau pangkat mayat-mayat itu, karena huruf-huruf yang ditemukan adalah huruf bahasa Kim, yang menunjukkan bahwa di antara orang-orang residen Liman itu ada orang bangsa Kim.

"Celaka betul!" teriak Siauw Thian dalam kemarahannya. "Tentara Kim main bunuh orang di wilayah kita, sekarang pembesar kita boleh disuruh-suruh dan diperintah olehnya. Negara kita ini menjadi negara apa?" Khu Cie Kee sebaliknya tertawa.

"Sebenarnya, orang suci seperti aku mestinya berlaku murah hati dan berbelas kasihan," katanya, "Akan tetapi menyaksikan kebusukan segala pembesar dan orang-orang jahat, tak dapat aku memberi ampun pula!" "Memang, memang mesti begitu!" seru dua saudara angkat she Kwee dan she Yo itu.

"Begini barulah puas!" Kemudian Tiat Sim mengambil pacul dan sekop untuk menggali laing, guna memendam belasan mayat itu. Dalam hal ini, ia tidak khawatir ada orang yang melihat kejadian ini, karena desa itu sedikit penduduknya dan itu waktu lagi turun salju dengan lebatnya, tak ada orang yang sudi berkeliaran di luar.

Setelah itu, nyonya rumah menyapu sisa darah di atas salju. Nyonya ini rupanya tak dapat menahan bau bacin dari darah, ia rupanya bekerja keras, tiba-tiba saja ia merasai kepalanya pusing, matanya kabur, lalu ia rubuh. Tiat Sim terkejut, ia menubruk istrinya untuk diangkat bangun.

"Kau kenapa?" tanya suaminya beberapa kali. Pauw-sie berdiam, kedua matanya tertutup rapat, mukanya pucat pias, kaki tangannya dingin seperti es. Tentu saja suaminya itu menjadi kaget dan berkhawatir.

Cie Kee memegang nadi si nyonyi, lantas ia tertawa. "Kionghie! Kionghie!" ia memberi selamat. "Apa, Totiang?" tanya Tiat Sim heran. Justru itu Pauw-sie menjerit, ia sadarkan diri.

Mulanya ia heran di kerumuni tiga orang, habis itu ia likat, ia lari ke dalam. "Istrimu lagi hamil!" kata Cie Kee kemudian. "Benarkah itu, Totiang?" Tiat Sim tegaskan. "Tidak salah!" si imam pastikan.

"Banyak ilmu yang pinto yakinkan, tiga yang memuaskan hatiku, ialah pertama ilmu tabib, kedua syair, dan ketiga ialah ilmu silat kucing kaki tiga?" Dengan kata-kata "kucing tiga kaki" atau tidak ada artinya, imam ini merendahkan diri.

"Totiang begini lihay tetapi totiang menyebutkan kepandaianmu sendiri sebagai kucing kaki tiga, kalau begitu kepandaian kami berdua pastilah kepastiannya si tikus berkaki tunggal!" katanya. Cie Kee tersenyum, begitu pula dengan Tiat Sim.

Kemudian mereka bertiga masuk pula ke dalam untuk lanjut minum arak. Dua saudara angkat itu sangat kagumi tetamu mereka, yang bertempur hebat tetapi tubuhnya tak berkeciprukan darah. Tiat Sim minum dengan gembira sekali.

Ia ingat akan hamilnya istrinya. "Kwee Toako," katanya kemudian. "Enso pun lagi berisi, maka aku pikir baiklah kita minta totiang yang memberi nama kepada anak-anak kita nanti!" Siauw Thian berikan kesetujuannya atas saran itu.

Cie Kee pun tidak menampik, ia berpikir sebentar lantas ia bilang: "Anak Kwee Toako baik diberi nama Ceng, yaitu Kwee Ceng, dan anak Yo Toako diberinama Kong, yaitu Yo Kong. Nama-nama ini dapat juga diberikan sekalianpun untuk anak perempuan."

"Bagus!" seru Siauw Thian. "Aku mengerti, totiang tentu tidak melupai peristiwa Ceng-kong yang memalukan, untuk memperingati ditawannya kedua raja kita." "Benar begitu!" sang imam mengakui.

Terus ia merogoh sakunya, untuk mengeluarkan dua potong pedang pendek, yang ia letakkan di atas meja. Pedang itu sama panjang pendeknya dan besar kecilnya, sarungnya dari kulit hijau, gagangnya dari kayu hitam.

Kemudian ia ambil pisaunya Tiat Sim, untuk dipakai mengukir gagang kedua pedang pendek itu. Ia mengukir masing-masing dua huruf "Kwee Ceng" dan "Yo Kong". Dua-duanya Siauw Thian dan Tiat Sim kagum menyaksikan kepandaiannya si imam mengukir huruf-huruf itu, cepat dan indah hurufnya.

"Diwaktu berkelana seperti ini aku tidak punya barang apa-apa, pedang pendek ini saja aku berikan sebagai tanda mata untuk anak-anak kedua toako nanti!" kata si imam. Dua saudara angkat itu terima bingkisan itu, keduanya mengucapkan terima kasih.

Tiat Sim mencoba menghunus pedangnya, ia menjadi kagum. Pedang itu berkilau dan memberikan hawa dingin. Demikian pun pedangnya Siauw Thian. Jadinya kedua pedang itu bukan sembarang pedang, meskipun badan pedang ada tipis sekali.

Cie Kee pegang pedang yang satu, ia adu itu dengan pisau belatinya, dengan memberikan satu suara, ujungnya pisau belati itu putus menjadi dua potong. Siauw Thian dan Tiat Sim berdua menjadi terkejut.

"Totiang, tak berani kami menerima hadiah ini!" kata mereka. Sebab kedua pedang itu adalah semacam pedang mustika. Tiang Cun Cinjin tertawa.

"Dua pedang ini pinto dapatkan secara kebetulan saja, walaupun benar untuk itu pinto mesti keluarkan sedikit tenaga," ia berkata. "Untukku, senjata ini tidak ada perlunya, sebaliknya adalah besar faedahnya apabila dibelakang hari anak-anak itu pakai untuk membela negeri, guna melabrak musuh!"

Dua saudara angkat itu masih mencoba menampik hingga mereka membangkitkan amarahnya si imam itu. "Aku anggap kamu adalah turunan orang-orang kenamaan, maka itu aku hargakan kamu, kenapa sekarang kamu begini tidak bersemangat?" ia menegur.

Baharu sekarang Siauw Thian dan Tiat Sim tidak menolak lagi, mereka lantas menghanturkan terima kasih. Cie Kee berkata pula, dengan sungguh-sungguh: "Kedua pedang ini adalah benda usia beberapa ratus tahun tua, setahu sudah berapa banyak orang terbunuh dan berapa banyak darah telah dihirupnya, maka mengertilah kamu, siapa saja yang mengerti ilmu silat melihat ini lantas matanya menjadi merah!

Kamu pun mesti menginsafinya, seorang bocah yang ilmu silatnya tidak sempurna dengan menggunai pedang ini, dia Cuma dapat memperbahayakan dirinya sendiri, dari itu kamu mesti berhati-hati! Kamu ingatlah baik-baik!" Siauw Thian dan Tiat Sim berdua saling mengawasi, hati mereka tidak tentram.

Khu Cie Kee tertawa panjang. "Sepuluh tahun sejak ini, apabila pinto masih ada di dalam dunia ini, mesti pinto datang pula ke mari untuk ajarkan anak-anak itu ilmu silat," ia berkata, "Setujukah kamu?" Dua saudara angkat itu menjadi girang sekali.

"Terima kasih totiang, terima kasih!" mereka mengucap. "Sekarang ini bangsa Kim sedang mengincar negara kita, terhadap rakyat dia sangat telengas," berkata pula si imam, "Karena mestinya tidak lama lagi bangsa itu turun tangan, dari itu pinto harap jiwi jaga diri baik-baik".

Dia angkat cawannya, untuk tenggak habis isinya, setelah itu dia buka pinti, untuk bertindak keluar. Siauw Thian berdua berniat meminta si imam berdiam lebih lama, siapa tahu tindakan orang cepat sekali, tahu-tahu imam itu sudah pergi jauh.

"Begitulah kelakuan orang berilmu, ia datang dan pergi tak ketentuannya," kata Siauw Thian sambil menghela napas. "Kita dapat bertemu dia tetapi sayang, kita tidak dapat meminta pengajaran daripadanya?" Tiat Sim sebaliknya tertawa.

"Toako, hebat cara bertempurnya totiang hari ini!" ia bilang. "Dengan menonton saja, sedikitnya terumbar juga hati pepat kit!" ia lantas buat main pedang yang satu, sampai ia lihat ukiran dua huruf Yo Kong.

Lantas ia berkata "Toako ada satu pikiran cepat dari aku, entah kau setuju atau tidak?" "Apakah itu, Saudaraku?" Siauw Thian balik bertanya. "Inilah mengenai anak-anak kita nanti," Tiat Sim beri keterangan.

"Umpama anak kita laki-laki semua, biarlah mereka menjadi saudara satu dengan yang lain, apabila mereka adalah perempuan, biarlah mereka menjadi enci dan adik?" Siauw Thian menyela. "Jikalau mereka adalah laki-laki dan perempuan, biarlah mereka menjadi suami-istri!" Keduanya lantas menjabat tangan, mereka tertawa terbahak.

Itulah janji mereka. Justru pada saat itu Pauw-sie muncul. "Eh, kenapa kamu menjadi girang begini?" tanya si nyonya. "Kami baru saja membuat janji," sahut Tiat Sim, yang lantas tuturkan kecocokan mereka berdua.

"Cis!" si nyonya meludah. Tetapi di dalam hati, ia pun girang. "Sekarang marilah kita saling tukar pedang dahulu," Tiat Sim berkata pula. "Ini adalah semacam tanda mata. Kalau mereka ada laki-laki atau perempuan, biarlah mereka jadi saudara satu dengan yang lain, kalau?"

"Kalau begitu, kedua pedang ini akan berkumpul di rumah kakak!" Siauw Thian bilang. "Mungkin akan berkumpul di rumahmu, Saudara!" kata Pauw-sie. Lantas mereka tukar kedua pedang itu.

Sampai disitu, Siauw Thian pulang dengan membawa pedang itu, untuk memberitahukan kepada istrinya, Lie-sie. Tiat Sim ada gembira sekali, masih ia minum seorang diri, hingga ia mabuk. Pauw-sie pimpin suaminya ke kamar tidur, lalu ia benahkan piring mangkok dan cawan, habis mana melihat hari sudah mendekati sore, ia pergi ke belakang untuk kurungi ayamnya.

Setibanya ia di pintu belakang, ia menjadi terkejut. Di situ, di atas salju, ia tampak tanda-tanda darah, yang melintas di luar pintu belakang itu. "Kiranya di sini masih ada tanda darah yang belum dilenyapkan," pikirnya heran.

"Kalau pembesar negeri melihat ini, inilah bahaya". Maka ia cari sapu, lantas ia menyapu pula. Tanda darah itu menuju ke belakang rumah dimana ada pepohonan lebat.

Di sini ia lihat tanda darah dari orang yang rupanya jalan merayap. Ia jadi bertambah heran, saking curiga, ia ikuti terus tanda darah itu, yang sampai di belakang sebuah kuburan tua. Di situ ia lihat suatu benda hitam yang tergeletak di tanah.

Kapan ia sudah datang mendekat, ia kembali jadi terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment