Chapter 145
"Suhu, sekarang kau boleh torehkan obat padaku," pintanya.
Ia memanggil suhu, yakni guru. Biasanya Ang Cit Kong, jika menghadapi ular, sekalipun yang sangat beracun, ia akan mengeplaknya dengan tongkat. Karena itu, ia tidak menyediakan obat. Namun, sang nona meliriknya sembari mengedipkan mata. Ia pun mengeluarkan cupu-cupu dari saku pakaiannya, menuangkan sedikit arak ke dalamnya, lalu menorehkan campuran itu ke kedua tangan murid barunya tersebut.
Oey Yong membawa kedua tangannya ke hidung untuk menciumnya, lalu ia memperlihatkan raut wajah yang luar biasa. Ia pun segera menghadapi Auwyang Kongcu.
"Halo!" tegurnya. "Aku ini murid Ang Cit Kong. Sekarang aku ingin belajar mengenal ilmu silat Kulit Ular Lemas-mu! Sebelumnya, perlu aku jelaskan bahwa tanganku sudah ditorehkan obat penawar racun ularmu, jadi kau harus waspada!"
Auwyang Kongcu tidak takut. Pikirnya, "Dengan menyerangmu, bukankah sekali gebrakan saja aku dapat mencekikmu? Tidak peduli tanganmu memiliki keanehan apa, cukup bagiku asal aku tidak menyentuhnya!"
Maka ia tertawa dan menyahut, "Jika aku sampai binasa di tanganmu, aku puas!"
"Semua ilmu silatmu yang lain biasa saja," kata si nona. "Karena aku hanya ingin mengenal ilmu silat ularmu yang bau busuk itu, maka jika kau menggunakan jurus lain, kau dianggap kalah!"
"Apa yang kau katakan, Nona, aku ikuti saja," sahut Auwyang Kongcu.
Oey Yong tertawa. "Aku tidak menyangka, kau telur busuk, pandai sekali kau bicara! Lihat tanganku!"
Kata-kata ini disusul dengan serangannya menggunakan jurus *Po-giok-kun* ajaran Ang Cit Kong. Auwyang Kongcu segera berkelit ke samping. Oey Yong menyerang terus, mulanya dengan tendangan kaki kiri, lalu disusul dengan pukulan tangan kanan. Itu adalah ajaran pukulan "Sutera Terbang".
Melihat lawannya gesit, Auwyang Kongcu tidak berani memandang enteng. Ia mengulurkan tangan kanan, menekuknya, lalu mendadak menghajar pundak sang nona. Inilah jurus dari *Kim Coa Kun* atau Kuntau Ular Emas. Serangannya sungguh sebat. Hampir saja tangannya mengenai sasaran, namun mendadak ia sadar dan menariknya kembali. Ia ingat sang nona mengenakan baju berlapis duri; jika serangannya mengenai, tangannya pasti akan berdarah.
Justru saat ia membatalkan serangan, Oey Yong balik menyerang. Kedua tangannya melayang ke arah muka. Auwyang Kongcu mengebaskan lengan bajunya untuk menangkis. Oey Yong mengenakan baju berlapis dan kedua tangannya telah diolesi obat, maka kecuali bagian wajah, tidak ada anggota tubuhnya yang bisa dijadikan sasaran. Akibatnya, Auwyang Kongcu mendapat rintangan. Untuk menyerang ke bawah, ia tidak memiliki celah. Ia pun terdesak dan harus terus berkelit atau melompat ke sana kemari.
"Kalau aku serang mukanya dan berhasil, aku berlaku lancang," pikir anak muda itu. "Kalau aku jambak rambutnya, itu lebih hebat lagi, aku jadi berlaku kasar. Habis, ke mana aku harus menyerang?"
Namun, ia cerdik. Selagi berkelit, ia merobek ujung bajunya dan memakainya untuk membalut kedua tangannya. Ia mulai berkelahi kembali dengan mencoba menangkap tangan lawannya. Tiba-tiba Oey Yong melompat keluar gelanggang.
"Kau kalah!" serunya. "Itu bukan ilmu silatmu yang bau!"
"Oh, aku lupa!" ujar sang anak muda dengan jengah.
"Sekarang jelaslah ilmu silat ularmu yang bau itu tidak dapat berbuat apa-apa terhadap murid Ang Cit Kong," kata si nona yang licin itu. "Itu artinya ilmu silat tersebut tidak ada keistimewaannya. Selama di istana Chao Wang, kita pernah bertempur, waktu itu aku malas mengeluarkan tenaga sehingga aku kalah. Karena itu, kita sekarang seri. Mari kita bertempur lagi untuk memastikan menang atau kalah!"
Mendengar itu, Lee Seng dan yang lainnya heran. Mereka berpikir, "Nona ini memang lihai, tetapi dia tidak bisa melawan musuhnya secara langsung. Tadi ia menang karena menggunakan akal, bukankah itu sudah bagus? Kenapa dia mau bertempur lagi, seperti orang melukis ular lalu menambah kaki?"
Ang Cit Kong sebaliknya tertawa terbahak-bahak. Ia tahu nona ini sangat pintar dan nakal; rupanya ia hendak memanfaatkan kehadiran sang guru untuk mempermainkan keponakan Auwyang Hong itu. Maka, ia membiarkan saja dan lebih memilih untuk menghabiskan sisa ayamnya.
"Ah, kenapa kita mesti main sungguh-sungguhan?" tawa Auwyang Kongcu. "Kau kalah atau aku yang menang toh sama saja, bukan? Tapi, kalau itu bisa membuatmu senang, baiklah aku yang rendah ini akan menemanimu main-main."
Oey Yong berkata lagi, "Selama di istana Pangeran Chao Wang, di kiri kananmu semua adalah sahabatmu. Andaikan aku menang, sudah pasti mereka akan menolongmu. Itulah sebabnya aku malas melayani kau. Tapi di sini, ada sahabat-sahabatmu?" ia menunjuk ke arah para gundik yang mengenakan pakaian serba putih itu. "Dan aku pun punya kawan-kawanku. Memang benar sahabatmu lebih banyak, tetapi tidak apa, aku bisa melayani kerugian di pihakku itu. Sekarang begini saja, mari kita buat satu lingkaran bulat. Siapa yang lebih dulu keluar dari lingkaran, dia yang kalah!"
Mendengar usul itu, Auwyang Kongcu merasa jengkel namun juga geli. Ia menerima usul itu dan segera membuat lingkaran dengan kakinya. Ia menancapkan kaki kiri di tengah, lalu kaki kanan berputar mengikuti tubuhnya, membentuk lingkaran selebar enam kaki. Rombongan Kay Pang kagum melihat kepandaian pemuda itu.
Oey Yong lantas masuk ke dalam lingkaran. "Kita bertempur secara *bun* atau secara *bu*?" tanyanya. *Bun* berarti lunak, dan *bu* berarti keras.
"Hebat kau, banyak keanehanmu," pikir Auwyang Kongcu. Ia bertanya, "Bagaimana caranya *bun* dan bagaimana caranya *bu*?"
"Cara *bun* adalah aku menyerang kau tiga kali, kau tidak boleh membalas. Kau juga menyerang kepadaku dan aku tidak boleh membalas. Kalau cara *bu*, kita bertarung sesuka kita. Kau boleh pakai ilmu silat ular atau kuntau tikus, terserah, asal siapa yang keluar dari lingkaran terlebih dahulu, dialah yang kalah!"
"Aku pikir lebih baik kita ambil cara *bun*," kata sang anak muda. "Dengan begitu kita tidak mengganggu persahabatan kita."
"Kalau cara *bu*, sudah pasti kau bakal kalah!" ujar si nona. "Kau pilih cara *bun*, setidaknya kau masih punya harapan. Baiklah, aku beri keleluasaan padamu. Siapa yang menyerang lebih dulu, kau atau aku?"
Auwyang Kongcu malu menyerang lebih dulu. "Tentu saja kau yang mulai," jawabnya.
"Kau licin sekali!" tawa Oey Yong. "Kau memilih belakangan karena kau tahu, jika kau menyerang lebih dulu, kau akan tampak rugi karena berpura-pura mengalah padaku! Baiklah, hari ini aku akan bersikap layaknya seorang kesatria, aku akan mengalah sampai akhir!"
Auwyang Kongcu sempat berpikir untuk menyerang lebih dulu, namun sebelum ia mengucapkan itu, sang nona sudah mendahului. "Lihat serangan!"
Nona ini benar-benar menyerang, terlihat sinar berkeredepan menyambar lawannya. Ia ternyata memegang senjata rahasia di tangannya. Auwyang Kongcu terkejut. Untuk menangkis dengan kipas, kipasnya sudah dirusak Ang Cit Kong. Ia bisa menggunakan ujung bajunya, tetapi ujung bajunya baru saja disobek. Ia tidak menangkis, dan ia tidak bisa mundur karena mundur berarti keluar dari lingkaran.
Tidak ada pilihan lain, ia terpaksa menjejakkan kaki untuk melompat setinggi satu tombak lebih agar senjata rahasia itu lewat di bawah kakinya. Sang nona telah melemparkan beberapa puluh jarum.
"Serangan kedua!" seru Oey Yong. Ia menyerang lagi saat lawan sedang turun dari lompatannya. Serangannya kali ini ke kiri, kanan, atas, dan bawah. Itulah ilmu melepaskan jarum ajaran Ang Cit Kong yang disebut *Boan-thian hoa ie teng kim ciam*, atau melempar jarum memenuhi langit bagaikan hujan bunga.
"Habislah aku!" keluh Auwyang Kongcu kaget. "Perempuan ini sungguh kejam!"
Tiba-tiba, ia merasakan ada orang mencekal leher baju bagian belakangnya dan mengangkatnya lebih tinggi. Bersamaan dengan itu, ia mendengar suara desingan jarum-jarum rahasia yang jatuh ke tanah. Ia mengerti ada yang menolongnya, tetapi sebelum sempat melihat siapa penolong itu, ia merasa tubuhnya dilemparkan. Sebenarnya ia tidak dilempar dengan keras, namun karena lihainya sang penolong, saat tubuhnya sampai di tanah, lengan kirinya jatuh lebih dulu. Sebelum ia sempat bangun, ia terbanting cukup keras.
Ia menduga pelakunya adalah Ang Cit Kong, sebab di situ tidak ada orang lain yang lebih pandai. Ia merasa sangat kesal dan tanpa menoleh lagi, ia segera pergi dari rumah abu itu diikuti oleh rombongan gundiknya.
"Suhu, kenapa kau menolong makhluk busuk itu?" tanya Oey Yong.
Ang Cit Kong tertawa. "Dengan pamannya, aku bersahabat kekal! Dia memang jahat dan pantas mampus, tetapi kalau dia mampus di tangan muridku, tentu tidak enak di muka pamannya itu." Ia menepuk pundak muridnya yang cerdik itu. "Anak manis, hari ini kau telah membuat gurumu bangga. Dengan apa aku harus memberi upah kepadamu?"
Oey Yong menjulurkan lidahnya. "Aku tidak menghendaki tongkatmu, Suhu!" katanya.
"Walaupun kau menghendaki, aku tidak bisa memberikannya!" jawab sang guru. "Aku tadinya berpikir untuk mengajari kau satu atau dua jurus silat, tetapi beberapa hari ini aku sangat malas bergerak. Aku tidak bersemangat!"
"Nanti aku akan memasakkan beberapa macam sayur untuk membangkitkan semangatmu," ucap Oey Yong.