Chapter 198
Sementara itu, kepala Auwyang Kongcu sudah mulai terendam air, hingga yang tampak tinggal pipa gelaganya saja.
Auwyang Hong merasa khawatir. Beberapa kali ia menghampiri untuk memeriksa denyut nadi keponakannya itu.
Untuk melegakan hatinya, nadi itu tetap berdenyut dengan baik.
Ia pun menjadi lebih lega saat sesaat kemudian ternyata air pasang mulai surut kembali. Dalam sekejap, kepala pemuda itu mulai tampak lagi.
"Cukuplah sudah!" terdengar suara Oey Yong dengan lantang setelah ia mengulur tali tambang buatannya.
"Sekarang aku membutuhkan tiga batang kayu besar untuk digunakan sebagai alat pemutar." Auwyang Hong merasa ragu.
Mereka tidak memiliki kapak ataupun golok. Bagaimana mereka bisa mendapatkan potongan kayu yang dibutuhkan itu? "Bagaimana cara membuatnya?" tanyanya.
"Kau tidak usah tahu caranya, cari saja kayunya!" bentak gadis itu.
See Tok khawatir gadis itu benar-benar marah dan kelak tidak sudi membantu lebih lanjut. Ia pun segera menghampiri pepohonan.
Ia memilih pohon yang batangnya tidak terlalu besar, berjongkok di sana, memegang batang pohon dengan kedua tangannya, lalu mengerahkan tenaga dari Ilmu Katak untuk mencoba merobohkan pohon itu.
Ternyata ia berhasil!
Ia pun terus bekerja hingga berhasil merobohkan tiga batang pohon.
Kwee Ceng dan Oey Yong menjulurkan lidah karena heran menyaksikan kekuatan yang luar biasa besar itu.
Auwyang Hong masih terus bekerja.
Ia mencari sebuah batu besar yang tajam, menggunakannya untuk memotong cabang-cabang kecil dari ketiga batang pohon itu secara berulang kali. Setelah semuanya tampak seperti potongan balok, ia segera menyerahkannya kepada gadis itu.
Oey Yong dan Kwee Ceng menyambutnya.
"Begini," kata gadis itu kepada kawannya.
Ia pun langsung bekerja.
Kwee Ceng membantu tanpa banyak bicara.
Oey Yong mengikat ketiga balok kayu itu satu sama lain dengan sangat erat, menyisakan tiga ujung tali yang panjang.
Kemudian, sisa tali tambang itu ia bawa ke batu besar untuk dililitkan di bagian tengahnya. Ujung tali tersebut lalu diikatkan pada balok-balok yang sudah terpasang dan terikat rapi.
Ketiga balok itu diikatkan di sekeliling sebatang pohon cemara tua yang sangat besar, yang tumbuh di sebelah kanan batu raksasa tersebut.
Besar pohon itu mungkin tidak akan dapat dipeluk oleh lima atau enam orang.
"Bukankah pohon cemara tua ini bisa menahan batu besar itu?" tanya gadis itu kemudian kepada si Racun Barat.
Auwyang Hong mengangguk.
Kini ia telah mengerti maksud gadis itu.
Namun, Oey Yong masih kurang puas. Ia menyuruh si tua bangka berbisa itu untuk membuat tali tambang lagi yang lebih kecil guna mengikat ketiga balok tersebut lebih kuat agar kekuatannya bertambah.
"Nona yang baik, kau sungguh cerdik!" puji See Tok akhirnya.
"Inilah yang disebut keluarga yang luar biasa pintar—seperti ayah, seperti putrinya!"
"Tapi bagaimana mungkin aku dapat menandingi keponakanmu?" kata Oey Yong sambil tertawa.
"Ah, mari kita mulai memutar dan menariknya!"
Auwyang Hong menurut, begitu pula dengan Kwee Ceng. Setelah masing-masing memegang ujung ketiga balok tersebut, mereka segera mendorong dengan mengerahkan seluruh tenaga.
Secara perlahan tetapi pasti, batu itu bergeser sedikit.
Sementara waktu terus berjalan—matahari sudah condong ke barat—air pun telah surut sepenuhnya. Kini Auwyang Kongcu terlihat duduk bersila di atas tanah lumpur berpasir.
Ia mendongak mengawasi batu besar yang bergerak sangat lambat itu, wajahnya tampak cemas sekaligus gembira.
Bab 44: Ilmu yang Sejati dan Palsu
Batang pohon cemara tua yang besar itu bagaikan tergilas oleh balok-balok yang terus berputar di sekelilingnya tanpa henti.
Dengan kulit kayu yang mulai mengelupas, batang pohon itu menjadi lebih licin sehingga putaran balok-balok tidak seberat sebelumnya.
Auwyang Hong tidak memercayai Tuhan, malaikat, ataupun iblis. Namun sekarang, diam-diam ia berdoa agar mereka diberi tambahan kekuatan supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi sehingga kedua kaki keponakannya tidak tertindih lebih lama lagi.
Asalkan batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa ditarik keluar untuk diselamatkan.
Saat mereka sedang mendorong, tiba-tiba terdengar suara retakan yang keras dan nyaring. Ketiganya terkejut dan langsung melompat menghindar.
Ternyata tali tambang di bagian tengah terputus, sehingga batu besar itu kembali ke posisinya semula.
Jika tidak segera melompat, mereka pasti akan terhantam oleh balok-balok tersebut.
Auwyang Hong menjadi sangat lesu, raut wajahnya tampak sangat muram.
Oey Yong pun merasa sangat masygul.
Hal ini sungguh di luar dugaannya.
"Mari kita buat lagi tali tambang yang lebih tebal," kata Kwee Ceng kemudian. Ia tidak melihat ada jalan lain. "Kita gunakan dua rangkap."
Auwyang Hong menggelengkan kepala.
"Sulit," katanya. "Kita bertiga tidak akan berdaya."
"Seandainya saja ada yang membantu..." kata Kwee Ceng sambil melamun.
Mendengar itu, Oey Yong tertegun, lalu tiba-tiba ia berjingkrak gembira sambil bertepuk tangan.
"Setuju! Setuju!" serunya. "Ada orang yang bisa membantu!"
Kwee Ceng heran sekaligus girang. "Yong-er," katanya, "Benarkah ada orang yang akan membantu?"
"Ah, sayang sekali Kakak Auwyang harus menderita satu hari lagi," kata gadis itu. "Ia harus menunggu sampai air pasang besok hari untuk bisa lolos dari penderitaan ini."
Auwyang Hong heran, begitu pula dengan Kwee Ceng. Keduanya menatap gadis itu.
Mereka berpikir dan bertanya-tanya dalam hati: "Mungkinkah besok saat air pasang akan ada orang yang datang membantu?"
Oey Yong tidak memedulikan mereka.
"Setelah bekerja keras seharian, aku lapar!" katanya sambil tertawa. "Mari kita cari makanan dulu, baru kita bicara lagi."
"Nona," akhirnya Auwyang Hong bertanya, "Kau bilang besok akan ada orang datang membantu, apa maksud perkataanmu itu?"
"Besok pada waktu seperti ini, batu yang menindih tubuh Saudara Auwyang akan disingkirkan," jawab gadis itu. "Ini adalah rahasia alam, aku tidak boleh membocorkannya."
Melihat gadis itu berbicara dengan sungguh-sungguh, Auwyang Hong menjadi setengah percaya dan setengah ragu. Lagi pula, sekalipun ia tidak percaya, ia tidak memiliki cara lain. Maka terpaksa ia diam saja menemani keponakannya.
Oey Yong bersama Kwee Ceng segera pergi memburu beberapa ekor kelinci. Mereka memanggang seekor untuk diberikan kepada Auwyang Hong dan keponakannya.
Mereka sendiri makan bertiga bersama Ang Cit Kong di dalam gua.
Sambil menyantap makanan, mereka menceritakan segala kejadian yang mereka alami sejak berpisah.
Kwee Ceng sangat gembira setelah mendapat penjelasan bahwa Auwyang Kongcu celaka karena jebakan gadis itu.
Malam itu, mereka bertiga tidur dengan nyenyak. Mereka yakin Auwyang Hong tidak akan datang mengganggu karena See Tok sangat mengharapkan bantuan mereka untuk menolong keponakannya.
Mereka menyalakan api unggun di mulut gua untuk mencegah masuknya binatang liar.
Keesokan paginya saat fajar menyingsing, baru saja Kwee Ceng membuka mata, ia melihat bayangan seseorang berkelebat di depan gua.
Ketika ia melompat bangun, ia mendapati Auwyang Hong di sana.
"Apakah Nona Oey sudah bangun?" tanya Auwyang Hong perlahan.
Oey Yong sebenarnya sudah terbangun saat Kwee Ceng melompat. Begitu mendengar suara sang musuh, ia segera memejamkan mata kembali dan mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang sedang tidur nyenyak.
"Belum," sahut Kwee Ceng perlahan. "Ada apa?"
"Jika nanti ia sudah bangun, tolong mintalah ia datang untuk membantu," jawab See Tok.
"Baik," jawab Kwee Ceng.
Dari dalam gua, Ang Cit Kong menyahut, "Aku telah memberinya minum arak wangi bernama Mabuk Seratus Hari. Dalam waktu tiga bulan ini, mungkin ia tidak akan terbangun!"
Auwyang Hong tertegun. Mendengar si Pengemis Utara tertawa terbahak-bahak, barulah ia sadar bahwa dirinya sedang dipermainkan. Ia merasa sangat jengkel, tetapi akhirnya melangkah pergi begitu saja.
Oey Yong segera melompat bangun sambil tertawa.
"Kalau tidak sekarang kita menggodanya, kapan lagi?" katanya.
Dengan santai, gadis itu menyisir rambut dan merapikan pakaiannya. Setelah itu, ia membawa joran untuk memancing ikan serta berburu kelinci, lalu memasak semuanya untuk sarapan pagi mereka.
Selama waktu itu, Auwyang Hong telah datang tujuh atau delapan kali. Ia tampak sangat gelisah, bagaikan semut di atas wajan panas.
"Yong-er," tanya Kwee Ceng, "Benarkah nanti saat air pasang akan ada orang yang datang membantu kita?"
"Apakah kau percaya akan ada pembantu yang datang?" gadis itu balik bertanya sambil tertawa.
"Aku tidak percaya," sahut pemuda itu.
"Aku juga tidak percaya!" Dan gadis itu pun tertawa lagi.
Kwee Ceng tercengang. "Jadi, kau sengaja mempermainkan si tua bangka berbisa itu?"
"Aku tidak sepenuhnya membohonginya," sahut gadis itu. "Saat air pasang tiba, aku punya cara untuk menolong keponakannya."
Kwee Ceng tahu kekasihnya itu sangat cerdik, maka ia tidak bertanya lebih jauh.
Oey Yong lalu mengajak pemuda itu ke tepi pantai untuk mencari berbagai macam cangkang kerang.
Sejak kecil Oey Yong tidak memiliki teman bermain dan terbiasa bermain sendiri. Kini, karena ada Kwee Ceng yang menemaninya, ia merasa sangat gembira.
Ia pun mengajak pemuda itu berlomba mencari kerang sebanyak-banyaknya dan yang paling indah.
Dalam waktu singkat, mereka berhasil mengumpulkan banyak kerang. Saking gembiranya, tawa mereka terus terdengar berulang kali.
Pada saat itu, mereka seolah-olah lupa bahwa mereka sedang berada di pulau kosong yang berbahaya dan mengancam nyawa mereka.
"Kak Ceng, rambutmu kusut. Kemari, biar kubantu menyisirnya," kata gadis itu kemudian.
Kwee Ceng menurut, lalu mereka pun duduk berdua.
Dari saku bajunya, Oey Yong mengeluarkan sebuah sisir yang terbuat dari batu giok bersalut emas. Ia mengurai rambut Kwee Ceng dan menyisirnya dengan perlahan-lahan.
"Bagaimana caranya mengusir See Tok dan keponakannya itu?" tanya Kwee Ceng selagi gadis itu merapikan rambutnya. "Jika mereka sudah pergi, kita bertiga bisa tinggal di sini dengan aman. Bukankah itu menyenangkan?"
"Namun, aku mengkhawatirkan ibuku serta keenam guruku," sahut Kwee Ceng.
"Ah, ya, masih ada ayahku juga," tambah gadis itu. Ia berhenti sejenak, lalu berkata lagi, "Entah bagaimana keadaan Kakak Bok sekarang..."