Chapter 200
Mereka menekan cabang-cabang pohon dan membuat palang, hingga terbentuk ruangan seperti loteng tempat orang bisa duduk atau berbaring.
Setelah selesai, mereka turun untuk mengangkat Ang Cit Kong ke atas.
Mereka tidak perlu memanjat lagi; cukup dengan memapah sang guru di sisi kiri dan kanan, mereka bersama-sama menggenjot tubuh untuk melompat ke atas.
Sesaat kemudian, Pak Kay sudah dapat ditempatkan dengan baik.
"Untuk sementara kita tinggal di atas pohon ini bagaikan burung!" kata gadis itu sambil tertawa. "Biarlah mereka tinggal di dalam gua bagai binatang berkaki empat!"
"Katakan, Yong-er, apakah kau mau memberi mereka makanan atau tidak?" tanya Kwee Ceng.
"Saat ini kita belum menemukan jalan keluar, dan kita pun tidak mampu melawan si tua bangka berbisa itu," sahut gadis itu. "Maka untuk sementara, sebaiknya kita menurut saja."
Kwee Ceng terdiam. Ia merasa kesal sekaligus sangat masygul.
Oey Yong mengajak pemuda itu pergi ke balik bukit untuk berburu. Mereka berhasil merobohkan seekor kambing gunung, lalu segera menyembelih dan memotongnya menjadi dua bagian.
Mereka menyalakan api untuk memanggangnya. Setelah matang terpanggang, Oey Yong melemparkan separuhnya ke tanah.
"Kencingi ini!" katanya kepada Kwee Ceng.
Pemuda itu tertawa. "Ah, dia pasti akan tahu nanti."
"Jangan pedulikan! Kencingi saja!" kata gadis itu.
Wajah Kwee Ceng memerah. "Aku tidak bisa," sahutnya.
"Mengapa?"
"Saat ini aku belum ingin buang air kecil."
Mendengar itu, si gadis tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba terdengar suara Ang Cit Kong dari atas pohon.
"Lemparkan ke atas, biar aku yang melakukannya!" kata si tua bangka yang jenaka itu.
Kwee Ceng tertawa, lalu melompat naik membawa daging kambing itu. Pak Kay segera membuktikan perkataannya.
Sambil tertawa, Kwee Ceng melompat turun kembali, lalu melangkah menuju ke arah gua.
"Tunggu dulu!" Oey Yong mencegah. "Sini, bawa potongan yang satunya lagi!"
"Apa? Yang bersih?" tanya pemuda itu. Ia menggaruk-garuk kepalanya karena heran.
"Benar!" sahut gadis itu.
"Kita berikan yang bersih kepada si tua bangka?" Walaupun sangat tidak mengerti, Kwee Ceng tetap menuruti perkataan gadis yang sangat dipercayainya itu. Ia menukar daging yang bersih dengan daging yang telah dikencingi itu.
Oey Yong memanggang kembali daging yang kotor itu, kemudian pergi mencari buah-buahan. Ang Cit Kong juga tidak memahami perbuatan muridnya; ia merasa heran sekaligus masygul.
Oey Yong memanggang daging hingga aromanya yang lezat tercium harum, membangkitkan selera makan. Auwyang Hong yang berada di dalam gua mencium aroma tersebut. Ia bergegas keluar. Setibanya di mulut gua, tanpa menunggu Kwee Ceng yang membawakan daging mendekat, ia langsung memburu dan merampas separuh daging tersebut.
Sungguh besar selera makan sang Racun Barat (See Tok) ini, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah.
"Mana yang sebelah lagi?" tanyanya tiba-tiba.
Pemuda itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya menunjuk ke arah belakang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Auwyang Hong melangkah cepat ke bawah pohon. Di sana, ia menyambar belahan daging kambing yang lain, sedangkan daging yang ada di tangannya langsung dilemparkannya ke tanah. Tanpa berkata apa-apa lagi kecuali tawa dingin, ia memutar tubuhnya untuk kembali ke gua.
Kwee Ceng cepat-cepat memalingkan wajah ke arah lain. Jika tidak, pasti akan terlihat bahwa ia sedang menahan tawa. Ia menganggap perbuatan Auwyang Hong yang terjebak oleh siasat Oey Yong itu sangat lucu. Baru setelah orang itu pergi jauh, ia berlari menemui Oey Yong dengan wajah dihiasi senyuman.
"Yong-er!" katanya sambil tertawa. "Bagaimana kau tahu dia akan menukarnya?"
Gadis itu pun tertawa. "Bukankah dalam ilmu perang dikatakan bahwa yang kosong adalah isi, dan yang berisi adalah kosong? Si tua bangka berbisa itu pasti menduga kita menaruh racun pada daging yang kita berikan kepadanya. Ia tidak sudi diakali, tetapi aku justru menghendaki dia terpedaya!"
"Hebat!" puji pemuda itu.
Ia segera menyayat daging tersebut untuk dibawa naik ke atas dahan pohon tempat peristirahatan mereka yang istimewa, menyuguhkannya kepada sang guru, lalu makan bersama gadis itu.
Auwyang Hong dan keponakannya memakan daging panggang itu dengan sangat lahap. Sang Racun Barat merasakan bau pesing, namun ia mengira bau itu memang aroma asli dari daging tersebut, sehingga ia terus melahapnya tanpa ragu.
Sementara itu, ketiganya bersantap di atas pohon dengan hati riang gembira.
"Yong-er," kata Kwee Ceng kemudian. "Siasatmu ini bagus, tetapi sangat berbahaya."
"Mengapa?" tanya gadis itu.
"Seandainya si tua bangka berbisa itu tidak menukarnya, bukankah kita yang akan memakan daging yang kotor dan bau itu?"
Oey Yong tertawa terpingkal-pingkal sampai tubuhnya miring dan terjatuh dari pohon. Namun, ia berhasil mendarat dengan berdiri tegak, dan sesaat kemudian ia sudah melompat kembali ke atas dahan.
"Benar, benar, memang sangat berbahaya!" katanya.
Ang Cit Kong tersenyum, namun ia menghela napas seraya berkata, "Anak-anak bodoh, jika dia memang tidak menukarnya, apa kalian tidak bisa menolak memakan daging bau pesing itu?"
Kwee Ceng tertegun, lalu tertawa terpingkal-pingkal hingga terguling dari tempat duduknya dan jatuh ke tanah seperti gadis itu tadi.
Setelah malam tiba, Tuan Muda Auwyang merintih kesakitan, sementara Auwyang Hong berjalan ke bawah pohon.
"Gadis kecil, turun kau!" panggil Auwyang Hong dengan suara bengis kepada Oey Yong.
Gadis itu terkejut. Ia tidak menyangka orang itu akan datang secepat ini.
"Mau apa?" sahutnya terpaksa.
"Keponakanku ingin minum teh, pergi dan layani dia!" perintah sang Racun Barat.
Ketiga orang di atas pohon itu terkejut, sekaligus merasa geram.
"Cepat!" terdengar lagi suara Auwyang Hong. "Tunggu apa lagi?!"
"Mari kita pertaruhkan nyawa melawannya!" bisik Kwee Ceng perlahan.
"Lebih baik kalian berdua melarikan diri ke balik gunung," kata Ang Cit Kong. "Jangan pedulikan aku lagi."
Kedua jalan itu, baik bertarung maupun melarikan diri, telah dipikirkan oleh Oey Yong. Namun, kedua pilihan tersebut pasti akan mengakibatkan kematian Ang Cit Kong, dan itulah yang sangat tidak ia inginkan. Akhirnya, ia berpikir lebih baik mereka mengalah saja. Maka dari itu, ia segera melompat turun.
"Baiklah, aku akan memeriksa lukanya!" katanya.
"Humph!" sang Racun Barat mendengus dingin. "Hei, bocah bermarga Kwee, kau juga turun!" bentaknya menambahkan. "Enak saja kau mau tidur nyenyak! Enak sekali nasibmu!"
Sambil menahan amarah sekuat tenaga, Kwee Ceng melompat turun.
"Malam ini kau harus menyiapkan seratus batang balok kayu besar untukku," perintah si Racun dari Barat. "Jika kurang satu batang saja, salah satu kakimu akan kupatahkan! Jika kurang dua, kedua kakimu akan patah semua!"
"Untuk apa balok-balok itu?" tanya Oey Yong. "Lagipula, malam gelap gulita seperti ini, bagaimana mungkin orang bisa mencari dan mengerjakannya?"
"Gadis kecil, jangan banyak bicara! Cepat rawat keponakanku! Apa urusanmu dengan bocah ini? Pergi sana! Jika kau berani main-main, siksaan akan menantimu!" ancamnya kepada Kwee Ceng.
Oey Yong memberi isyarat agar pemuda itu bersabar, lalu ia melangkah pergi diikuti oleh si Racun dari Barat.
Kwee Ceng mengawasi mereka hingga tidak terlihat lagi. Ia lalu menjatuhkan diri, duduk bersimpuh sambil memegangi kepalanya. Ia berpikir keras; rasa marah, dongkol, dan sedih bercampur aduk di dalam dadanya, hingga air matanya hampir saja tumpah.
Tiba-tiba terdengar suara Ang Cit Kong, "Kakekku, ayahku, bahkan aku sendiri saat masih kecil, pernah sangat menderita akibat bangsa Kim. Kami dijadikan budak. Karena itu, apa arti kesengsaraan yang sekadar seperti ini?"
Kwee Ceng terkejut dan tersadar. *Ternyata dahulu Guru pernah menjadi budak?* batinnya. *Siapa sangka kelak Guru menjadi seorang ahli silat ternama dan Ketua Partai Pengemis! Jika sekarang aku bersabar, apa salahnya?*
Berkat pemikiran ini, sang pemuda memantapkan ketetapan hatinya.
Sembari membawa obor dari kayu cemara, ia pergi ke balik bukit. Ia bekerja dengan memanfaatkan jurus Hang Liong Sip-pat Ciang untuk merobohkan pohon-pohon yang besarnya seukuran mulut mangkuk besar. Ia menguatkan hati dan bekerja dengan ulet. Ia sangat percaya bahwa Oey Yong pasti akan dapat meloloskan diri, sebagaimana dahulu gadis itu berhasil lolos dari istana Chao Wang.
Jurus Hang Liong Sip-pat Ciang memerlukan tenaga yang besar dan keuletan. Hal ini terasa berat bagi Kwee Ceng yang masih muda dan tenaga dalamnya masih membutuhkan banyak latihan. Belum satu jam berlalu, ia telah berhasil merobohkan dua puluh satu pohon. Namun, ketika ia menghantam pohon yang kedua puluh dua, ia merasakan tangannya kesakitan. Pohon itu tidak roboh, malah sebaliknya, dadanya terasa nyeri.
Ia terkejut, lalu bergegas duduk bersila untuk memusatkan konsentrasi dan mengatur napasnya. Setelah beristirahat selama satu jam, ia bangkit kembali untuk melanjutkan pekerjaannya. Pohon itu akhirnya berhasil dirobohkan juga.
Namun, saat hendak memulainya kembali, kali ini tubuhnya terasa sangat lemas. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh memaksakan diri, jika tidak, ia akan menderita luka dalam. Hanya saja, ia menjadi bingung. Di pulau kosong ini, di mana ia bisa mendapatkan golok atau kapak? Bagaimana mungkin ia bisa terus bekerja dengan tangan kosong? Ia pun menjadi sangat khawatir akan keselamatan kedua kakinya. Ia masih membutuhkan hampir delapan puluh batang kayu lagi.
"Kedua kaki keponakannya telah patah," pikirnya lebih jauh. "Oleh karena itu, ia pasti sangat membenciku. Jika malam ini aku bisa menyediakan seratus batang, mungkin besok malam ia akan meminta seribu batang lagi. Kapan pekerjaan ini akan selesai? Lagipula, dia tidak mungkin bisa dilawan, dan di sini pasti tidak akan ada orang yang bisa menolong kami."
Pemuda itu menghela napas panjang, merasa putus asa.
"Seandainya tempat ini bukan pulau kosong pun, siapa yang dapat menolong kami?" ia kembali melamun. "Guru telah kehilangan ilmu silatnya, dan nasibnya belum jelas bagaimana. Ada ayah Yong-er, tetapi beliau pun sangat membenciku. Tujuh Pendekar Quanzhen dan keenam guruku dari Jiangnan pun bukan tandingan Racun Barat ini."