Chapter 146
"Sekarang aku tak sempat makan." Ia menunjuk Lee Seng serta rombongannya.
"Kami dari kaum Kay Pang mempunyai banyak urusan untuk dibicarakan." Lee Seng dan kawan-kawannya menghampiri Kwee Ceng dan Oey Yong untuk menghaturkan terima kasih.
Nona Thia pun meloloskan diri dari belenggunya. Ia mendekati Oey Yong, menarik tangannya, dan mengutarakan rasa syukurnya.
Oey Yong menunjuk ke arah Kwee Ceng dan berkata kepada sang nona, "Ma Totiang, yang menjadi paman gurumu nomor satu, pernah mengajarkan ilmu silat. Paman gurumu yang lain, seperti Khu Supee dan Ong Supee, semuanya memandang tinggi kepadanya."
"Sebenarnya kita adalah orang sendiri." Setelah Lee Seng memberikan selamat kepada Ang Cit Kong, Kwee Ceng, dan Oey Yong, mereka menyadari bahwa ketua itu memang tidak pernah menerima murid. Namun, entah bagaimana, kali ini kebiasaan itu tidak dapat dipertahankan.
"Aku khawatir mereka jijik dengan kedekilan kita; mereka tidak akan sudi makan makanan kaum pengemis!" ujar Cit Kong sambil tertawa.
"Besok kami pasti hadir," sahut Kwee Ceng cepat.
"Lee Toako adalah senior kami, aku justru ingin sekali mempererat persahabatan kita!" Lee Seng merasa senang mendengar perkataan anak muda itu. Ia memang menyukai pemuda yang lihai dan rendah hati tersebut.
"Kalian bersahabat erat, itu bagus," kata Cit Kong. "Tapi ingat, jangan kau membujuk murid kepalaku ini menjadi pengemis. Kau, muridku yang kecil, pergilah mengantarkan Nona Thia pulang. Kami bangsa pengemis sekarang hendak pergi mencuri ayam dan mengemis nasi!"
Habis berkata begitu, Pangcu dari Kay Pang itu—Partai Pengemis—langsung bergegas pergi. Lee Seng beramai-ramai mengikuti, tetapi sebelum pergi, ia memberitahukan bahwa pesta besok akan diadakan di rumah abu itu.
Oey Yong mengantarkan Nona Thia pulang. Kwee Ceng turut mengantar karena khawatir mereka akan bertemu Auwyang Kongcu di tengah jalan. Di tengah jalan, Nona Thia memperkenalkan diri kepada Oey Yong. Ternyata ia bernama Yauw Kee. Ia memang pernah belajar silat pada Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, tetapi karena berasal dari keluarga hartawan, ia tidak bisa membuang sifat-sifatnya. Hal itulah yang membedakannya dengan Oey Yong yang polos dan sederhana, meskipun sebenarnya Oey Yong dimanjakan oleh ayahnya.
Sekembalinya dari rumah Thia Yauw Kee, Kwee Ceng dan Oey Yong hendak pulang ke penginapan untuk beristirahat. Mereka merasa letih, akan tetapi mendadak terdengar derap kaki kuda dari arah selatan ke utara. Setelah cukup dekat, penunggang kuda itu menghentikan tunggangannya.
Oey Yong ingin mengetahui siapa penunggang kuda itu, ia berlari menghampiri, diikuti oleh Kwee Ceng. Mereka terkejut saat mengenali Yo Kang yang sedang menuntun seekor kuda. Berdiri di tepi jalan, orang bermarga Yo itu sedang asyik berbincang dengan Auwyang Kongcu.
Mereka ingin mendengar pembicaraan tersebut tetapi tidak berani terlalu dekat karena khawatir ketahuan. Mereka hanya sempat mendengar Auwyang Kongcu menyebut "Gak Hui" dan kota "Lim-an", serta Yo Kang yang menyebut "ayahku". Setelah itu, Auwyang Kongcu memberi hormat bersama murid-murid dan gundik-gundiknya, lalu berlalu.
Yo Kang berdiri tertegun, lalu menghela napas dan melompat naik ke atas kudanya.
"Yo Hiantee, aku di sini!" panggil Kwee Ceng.
Yo Kang terkejut, namun segera menghampiri. "Toako, kau ada di sini?" tanyanya heran.
"Di sini aku bertemu Nona Oey, kami sempat berselisih dengan Auwyang Kongcu, karenanya perjalananku terlambat," sahut Kwee Ceng.
Muka Yo Kang memerah dan terasa panas, tetapi Kwee Ceng tidak melihatnya.
"Toako, kita jalan terus sekarang atau singgah dulu?" tanya Yo Kang.
"Apakah Nona Oey akan ikut pergi ke Pak-khia?"
"Bukannya aku mengikuti kamu, tetapi kaulah yang mengikuti kami," kata Oey Yong.
"Toh, tidak ada perbedaannya!" Kwee Ceng tertawa. "Mari kita pergi ke rumah abu untuk beristirahat, setelah hari terang kita melanjutkan perjalanan."
Yo Kang menurut, dan mereka kembali ke rumah abu keluarga Lauw. Kwee Ceng menyalakan sisa lilin Auwyang Kongcu. Oey Yong membawa sebuah wadah, menyuluh, dan memunguti semua jarumnya. Hawa malam itu terasa panas menyesakkan, maka ketiganya merebahkan diri di depan ruang tempat mereka meletakkan daun pintu.
Hampir saja mereka terlelap saat telinga mereka mendengar derap kaki kuda. Mereka segera bangun untuk duduk dan mendengarkan. Ternyata itu bukan hanya seekor kuda, dan suaranya semakin nyata.
"Yang di depan ada tiga orang, yang mengejar di belakang ada belasan," kata Oey Yong.
Kwee Ceng, yang terbiasa hidup di punggung kuda, lebih berpengalaman. Ia berkata, "Ini aneh! Pengejarnya terdiri dari enam belas orang!"
"Apa katamu?"
"Yang di depan itu semua kuda Mongolia, yang di belakang bukan. Heran, kenapa kuda Mongolia dari gurun pasir bisa berada di sini?"
Oey Yong bangkit dan menarik tangan Kwee Ceng untuk diajak ke pintu. Mendadak sebatang anak panah melesat tepat di atas kepala mereka. Ketiga penunggang kuda sampai di depan rumah abu. Sial bagi penunggang yang paling belakang, sebatang panah menyambar dan mengenai pinggul kudanya. Binatang itu meringkik lalu roboh.
Untungnya ia sigap melompat turun, namun karena tidak menguasai ilmu meringankan tubuh, ia mendarat dengan berat. Dua kawannya berdiri bengong dan saling mengawasi.
"Aku tidak apa-apa!" kata orang yang kudanya roboh itu. "Kau lekaslah berangkat, nanti aku yang merintangi mereka!"
"Nanti aku membantu menahan mereka," kata yang lain.
"Su-ongya, lekaslah menyingkir!"
"Mana bisa!" kata orang yang dipanggil Su-ongya (pangeran keempat) itu.
Mereka berbicara dalam bahasa Mongolia dan Kwee Ceng mengenali mereka; ialah Tuli, Jebe, dan Boroul. Ia bertambah heran dan menduga-duga mengapa mereka berada di tempat ini. Sebelum Kwee Ceng berniat menemui mereka, para pengejar sudah mengepung.
Ketiga orang Mongolia itu memberikan perlawanan dengan panah. Mereka sangat mahir menggunakan senjatanya. Pihak pengepung tidak berani mendekat dan menyerang dengan anak panah dari kejauhan.
"Naik!" seru seorang Mongolia sambil menunjuk ke tiang bendera. Bagaikan kera, mereka melompat naik dan berhasil mencari posisi di tempat tinggi.
Pihak pengepung mendesak lebih jauh dan turun dari kuda masing-masing.
"Engko Ceng, kau keliru," kata Oey Yong. "Mereka lima belas orang."
"Tidak mungkin salah. Salah satunya sudah terkena panah!"
Benar saja, seekor kuda lain datang dengan perlahan. Di pelananya, sang penunggang tergantung dengan kaki terseret dan terdapat panah panjang menancap di dadanya. Kwee Ceng diam-diam merayap menghampiri penunggang yang sudah mati itu dan mencabut anak panahnya. Ia menyadari gagang panah tersebut tersalut besi matang dan terukir gambar macan tutul; itu adalah tanda panah Jebe. Anak panah itu lebih berat dari anak panah biasa.
Kwee Ceng tidak ragu lagi. Ia berteriak, "Apakah itu Suhu Jebe dan Adik Tuli?"
Tiga orang itu berseru kegirangan. Bersamaan dengan itu, dua bayangan putih melayang turun ke arah pemuda bermarga Kwee itu. Kwee Ceng mengenali kedua ekor burung rajawali peliharaan Putri Gochin Baki. Kedua burung itu sangat tajam matanya, mereka mengenali majikannya dan segera terbang turun sambil berpekik.
Oey Yong kagum sekali. Ia teringat cerita Kwee Ceng tentang memanah burung rajawali dan memelihara anaknya. "Mari biarkan aku bermain dengannya!" kata Oey Yong tanpa memedulikan musuh yang mendekat.
Ia mengulurkan tangan untuk mengusap bulunya, tetapi burung itu liar dan mematuk. Untunglah Oey Yong sigap menarik tangannya.
"Jangan!" cegah Kwee Ceng.
"Burung ini busuk!" kata si nona sambil tertawa, namun ia tetap mengawasi burung itu.
"Yong-jie, awas!" seru Kwee Ceng tiba-tiba.
Dua batang anak panah menyambar ke arah dada si nona. Oey Yong acuh tak acuh, namun dengan sigap ia menyambar tubuh tentara yang sudah mati itu sebagai tameng. Anak panah itu mengenai jenazah tersebut, namun karena ia mengenakan baju zirah, anak panah itu jatuh ke tanah. Oey Yong lalu merogoh kantong jenazah itu dan mengambil ransum kering untuk diberikan kepada kedua ekor rajawali tersebut.
"Yong-jie, kau bermainlah dengan burung ini, biar aku menghajar tentara Kim itu!" kata Kwee Ceng. Ia segera melompat maju, tepat menghadapi satu musuh yang sedang membidik. Ia menepis anak panah itu dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanan ia mencengkeram tangan orang itu dan mematahkannya.
"Hai, bangsat! Dari mana kau berani banyak tingkah di sini?" teriak seseorang dari tempat gelap. Ia bicara dalam bahasa Tionghoa dan suaranya dikenali oleh Kwee Ceng.
Di tengah kebingungannya, sepasang kapak menyambar ke arahnya dengan cahaya yang berkilauan. Melihat serangan itu bukan serangan sembarang, Kwee Ceng merendahkan diri dan membalas dengan jurus "Naga Sakti Menggoyang Ekor" dari ilmu Hap Liong Sip-pat Ciang.