Chapter 29
"Untukmu!" tambahnya seraya mengangsurkan barang permata itu kepada bocah itu.
Kwee Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Ibu telah berpesan, kami harus membantu tamu tetapi tidak boleh menginginkan barang tamu," katanya.
Orang itu tercengang, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Anak yang baik!
Anak yang baik!" pujinya.
Ia lantas menyobek ujung bajunya untuk membalut lukanya.
Ia pun membalut luka kudanya.
Saat itu samar-samar terdengar suara lari banyak kuda di arah timur. Mendengar itu, tamu Kwee Ceng menjadi gusar sekali.
"Hm, dia tidak hendak melepaskan aku!" serunya sengit.
Ia pun memandang ke arah timur itu.
Kwee Ceng ikut memandang juga.
Sekarang di sebelah suara berisik itu terlihat debu mengepul.
Rupanya banyak serdadu berkuda sedang mendatangi.
"Anak yang baik, apakah kau punya panah?" tanya si tamu.
"Ada!" sahut Kwee Ceng yang terus lari ke dalam untuk mengambil panahnya.
Orang itu menunjukkan roman girang, tetapi ketika bocah itu kembali, ia menjadi lesu.
Namun lekas sekali ia tertawa berkakak-kakak.
Kwee Ceng telah membawa gendewa dan anak panahnya yang kecil.
"Aku hendak bertempur, aku ingin panah yang besar," katanya, panglima itu kemudian, alisnya lantas berkerut.
"Yang besar tidak ada," sahut Kwee Ceng.
Ketika itu pasukan yang mendatangi telah tampak semakin jelas, benderanya pun berkibar-kibar.
"Seorang diri kau tidak dapat melawan mereka, lebih baik kau bersembunyi," kata Kwee Ceng kemudian.
"Sembunyi di mana?" tanya orang itu.
Kwee Ceng menunjuki tumpukan rumput kering di belakang rumahnya.
"Aku tidak akan memberi tahu mereka," janjinya tanpa diminta.
Orang itu mengambil keputusan dengan segera.
Ia insaf, walaupun ia sudah dapat pulang tenaganya, dengan kudanya yang terluka, tak dapat ia lari lebih jauh.
Jadi lebih aman untuk menyembunyikan diri.
Tidak ada jalan lain.
"Baik, aku serahkan jiwaku kepadamu!" katanya.
"Pergi usir kudaku!" Setelah berkata demikian, ia pun lari ke tumpukan kering itu dan menyelusup ke dalamnya.
Kwee Ceng mencambuk kuda itu dua kali. Kuda yang berbulu hitam itu segera lompat kabur. Sesudah lari cukup jauh, barulah ia berhenti untuk makan rumput.
Kwee Ceng naik ke atas kudanya, ia laikan kuda itu bolak-balik.
Ia bisa berlaku tenang, seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
Tidak lama tibalah barisan berkuda itu.
Mereka rupanya melihat bocah yang menunggang kuda itu. Dua serdadu lantas menghampirinya.
"Eh, bocah, kau lihat tidak satu orang yang menunggang kuda hitam?" Itu teguran dari salah satu dari dua serdadu itu, suaranya kasar.
"Ya, aku dapat lihat," jawab Kwee Ceng.
"Di mana?" tanya serdadu yang kedua.
Kwee Ceng menunjuk ke barat.
"Dia sudah pergi lama sekali," terangnya. "Bawa dia kemari!" seru perwira yang mengepalai pasukan itu.
Ia tidak mendengar pembicaraan di antara dua orangnya dengan si bocah.
"Mari ketemu pangeran!" kata dua serdadu itu, yang lantas menarik tali kekang orang itu untuk dibawa kepada sang pangeran.
Si pangeran telah sampai di depan rumah. "Aku tidak akan bicara!" Kwee Ceng telah mengambil keputusan dalam hatinya.
Ia melihat banyak serdadu sedang mengiringi satu anak muda yang kurus dan jangkung, yang tubuhnya ditutupi mantel merah.
Ia lantas mengenali itu adalah panglima yang memimpin tentara.
Dia adalah putra sulung Temuchin.
"Apakah katanya bocah ini?" tanyanya membentak.
Dua serdadu itu menyampaikan jawaban Kwee Ceng.
Dengan mata mengandung kecurigaan, putra sulung itu memandang ke sekelilingnya.
Ia lantas dapat melihat kuda hitam yang sedang makan rumput di kejauhan.
"Bukankah itu kudanya?" tanyanya, suaranya dalam.
"Coba bawa kuda itu kemari!" Begitu perintah itu keluar, sepuluh serdadu lantas bergerak. Mereka memecah diri menjadi lima rombongan, untuk mendekati kuda itu dengan dikepung, hingga walaupun binatang itu berniat lari, jalannya sudah tertutup.
Dengan gampang ia tertangkap dan dituntun.
"Hm!
Bukankah itu kudanya Jebe?" tanya putra itu.
"Benar!" sahut banyak serdadu, suara mereka riuh.
Putra sulung itu mengayunkan cambuknya ke arah kepala Kwee Ceng.
"Dia bersembunyi di mana, hai, setan cilik?" tanyanya dengan bengis.
"Jangan kau harap dapat mendustaiku!" Jebe, panglima berseragam hitam yang bersembunyi di dalam tumpukan rumput, bersembunyi sambil mengamati, tangannya mencengkeram erat goloknya yang panjang.
Ia melihat penganiayaan itu yang menyebabkan jidat Kwee Ceng memberi tanda baret merah, hatinya menjadi berdebar keras.
Ia kenal si putra sulung. "Putra Temuchin itu" adalah Juji yang tabiatnya keras dan kejam.
Ia berpikir: "Pasti bocah itu tidak tahan sakit dan ketakutan.
Tidak ada jalan lain, aku terpaksa harus keluar untuk mengadu jiwa." Kwee Ceng kesakitan bukan main, ingin menangis tetapi ia menahan sakit, ia mencegah keluarnya air matanya.
Dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan berani: "Kenapa kau memukulku? Mana aku tahu dia bersembunyi di mana!" "Kau membandel!" bentak Juji.
Lagi sekali ia mencambuk.
Kali ini Kwee Ceng tidak dapat menangkis.
Tapi ia lantas berteriak: "Aku tidak tahu!
Aku tidak tahu!" Ketika itu sejumlah serdadu sudah menggeledah rumahnya Kwee Ceng, sedang dua yang lain menusuk-nusuk ke dalam tumpukan rumput kering itu.
Kwee Ceng melihat orang hendak menusuk bagian tempat panglima menyelusup, tiba-tiba tangannya menunjuk ke tumpukan rumput yang jauh sambil ia berteriak: "Lihat di sana, benda apakah itu yang bergerak-gerak?" Semua serdadu lantas berpaling mengawasi. Mereka tidak melihat sesuatu yang bergerak.
Kedua serdadu tadi pun sampai lupa untuk menusuk-nusuk lebih jauh.
"Kudanya ada di sini, dia mestinya tidak lari jauh!" kata Juji pula.
"Eh, setan cilik, kau hendak bicara atau tidak!"
Dia mengancam pula Kwee Ceng dengan cambuknya diayun tiga kali beruntun.
Hampir pada saat itu dari kejauhan terdengar suara terompet.
"Kha Khan datang!" sejumlah serdadu berteriak.
Juji lantas berhenti mencambuk, ia memutar kudanya untuk menyambut ayahnya, Temuchin, Kha Khan, "Khan yang terbesar".
"Ayah!" demikian ia menyambut.
Ayahnya itu dikelilingi banyak pengiringnya.
Berat luka Temuchin bekas terpanah Jebe, tetapi di medan perang, ia mencoba sebisanya menahan sakit. Sesudah pertempuran, ia pingsan beberapa kali, hingga ia perlu ditolong dengan Jelmi, panglimanya, serta Ogotai, putranya yang ketiga. Keduanya harus mengisap darah, hingga darahnya ada yang tertelan dan dimuntahkan.
Satu malam ia menjaga semua panglimanya serta keempat putranya.
Baru keesokan harinya, di hari kedua, ia lolos dari ancaman bahaya maut.
Oleh karena itu, tentara Mongolia dikirim ke empat penjuru untuk mencari Jebe, yang hendak ditawan, untuk dihukum dengan diikat empat kuda dan dicincang tubuhnya guna membalaskan sakit hati Khan yang terbesar itu.
Di hari kedua pada waktu sore, sepasukan serdadu berhasil menemukan Jebe.
Musuh itu dikepung tetapi ia dapat meloloskan diri sambil membinasakan beberapa jiwa serdadu Mongol.
Ia sendiri pun telah terluka.
Ketika Temuchin mendengar kabar itu, terlebih dahulu ia mengirim putra sulungnya, Juji, untuk menyusul dan mengejar. Kemudian ia sendiri mengajak putranya yang kedua, Jagatai, putranya yang ketiga, Ogotai, dan putra sulungnya, Tuli, cepat menyusul.
Inilah sebabnya kenapa ia datang belakangan.
"Ayah, kuda hitamnya bajingan itu telah dapat ditemukan!" ia memberitahukan.
"Aku tidak menghendaki kuda, tetapi orangnya!" jawab ayahnya.
"Ya!" sahut putranya.
"Pasti kita akan mendapatkannya!" Ia balik kepada Kwee Ceng.
Kali ini ia menghunus goloknya, ia bolak-balikkan itu ke udara.
"Kau hendak bicara atau tidak!" ancamnya.
Kwee Ceng telah berlumuran darah di wajahnya, ia jadi semakin berani.
"Aku tidak mau bicara!
Aku tidak mau bicara!" teriaknya berulang-ulang.
Mendengar itu, Temuchin berpikir, mengapa bocah itu mengatakan: "Tidak mau bicara" dan bukannya "Aku tidak tahu?" Maka ia lantas berbisik kepada Ogotai: "Pergi bujuk ia hingga ia suka berbicara." Putra ketiga itu menurut sambil tertawa, wajahnya ramai dengan senyuman, ia hampiri Kwee Ceng.
Dari kopiah perangnya ia mencabut dua batang bulu merak yang berkilauan.
"Kau bicaralah, akan aku berikan ini padamu?" katanya seraya mengangsurkan bulu merak itu.
"Aku tidak mau bicara!" Kwee Ceng mengulangi jawabannya.
Putra kedua Temuchin menjadi habis sabar.
"Lepas anjing!" titahnya.
Lantas pengiringnya muncul dengan enam ekor anjing yang besar.
Bangsa Mongol paling gemar berburu, maka itu setiap keluarga bangsawan atau panglima perang mesti memelihara anjing-anjing perlengkapan berburu, begitu pun burung elang besar.
Jagatai adalah putra yang paling gemar berburu. Kapan ia pergi berburu, ia tentu membawa keenam anjingnya itu.
Sekarang anjing itu diperintah dibawa mengitari kuda hitam, untuk diberi mencium bau, habis itu baru semuanya dilepaskan dari rantainya.
Kwee Ceng dan Jebe tidak saling mengenal, hanya kegagahan panglima berseragam hitam itu sangat mengesankan kepadanya, hingga ia suka memberikan pertolongannya.
Sekarang setelah ia dianiaya Juji, timbul kemarahannya, bangkit keangkuhannya, dan tidak sudi ia menyerah.
Ketika ia melihat orang melepas anjing, ia tahu panglima itu terancam ketahuan tempat persembunyiannya. Untuk mencegah, ia lantas bersiul memanggil anjingnya sendiri, anjing penggembala.
Keenam anjing Jagati sudah mulai mencium-cium ke tumpukan rumput kering. Ketika anjing Kwee Ceng mendengar panggilan majikannya, tahu ia akan tugasnya, ia mendahului menghalang di depan tumpukan rumput kering itu dan melarang keenam anjing itu mendekatinya.
Jagati menjadi tidak senang. Ia memerintah anjingnya maju, maka sekejap saja terjadilah pertarungan yang sengit sekali. Gonggongan mereka sangat berisik.
Sayang anjing penggembala itu jauh lebih kecil dan ia sendirian, ia lantas digigit di sana sini, banyak lukanya.
Tapi ia gagah, ia tidak mau mundur.