Chapter 190
"Tidakkah itu sepi?" Lega hatinya si anak muda melihat orang tertawa.
"Ada aku yang menemani kau, mana bisa sepi?" katanya.
"Lagipula, kalau kemudian kita mendapat anak, bukankah itu menjadi lebih tidak sepi?"
"Siapa toh yang melahirkan anak?" si nona bertanya, tertawa.
"Aku sendiri tidak bisa?" Auwyang Kongcu tertawa.
"Nanti aku ajari kau!" katanya.
Ia lantas mengulur tangan kirinya untuk merangkul si nona. Tiba-tiba ia merasakan hawa hangat di tangannya. Sebab, tahu-tahu si nona sudah menyodorkan tangannya sendiri untuk mencekal tangan itu. Tanpa terasa, hatinya berdebar. Inilah yang tidak ia sangka, hingga ia lupa akan dirinya.
Oey Yong menyandarkan tubuhnya di dada pemuda itu, sembari berbuat begitu, tangan kirinya bergerak ke arah tubuh si pemuda. "Ada yang bilang," katanya perlahan, "kehormatan Enci Bok Liam Cu dirusak olehmu, benarkah itu?"
Pemuda itu tertawa lebar. "Perempuan she Bok itu tidak tahu diri!" sahutnya. "Dia tidak sudi ikut padaku. Aku Auwyang Kongcu, kau tahu aku orang macam apa? Mustahil aku sudi memaksa dia!"
Si nona menghela napas. "Kalau begitu, nyata orang keliru menyalahkan kau," katanya.
"Anak itu terlalu besar kepalanya, sayang, sayang!" Auwyang Kongcu menimpali.
Mendadak Oey Yong berpaling ke laut, tangannya menunjuk. "Eh, apakah itu!" katanya, agak terperanjat.
Auwyang Kongcu memandang ke arah yang ditunjuk itu. Ia tidak melihat apa pun, maka ia berpaling lagi untuk bertanya. Namun, tiba-tiba ia merasakan tangannya tercekal keras dan sakit sampai tidak dapat berkutik. Ia justru mengandalkan tangan kirinya itu.
Tangan Oey Yong yang sebelah lagi memegang tempuling. Ia ayunkan senjata itu ke belakang untuk menikam perut si anak muda. Mereka berada sangat dekat satu dengan yang lain; si anak muda pun tercengang. Sedang tangan kanannya mati, tentu saja ia tidak dapat menangkis, bahkan untuk berkelit pun susah.
Tapi ia adalah murid seorang ahli; tak percuma ia berlatih silat dua puluh tahun di Pek To San. Maka, di saat yang genting itu, ia masih ingat untuk membela diri. Bukan menangkis atau berkelit, justru dengan dadanya ia membentur punggung si nona. Oey Yong tidak menyangka, maka begitu terkena benturan, tubuhnya terpelanting jatuh dari atas batu. Saking kagetnya, cekalan kepada tangan pemuda itu terlepas. Tikamannya juga meleset, meski tidak sampai kosong. Sebagai ganti perut, tempuling menyambar paha kanan si anak muda.
Auwyang Kongcu lantas melompat turun dari batu itu. Ketika menghadapi si nona, ia mendapati nona itu lagi berdiri mengawasinya sambil tertawa-tawa, tangannya tetap memegang tempuling. Ia pun lantas merasakan sakit pada dadanya yang dipakai membentur tadi. Ia lantas mengerti, walaupun baru saja ia lolos dari bahaya maut, ia tidak bebas dari duri baju lapis joan-kwie-kah milik si nona.
"Kau aneh!" nona itu menegur. "Selagi enak-enak kita bicara, kenapa kau membentur aku? Sudah masa bodoh!" Dan ia memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.
Auwyang Kongcu berdiri bengong. Ia mendongkol, namun di saat yang sama hatinya terpikat kepada si nona. Ia kaget, sekaligus girang. Ia tidak dapat menyelami hati nona itu. Sampai sekian lama, ia masih terpaku saja.
Oey Yong kembali ke gua, ia menyesal bukan main. Ia menyesal karena ilmu silatnya belum sempurna. Bukankah ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik? Ia tiba di dalam dan mendapati gurunya sedang rebah dengan darah di sampingnya—bekas muntahan. Ia menjadi sangat kaget.
"Suhu!" ia memanggil seraya berlutut. "Kau kenapa, Suhu? Apa kau merasa baikan?"
Guru itu menghela napas perlahan. "Aku ingin minum arak," sahutnya.
Sakit Oey Yong merasakan hatinya. Di mana bisa mendapatkan arak di pulau kosong ini? Terpaksa ia mesti menghibur gurunya itu. Maka ia menyahut, "Nanti aku upayakan, Suhu. Bagaimana kau rasakan lukamu? Apakah tidak ada halangan?" Tanpa terasa ia mengucurkan air mata. Menghadapi kemalangan yang lebih besar, Oey Yong belum pernah menangis, tetapi sekarang ia bersedih bukan main. Ia mendekam di dada gurunya itu dan menangis terisak-isak.
Cit Kong mengusap-usap rambut serta punggung muridnya, ia pun bingung. "Jangan menangis, anak yang baik," katanya. "Gurumu sangat menyayangi kau. Anak yang baik tidak menangis. Ya, gurumu tidak mau minum arak?"
Oey Yong tetap bersedih, ia menangis terus, tetapi selang sesaat, tangisannya itu membuat hatinya lega. Ia mengangkat kepala. Ia lihat dada gurunya basah dengan air matanya. Tiba-tiba ia tertawa. Ia menyingkap rambut di mukanya. "Tadi aku telah menikam si jahanam itu, sayang gagal," katanya. Terus ia menuturkan apa yang ia lakukan terhadap keponakan Auwyang Hong itu.
Cit Kong tunduk, ia tidak menjawab apa pun.
"Gurumu sudah tidak berguna lagi," katanya. "Bangsat jahat itu jauh lebih kuat daripada aku. Untuk melawan dia, tidak dapat kita menggunakan tenaga, tetapi harus dengan kecerdikan."
"Suhu," berkata sang murid dengan hati cemas, "Baiklah Suhu beristirahat beberapa hari untuk memulihkan diri. Kalau Suhu sudah sehat, tidakkah baik apabila Suhu menghajar dia satu kali saja hingga binasa?"
"Aku telah dipagut ular dua kali, aku juga terkena pukulan kuntauw Kodok dari See Tok," katanya berduka. "Dengan menghabiskan seluruh tenaga dalam, aku dapat mengusir racun itu, tetapi mana mungkin aku bisa menyambung nyawa beberapa tahun lagi? Hanya karena aku mesti mengerahkan semua tenagaku, musnahlah ilmu silat yang kupelajari puluhan tahun; musnah dalam satu hari saja. Gurumu adalah seorang yang cacat, telah habis semua kemampuannya."
Oey Yong kaget dan bingung. "Tidak, Suhu, tidak!" serunya. "Itu tidak mungkin!"
Cit Kong tertawa. "Aku si pengemis tua memang bersemangat, akan tetapi sekarang, setelah sampai di akhirnya, aku merasa lega," katanya. Ia berhenti sebentar, lalu memperlihatkan raut wajah yang sungguh-sungguh. Ia menambahkan, "Anak, gurumu terpaksa meminta kau melakukan sesuatu yang sulit sekali. Ini adalah permintaan yang bertentangan dengan rasa hatimu. Dapatkah kau melakukannya?"
"Dapat, Suhu!" si nona menjawab cepat. "Silakan Suhu sebutkan!"
"Sayang, waktu kita sebagai guru dan murid sangat singkat," katanya masgul. "Aku menyesal karena tidak dapat memberikan banyak pelajaran kepadamu, sedangkan sekarang aku hendak memaksakan hal yang sulit untukmu—suatu tanggung jawab yang berat hendak kubebankan di pundakmu. Sebenarnya, hati gurumu tidak tenteram."
Oey Yong heran melihat sikap ragu-ragu gurunya, sedangkan biasanya Pak Kay paling terbuka dan cepat mengambil keputusan. Maka ia percaya, tugas itu pasti penting dan berat sekali. Tapi ia tidak takut.
"Silakan bilang, Suhu!" ia mendesak. "Sekarang Suhu terluka pun karena aku, karena kau mendatangi pulau Tho Hoa To. Untuk budimu itu, meskipun tubuhku hancur lebur, belum dapat aku membalasnya. Hanya saja, muridmu khawatir sekali; khawatir karena usianya yang masih muda, ia tidak sanggup menjalankan pesanmu ini."
Mendengar itu, Ang Cit Kong memperlihatkan raut wajah yang girang. "Dengan begitu kau telah menerima?" ia menegaskan.
Oey Yong mengangguk. "Silakan Suhu menitahkan," sahutnya.
Dengan tiba-tiba Ang Cit Kong bangkit berdiri dengan tegar. Ia merangkapkan kedua tangannya di depan dada, lalu menjura dalam ke arah utara. Lantas ia berkata, "Cauwsu, kau telah membangun Kay Pang hingga sekarang ini telah diwariskan kepada muridmu ini. Sayang sekali muridmu tidak mempunyai kemampuan hingga tak dapat membuat partai kita menjadi semakin besar dan bercahaya. Hari ini keadaan sangat mendesak, mau tidak mau, muridmu mesti melepaskan tanggung jawabnya. Maka itu, dengan berkah perlindungan Cauwsu, muridmu mohon supaya anak ini dijaga agar jika ada bahaya, ia bisa bebas dan memperoleh keselamatan, supaya selanjutnya ia dapat berbuat kebaikan untuk orang-orang partai kita yang sengsara."
Habis mengucap begitu, kembali ia menjura. Selama mendengarkan, Oey Yong bengong, kemudian baru ia tercengang.
"Anak, kau berlutut," berkata Cit Kong kemudian.
Oey Yong menurut, ia menekuk lutut. Ang Cit Kong mengambil tongkatnya, yang dinamakan Lek-tiok-thung, atau Tongkat Bambu Hijau. Ia mengangkat itu tinggi melewati kepala, kedua tangannya dirangkap, lalu ia menyerahkan itu ke dalam tangan si nona.
Oey Yong terbenam dalam keragu-raguan. "Suhu, kau menyuruh aku menjadi... menjadi?" tanyanya gugup.
"Benar!" Cit Kong menjawab. "Aku mengangkat kau sebagai Pangcu, kepala dari Kay Pang, Partai Pengemis. Akulah Pangcu yang kedelapan belas, maka turun kepadamu, kau menjadi Pangcu yang kesembilan belas. Sekarang mari kita menghaturkan terima kasih kepada Cauwsu."
Hati Oey Yong tidak tenteram, akan tetapi ia menyilangkan kedua tangan, ia meneladani Cit Kong untuk menjura ke arah utara. Pak Kay menghela napas panjang, dari wajahnya tampak ia letih sekali, tetapi ia bersemangat—tanda dari riangnya hatinya. Oey Yong menyongsong untuk membantu gurunya itu merebahkan diri.
"Sekarang kau menjadi Pangcu, dengan begitu aku menjadi Tianglo," kata Cit Kong. "Tianglo masih dihormati oleh Pangcu, tetapi dalam urusan besar dan penting, Tianglo tunduk kepada titah Pangcu. Inilah aturan yang menjadi pesan Cauwsu, yang sekali-kali tidak dapat disangkal. Asal tongkat Lek-tiok-thung ini berada di tanganmu, begitu kau memberikan titah, maka semua pengemis di negeri kita ini mesti menerima dan menurut segala titah itu."
Oey Yong masgul sekaligus gugup, ia bingung. Apa artinya gurunya dengan tiba-tiba mewariskan kedudukan raja pengemis padanya? Mana ada alasannya? Tapi gurunya tengah terluka parah, ia pun sudah memberikan janji, maka tidak dapat ia menampik. Penolakan berarti menambah kesedihan hati gurunya.