Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 17

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 17

"Sekarang, dengan memandang Tuan-tuan bertujuh, pinto tidak hendak mempersulit si pendeta. Cukup asal dia suka menyerahkan kedua perempuan malang yang harus dikasihani itu."

"Tiang Cun Cu Totiang, inilah bagianmu yang tidak benar!" Kwa Tin Ok memotong. "Ciauw Bok Taysu ini adalah seorang yang telah beribadah selama puluhan tahun, dan Kuil Hoat Hoa Sin Sie juga merupakan biara kenamaan di kota Kee-hin ini. Bagaimana mungkin Taysu menyembunyikan wanita baik-baik di kuil itu?"

"Di kolong langit yang luas ini, pasti ada manusia palsu yang menipu dunia!" kata si imam dengan nyaring.

Han Po Kie menjadi gusar. "Dengan kata-katamu ini, Totiang, kau seolah tidak percaya pada kami!" tanyanya.

"Aku hanya lebih mempercayai mataku sendiri!" sahut sang imam.

"Lalu, apa yang Totiang kehendaki?" tanya Po Kie lagi.

"Urusan ini sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuan-tuan bertujuh," sahut Cie Kee. "Akan tetapi, Tuan-tuan tampaknya memaksa hendak mencampuri urusan ini. Dengan begitu, teranglah Tuan-tuan terlalu mengandalkan kepandaian orang lain. Pinto memang bodoh, tetapi karena tidak ada jalan lain, terpaksa pinto harus mencoba menghadapi Tuan-tuan untuk menetapkan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah. Seumpama pinto tak dapat melawan, terserah kepada Tuan-tuan apa yang hendak dilakukan."

"Jikalau sudah pasti Totiang menghendaki demikian, silakan tunjukkan caramu!" kata Kwa Tin Ok.

Cie Kee terdiam sebentar, lalu bersuara perlahan. "Kita sebenarnya tidak saling mendendam," katanya kemudian. "Pinto pun telah lama mendengar bahwa Tuan-tuan adalah orang-orang gagah yang mulia di wilayah Kanglam. Oleh karena itu, jikalau kita menggunakan senjata, pasti akan merusak kerukunan. Pinto pikir, bagaimana jika diatur demikian saja?"

Lantas ia berteriak memanggil pelayan untuk menyiapkan empat belas cawan arak besar. Sejak tadi, para pelayan bersembunyi di bawah loteng. Begitu dipanggil, salah satu di antaranya muncul membawa belasan cangkir yang diminta. Cie Kee meletakkan jambangan arak di lantai, lalu satu per satu cawan ia celupkan ke dalam arak untuk mengisinya hingga penuh. Sesudah itu, empat belas cawan berisi arak diatur dalam dua baris di lantai.

"Pinto hendak adu kekuatan minum arak dengan Tuan-tuan bertujuh," katanya kemudian. "Tuan-tuan bertujuh minum satu cawan, pinto sendiri akan minum tujuh cawan. Perjanjian kita adalah sampai isi jambangan ini habis; siapa yang tidak mabuk, dialah pemenangnya. Bukankah cara ini bagus?"

Han Po Kie dan Thio A Seng adalah peminum berat, mereka segera menyatakan setuju. Akan tetapi, Kwa Tin Ok berkata: "Kami bertujuh melawan satu, seumpama kami menang, itu bukan cara laki-laki! Totiang, lebih baik kau sebutkan cara lain!"

"Bagaimana Tuan bisa merasa begitu yakin akan memperoleh kemenangan?" Tiang Cun Cu Wanyen Lieh pun merasa heran. Banyak cara untuk adu pibu, namun ia belum pernah mendengar cara seperti itu. Katakanlah si imam kuat minum, tetapi seberapa besar perutnya? Dapatkah satu perut melawan perut tujuh orang?

Han Siauw Eng adalah yang termuda di antara Kanglam Cit Koay. Ia polos dan bersikap jantan. Terhadap tawaran si imam, ia tidak menawar lagi. "Baiklah!" katanya. "Mari kita adu minum arak dulu! Belum pernah aku mendapati orang yang begitu memandang rendah kami bertujuh, dan inilah yang pertama kali!" Tanpa ragu, ia mengambil satu cawan dan meneggak isinya.

"Nona Han adalah wanita yang jantan!" Khu Cie Kee memuji. "Nah, Tuan-tuan, silakan!" Hampir berbarengan, enam orang aneh lainnya dari Kanglam itu mengangkat cawan masing-masing dan mengikutinya, sementara si imam tanpa banyak bicara lagi meneggak habis tujuh cawan bagiannya satu per satu.

Semua cawan diisi kembali, lalu ditegak habis. Setelah cawan ketiga, Nona Han Siauw Eng segera merasakan bahwa ia tidak sanggup minum lebih jauh lagi. Ia memang bukan peminum. "Cit-moay, biarkan aku mewakilimu!" kata Thio A Seng kepada adik angkatnya yang ketujuh itu yang tampak sudah lelah.

"Khu Totiang, bolehkah aku diwakilkan?" tanya si nona kepada si imam. Sebagai orang yang jantan, ia menanyakan pendapat si imam terlebih dahulu.

"Boleh!" jawab Khu Cie Kee. "Siapa pun yang meminumnya sama saja!" Maka, A Seng pun mewakili adiknya.

Si imam meneggak habis tujuh cawannya. Saat hendak dilanjutkan ke giliran berikutnya, Coan Kim Hoat tampaknya sudah kewalahan. Sebaliknya, Khu Cie Kee telah meneggak dua puluh cawan dan masih tampak segar seperti biasa; rona wajahnya tidak berubah. Hal itu membuat Kim Hoat yang cerdik merasa heran.

"Dengan mundurnya aku dan Cit-moay, kami tinggal berlima," pikirnya. "Kelihatannya jika mereka minum tiga atau empat cawan lagi, mereka masih sanggup. Namun si imam, apakah ia masih sanggup menghabiskan dua puluh cawan lagi?" Karena berpikir demikian, Kim Hoat percaya pihaknya akan menang.

Namun tiba-tiba ia terperanjat. Secara tidak sengaja ia melihat ke lantai, dan tampak lantai di tempat si imam berdiri menjadi basah. Ia segera teringat sesuatu dan berbisik kepada Cu Cong, "Jie-ko, coba lihat kaki si imam!"

Cu Cong memandang ke tempat yang ditunjuk. "Hebat!" bisiknya. "Ia menggunakan tenaga dalam untuk memaksa arak turun ke kakinya?"

"Benar," bisik Kim Hoat lagi. "Tenaga dalamnya begitu lihai, lalu bagaimana?"

Cu Cong pun berpikir. "Dengan bantuan tenaga dalam, meski minum seratus cawan lagi pun ia tidak akan tumbang," katanya.

Mereka telah menghabiskan cawan-cawan lainnya. Kini lantai di kaki Khu Cie Kee tampak digenangi cairan yang mengalir. Lam Hie Jin dan kawan-kawannya dapat melihat hal itu. Mereka menyadari penyebabnya dan mengagumi tenaga dalam si imam yang sempurna.

Han Po Kie meletakkan cawannya di meja, hendak menyerah kalah. Cu Cong melihat tindakan adiknya itu, lalu mengedipkan mata. Tangannya menyambar sebuah cawan besar untuk menyendok arak.

"Khu Totiang," katanya, "tenaga dalammu hebat, kami semua sangat mengaguminya. Akan tetapi, jika kami berlima melayanimu, rasanya tidak adil."

Cie Kee terperanjat. "Lalu, apa yang Cu Jie-ko pikirkan?" tanyanya.

Cu Cong, si Mahasiswa Tangan Lihai, tertawa. "Baiklah, aku sendiri yang akan melayanimu, satu lawan satu!" sahutnya.

Cie Kee heran, begitu pula dengan anggota Kanglam Cit Koay lainnya. Lima orang saja sudah keteteran, bagaimana ia hendak melawan sendirian? Keenam orang aneh itu merasa heran, meskipun mereka tahu saudara kedua mereka ini sangat cerdik dan licin. Mereka diam, menduga saudara mereka ini pasti memiliki akal muslihat.

"Kanglam Cit Koay sungguh hebat," kata Cie Kee kemudian. "Sekarang begini saja, Cu Jie-ko. Kau temani aku minum terus. Setelah jambangan ini kosong, pinto akan menyerah kalah. Bukankah ini bagus?"

Arak di dalam jambangan perunggu itu tinggal separuh. Meski begitu, isinya masih banyak, tetapi Cu Cong seolah tidak memedulikannya. Ia tertawa saat berkata, "Sebenarnya aku tidak kuat minum, tetapi tahun lalu aku bepergian ke daerah selatan dan berhasil mengalahkan beberapa makhluk lihai. Mari kita habiskan!"

Ia menggoyang-goyangkan kipas di tangan kanan, sementara ujung baju kirinya dikibaskan. Dengan sikap wajar, ia meminum araknya cawan demi cawan. Cie Kee pun ikut minum. "Makhluk lihai apa itu?" tanyanya.

"Pernah suatu kali aku pergi ke India," sahut Cu Cong. "Di sana, putra raja India mengeluarkan seekor lembu dan memintaku melawan kerbau itu minum arak keras. Hasilnya, akulah yang menang!"

"Cih!" seru Cie Kee. Ia tahu orang itu bicara asal-asalan, dan dengan kata-kata itu ia disamakan dengan kerbau. Namun karena Cu Cong berpura-pura gila, ia tidak bisa marah. Ia heran menyaksikan orang itu kuat minum dengan sikap tenang. Ia memperhatikan bahwa orang itu tidak mengerahkan tenaga dalam; tidak ada arak yang merembes keluar. Hanya saja, perut si manusia aneh itu tampak sedikit menggembung. "Mungkinkah perutnya bisa kembang kempis sesuka hati?" pikirnya.

Selagi ia masih belum mengerti, ia mendengar Cu Cong berkata lagi, "Tahun lalu aku juga pergi ke negeri Siam. Di sana lebih hebat lagi! Raja Siam menyuruh mengeluarkan seekor gajah putih besar, dan aku disuruh melawan gajah itu minum arak! Binatang besar itu menyedot habis tujuh jambangan! Totiang tahu berapa jambangan yang kuhabiskan?"

Tiang Cun Cu tahu orang itu sedang bergurau, namun karena bicaranya sangat wajar, sikapnya menarik hati. "Berapa jambangan?" tanyanya sekenanya.

Tiba-tiba wajah Cu Cong menjadi sungguh-sungguh. "Sembilan jambangan!" katanya perlahan namun mengesankan. Tanpa menunggu tanggapan, ia menyambung dengan nyaring, "Mari minum! Cepat, cepat!"

Lantas ia terus mengoceh, menggerakkan kaki dan tangannya, sambil sesekali meneggak arak. Dikatakan mabuk, ia tidak hilang ingatan; dikatakan gila, ia tidak kumat. Tentu saja, selama itu Khu Cie Kee harus melayaninya minum hingga akhirnya jambangan arak itu memperlihatkan dasarnya!

Imam itu segera mengacungkan jempol. "Saudara Cu, kau benar-benar manusia aneh!" serunya. "Aku menyerah!"

Cu Cong mengawasi imam itu sambil tertawa. "Totiang minum dengan mengandalkan tenaga dalam," katanya. "Sedangkan aku? Lihatlah!"

Ia tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba melakukan lompatan jungkir balik. Saat berdiri kembali, tangannya memegang sebuah wadah air. Ketika wadah itu dilemparkan, bau arak tercium menyengat hidung. Orang kedua dari Kanglam Cit Koay telah memperlihatkan kemampuannya. Di hadapan orang-orang sakti itu, tidak ada satu pun yang melihat dari mana ia mengambil wadah air tersebut. Perutnya kembali kempis karena semua arak telah berpindah ke dalam wadah yang selama ini disembunyikan di bawah jubahnya yang longgar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment