Chapter 117
"Nanti aku antarkan kau kepada kekasihmu itu!" Wanyen Kang baru saja membuka pintu untuk keluar ketika ia mendengar suara tawa seorang nona yang terus berkata, "Inilah kekasihmu datang, lekas sambut dia!" Ia terkejut, namun ia harus merentangkan kedua tangannya karena ada tubuh yang didorong ke arahnya, hingga ia terpaksa memeluk orang itu.
Itulah tubuh yang lemas.
Nona tadi melompat ke tembok, sembari tertawa ia berkata lagi, "Enci, bagaimana nanti kau membalas budiku?" Sesaat kemudian, suara itu lenyap bersama orangnya.
Pada saat itu juga, tubuh yang lemah tersebut bergerak dan jatuh ke lantai. Wanyen Kang heran; ia kaget hingga mundur karena khawatir telah melukai orang.
"Apakah kau masih ingat aku?" ia mendapat jawaban yang perlahan sekali. Ia mengenali suara itu dan terperanjat.
"Kau?" katanya.
"Memang aku," sahut Liam Cu.
"Apakah ada orang lain bersamamu?" tanya sang pangeran lagi.
"Yang tadi itu adalah sahabatku yang nakal dan jahil. Dia menguntit aku di luar pengetahuanku," jawab sang nona.
Wanyen Kang masuk ke dalam dan menyalakan api. "Nona, mari masuk!" ajaknya. Liam Cu melangkah masuk sambil menunduk, lalu duduk di kursi. Ia terus menunduk dan membisu, sementara hatinya berdebaran. Wanyen Kang mengawasi orang yang tampak kaget sekaligus girang itu; wajahnya silih berganti pucat dan merah. Itulah pesona seorang nona, dan tentu saja hati sang pangeran pun berdegup kencang.
"Ada apa malam-malam kau datang mencari aku?" tanyanya akhirnya.
Liam Cu tidak menjawab. Wanyen Kang teringat kematian tragis ayah dan ibunya, tanpa sadar ia merasa iba kepada nona ini.
"Adik," katanya kemudian, "Karena ayahmu telah tiada, selanjutnya kau baiknya tinggal bersamaku. Aku akan menganggapmu sebagai adik kandungku."
"Aku adalah anak angkat ayah, bukan anak kandung," sahut Liam Cu.
Wanyen Kang tersadar. "Dia bicara kepadaku," pikirnya. "Di antara kita jadinya tidak ada hubungan darah." Ia mengulurkan tangannya, mencekal tangan kanan sang nona, lalu tersenyum. Liam Cu memerah wajahnya; ia memberontak perlahan, tetapi tangannya tidak terlepas. Ia menunduk dan membiarkan tangannya tetap digenggam.
Hati Wanyen Kang berdebaran. Ia mengulurkan tangan kirinya dan merangkul leher sang nona. "Inilah untuk ketiga kalinya aku memelukmu," bisiknya di telinga orang itu. "Yang pertama di gelanggang pibu, yang kedua kali di luar kamar. Kali ini kita bersama tanpa orang ketiga." Liam Cu mendengar suara itu perlahan, hatinya berdebar bukan main.
"Kenapa kau mencari aku?" ia mendengar lagi sang pangeran bertanya.
"Semenjak dari kota raja aku mengikuti kau," jawab sang nona. "Setiap malam aku mengawasi tubuhmu dari balik jendela. Aku tidak berani..."
"Aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi, jangan kau sia-siakan aku," kata Liam Cu kemudian dengan suara yang sangat pelan.
Pangeran itu mengusap-usap rambut sang nona dengan lembut. "Kau jangan khawatir," katanya. "Untuk selama-lamanya aku adalah kepunyaanmu dan kau pun untuk selama-lamanya kepunyaanku. Tidakkah itu bagus?"
Liam Cu puas sekali. Ia mendongak menatap wajah pemuda itu dan mengangguk.
"Pasti aku akan menikah denganmu," katanya.
"Kalau di hari kemudian aku menyia-nyiakanmu, biar aku terbinasa di antara bacokan golok, biar aku mati tidak utuh!" sumpah sang pemuda.
Liam Cu menangis karena terharu. "Meski aku adalah seorang nona kangouw, aku bukanlah manusia rendah," katanya. "Jikalau kau benar mencintaiku, kau juga mesti menghargainya. Seumur hidupku, aku tidak berpikiran lain. Meskipun leherku diancam golok, pasti aku akan tetap mengikuti kau." Suara sang nona terdengar pelan namun teguh.
Mau tidak mau, Wanyen Kang menaruh hormat. "Adikku, kau baik sekali," katanya.
"Cun di Liam-an, sembarang waktu kau boleh kirim orang perantaraanmu untuk melamarku," ucap Liam Cu. Ia berhenti sebentar, lalu meneruskan, "Selama kau tidak datang, seumur hidupku aku akan menantikanmu!"
"Jangan bersangsian, adikku," kata Wanyen Kang. "Setelah selesai tugasku, aku akan menyambutmu untuk kita menikah."
Liam Cu tertawa, ia memutar tubuhnya dan bergegas keluar.
"Jangan lantas pergi, adikku!" Wanyen Kang memanggil. "Mari kita mengobrol dulu!"
Nona itu berpaling, tetapi langkahnya tidak dihentikan. Wanyen Kang mengantar dengan tatapan matanya sampai orang itu melompati tembok. Ia berdiri mematung, kemudian berbalik masuk ke kamarnya. Ia melihat tempat di mana masih tersisa air mata sang nona. Ia merasa dirinya sedang bermimpi.