Chapter 130
"Itulah pukulan yang tidak ada keanehannya! Itulah jurus kedelapan yang dinamakan 'Burung belibis tunggal keluar dari rombongannya' dari tipu silat Thong-pek Liok-hap-ciang!" Kiu Cian Jin heran orang mengenali pukulannya itu.
Memang itu adalah tipu silat Thong-pek Ngo-heng-ciang. Jurus itu tidak aneh, tetapi ia telah melatihnya selama beberapa puluh tahun, maka di tangannya, pukulan itu lihai sekali; kedua tangannya dapat bergerak dengan cepat dan hebat.
Kwee Ceng tidak berani menangkis serangan itu. Pertama, ia gentar akan nama besar lawannya; kedua, ia melihat gerak-gerik orang yang luar biasa itu. Ia memilih mundur.
Kiu Cian Jin menduga-duga terhadap si anak muda tersebut dan mengambil kesimpulan, "Dia dapat menghajar kursi, itu karena tenaganya yang besar. Ilmu silatnya hanya biasa saja." Karena itu, ia lantas mendesak.
Oey Yong bingung melihat kawannya terdesak demikian rupa. Ia mengkhawatirkan kekalahannya, maka ia lantas bersiap untuk membantu. Kwee Ceng kebetulan menoleh kepada si nona. Kapan ia melihat roman kekhawatiran dari nona itu, tanpa merasa hatinya terkesiap. Justru saat itu, tinju Kiu Cian Jin mampir di dadanya.
Serangan itu membuat Oey Yong dan Kanglam Liok Koay kaget sekali; mereka menyangka anak muda itu akan celaka. Bukankah musuh itu sangat tangguh? Kalau tidak mati, Kwee Ceng pasti akan terluka parah. Kwee Ceng pun kaget bukan main, ia lantas mengerahkan tenaganya. Kedua tangannya dipentang dengan kaget. Habis itu, ia menjadi heran sendiri. Ia terhajar di dadanya, tetapi ia tidak merasakan terlalu sakit, hingga ia tercengang.
Oey Yong dapat melihat pemuda itu terdiam, ia menyangka pemuda itu pingsan, maka ia lantas melompat untuk membantu. "Bagaimana, Engko Ceng?" tanyanya. Tanpa terasa, air matanya meleleh.
Namun, jawaban si pemuda luar biasa sekali. "Tidak apa-apa, aku akan mencoba pula!" demikian jawaban itu. Ia terus mengangkat dadanya dan bertindak menghampiri lawannya yang berdiri mengawasi. "Kaulah si jago tua Tangan Besi, marilah kau pukul pula aku satu kali lagi!" ia menantang.
Jago tua itu menjadi sangat gusar, ia lantas meninju. Sebagai akibat serangan itu, terdengar suara "Duk!" keras sekali. Bukannya jatuh atau kesakitan, Kwee Ceng justru tertawa terbahak-bahak.
"Suhu, Liok Chungcu, Yong-jie!" ia berteriak. "Tua bangka ini berkepandaian biasa saja! Dia menghajar aku tidak apa-apa, setelah ia menghajar, terbukalah rahasianya!" Kata-kata ini disusul dengan gerakan tangan kiri yang mengebas untuk mendesak orang itu sambil berseru, "Kau pun rasakan tanganku!"
Melihat gerakan orang itu, Kiu Cian Jin memandang enteng. Ia lantas menggerakkan kedua tangannya guna membentur tangan kiri si pemuda. Ia tidak tahu Kwee Ceng justru menggunakan jurus "Enam Naga Naik ke Langit" dari Hang Liong Sip-pat Ciang, salah satu pukulan yang paling luar biasa. Maka, tidak ampun lagi ia terkena hantaman di pundak kanannya yang menyambung sampai dada; tubuhnya terus terlempar ke luar pintu bagaikan layangan putus!
Semua orang menjadi kaget hingga mereka berseru. Justru saat itu, kejadian aneh lainnya menyusul. Dari luar terlihat masuknya seorang wanita yang mencekal Kiu Cian Jin pada leher bajunya. Tindakan wanita itu lebar; sesampainya di dalam ruangan, ia meletakkan orang yang dibawanya itu separuh ditenteng. Ia berdiri tegar, pada wajahnya tak tampak senyuman, sebaliknya romannya sangat dingin. Rambutnya panjang riap-riapan ke pundaknya, kepalanya pun didongakkan. Sebab dialah Tat Sie Bwee Tiauw Hong, salah satu dari Hek Hong Siang Sat.
Semua orang terperanjat. Di belakang si Mayat Besi ini mengikuti seorang lain, tubuhnya jangkung kurus, bajunya hijau, wajahnya luar biasa sekali. Siapa mengawasi wajah itu, dirinya akan menggigil. Siapa pernah melihat satu kali, lantas tak sudi dia melihatnya untuk kedua kalinya.
Liok Chungcu heran bukan main. Kiu Cian Jin yang demikian kesohor itu, yang mulutnya terpentang sangat lebar, tidak sanggup mempertahankan diri untuk satu hajaran dari Kwee Ceng. Ia pun merasa lucu. Akan tetapi, menampak munculnya Bwee Tiauw Hong, ia melongo.
Wanyen Kang melihat gurunya, ia girang bukan main. "Suhu!" ia memanggil seraya menghampirkan untuk memberi hormat. Berbareng dengan itu ia menjadi ingat Liam Cu, yang ia heran tidak datang bersama; entah di mana adanya si nona.
Liok Chungcu tidak berdiam lama, segera ia memberi hormat pada si Mayat Besi. "Bwee Suci!" katanya, "Duapuluh tahun sudah kita berpisah, hari ini kita dapat bertemu pula, aku girang sekali. Tentunya Tan koko baik, bukan?" Liok Koay saling mengawasi dengan Koan Eng. Kenapa tuan rumah memanggil Suci, kakak seperguruan, kepada Bwee Tiauw Hong itu? Mereka heran berbareng gentar juga.
Tin Ok pun berpikir, "Hari ini kita berada dalam kurungan. Sudah Bwee Tiauw Hong sendiri sukar dilawan, sekarang ada adik seperguruannya ini." Oey Yong sebaliknya berpikir: "Liok Chungcu ini, ilmu silatnya, ilmu suratnya, kata-katanya, gerak-geriknya, semua mirip dengan ayah. Aku sudah menyangka dia ada hubungannya sama ayah, siapa sangka dia justru murid ayah!"
Segera terdengar suara dingin dari Bwee Tiauw Hong. "Yang bicara ini apakah sutee Liok Seng Hong?"
"Benar suteemu, suci," sahut Liok Chungcu. "Sejak perpisahan kita, apakah suci banyak baik?"
Atas itu, Bwee Tiauw Hong menjawab, "Kedua mataku telah menjadi buta dan kau punya kakak Hiang Hong telah orang bunuh mati pada duapuluh tahun yang lalu! Tidakkah itu memuaskan hatimu?"
Mendengar itu, tuan rumah girang berbareng kaget. Kaget sebab Hek Hong Siang Sat yang begitu lihai, yang malang melintang di dunia ini, telah ada yang membinasakan. Girang sebab itu berarti ia kekurangan seorang lawan tangguh dan musuh sisanya ini sudah cacat matanya. Hanya ia berduka kapan ia ingat persaudaraan mereka selama di Pulau Tho Hoa To.
"Siapakah musuh dari Tan koko itu?" ia tanya. "Sudahkah suci menuntut balas?"
"Aku justru hendak mencari mereka itu!" sahut Tiauw Hong.
"Nanti aku akan membantu kau menuntut balas itu, suci," berkata Liok Chungcu. "Selesai pembalasan itu, barulah kita membereskan perhitungan kita!"
"Hm!" Bwee Tiauw Hong memperdengarkan ejekannya.
Mendadak itu Han Po Kie menepuk meja sambil melompat bangun. "Bwee Tiauw Hong, musuhmu ada di sini!" dia berteriak. Coan Kim Hoat terkejut, ia menarik saudaranya itu. Tiauw Hong sebaliknya melongo.
Sampai di situ, Kiu Cian Jin yang sejak tadi berdiam saja, sebab ia merasakan sakit bekas hajaran Kwee Ceng dan baru sekarang rasa sakitnya itu hilang sedikit, turut bicara. "Apa itu yang disebut menuntut balas dan membereskan perhitungan!" katanya. "Sekalipun guru sendiri dibunuh orang tidak tahu, untuk apa menyebut diri sebagai orang gagah!"
"Apa kau bilang!" membentak Bwee Tiauw Hong seraya mencekal keras tangan orang.
"Lekas lepas!" berteriak Kiu Cian Jin kesakitan.
"Kau bilang apa?" tanya pula Tiauw Hong, tidak mempedulikannya.
"Oey Yok Su, pemilik dari Pulau Tho Hoa To, telah orang bunuh mati!" sahut si orang tua.
Liok Seng Hong kaget sekali. "Benarkah kata-katamu ini?" ia menanya.
"Kenapa tidak benar!" membalas Kiu Cian Jin. "Oey Yok Su kena dikurung Coan Cin Cit Cu, murid-muridnya Ong Tiong Yang, dan terbinasa karenanya."
Mendengar itu, Bwee Tiauw Hong dan Liok Seng Hong menjerit menangis menggerung, sedang Oey Yong roboh pingsan berlutut di kursinya. Dan yang lainnya semua kaget sekali. Sebenarnya mereka tidak percaya Oey Yok Su yang begitu lihai terbinasakan orang, tetapi mengetahui musuh-musuhnya adalah Coan Cin Cit Cu, mereka mau mempercayainya. Mereka mengetahui baik kelihaian Ma Giok bertujuh.
Kwee Ceng pun kaget, tetapi ia segera memburu Oey Yong untuk membangunkan sambil memeluknya. "Yong-jie, sadar!" ia memanggil-manggil. Ia melihat muka orang pucat dan napasnya berjalan perlahan sekali. Saking khawatir, ia berteriak: "Suhu! Suhu! Tolongi dia!"
Cu Cong melompat menghampiri, ia meraba hidung orang. "Jangan khawatir," ia berkata. "Ia pingsan karena kaget mendadak, dia tidak mati." Ia lantas mengurut-urut jalan darah lauw-kong-hiat di telapak tangan si nona.
Dengan perlahan-lahan Oey Yong mendusin, lantas ia menjerit: "Mana ayahku? Ayah! Aku menghendaki ayahku!"
Mendengar itu, Seng Hong terperanjat. "Oh!" serunya, "Kalau dia bukannya putri guruku, mana mungkin ia ketahui tentang Kiu-ho Giok-louw-wan?" Lalu ia menangis, air matanya meleleh. Ia berkata: "Adik kecil, mari kita mengadu tenaga dengan itu imam-imam bangsat dari Coan Cin Kauw! Eh, Bwee Tiauw Hong, kau turut atau tidak? Kalau tidak, hendak aku mengadu jiwa lebih dulu denganmu!"
Koan Eng segera membantu ayahnya yang menjadi demikian berduka. "Jangan terlalu berduka, Ayah," ia membujuk, "Kita bertindak perlahan-lahan."
Seng Hong tidak mempedulikan anaknya itu, ia menangis menggerung-gerung pula. "Bwee Tiauw Hong, kau perempuan bangsat!" ia mendamprat. "Sungguh hebat kau telah menganiaya aku! Kau tidak tahu malu, kau mencuri laki, itulah masih tidak apa! Tapi kenapa kau curi juga kitab Kiu Im Cin Keng kepunyaan guru? Kau tahu, saking gusarnya Suhu, dia sudah putuskan urat kaki dari kami empat saudara, dia usir kami semua dari Pulau Tho Hoa To! Aku masih mengharapkan Suhu nanti sadar budinya, nanti ia mengasihani kami yang tidak bersalah dosa supaya kami diterima kembali sebagai muridnya, tetapi sekarang ia telah menutup mata! Dengan begini pastilah penyesalanku ini ada untuk seumur hidupku!"
Bwee Tiauw Hong panas hatinya, ia membalas mencaci: "Dulu aku mencaci kau tidak punya semangat, sekarang tetap aku mencaci kau tidak mempunyai semangat! Berulangkali kau mengajak orang membikin susah kami suami-istri, kau membuat kami tidak punya tempat untuk menyembunyikan diri, karenanya kami menjadi menderita sangat di gurun di Mongolia! Sekarang, bukannya kau berdaya untuk membalas sakit hati Suhu, kau repot hendak membuat perhitungan denganku, kau menangis saja tidak karuan! Mari kita mencari Coan Cin Cit Cu untuk mencari balas!"