Chapter 202
"Sekarang semuanya sudah terlambat. Walaupun jiwaku tertolong, kepandaianku tidak akan pulih kembali." Kwee Ceng hendak bicara, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Maka, dia hanya berkata, "Sekarang saya akan memotong kayu lagi."
Murid ini belum sempat melompat turun ketika gurunya berkata, "Ceng, sekarang aku punya akal untuk menggertak si tua bangka berbisa itu. Coba lihat, akalku ini akan berhasil atau tidak?" Sang guru lalu menceritakan siasatnya.
"Bagus, Suhu!" seru Kwee Ceng. "Ini pasti berhasil!" Setelah itu, sang murid segera turun untuk bekerja dan bersiap-siap.
Keesokan paginya, Auwyang Hong muncul untuk memeriksa jumlah pohon. Dia mendapati jumlahnya baru sembilan puluh batang, masih kurang sepuluh lagi. Dia tertawa dingin lalu berteriak, "Hei, bocah kurang ajar, lekas menggelinding keluar! Mana sepuluh pohon lagi?!"
Hati Oey Yong merasa perih mendengar perkataan kotor orang itu. Sejak sore kemarin, dia terpaksa mendampingi dan merawat Auwyang Kongcu. Setiap kali mendengar rintihan pemuda itu, hatinya menjadi iba. Namun, mengingat kecentilan pemuda itu, dia pun merasa jemu.
Ketika Auwyang Hong keluar pagi itu, diam-diam Oey Yong juga ikut keluar. Oleh karena itu, dia bisa mendengar suara kasar dari See Tok. Namun, pertanyaan Auwyang Hong tidak mendapat jawaban. Di atas pohon keadaan sunyi senyap. See Tok lantas mendongak ke atas dan menajamkan pendengarannya.
Tiba-tiba dia mendengar desau angin dari balik gunung, suara angin dari orang yang sedang bertempur. Dia menjadi heran lalu bergegas lari untuk melihatnya. Begitu melihat kejadian di sana, dia sangat terkejut. Di sana, Ang Cit Kong sedang bertempur sengit dengan Kwee Ceng. Gerakan tangan dan kaki keduanya sangat hebat.
Oey Yong yang ikut menyaksikan juga merasa heran bukan main. Namun, rasa herannya bercampur dengan kegembiraan. Tampaknya tenaga sang guru sudah pulih kembali, sehingga dia bisa bersilat dan berlatih lagi dengan Kwee Ceng.
"Ceng, berhati-hatilah dengan jurus ini!" terdengar peringatan dari Begal Utara saat dia hendak menyerang. Dia langsung melancarkan dorongan tangan.
Kwee Ceng menggerakkan tangannya untuk menangkis. Namun, sebelum tangan mereka saling beradu, dia sudah terpental mundur seolah terdorong dengan sangat keras, hingga tubuhnya membentur sebatang pohon di belakangnya. "Bruk!" terdengar suara benturan yang keras. Pohon itu roboh dan tubuh pemuda itu terpelanting. Pohon itu memang tidak terlalu besar, kira-kira hanya sebesar mulut mangkuk, tetapi sungguh mengherankan pohon itu bisa roboh hanya karena terbentur tubuh Kwee Ceng.
Menyaksikan hal itu, Auwyang Hong berdiri tercengang dengan mulut menganga.
"Suhu!" teriak Oey Yong. "Itu pukulan hebat dari Pek-hong-ciang!"
Ang Cit Kong tidak menjawab muridnya itu, dia hanya berseru kepada Kwee Ceng, "Ceng, atur napasmu agar tidak sampai terluka dalam!"
"Teecu mengerti, Suhu!" sahut Kwee Ceng, yang sementara itu sudah maju lagi untuk melanjutkan pertempuran.
Hanya dalam beberapa jurus, dia kembali terkena serangan hingga terpelanting mundur, bahkan membentur pohon lagi sampai roboh seperti sebelumnya. Auwyang Hong terus berdiri diam mengawasi latihan guru dan murid itu. Kehebatannya adalah setiap kali Kwee Ceng terkena pukulan dan terpental mundur, dia selalu membentur pohon, dan pohon tersebut langsung roboh seketika. Dengan cara itu, dalam waktu singkat, sepuluh pohon sudah rebah di tanah.
Oey Yong menghitung, "Sepuluh pohon!" serunya.
Kwee Ceng terengah-engah, tampaknya dia sangat letih. "Teecu tidak kuat berlatih lebih lama lagi," katanya dengan napas berat.
Ang Cit Kong tertawa lalu berkata, "Ilmu silat dari Kitab Kiu Im Cin-keng ini benar-benar luar biasa! Aku sedang terluka parah, tetapi pagi ini, baru sekali berlatih saja aku sudah berhasil!"
Auwyang Hong merasa heran sekaligus curiga. Dia pun mendekati pohon-pohon yang roboh itu untuk memeriksanya. Dia mendapati bahwa bagian yang patah meninggalkan bekas yang licin, seperti bekas dipotong atau digergaji.
"Benarkah kitab ini sehebat itu?" pikirnya. "Kelihatannya si pengemis tua ini menjadi jauh lebih tangguh daripada sebelumnya. Jika mereka bergabung, mana mungkin aku sanggup melawan mereka? Tidak boleh ditunda lagi, aku juga harus segera berlatih!"
Dia melirik ke arah ketiga orang itu, lalu berbalik dan berlari menuju gua. Setibanya di sana, dia mengeluarkan bungkusan berisi naskah salinan kitab Kiu Im Cin-keng yang ditulis oleh Kwee Ceng. Dia membukanya untuk dibaca dan dipahami, guna melatih dirinya nanti.
Cit Kong dan Kwee Ceng menunggu sampai See Tok benar-benar lenyap dari pandangan mereka, lalu tertawa terbahak-bahak. Oey Yong menghampiri mereka.
"Suhu, ini hebat sekali!" pujinya. "Luar biasa isi kitab itu!"
Cit Kong yang sedang tertawa lebar belum sempat menyahuti muridnya itu.
"Kami tadi hanya bersandiwara!" Kwee Ceng memberi tahu.
Gadis itu heran dan memperhatikan mereka. Kwee Ceng tidak menunda lama untuk membeberkan rahasianya. Rupanya mereka hanya berlatih tanding kosong, sedangkan semua pohon itu sebenarnya sudah dipotong terlebih dahulu dan hanya disisakan sedikit di bagian tengah agar tidak langsung tumbang. Begitu ditabrak oleh Kwee Ceng, semua pohon itu langsung roboh seketika.
Kwee Ceng pun terpental bukan karena terkena pukulan. Begitu diserang, dia sengaja melompat mundur seolah-olah terpelanting dan dengan sengaja membenturkan dirinya ke pohon-pohon tersebut. Auwyang Hong tidak mengetahui rahasia itu, sehingga dia tentu saja berhasil dikecoh. Mendengar penjelasan tersebut, Oey Yong yang tadinya ingin tertawa malah terdiam, dan sepasang alisnya tampak berkerut.
Ang Cit Kong tertawa lalu berkata, "Bagi si tua bangka ini, bisa kembali menggerakkan kaki dan tangan untuk berjalan saja sudah merupakan keberuntungan besar. Sekarang, aku tidak peduli apakah ilmu silat itu asli atau palsu! Yong-jie, apakah kau khawatir kelak See Tok akan mengetahui rahasia kita ini?"
Oey Yong mengangguk. Tebakan gurunya sangat jitu.
"See Tok sangat tajam penglihatannya dan cerdas, sebenarnya tidak mudah untuk mengakilinya. Namun, segala hal sulit untuk diduga, jadi untuk saat ini kita tidak perlu khawatir. Sekarang aku ingat, Kwee Ceng, di dalam kitab itu ada bagian pelajaran 'Mengubah Urat dan Memperkuat Tulang' yang sangat luar biasa. Menurutku, selagi kita memiliki waktu luang, ada baiknya kita mempelajarinya bersama-sama." Nada bicara sang guru terdengar tenang, tetapi Oey Yong memahami maksudnya.
"Baik, Suhu," katanya. "Mari kita mulai!"
Cit Kong meminta Kwee Ceng menghafal luar kepala sebanyak dua kali bagian yang berjudul "Ie Kin Toan Kut Pian" (Yi Jin Duan Gu Pian). Setelah itu, dia memberikan penjelasan dan menyuruh kedua muridnya berlatih. Kemudian, dia pergi memancing ikan, menyalakan api, dan memanggang ikannya. Dia melarang kedua muridnya membantu dan mewajibkan mereka untuk terus berlatih.
Tujuh hari berlalu dengan cepat. Oey Yong dan Kwee Ceng telah memperoleh kemajuan pesat. Bersamaan dengan mereka, Auwyang Hong juga berlatih keras dengan kitab Kiu Im Cin-keng palsu buatan Kwee Ceng tersebut.
Pada hari kedelapan, sambil tertawa Ang Cit Kong bertanya kepada Oey Yong, "Yong-jie, bagaimana rasa daging kambing panggang buatan gurumu?"
Oey Yong tertawa sambil memanyunkan mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Ya, aku pun tidak berselera memakannya," kata Cit Kong lagi sambil tertawa. Kemudian dia menambahkan, "Tahap pertama pelajaranmu sudah selesai. Sekarang kalian harus beristirahat. Jika tidak, jalan pernapasanmu bisa tersumbat dan merusak kesehatanmu. Sekarang begini: Yong-jie, pergilah memasak. Aku bersama Ceng-jie akan pergi membuat rakit."
"Membuat rakit?" tanya Kwee Ceng dan Oey Yong bersamaan.
"Tentu saja!" jawab sang guru. "Apakah kalian pikir kita akan tinggal terus di pulau kosong ini menemani si racun tua bangka itu? Tentu tidak!"
Kedua muda-mudi itu menjadi sangat gembira. "Bagus!" seru mereka.
Kedua belah pihak lalu berpisah. Kwee Ceng pergi ke tumpukan seratus pohon yang telah ditebangnya. Tali tambangnya pun sudah siap, bekas digunakan untuk menolong Auwyang Kongcu sebelumnya. Dia kemudian mulai mengikat batang-batang pohon tersebut. Namun, ketika dia menarik tali tambang itu, tiba-tiba talinya putus. Dia mencobanya lagi, tetapi tali itu putus lagi. Dia menjadi heran karena merasa tidak menggunakan tenaga yang terlalu besar. Mungkinkah talinya yang sudah lapuk? Karena sangat heran, dia hanya terdiam kebingungan.
Tiba-tiba Oey Yong berlari datang sambil membawa seekor kambing. Gadis itu tadi pergi berburu dan berpapasan dengan kambing tersebut. Dia sudah menyiapkan beberapa butir batu untuk dilemparkan ke kepala kambing itu. Namun, ketika dia berlari mengejarnya, rasanya baru beberapa langkah saja, tahu-tahu dia sudah berada sangat dekat dengan kambing itu. Dia pun batal melempar batu, melainkan langsung melompat menyambar. Hanya dengan sekali gerakan, dia berhasil menangkapnya. Hal ini benar-benar di luar dugaannya. Dia merasa gembira sekaligus heran, sehingga segera berlari pulang untuk menceritakan pengalamannya.
Mendengar hal itu, Ang Cit Kong tertawa. "Jika memang begitu, jelaslah bahwa Kiu Im Cin-keng bukanlah ilmu main-main," katanya. "Maka tidak mengherankan jika banyak tokoh sakti yang rela mengorbankan nyawa demi kitab ini."
"Suhu," tanya Oey Yong dengan gembira, "apakah sekarang kita sudah bisa menghajar si tua bangka berbisa itu?"
"Masih jauh, Anakku," sahut Cit Kong sambil menggelengkan kepala. "Kau masih memerlukan waktu latihan tiga sampai lima tahun lagi. Kau harus tahu betapa hebatnya Ilmu Kodok dari si tua bangka itu. Kecuali jurus It-yang-ci (Satu Jari Yang) milik Ong Tiong Yang, tidak ada ilmu lain yang dapat mematahkannya."
Gadis itu memanyunkan mulutnya. "Kalau begitu, percuma saja kita belajar lima tahun lagi, kita tetap tidak akan bisa mengalahkannya!" katanya mengeluh.
"Mengenai hal itu, belum bisa dipastikan," kata Cit Kong. "Ada kemungkinan isi kitab ini jauh lebih hebat dari dugaanku."
"Sudahlah, Yong-jie, jangan terburu nafsu," Kwee Ceng menimpali. "Tidak ada salahnya jika kita terus melatihnya."
Tujuh hari berlalu lagi. Kini kedua murid itu telah menyelesaikan tahap kedua latihan mereka. Pembuatan rakit Kwee Ceng pun telah selesai. Untuk layarnya, mereka memanfaatkan kulit kayu. Bahkan air minum serta perbekalan makanan lainnya juga sudah disiapkan.
Selama itu, Auwyang Hong hanya mengawasi kesibukan mereka bersiap-siap. Dia tidak mengatakan apa-apa, bahkan terkesan acuh tak acuh dan membiarkan mereka repot bekerja sendiri.