Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 197

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 197

"Kau sangat ingin menolong keponakanmu. Sekarang kau tidak mencaci dan membentakku lagi, bahkan memanggilku nona yang baik." Ia lantas tersenyum, lalu berkata, "Baiklah! Sekarang kau harus mendengar perintahku. Lekas kupas kulit pohon itu dan buatlah tali tambang yang panjang untuk menarik batu besar ini!"

"Siapa yang akan menariknya?" Auwyang Hong memotong pembicaraan. Ia merasa heran. Bukankah mendorong dan menarik sama saja karena mereka tetap hanya bertiga?

"Kita bekerja seperti sedang mengangkat jangkar dari atas perahu," kata Oey Yong.

Auwyang Hong seketika mengerti, dan tiba-tiba harapan muncul kembali di hatinya. "Cocok, cocok!" katanya. "Kita menarik sambil berputar!"

Kwee Ceng tidak tahu bagaimana cara kerja Oey Yong. Namun, begitu mendengar gadis itu meminta kulit pohon untuk diambil serat talinya, ia segera mengeluarkan pisau dan langsung memotong kulit pohon tersebut. Auwyang Hong dan Oey Yong pun turut membantu. Tidak lama kemudian, mereka telah mengumpulkan puluhan lembar kulit pohon yang panjang.

Sembari bekerja, Auwyang Hong terus mengawasi keponakannya. Tiba-tiba ia menghela napas dan berkata dengan putus asa, "Sudahlah, tidak perlu kita memotong lebih banyak lagi."

"Kenapa?" tanya Oey Yong heran. "Kenapa dibatalkan?"

See Tok menunjuk ke arah keponakannya. Oey Yong dan Kwee Ceng pun memperhatikan arah tunjuknya. Mereka melihat air pasang telah naik hingga merendam separuh tubuh Tuan Muda Auwyang. Jangankan untuk membuat tali tambang, memotong kulit pohon saja waktunya sudah tidak akan sempat. Tuan Muda Auwyang sendiri hanya diam, tidak bergerak maupun bersuara.

"Jangan putus asa!" kata Nona Oey kemudian. "Cepat, teruskan memotong!"

Auwyang Hong, si iblis yang biasanya merajai dunia persilatan, begitu mendengar perkataan gadis itu, langsung kembali bekerja dengan sangat cepat. Oey Yong sendiri melompat turun dari pohon lalu berlari menghampiri Tuan Muda Auwyang. Ia mengangkat tubuh pemuda itu dan mengganjalnya dengan sebuah batu besar. Dengan cara ini, wajah pemuda itu tidak terendam air sehingga ia tetap bisa bernapas.

"Adik yang baik, terima kasih banyak atas pertolonganmu," kata Tuan Muda Auwyang perlahan. "Aku mungkin tidak akan hidup lebih lama lagi. Namun, melihatmu begitu sungguh-sungguh menolongku, jika nanti aku mati, aku akan mati dengan tenang."

"Jangan berterima kasih kepadaku," kata Oey Yong, yang karena kejujurannya merasa jengah sendiri. "Kau terjebak di sini karena aku yang mengaturnya, kau tahu?"

"Ssst, jangan bicara keras-keras!" cegah Tuan Muda Auwyang. "Jika pamanku mendengarnya, dia tidak akan melepaskanmu! Sejak siang tadi aku sudah mengetahui perbuatanmu ini. Namun, mati di tanganmu, aku sedikit pun tidak menyesal."

Oey Yong menghela napas. Di dalam hati ia berpikir, "Meskipun orang ini menyebalkan, tetapi sikapnya kepadaku tidak buruk."

Ia pun kembali ke bawah pohon untuk mulai bekerja. Ia memilin serat-serat itu menjadi seutas tali tambang kasar. Karena dirasa belum cukup kuat, ia memilin kembali empat utas tali menjadi satu tali yang lebih besar. Auwyang Hong bersama Kwee Ceng tidak henti-hentinya memotong kulit pohon untuk diambil seratnya, sementara Oey Yong terus memilinnya tanpa henti. Mereka semua bekerja dengan cepat dan sungguh-sungguh karena harus berlomba dengan air pasang.

Air pasang baru saja naik dan tidak akan surut dengan cepat. Belum sempat Oey Yong memilin tali sepanjang satu tombak, air sudah naik hingga ke batas mulut Tuan Muda Auwyang. Setelah tali bertambah beberapa kaki lagi, air sudah mencapai bibirnya, bahkan sesaat kemudian hanya lubang hidung pemuda itu saja yang terlihat di permukaan air.

Melihat hal itu, Auwyang Hong melompat turun dari atas pohon. "Menyingkirlah kalian!" katanya kepada Kwee Ceng dan Oey Yong. "Aku ingin bicara dengan keponakanku. Kalian sudah melakukan apa yang kalian bisa, aku menghargai kebaikan kalian."

Kwee Ceng pun merasa harapan telah lenyap. Ia melompat turun lalu berjalan berdampingan dengan Oey Yong, melangkah menjauh hingga lebih dari sepuluh tombak.

"Mari kita pergi ke balik batu besar itu untuk mencuri dengar percakapan mereka," bisik Oey Yong yang cerdik.

"Bukankah urusan ini tidak ada hubungannya dengan kita?" kata pemuda itu. "Lagipula, si tua bangka yang lihai itu pasti akan mengetahuinya."

"Jika keponakannya mati, dia mungkin akan mencelakai Guru," kata Oey Yong. "Jika kita mengetahui niatnya, kita bisa bersiap-siap. Seandainya si tua bangka beracun itu memergoki kita, kita katakan saja bahwa kita kembali untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keponakannya."

Kwee Ceng mengangguk setuju karena menganggap alasan itu masuk akal. Bersama-sama mereka segera memutar dengan diam-diam. Begitu tidak terlihat lagi oleh Auwyang Hong, mereka bergegas mendekati batu besar tersebut. Tentu saja mereka melangkah tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Tepat saat mereka tiba, terdengar suara Auwyang Hong berkata, "Pergilah dengan tenang, aku mengerti keinginanmu. Kau ingin menikahi putri Oey Lao Shia. Aku pasti akan mengabulkan keinginanmu itu."

Kedua muda-mudi di balik batu itu sangat terkejut mendengarnya.

"Dia akan segera mati, bagaimana mungkin keinginan itu bisa dikabulkan?" pikir mereka. "Apa maksud perkataan si tua bangka berbisa ini?"

Mereka menajamkan pendengaran, hingga sesaat kemudian mereka terkejut dan murka, sementara punggung mereka basah oleh keringat dingin.

Auwyang Hong berkata, "Aku akan membunuh putri Oey Lao Shia ini, lalu memasukkan jasadnya ke dalam satu liang kubur bersamamu! Bukankah semua orang pasti mati? Kau dan dia memang tidak bisa hidup bersama, tetapi setelah mati kalian bisa dikubur berdua. Kau pasti akan merasa puas, bukan?"

Mulut Tuan Muda Auwyang sudah terendam air sehingga ia tidak bisa menjawab lagi.

Oey Yong meremas tangan Kwee Ceng lalu menariknya perlahan untuk melangkah mundur. Bersama-sama mereka segera menyingkir dari tempat itu. Auwyang Hong yang sedang dirundung duka mendalam tidak menyadari suara apa pun. Setelah tiba di tempat yang cukup jauh, Kwee Ceng berkata dengan sengit, "Yong-er, lebih baik kita hampiri si tua bangka berbisa itu untuk bertaruh nyawa dengannya!"

"Melawan dia harus dengan kecerdikan, bukan dengan tenaga," sahut Oey Yong dengan tenang.

"Bagaimana caranya?"

"Aku sedang memikirkannya."

Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah tikungan. Di sana, Oey Yong melihat segerombolan tanaman gelagah.

"Seandainya dia tidak jahat dan kejam, sebenarnya aku punya cara untuk menolong keponakannya," kata Oey Yong.

Kwee Ceng heran. "Bagaimana caranya?" tanyanya.

Oey Yong lalu menjelaskan siasatnya.

"Bagus!" Kwee Ceng bertepuk tangan gembira. "Oh, Yong-er yang baik, bagaimana kau bisa terpikir hal seperti ini? Bagaimana sekarang, apakah kita akan menolongnya atau tidak?"

Oey Yong mengerucutkan bibirnya. "Tentu saja aku tidak sudi menolongnya!" sahutnya. "Si tua bangka berbisa itu ingin membunuhku. Biarlah dia mencoba membunuhku, aku tidak takut!"

Kwee Ceng tertegun dan terdiam. Oey Yong menatapnya, lalu menarik tangan pemuda itu.

"Kakak Ceng," katanya dengan lembut, "Apakah kau ingin aku menolong orang jahat itu? Apakah kau mengkhawatirkan keselamatanku? Jika kita menolongnya, belum tentu kedua orang jahat itu akan berbuat baik kepada kita."

"Ucapanmu memang benar," kata Kwee Ceng. "Aku memang mengkhawatirkanmu dan Guru. Namun, kupikir si tua bangka berbisa itu adalah seorang pemimpin sekte besar, bukankah seharusnya perkataannya bisa dipercaya?"

Oey Yong segera mengambil keputusan. "Baik, mari kita tolong dia!" katanya. "Setelah itu, kita lihat saja nanti. Kita hadapi langkah demi langkah."

Keduanya segera berbalik arah dan mengitari batu raksasa tersebut. Saat itu, Auwyang Hong sedang berdiri di dalam air, salah satu tangannya memegangi keponakannya. Begitu melihat kedua anak muda itu mendekat, matanya langsung berkilat dan sikapnya tampak mengancam.

"Aku sudah menyuruh kalian pergi, untuk apa kalian kembali?!" tanyanya dengan bengis.

Oey Yong mendekati sebuah batu lalu duduk di sana. "Aku datang untuk melihat apakah dia sudah mati atau belum," sahutnya sambil tertawa geli.

"Kalau mati lalu kenapa, kalau hidup memangnya kenapa?!" tanya See Tok yang masih diselimuti kemarahan dan kebengisan.

Oey Yong menghela napas. "Jika dia sudah mati, sungguh sayang sekali, tidak ada yang bisa dilakukan lagi," sahutnya.

Auwyang Hong terkejut hingga melonjak. "Oh, Nona yang baik!" serunya. "Dia... dia belum mati! Benarkah kau punya cara? Cepat katakan!"

Oey Yong menyodorkan sebatang gelagah yang dibawanya. "Masukkan ini ke dalam mulutnya, dia pasti tidak akan mati," sahutnya dengan santai.

Auwyang Hong sangat gembira. Ia segera menyambar batang itu dan melompat kembali ke arah keponakannya. Dengan cepat ia memasukkan batang gelagah tersebut ke dalam mulut keponakannya hingga berfungsi seperti sebuah pipa pernapasan.

Meskipun kondisi Tuan Muda Auwyang saat itu sudah sangat kritis, ia masih dapat mendengar percakapan antara Oey Yong dan pamannya. Begitu pipa tersebut dimasukkan ke dalam mulutnya, ia menelan sisa air yang ada di dalam mulut, lalu mulai bernapas dengan normal kembali. Ia merasa sangat gembira hingga sesaat melupakan rasa sakit di kakinya.

"Cepat!" seru Auwyang Hong. "Cepat kita lanjutkan membuat tali tambang itu!"

"Paman Auwyang," kata Oey Yong sebelum menuruti ajakan itu, "bukankah tadi kau berniat membunuhku untuk dikorbankan demi keponakanmu?"

See Tok terperanjat. "Bagaimana dia bisa mendengar percakapanku tadi?" pikirnya cemas.

Oey Yong masih tertawa kecil, lalu melanjutkan, "Kau ingin membunuhku. Jika niatmu terlaksana, Langit pasti akan membenci kejahatanmu dan menurunkan malapetaka kepadamu. Jika itu terjadi, siapa lagi yang akan menolongmu?"

Karena sangat membutuhkan bantuan, Auwyang Hong tidak memedulikan sindiran tersebut. Ia berpura-pura tuli lalu berlari kembali ke darat, menuju ke bawah pohon untuk mulai memotong kulit kayu lagi.

Oey Yong tidak memperpanjang masalah itu. Ia mengajak Kwee Ceng untuk kembali bekerja. Setelah kulit kayu terkumpul cukup banyak, mereka pun bersama-sama memilinnya. Setelah bekerja keras selama kurang lebih satu jam, mereka akhirnya berhasil menyelesaikan seutas tali tambang yang panjangnya lebih dari tiga puluh tombak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment