Chapter 51
Kwee Ceng menangkis dan berkelit hingga tiga kali. Setelah diserang untuk keempat kalinya, ia membalas.
Kim Hoat menyerang dengan hebat, ia terus menggunakan jurus "Masuk ke Dalam Guna Harimau" yang mengarah ke dada. Ini bukan jurus latihan, melainkan serangan berbahaya yang sesungguhnya. Kwee Ceng mundur hingga punggungnya menempel pada tenda. Ia sangat terkejut.
Untuk sejenak Kwee Ceng tercengang, tetapi segera ia berlutut di depan gurunya. "Teecu salah, silakan Liok-suhu menghukum," ucapnya menyerah. Ia sangat takut karena tidak tahu kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga gurunya menyerang dengan begitu kejam.
Tin Ok dan yang lainnya bangkit dengan roman muka bengis. "Secara diam-diam kau belajar silat dari orang lain, kenapa kau tidak memberitahukannya kepada kami?" tegur Cu Cong. "Coba tidak Liok-suhu mengujimu, kau tentu tetap hendak menyembunyikannya, bukan?"
"Cuma Guru Jebe yang mengajarkan teecu memanah dan menggunakan tombak," jawab Kwee Ceng dengan jujur. Si imam konde tiga itu tidak mengajarkan ilmu silat, melainkan ilmu semadi, sedangkan ilmu enteng tubuh diajarkan di luar sepengetahuannya.
"Masih kau berdusta!" bentak Cu Cong pula.
Kwee Ceng menangis, air matanya mengucur. "Suhu semua memperlakukan teecu sebagai anak, mana berani teecu berdusta?" sahutnya.
"Habis, dari mana kau mendapatkan kepandaian tenaga dalam itu?" tanya Cu Cong. "Apakah kau hendak mengandalkan gurumu yang lihai itu sehingga kau tidak memandang kami berenam lagi, hah?"
"Tenaga dalam?" Kwee Ceng melongo. "Sedikit pun teecu tidak mengerti itu."
"Fui!" seru Cu Cong sambil mengulurkan tangannya ke jalan darah hian-kee-hiat di bawah tulang iga. Siapa pun yang terkena totokan itu pasti pingsan. Kwee Ceng tidak berkelit atau menangkis. Ketika totokan Cu Cong mengenai, dagingnya bergerak sendiri sehingga totokan itu terpental. Si bocah hanya merasakan sakit, namun ia tidak kurang suatu apa pun.
Cu Cong tidak menggunakan tenaganya sepenuhnya, tetapi ia terkejut dan heran. "Nah, apakah ini bukan tenaga dalam?" serunya.
Kwee Ceng terkejut. "Adakah ini hasil latihan dari totiang?" tanyanya pada diri sendiri. Lalu ia menjelaskan, "Selama dua tahun ini, ada orang yang setiap malam mengajari teecu bagaimana menyedot napas, duduk bersila, dan tidur. Teecu menganggap ajaran itu menarik dan terus mengikutinya. Sama sekali ia tidak mengajarkan ilmu silat, hanya berpesan agar teecu tidak memberitahukan hal ini kepada siapa pun. Teecu menganggap ini bukan perbuatan busuk dan tidak menyia-nyiakan pelajaran, itulah sebabnya teecu tidak memberitahukan kepada Suhu semua."
Ia lantas mengangguk-angguk dan menambahkan, "Teecu tahu teecu bersalah, lain kali teecu tidak berani pergi bermain lagi."
Enam guru itu saling pandang. Terang bahwa murid ini tidak berdusta. "Apakah kau tidak tahu bahwa pelajaranmu itu adalah tenaga dalam?" tanya Siauw Eng menegaskan. Tenaga dalam itu adalah Iweekang.
"Benar-benar teecu tidak tahu kalau itu adalah pelajaran tenaga dalam," sahut Kwee Ceng. "Dia menyuruh teecu duduk, menarik dan mengeluarkan napas dengan perlahan. Selama itu, tidak boleh teecu memikirkan apa pun. Mulanya sulit, tetapi kemudian teecu merasakan hawa panas keluar masuk, dan ini menarik hati."
Liok Koay heran sekaligus girang. Mereka tidak menyangka muridnya ini telah mendapatkan Iweekang sedemikian rupa. Kwee Ceng jujur dan berhati bersih, sehingga ia dapat menguasai Iweekang lebih cepat daripada siapa pun.
"Siapa yang mengajarkan kau ilmu itu? Di mana dia mengajarkannya?" tanya Cu Cong.
"Dia tidak mau memberi tahu nama atau gelarannya kepada teecu, dan ia melarang teecu memanggilnya Suhu," jawab Kwee Ceng. "Malah dia menyuruh teecu bersumpah untuk tidak menceritakan rupa tubuh dan wajahnya."
Liok Koay semakin heran dan curiga. Mulanya mereka menyangka Kwee Ceng hanya bertemu orang pandai, tetapi jika seperti ini, pasti ada sebab lainnya. "Nah, pergilah kau!" kata Cu Cong kemudian.
"Selanjutnya teecu tidak berani pergi bermain-main lagi dengannya," kata Kwee Ceng.
"Tidak apa-apa, kau boleh pergi bermain seperti biasa," kata Cu Cong. "Kami tidak menyalahkanmu, asal kau tidak memberi tahu dia bahwa kami telah mengetahui urusan ini."
"Baik, Suhu," kata Kwee Ceng, lalu ia undur diri. Ia girang gurunya tidak marah.
Setibanya di kemah, Gochin sudah menanti di samping dua ekor rajawali putih. Kedua burung itu telah tumbuh besar, tingginya melebihi sang putri. "Lekas, telah setengah hari aku menunggumu!" kata sang putri. Seekor rajawali mengangkat kakinya dan membentangkan sayap, lalu terbang bertengger di pundak Kwee Ceng. Dengan berpegangan tangan, dua kawan itu lari ke tegalan untuk bermain dengan burung mereka.
Di dalam kemah, Liok Koay berunding. "Dia mengajarkan ilmu kepada anak Ceng, tentu tidak bermaksud buruk," ujar Siauw Eng.
"Hanya saja, kenapa dia tidak menghendaki kita tahu?" tanya Kim Hoat. "Kenapa kepada anak Ceng pun ia tidak menjelaskan bahwa itu adalah Iweekang?"
"Mungkin dia adalah kenalan kita," kata Cu Cong.
"Kenalan?" ulang Siauw Eng. "Kalau dia bukan sahabat, tentulah ia musuh."
Kim Hoat berpikir, "Di antara kenalan kita, rasanya tak ada yang berkepandaian seperti dia."
"Kalau dia musuh, untuk apa dia mengajari anak Ceng?" tanya Siauw Eng.
"Siapa tahu kalau dia tengah mengatur daya upaya busuk?" kata Tin Ok dingin. Semua saudara itu terkejut.
"Kalau begitu, baiklah sebentar malam aku dan Liok-tee pergi mengikuti anak Ceng untuk melihat orang itu," kata Cu Cong. Tin Ok dan yang lainnya mengangguk.
Malam itu, Cu Cong dan Kim Hoat menanti di luar kemah ibu Kwee Ceng. "Ibu, aku hendak pergi!" terdengar suara sang murid, lalu ia berlari keluar dengan cepat. Kedua guru itu segera menguntit dari kejauhan. Syukur di tanah datar itu tidak ada rintangan, sehingga mereka dapat terus mengawasi. Mereka tidak khawatir terlihat oleh muridnya, yang berlari dengan sangat cepat.
Sampai di lembah, murid itu terus berlari. Berkat kemajuannya, Kwee Ceng dapat mendaki jurang tanpa bantuan lagi. Tentu saja, Cu Cong dan Kim Hoat heran bukan main. Mereka menantikan sampai Tin Ok dan yang lainnya datang menyusul dengan berbekal senjata, khawatir bertemu musuh lihai.
Cu Cong menceritakan perihal Kwee Ceng naik ke atas jurang. Siauw Eng mendongak, melihat mega hitam, dan ia merasa cemas. "Mari kita sembunyi di sini, tunggu sampai mereka turun," atur Tin Ok. Mereka lantas mengambil tempat masing-masing. Siauw Eng berpikir keras. Suasana malam ini mengingatkannya pada malam ketika mereka mengepung Hek Hong Siang Sat, yang berakhir dengan gugurnya Thio A Seng. Ia menjadi sangat berduka.
Waktu berlalu detik demi detik, di atas jurang tidak terdengar suara apa pun. Tanpa terasa, fajar menyingsing dan matahari telah terbit, namun puncak jurang tetap sunyi senyap. Kwee Ceng tidak tampak turun, begitu pula orang yang disebut sebagai gurunya. Setelah satu jam menanti dengan sia-sia, Cu Cong mengusulkan untuk naik ke atas guna melihat.
"Bisakah kita naik?" tanya Kim Hoat.
"Belum tentu, kita coba saja," sahut kakak kedua itu.
Cu Cong segera kembali ke kemah untuk mengambil tali, dua buah kapak, serta beberapa puluh paku besar. Saat mereka mulai memanjat, mereka menggunakan paku itu dan saling menarik. Setelah bermandikan keringat, keduanya tiba di atas.
Mereka berseru karena kaget. Di samping batu besar, terdapat sembilan buah tengkorak putih yang tersusun rapi: lima di bawah, tiga di tengah, dan satu di atas, tepat seperti pengaturan Hek Hong Siang Sat dahulu. Semua tengkorak itu berlubang bekas totokan jari tangan, seperti pisau tajam. Di pinggiran lubang ada tanda hitam, yang dikhawatirkan sebagai sisa racun. Keduanya sangat cemas.
Anehnya, tidak ada orang di sana. Ke mana perginya Kwee Ceng serta orang yang disebut gurunya itu? Mereka segera turun dengan hati tegang. Saat Po Kie dan yang lainnya bertanya, "Bwee Tiauw Hong!" sahut Cu Cong dengan tegang.
Empat saudara itu terperanjat. "Anak Ceng?" tanya Siauw Eng.
"Entahlah," sahut Kim Hoat. "Mungkin mereka turun dari sisi lain?" Ia menjelaskan apa yang mereka lihat di atas.
"Belasan tahun kita lelah berjuang, siapa tahu kita memelihara harimau yang akan membawa bahaya di kemudian hari," kata Tin Ok masgul.
"Anak Ceng jujur dan polos, dia bukan manusia yang tidak berbudi," kata Siauw Eng sangsi.
"Habis kenapa ia mengikuti si siluman itu selama dua tahun dan tutup mulut terus?" tanya Tin Ok.
"Apakah Toako ingin mengartikan bahwa si perempuan siluman buta itu hendak meminjam tangan anak Ceng untuk mencelakai kita?" tanya Po Kie.
"Mestinya begitu," sahut Cu Cong yang sepakat dengan kakaknya.
"Taruh kata anak Ceng mengandung maksud tidak baik, dia tidak mungkin dapat berpura-pura sedemikian rupa," Siauw Eng tetap sangsi.
"Mungkin si siluman perempuan itu menganggap waktunya belum tiba sehingga ia belum menjelaskan apa pun kepada anak Ceng," Kim Hoat mengutarakan dugaannya.
"Tubuh anak Ceng sudah cukup enteng, Iweekangnya sudah punya dasar, tetapi ilmu silatnya masih kalah jauh dari kita. Kenapa si perempuan siluman itu tidak mengajarkannya ilmu silat?" tanya Po Kie.
"Si perempuan siluman itu hendak menggunakan tangan Ceng, mana mungkin dia begitu baik hati menurunkan kepandaiannya?" kata Tin Ok.