Chapter 179
Pada tangan kanan ini, ia mencekal pisau belatinya. Tepat pisau itu menancap di tenggorokan ikan tersebut. Namun, ikan itu terus melompat, pisau itu menyambar ke bawah hingga ke perutnya, membuat ikan itu tampak terbelah. Segera ikan itu mati, perutnya terburai, dan darahnya mengalir keluar.
Pada saat itu, Ang Cit Kong dan Ciu Pek Thong juga telah berhasil membinasakan masing-masing seekor ikan lagi, hanya kali ini, Pek Thong merasakan dadanya sakit. Inilah sebab sakitnya belum pulih bekas dihajar Oey Yok Su. Namun, ia tertawa ketika berkata, "Pengemis tua, Adik Kwee, maaf, tidak dapat aku menemani kau lebih lama lagi. Hendak aku berangkat lebih dulu ke dalam perut cucut ini!"
Habis berkata, Pek Thong berpaling dan justru melihat sebuah layar putih besar mendekat. Cit Kong juga segera melihat layar itu, bahkan segera ia mengenali layar perahunya. Ketiga orang ini mendapat harapan, maka semangat mereka seolah bangkit kembali. Kwee Ceng mendekati Pek Thong untuk membantu kakak angkatnya itu. Tak lama kemudian, perahu besar telah tiba, dan dari sana diturunkan dua perahu kecil untuk menolong ketiga orang tersebut.
Pek Thong memuntahkan darah, tetapi ia masih berbicara sambil tertawa sebagai tanda nyalinya sangat besar; kematian dipandang sebagai berpulang. Ia menunjuk ke arah kawanan hiu itu dan mencaci maki. Auwyang Hong dan keponakannya menyambut di kepala perahu. Hati mereka gentar menyaksikan di laut itu berkumpul demikian banyak ikan hiu. Namun, Auwyang Hong menjadi tertarik hatinya. Ia menyuruh beberapa orangnya memancing dengan umpan daging, maka tak lama kemudian mereka berhasil mengail delapan ekor ikan ganas itu.
"Bagus!" tertawa Ang Cit Kong sambil menunjuk ikan itu. "Kau tidak dapat memakan kami, sekarang kamilah yang bakal memakan dagingmu!"
Auwyang Kongcu tertawa. "Keponakanmu memiliki daya untuk membalas sakit hati!" katanya. Ia memerintahkan orangnya mengambil bambu yang diraut lancip dan tajam. Setelah mulut ikan dipentang dengan tombak, tonggak bambu itu dimasukkan ke dalam mulut ikan tersebut, yang akhirnya dilepas kembali ke laut.
"Inilah cara untuk membuat mereka selamanya tidak dapat makan!" kata si anak muda sambil tertawa. "Berselang delapan atau sepuluh hari, mereka bakal mati sendirinya!"
"Inilah kekejaman!" pikir Kwee Ceng. "Cuma kau yang dapat memikirkan akal ini. Ikan yang doyan makan ini bakal mati kelaparan, sungguh hebat!"
Ciu Pek Thong melihat sikap tidak puas dari Kwee Ceng, ia tertawa dan berkata, "Anak, kau tidak puas dengan cara ini karena kejam sekali, bukan? Ini dia yang dibilang, kalau pamannya yang jahat, pasti ada keponakan yang jahat juga."
Adalah biasa bagi See Tok Auwyang Hong, jikalau orang mengatakan dia jahat, dia tidak menjadi kurang senang, bahkan sebaliknya, dia girang sekali. Maka, mendengar perkataan Ciu Pek Thong, dia tersenyum. "Loo Boan Tong," katanya, "Permainan kecil seperti ini apabila dipadu dengan kepandaian si makhluk berbisa, bedanya masih sangat jauh. Kamu bertiga telah dikeroyok sekawanan cucut cilik, tetapi kamu sudah lelah hingga tak dapat bernapas. Untukku, keroyokan itu tidak berarti."
"Oh, si makhluk berbisa sedang membual!" kata Ciu Pek Thong. "Jikalau kau dapat mengeluarkan ilmu kepandaianmu dan sanggup membuat semua cucut ini terbasmi habis, maka aku si bocah tua bangka yang bakal berlutut dan mengangguk-angguk di hadapanmu tiga ratus kali, dan aku akan memanggil engkong padamu!"
"Sampai begitu, itu aku tidak berani terima," jawab Auwyang Hong. "Jikalau kau tidak percaya, bolehlah kita berdua bertaruh!"
"Bagus, bagus!" seru Pek Thong. "Bertaruh kepala pun aku berani!"
Ang Cit Kong sebaliknya bersangsio. "Biarpun ia pandai mengukir langit, tidak mungkin dia dapat membunuh ratusan ikan itu semua," pikirnya. "Aku khawatir dia mengandung maksud jahat lainnya."
Auwyang Hong tertawa. "Bertaruh kepala orang, itu tidak usah!" katanya. "Jikalau aku menang, cukup aku minta kau melakukan satu hal yang tidak dapat kau tolak, dan jikalau aku yang kalah, terserah kepadamu hendak menitahkan apa padaku. Kau lihat, tidakkah ini bagus?"
"Taruhan apa pun yang kau kehendaki, aku terima!" jawab Ciu Pek Thong.
Auwyang Hong segera berpaling kepada Ang Cit Kong. "Aku minta Saudara Cit menjadi saksi!" katanya.
"Baik!" Cit Kong menerima. "Hanya hendak aku bertanya, kalau seorang menang dan apa yang dia kehendaki tidak dapat dilakukan atau ditolak oleh yang kalah, bagaimana?"
"Dia harus terjun ke laut supaya dimakan cucut!" kata Ciu Pek Thong.
Auwyang Hong tersenyum. Ia tidak menjawab sepatah kata pun, ia hanya memerintahkan salah satu orangnya membawakan sebuah cangkir kecil berisi arak. Lalu, dengan dua jari kanannya, ia menjepit leher ular di kepala tongkatnya untuk mementang mulut ular tersebut, sehingga dari mulut itu mengalir keluar racunnya ke dalam cawan. Di situ terlihat bisa ular memenuhi separuh cangkir dengan warna hitam. Kemudian, ia meletakkan ularnya dan mengambil yang seekor lagi untuk dikeluarkan juga racunnya. Setelah dikuras bisanya, kedua ular itu melilit di ujung tongkat dengan tubuh tak berkutik karena letih.
Auwyang Hong memerintahkan mengambil seekor cucut dan meletakkannya di lantai perahu. Dengan tangan kiri ia memegang mulut ikan bagian atas, sementara mulut bagian bawah diinjak dengan kakinya. Begitu ia mengerahkan tenaga, mulut ikan itu terpentang lebar. Tak lama kemudian, bisa ular di dalam cawan itu dituang ke dalam mulut ikan. Setelah itu, mulut ikan dilepaskan hingga tertutup kembali. Akhirnya, See Tok memperlihatkan kepandaiannya yang lihai. Ia menggerakkan tangan kirinya, menepuk perut ikan itu, lalu mengangkatnya dengan kaget, menyusul tubuh ikan besar itu terlempar ke laut dengan suara deburan hebat dan air laut yang memuncrat tinggi.
"Ah, aku mengerti sekarang!" Pek Thong berseru tertawa. "Inilah caranya si pendeta tua bangka mematikan kutu busuk!"
"Toako, apakah artinya si pendeta tua bangka mematikan kutu busuk?" tanya Kwee Ceng.
"Kau belum tahu?" sahut sang toako. "Dulu di kota Pianliang ada seorang pendeta yang berkeliling sambil berteriak menjual obat pembasmi kutu busuk. Katanya obatnya sangat manjur; jika obatnya tidak dapat membasmi kutu busuk hingga habis bersih, ia bersedia mengganti kerugian sepuluh kali lipat. Dengan cara ini, ia mendapat banyak pembeli."
"Satu pembeli pulang untuk menyebar obatnya di pembaringan. Malamnya... Haha! Kawanan kutu busuk tetap datang bergumul, dia digigiti hingga setengah mati! Besoknya dia mencari si pendeta untuk minta ganti rugi. 'Tidak mungkin obatku tidak mujarab!' kata si pendeta. 'Kalau benar gagal, tentulah kau salah memakainya.' Si pembeli bertanya, 'Bagaimana cara memakainya?' Si pendeta menjawab: 'Kau tangkap kutu busuk itu, kau pentang mulutnya, kau cekoki obat ini. Jikalau kutu busuk itu tidak mati, besok kau datang lagi padaku!'"
"Pembeli itu jadi dongkol. Katanya, 'Kalau aku dapat menangkap kutu busuk itu, asal aku pencet, masa dia tidak mati? Kalau begitu, untuk apa aku beli obatmu?' Lalu si pendeta menyahut enteng saja, 'Memangnya aku pun tidak melarang kau memencetnya!'"
Mendengar itu, Kwee Ceng, Ang Cit Kong, dan Auwyang Kongcu tertawa terbahak-bahak. Hanya See Tok, si Bisa dari Barat, meneruskan perkataannya: "Obatku tidak sama dengan obat pembasmi kutu busuk dari pendeta itu."
"Coba kau jelaskan," minta Ciu Pek Thong.
Auwyang Hong menunjuk ke laut. "Nah, kau lihat di sana!" sahutnya.
Cucut tadi, setelah jatuh ke air, ia timbul kembali dengan posisi perut di atas. Ia mati seketika. Segera setelah itu, tujuh atau delapan ekor cucut lainnya datang untuk menyambar, menggigit, dan menggerogoti dagingnya, disusul oleh yang lainnya lagi. Sebentar saja, cucut itu habis tinggal tulang-tulangnya yang tenggelam ke dasar laut.
Hanya anehnya, semua cucut yang menggerogoti itu, selang beberapa menit kemudian, timbul pula dengan perut di atas dan tubuh mengambang. Sebab semuanya telah mati. Lalu mereka dikeroyok pula oleh cucut lain yang masih hidup. Kejadian ini terulang terus. Setiap cucut yang memakan daging kawannya lantas mati, ia digerogoti oleh kawan lainnya, kawan ini pun mati dan menjadi makanan kawan berikutnya. Demikian seterusnya, matilah setiap cucut yang memakan daging kawannya sendiri. Maka selang sekian lama, bukan puluhan melainkan ratusan bangkai cucut mati mengambang. Mungkin itu akan menjadi ribuan korban.
Menyaksikan itu, Ang Cit Kong menghela napas. "Tua bangka beracun, tua bangka beracun!" katanya. "Dayamu sungguh sangat jahat! Cuma dengan bisa dua ekor ular, korbannya sebanyak ini."
Auwyang Hong tidak menjawab, ia hanya mengawasi Ciu Pek Thong dengan tawa girang, tandanya hatinya sangat puas. Pek Thong membanting-banting kakinya dan mencabuti kumisnya sendiri. Di permukaan air, di sana-sini, hanya terlihat bangkai-bangkai cucut yang mengambang.
"Saudara Hong," kata Cit Kong kemudian, "Ada satu hal yang aku tidak mengerti, ingin aku kau menerangkannya."
"Apa itu, Saudara Cit?" tanya Auwyang Hong.
"Racunmu secangkir, kenapa lihai sekali hingga dapat membinasakan cucut sebanyak ini?"
"Itu sederhana saja!" Auwyang Hong tertawa. "Ini disebabkan bisa ularku luar biasa. Kalau bisa ini dimakan seekor ikan, ikan itu keracunan, lantas semua dagingnya menjadi beracun juga. Kalau dimakan oleh cucut lain, cucut itu pun mati keracunan. Keracunan ini terjadi terus-menerus, racunnya bahkan menjadi semakin hebat, bukannya berkurang. Bekerjanya racun ini tak habis-habisnya."
Kata-kata See Tok ini terbukti dengan cepat.