Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 180

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 180

Kecuali bangkai hiu, di situ tidak ada hiu lainnya lagi yang masih hidup. Mungkin ada yang telah kabur. Ikan-ikan kecil pun menjadi korban hiu atau kabur juga. Laut lantas menjadi tenang seperti biasa.

"Lekas, lekas menyingkir!" perintah Cit Kong.

"Hawa racun di sini sangat hebat!" Auwyang Hong memberikan titahnya, maka tiga buah layar perahunya dikerek naik hingga perahunya itu meluncur menuruti embusan angin selatan menuju ke barat laut.

"Tua bangka berbisa, benar-benar bisamu hebat," kata Pek Thong kemudian. "Sekarang kau menghendaki aku berbuat apa? Katakanlah!"

"Silakan tuan-tuan masuk ke dalam dulu untuk menyalin pakaian," ujarnya. "Kita pun perlu makan dan beristirahat. Tentang pertaruhan, kita boleh bicarakan perlahan-lahan."

"Tidak, tidak bisa!" bantah Pek Thong yang tidak sabaran. "Kau mesti menyebutkannya sekarang juga!"

Auwyang Hong tertawa. "Kalau begitu, Saudara Pek Thong, silakan ikut aku!" katanya.

Kwee Ceng dan Ang Cit Kong melihat Pek Thong diajak Auwyang Hong dan keponakannya ke perahu bagian belakang, sementara mereka sendiri diminta datang ke gubuk depan tempat empat nona berseragam putih muncul untuk melayani.

Cit Kong tertawa. Ia berkata, "Seumur hidupku, aku si pengemis tua, belum pernah begini beruntung!" Ia lantas dibukakan pakaiannya, tubuhnya digosok dengan sabun.

Wajah Kwee Ceng memerah, ia tidak berani meloloskan pakaiannya.

"Takut apa?" kata Ang Cit Kong tertawa. "Masa kau nanti dimakan?"

Dua nona menghampiri, hendak membuka sepatu dan ikat pinggangnya. Pemuda ini lantas mendahului membuka sepatunya, ia menutupi diri dengan seprai, dengan cara itu ia menukar baju dalamnya. Cit Kong tertawa lebar, begitu pun keempat nona pelayan itu.

Baru habis mereka berdandan, dua nona datang membawa masing-masing nampan berisikan arak, sayur, dan nasi putih. Katanya, majikan mereka mempersilakan keduanya makan seadanya. Kwee Ceng sudah lapar, ia lantas menyeret kursi.

"Mari, Suhu!" ajaknya.

"Kamu pergi dulu," kata Cit Kong kepada kedua nona itu sambil mengangkat tangan. "Aku, si pengemis tua, tidak dapat makan apabila aku melihat nona-nona cantik manis!"

Kedua nona itu tertawa, mereka berlalu seraya menutup pintu perahu perlahan-lahan.

"Lebih baik jangan makan ini," bisik Cit Kong. "Si tua bangka berbisa sangat licin dan licik. Kita makan nasi putih saja."

Habis berkata, Cit Kong menurunkan cupu-cupu araknya, membuka tutupnya, dan meminumnya dua teguk. Setelah itu, ia mulai makan nasi saja. Kwee Ceng turut makan. Mereka makan tiga mangkuk, sedangkan sayurannya mereka tuang ke bawah lantai perahu.

"Entah dia minta apa dari Ciu Toako," kata Kwee Ceng kemudian.

"Entahlah, tetapi pasti bukan urusan benar!" sahut Cit Kong.

Ketika itu pintu dibuka perlahan-lahan, seorang nona berdiri di depan pintu. "Ciu Loo-ya-cu mengundang Tuan Kwee ke belakang," katanya.

Kwee Ceng mengawasi gurunya, lalu ia ikut pelayan itu. Mereka berjalan dari samping pergi ke belakang. Angin mulai meniup keras, perahu terombang-ambing. Si nona bertindak perlahan, tetapi terang ia mengerti ilmu silat. Di belakang, ia mengetuk pintu tiga kali, lalu menanti sebentar sebelum membukanya perlahan. Ia pun berkata lirih, "Tuan Kwee sudah datang!"

Kwee Ceng masuk ke dalam, lantas pintu di belakang ditutup rapat. Ia melihat sebuah ruang kosong tanpa orang. Ia heran. Saat ia berpikir, pintu di samping kiri terbuka, di situ muncul Auwyang Hong serta keponakannya.

"Mana Ciu Toako?" tanya Kwee Ceng.

Auwyang Hong tidak langsung menyahut. Ia menutup daun pintu terlebih dahulu, lalu maju satu langkah. Mendadak saja ia mengulurkan sebelah tangannya menyambar tangan kiri Kwee Ceng. Pemuda ini tidak menyangka hal buruk, apalagi orang itu sangat cepat, sehingga ia tidak dapat menghindarkan diri. Kwee Ceng bahkan dipencet nadinya hingga tidak dapat berkutik lagi. Di lain pihak, Auwyang Kongcu dengan sangat gesit menyambar pedang di dinding perahu, menghunusnya, dan menodongkan ujungnya ke tenggorokan Kwee Ceng.

Kwee Ceng berdiri terpaku. Ia bingung hingga merasakan kepalanya pusing. Ia tidak mengerti maksud paman dan keponakan itu. Lalu terdengar Auwyang Hong tertawa tawar.

"Loo Boan Tong telah kalah bertaruh denganku," katanya, "Tetapi ketika aku titahkan ia melakukan sesuatu, ia menolak!"

"Oh!" Kwee Ceng berseru tertahan. Ia mulai mengerti.

"Aku menyuruh ia menulis Kiu Im Cin-keng untuk aku lihat," Auwyang Hong memberikan keterangan. "Lalu ia bilang bahwa itu tidak masuk hitungan!"

Kwee Ceng berpikir, "Tentu saja mana Toako sudi mengajarimu?" Ia lalu bertanya, "Mana Ciu Toako?"

Auwyang Hong tertawa dingin. "Dia telah bilang, jikalau dia tidak bicara, ia akan terjun ke laut agar tubuhnya dimakan ikan hiu," sahutnya. "Kali ini dia tidak menyangkal."

Kwee Ceng kaget bukan main. "Dia... dia?" serunya. Ia mengangkat kakinya, berniat lari keluar, tapi cekalan See Tok sangat keras, ia ditarik kembali. Auwyang Kongcu menggerakkan tangannya hingga ujung pedangnya merobek baju Kwee Ceng dan mengenai kulitnya.

Auwyang Hong menunjuk ke meja yang berisi alat-alat tulis. "Di zaman ini cuma kau satu-satunya orang yang mengetahui seluruh isi kitab," katanya bengis, "Maka lekaslah kau tulis semua itu!"

Anak muda itu menggeleng.

Auwyang Kongcu tertawa. "Kau tahu," katanya, "Sayur dan arak yang tadi kau makan bersama si pengemis tua telah dicampuri racun. Jikalau kamu tidak meminum obat penawar istimewa buatan kami, dalam waktu dua belas jam ketika racunnya bekerja, kamu akan mati seperti ikan-ikan hiu di dalam laut! Asal kau sudah menulis, jiwa kalian berdua bakal diampuni."

Kwee Ceng kaget. "Baiknya Suhu cerdik, kalau tidak, tentulah kita celaka!" pikirnya.

Melihat Kwee Ceng berdiam diri, kembali Auwyang Hong tertawa dingin. "Kau telah mengingat baik bunyi kitab itu, tulislah, untukmu tidak ada ruginya sedikit pun," bujuknya. "Apa lagi yang kau sangsikan?"

Mendadak Kwee Ceng memberikan jawaban berani, "Kau sudah mencelakai kakak angkatku, kepadamu aku mendendam sakit hati sedalam lautan! Jikalau kau hendak membunuh, bunuhlah! Untuk berpikir aku sudi menyerah, itulah pikiran yang mustahil!"

"Hm, bocah yang baik!" kata Auwyang Hong dingin. "Kau benar-benar bersemangat! Kau tidak takut, baik, tetapi apakah kau juga tidak hendak menolong jiwa gurumu?"

Belum lagi Kwee Ceng memberikan jawaban, pintu perahu bagian belakang itu pecah berantakan, disusul sambaran air yang mengarah ke muka Auwyang Hong. See Tok terkejut, namun ia sudah menduga itulah perbuatan Ang Cit Kong. Saat ia mengangkat kepala, ia melihat Pak Kay muncul di ambang pintu dengan masing-masing tangannya menentang setahang air.

Ia menginsafi kehebatan si Pengemis dari Utara itu; tenaga pancuran air itu sangat kuat. Jika ia terkena, meski tidak terluka parah, setidaknya akan terluka sedikit. Maka dengan sangat cepat ia melompat ke kiri, sambil membawa tubuh si anak muda agar tidak lepas dari cekalannya.

Air memuncrat ke segala penjuru. Auwyang Kongcu tidak secepat pamannya; saat ia kaget, ia sudah dicekik leher bajunya oleh Ang Cit Kong yang sambil melompat maju, hingga ia pun tertenteng tanpa berdaya. Segera si pengemis tua tertawa panjang.

"Makhluk beracun bangkotan!" katanya, "Dengan segala daya kau hendak mencelakaiku, syukur Thian tidak mengizinkannya!"

Benar-benar licik si Bisa dari Barat ini. Begitu melihat keponakannya tertawan, ia lantas tertawa. "Saudara Cit," katanya, "Apakah kau hendak menguji juga kepandaianku? Kalau benar, nanti saja di darat kita mengukur tenaga, waktunya masih panjang."

Ang Cit Kong juga tertawa, sedikit pun ia tidak menunjukkan kegusarannya. "Kau demikian baik sekali dengan muridku, hingga kau mencekalnya erat-erat dan tidak hendak melepaskan tanganmu!" katanya.

Auwyang Hong tidak sudi meladeni bicara, ia merasa kalah posisi. "Aku telah bertaruh dengan Loo Boan Tong, aku telah menang, bukan?" ia bertanya. "Bukankah kau saksinya? Loo Boan Tong menyalahi janji, maka sekarang terpaksa aku mesti menanyakan kepadamu, bukankah begitu?"

Cit Kong mengangguk berulang-ulang. "Tidak salah," sahutnya.

"Mana Loo Boan Tong?" Kwee Ceng tidak dapat menahan diri. "Ciu Toako dipaksa dia hingga terjun mati ke laut!" ia memotong.

Cit Kong kaget, dengan menenteng Auwyang Kongcu ia pergi ke luar. Ia melihat ke laut di sekitarnya, tidak tampak Pek Thong, di sana hanya tampak ombak.

Sambil menuntun Kwee Ceng, Auwyang Hong pun turut keluar. Sampai di luar, ia mengendurkan cekalannya. "Kwee Sieheng," katanya, "Kepandaianmu belum terlatih mahir! Kau lihat, secara begini kau dituntun orang, kau mengikuti saja. Pergilah, ikuti gurumu, belajarlah lagi sepuluh tahun, sesudah itu baru kau merantau."

Kwee Ceng sangat memikirkan Pek Thong, ia tidak sudi melayani bicara. Ia terus merayap naik ke tiang layar untuk memandang ke sekeliling. Cit Kong mencekik belakang leher Auwyang Kongcu, lalu melemparkan keponakan orang itu kepada pamannya seraya membentak, "Makhluk beracun bangkotan, kau memaksakan kematian Loo Boan Tong, buat itu nanti ada orang-orang Coan Cin Kauw yang membuat perhitungan denganmu! Kau harus ketahui, biarpun kau sangat hebat, kau berdua dengan keponakanmu tidak akan sanggup melawan pengurungan Coan Cin Cit Cu!"

Auwyang Kongcu tidak menanti tubuhnya terlempar jatuh, ia mengulur tangannya untuk menekan lantai, lalu segera berdiri tegak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment