Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 160

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 160

Selama itu, Kwee Ceng telah berhasil menghafalkan kitab bagian atas. Karena girang, Pek Thong mulai mengajarinya kitab bagian bawah. Ia hanya mengajarinya sedikit demi sedikit dan tidak menyuruhnya berlatih terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya kecurigaan si anak muda.

Kwee Ceng belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah puluhan kali, ia berhasil menghafal isi kitab bagian bawah itu di luar kepala, sehingga ia pun menguasai kedua bagian kitab tersebut. Pada suatu malam, saat rembulan terang benderang, Pek Thong mengajak Kwee Ceng berlatih bersamanya. Kesudahannya membuat ia girang sekali. Ia merasa bahwa kemampuannya telah maju pesat. Ia percaya, jika nanti ia sudah dapat memahami isi kitab itu sepenuhnya, ia bakal lebih lihai daripada Oey Yok Su dan Ang Cit Kong.

Seusai berlatih, keduanya beristirahat sambil berbincang. Tiba-tiba, mereka mendengar suara sesuatu yang bergeser di atas rumput. Kwee Ceng mengenali suara itu.

"Ular!" Pek Thong kaget hingga mukanya pucat pasi. Ia melompat untuk lari masuk ke dalam gua. Ia gagah, tetapi jika berhadapan dengan ular, ia merasa nyalinya ciut. Kwee Ceng pun tidak tinggal diam. Ia menggeser beberapa bongkah batu besar untuk melintangi mulut gua.

Kemudian ia berkata, "Toako, jangan bergerak, biar aku melihatnya."

"Hati-hati," pesan Pek Thong. "Lekas kau kembali!"

Kwee Ceng berjalan ke arah asal suara ular tersebut. Setelah puluhan langkah, ia dapat melihat ular-ular itu. Ia heran sekali. Di bawah cahaya rembulan, tampak ular dalam jumlah ribuan atau puluhan ribu, berbaris layaknya pasukan tentara menuju ke Utara. Penggembalanya adalah beberapa pria berseragam putih yang tangannya memegang galah panjang. Barisan ular ini lebih hebat daripada barisan ular milik Auwyang Kongcu.

"Mungkinkah See Tok sendiri yang datang ke mari?" tanya si anak muda dalam hati. Ia kaget. Ia menyembunyikan tubuhnya di balik pohon, lalu menguntit barisan ular itu. Untungnya, semua penggembala ular tersebut memiliki kemampuan biasa saja sehingga mereka tidak menyadari kehadirannya. Di paling depan, ada seorang bujang gagu yang memimpin mereka.

Di dalam rimba, mereka berjalan berliku-liku sejauh kira-kira dua puluh li. Setelah melintasi sebuah bukit, tibalah mereka di sebuah tegalan luas dengan rumput yang hijau. Di Utara tegalan rumput itu ada rimba pohon bambu. Setibanya di sana, semua ular itu berhenti berjalan. Bahkan, menuruti petunjuk galah penggembalanya, mereka semua berdiam melingkar dengan rapi, dengan kepala terangkat tinggi.

Kwee Ceng berlaku waspada dan tidak ingin memperlihatkan dirinya. Ia menyelinap ke Timur menuju rimba, lalu dari sana ia ke Utara ke arah hutan bambu itu. Di sana ia bersembunyi sambil memasang telinga dan mata. Rimba itu sunyi. Ia bergerak dengan sangat enteng. Di dalam rimba itu ada sebuah paseban yang terbuat dari bambu. Menurut merek yang tergantung, namanya adalah Cek Cui Teng. Di sampingnya terdapat sepasang lian. Di dalam paseban terdapat meja dan kursi dari bambu; semua barang itu merupakan buatan bertahun-tahun silam, bambunya sudah mengilap dengan warna kuning muda. Suasana di sekitar paseban itu sangat sunyi.

Mengintip keluar, Kwee Ceng melihat rombongan ular itu masih berdatangan. Semua ular itu bukan ular hijau, melainkan ular dengan kepala besar dan ekor panjang, bercahaya kekuning-kuningan seperti emas. Setelah ular kuning, muncul ular hitam. Semua lidah mereka bergerak keluar masuk. Ular-ular itu terpecah ke arah Timur dan Barat, membuka jalan di tengahnya. Di situ terlihat beberapa puluh wanita berseragam putih, masing-masing mencekal tengloleng merah, berjalan dengan perlahan. Di belakang mereka berjalan satu orang dengan jubah terikat di pinggang, tangannya mengebas-ebaskan kipas. Dialah Auwyang Kongcu.

Ia berjalan di muka dengan sikap hormat. Segera terdengar suaranya yang terang dan nyata, "Auwyang Sianseng dari Wilayah Barat datang menjenguk Oey Tocu dari Tho Hoa To!"

"Ah, benar-benar See Tok yang datang!" kata Kwee Ceng dalam hatinya. "Pantaslah rombongan ini begitu besar dan agung."

Memang, di belakang Auwyang Kongcu ada seorang lain yang berjalan, tubuhnya tinggi dan besar, berpakaian putih mulus. Kwee Ceng hanya dapat melihat punggung orang itu, bukan mukanya. Auwyang Kongcu berhenti berjalan saat pemuda itu memperdengarkan suaranya. Dari dalam hutan bambu, muncul dua orang. Melihat mereka, hampir saja Kwee Ceng menjerit. Itulah Oey Yok Su yang menuntun tangan putrinya, Oey Yong.

Auwyang Hong maju, ia menjura kepada Oey Yok Su, yang kemudian membalasnya. Auwyang Kongcu lantas berlutut di depan pemilik Tho Hoa To itu untuk memberi hormat sambil mengangguk empat kali. Ia berkata, "Mantu yang tidak berharga menghadap Gakhu Tayjin, semoga Gakhu Tayjin sehat selalu!"

"Sudah, bangunlah!" kata Oey Yok Su yang mengulurkan tangannya untuk membantu pemuda itu bangun.

Auwyang Kongcu tahu bahwa ia pasti akan diuji, maka ia sudah bersiap sedia. Ia mempertahankan diri saat tangan kirinya dipegang untuk diangkat, tetapi ketika ia bangkit, tubuhnya terhuyung hingga ia mengeluarkan seruan perlahan. Tubuhnya berjumpalitan, kepala di atas dan kaki di bawah, lalu jatuh ke tanah. Namun, Auwyang Hong segera menggerakkan tongkat di tangannya, ditempelkan pada punggung keponakannya itu dan disentil dengan perlahan sehingga sang keponakan dapat berjumpalitan kembali untuk berdiri tegak.

"Ha, bagus sekali, Saudara Yok!" Auwyang Hong tertawa. "Kau membuat calon menantumu berjumpalitan sebagai tanda hormat saat pertemuan pertama?"

Tidak sedap suara See Tok itu masuk ke telinga Kwee Ceng.

"Dia telah menghina muridku yang buta, aku ingin melihat sampai di mana kepandaiannya," sahut Oey Yok Su.

Auwyang Hong tertawa lebar. "Bagaimana sekarang, apakah dia cocok untuk disandingkan dengan putrimu?" tanyanya, sementara matanya melirik ke arah Nona Oey, lalu ia memuji, "Saudara, sungguh hebat! Beruntunglah kau mendapatkan putri yang secantik ini!"

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak, lalu membukanya. Dari dalam kotak itu memancar cahaya terang yang indah. Di dalamnya terletak empat mutiara sebesar buah lengkeng. Ia menghadap Oey Yong dan berkata, "Ayahmu pernah malang melintang di kolong langit ini bertahun-tahun, ada permata aneh apa yang belum pernah ia lihat? Maka ini bingkisanku yang sederhana, sebagai hadiah pertemuan pertama kita, pastilah akan membuatnya tertawa!"

Sembari berkata begitu, See Tok mengangsurkan permata mulianya. Melihat itu, hati Kwee Ceng berdenyut keras. Ia membatin, "Apakah ia akan menerimanya atau tidak?"

Segera terdengar suara tawa Oey Yong. "Terima kasih!" ujar si nona seraya mengulurkan tangan untuk menyambut hadiah itu.

Melihat kulit tangan orang yang putih dan cantik itu, semangat Auwyang Kongcu seolah meninggalkan tubuhnya. Kini ia mendengar tawa orang yang manis dan merdu, goncangan hatinya bertambah hebat. Dalam hatinya ia berpikir, "Ayahnya telah sudi menyerahkan dia kepadaku, maka sekarang sikapnya terhadapku jauh berbeda dari yang dulu."

Tengah pemuda ini tersengal dan bagaikan bermimpi, mendadak ia melihat kilatan cahaya kuning emas menyambar ke arahnya. Saking kagetnya, ia menjerit, "Celaka!" Walaupun demikian, ia masih sempat meliukkan tubuh untuk menjalankan jurus silat Tiat-poan-kio atau Jembatan Besi, hingga tubuhnya terlentang untuk menyelamatkan diri.

"He, kau berbuat apa!" Oey Yok Su membentak seraya tangan kirinya mengibas untuk memukul jatuh jarum emas milik putrinya—orang yang menyerang Auwyang Kongcu dengan senjata rahasia itu—sementara tangan kanannya menekan bahu putrinya.

Oey Yong lantas menjerit menangis. "Ayah, lebih baik kau bunuh saja aku!" serunya. "Aku tidak mau menikah dengannya!"

Auwyang Hong tidak terkejut menyaksikan semua itu. Sambil satu tangan menjejalkan mutiara ke telapak tangan Oey Yong, tangan lainnya menepis tangan Oey Yok Su yang menekan bahu putrinya. "Putrimu tengah menguji keponakanku, mengapa kau memandangnya dengan serius?" katanya sambil tertawa kepada tuan rumah.

Auwyang Kongcu sudah berdiri tegak kembali, akan tetapi ia merasakan sakit pada dadanya, maka tahulah ia bahwa ia telah terkena jarum rahasia itu. Dasar orang yang berkepala besar dan suka menang sendiri, ia menahan sakit dan berpura-pura seolah tidak terjadi sesuatu, meski wajahnya tidak bisa tenang. Ia tampak jengah.

Auwyang Hong berkata lagi sambil tertawa, "Saudara Yok, semenjak kita berpisah di Gunung Hoa San dua puluh tahun lalu, kita tidak pernah saling bertemu. Maka pertemuan ini sungguh membikin aku girang sekali. Saudara, setelah hari ini kau menunjukkan niat baik dengan menerima perjodohan keponakanku dengan putrimu, maka selanjutnya apa pun titahmu, aku tidak akan menolaknya!"

"Siapakah yang berani bermain gila terhadapmu, racun tua bangka?" sahut Oey Yok Su. "Selama dua puluh tahun kau berdiam diri di Wilayah Barat, kepandaian apa saja yang telah kau pahami? Coba sekarang kau pertunjukkan untuk aku lihat."

Dasar sifatnya yang kekanak-kanakan, mendengar ayahnya hendak menyuruh orang mempertunjukkan kepandaiannya, Oey Yong menjadi tertarik. Ia berhenti menangis, menyandar pada tubuh ayahnya, dan matanya diarahkan kepada Auwyang Hong, ingin menyaksikan kepandaian siapa yang akan ia tampilkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment