Chapter 216
Ia menyambar kedua kaki meja lalu mematahkannya. Dengan sepasang kaki meja tersebut, ia menghajar secara membabi buta.
Pemilik rumah makan dan para tamu lainnya, yang tidak tahu apa yang telah terjadi, berlarian keluar dengan ketakutan.
Kwee Ceng lantas mengamuk seperti Oey Yong. Akhirnya, ia menghantam sebuah tiang hingga tiang itu patah dan rumah makan tersebut ambruk.
Setelah itu, keduanya tertawa. Sambil berpegangan tangan, mereka melangkah pergi ke arah utara.
Tidak ada orang yang berani menyusul mereka.
"Puas juga sekarang!" kata Kwee Ceng di tengah jalan.
Ia pun tertawa.
"Ya, apa yang kita lihat dan tidak kita sukai, mari kita hajar!" Oey Yong membenarkan.
"Bagus begitu!" Berjalan lebih jauh di sepanjang jalan itu, mereka melihat banyak syair tertulis di batu, pohon, dan tembok.
Melihat hal itu, Kwee Ceng menghela napas.
"Kalau begini, kita tidak bisa menghajar semuanya," katanya.
"Kau cerdik, Yong-jie. Apakah kau punya akal?"
"Aku lihat ada syair yang bagus," sahut si nona.
"Ah, masa bodoh!" Selagi berbicara, mereka tiba di puncak Hui Lay Hong.
Di tengah puncak itu terdapat sebuah paseban bernama Cui Bie Teng dengan tulisan dari Jenderal Han See Tiong.
Kwee Ceng merasa girang melihatnya, sebab Han See Tiong adalah panglima tersohor yang menentang bangsa Kim.
Ia melangkah masuk ke dalam paseban itu.
Di dalamnya terdapat sebuah syair tulisan Han See Tiong.
"Indah sekali syair ini!" puji Kwee Ceng.
"Sebenarnya itu adalah syair karya Bu Bok Ong Gak Hui," kata Oey Yong.
"Eh, bagaimana kau bisa tahu?"
"Ayah pernah menceritakannya kepadaku. Pada musim dingin tahun Ciauw-hin ke-11, Gak Bu Bok difitnah dan dihukum mati oleh Cin Kwee. Kemudian, pada musim semi tahun berikutnya, Han See Tiong membangun paseban ini sebagai tanda peringatan dan menuliskan syair Bu Bok tersebut, yang kemudian diukir di sini."
Kwee Ceng mengagumi panglima kenamaan itu. Lama ia berdiri diam menatap syair tersebut sembari mengusap-usapnya.
Saat sedang berbuat demikian, tiba-tiba Oey Yong merunduk seraya menarik ujung bajunya, memaksanya untuk ikut bersembunyi di dalam gerombolan pohon bunga.
Di sana, pundaknya ditekan hingga ia ikut berjongkok seperti si nona.
Hampir pada saat yang bersamaan, terdengar langkah kaki memasuki paseban tersebut.
"Han See Tiong memang seorang enghiong," kata seseorang. "Namun, istrinya pun tidak kalah gagah meskipun berasal dari kalangan wanita penghibur. Bukankah ia turut maju ke medan perang dan menabuh genderang untuk menyemangati suaminya agar memperoleh kemenangan?"
Kwee Ceng mengenali suara itu, tetapi tidak ingat milik siapa.
"Gak Hui dan See Tiong memang enghiong, tetapi mereka kalah dari kaisar," kata orang yang lain. "Bukankah kaisar menghendaki kematian mereka dan seluruh kekuasaan militer mereka telah ditarik kembali? Mereka memang gagah, tetapi mereka harus menerima nasib. Demikianlah kekuasaan kaisar yang tidak dapat ditentang!"
Sekarang Kwee Ceng mengenali suara itu sebagai suara Yo Kang. Ia merasa heran dan menduga-duga mengapa pemuda itu bisa berada di tempat ini.
Tepat saat itu, terdengar suara lain yang pecah dan parau, membuatnya semakin heran dan terkejut. Itu adalah suara Racun Barat, See Tok Auwyang Hong.
Auwyang Hong berkata, "Benar! Jika kaisar yang bertakhta berpikiran picik dan para menteri culas memegang kendali pemerintahan, sehebat apa pun seorang enghiong, ia tidak akan ada gunanya!"
"Maka, jika rajanya bijaksana," kata orang pertama, "pastilah orang-orang seperti Auwyang Sianseng akan dapat menunjukkan kegagahan dan kepandaian mereka!"
Kwee Ceng mengenali suara orang ini. Ia adalah Wanyen Lieh, pangeran keenam dari Negeri Kim sekaligus musuh yang telah membunuh ayahnya. Tadi, dalam waktu singkat, ia tidak langsung mengingatnya.
Mereka tidak lama berada di dalam paseban. Setelah selesai berbicara dan tertawa, mereka pun berlalu.
"Coba tebak," kata Kwee Ceng kepada Oey Yong setelah orang-orang itu pergi jauh. "Apa maksud kedatangan mereka ke Lim-an ini? Dan Adik Kang, mengapa ia bisa bersama mereka?"
"Sejak lama aku sudah melihat bahwa adik angkatmu itu bukan orang baik-baik, tetapi kau tetap saja menganggapnya keturunan orang gagah," sahut si nona. "Baru sekarang kau mengerti! Jika ia benar-benar orang baik, mengapa ia bergaul dengan See Tok dan pangeran musuh itu?"
"Aku juga tidak mengerti," kata Kwee Ceng.
Oey Yong lantas menceritakan apa yang didengarnya di Paviliun Hoa Cui Kok di istana Chao Wang baru-baru ini.
Ia menambahkan, "Wanyen Lieh telah mengumpulkan Pheng Lian Houw dan antek-anteknya dengan maksud mencari kitab warisan Gak Bu Bok. Oleh karena itu, aku menduga kitab warisan tersebut pastilah berada di dalam Kota Lim-an ini. Sungguh celaka rakyat Song kita apabila kitab warisan itu benar-benar jatuh ke tangan mereka!"
Seketika hati Kwee Ceng bergetar. Urusan ini sungguh gawat.
"Yong-jie," katanya, "kita harus mencegah mereka mendapatkan kitab warisan itu!"
"Hanya saja, masalahnya mereka bersama dengan si Racun Barat."
"Apakah kau gentar?"
"Apakah kau sendiri tidak takut?"
"Tentu saja aku takut kepada See Tok, tetapi urusan ini sangat penting, jadi kita tidak boleh bersikap penakut."
Oey Yong tertawa.
"Jika kau tidak takut, aku pun tidak takut!" katanya.
"Bagus! Sekarang mari kita kejar mereka!"
Mereka segera meninggalkan paseban itu, tetapi mereka tidak berhasil menyusul rombongan Wanyen Lieh yang bertiga itu. Sia-sia saja mereka berputar-putar mencarinya di dalam kota.
Hangzhou adalah kota yang besar. Dalam waktu singkat, kota itu tidak mungkin dapat dikelilingi seluruhnya.
Oleh karena itu, setelah setengah hari mencari dan hari mulai sore, mereka pergi ke Taman Bu Lim Wan di Tiong-wa-cu.
Oey Yong melihat sebuah toko yang menjual berbagai macam topeng dengan lukisan yang indah dan tampak hidup. Ia pun menjadi tertarik.
Teringat akan janjinya untuk membelikan sesuatu bagi Ciu Pek Thong, ia melangkah masuk ke dalam toko tersebut. Dengan membayar lima keping uang, ia berhasil membeli belasan topeng, seperti topeng Ciong Hiok si raja setan, hakim neraka, dewa dapur, dewa pertanian, prajurit langit, dan hantu-hantu lainnya. Semua topeng itu kemudian dibungkus menjadi satu.
"Rumah makan apa itu?" tanya Oey Yong. Ia mencium aroma makanan yang sangat lezat dari restoran di sebelah toko topeng tersebut.
"Sepertinya Anda berdua bukan orang sini, makanya tidak tahu," kata pelayan toko sambil tertawa. "Itulah Restoran Sam Goan Lauw yang termasyhur nomor satu di kota kami. Jangan sampai Anda berdua melewatkan kesempatan emas ini!"
Oey Yong merasa tertarik. Ia menerima bungkusan topengnya, lalu menarik tangan Kwee Ceng untuk diajak ke sana.
Rumah makan itu tampak megah dengan hiasan yang indah dan cat yang masih bagus. Di atas lotengnya terpajang banyak lentera. Di halaman dalamnya tumbuh berbagai pohon bunga dan tanaman lainnya.
Setibanya mereka di loteng, pelayan menyambut mereka dengan ramah lalu menunjukkan tempat duduk. Setelah mencatat pesanan makanan, pelayan itu pun mengundurkan diri.
Di bawah terang cahaya lampu, Kwee Ceng melihat puluhan wanita penghibur berpakaian mewah berkumpul di samping lorong. Ia merasa heran.
Baru saja ia hendak bertanya kepada pelayan, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya karena telinganya mendengar sebuah suara dari balik tembok:
"Boleh juga! Coba suruh mereka bernyanyi untuk menemani kita minum arak!"
Itu adalah suara Wanyen Lieh.
Kwee Ceng dan Oey Yong saling melirik. Di dalam hati, mereka bergumam, "Bagus!" Lelah mereka mencari ke mana-mana, tidak tahunya orang yang dicari ada di sini.
Kemudian terdengar suara pelayan memanggil, lalu seorang wanita penghibur menyahut dan datang menghampiri. Langkah kakinya tampak gemulai, sementara tangannya memegang kecrek.
Tidak lama kemudian, terdengar suara nyanyian yang merdu, mendendangkan pujian tentang keindahan Sungai Cian-tong dan kota tersebut.
"Bagus!" Demikian pujian dari Wanyen Lieh dan Yo Kang di akhir lagu tersebut.
Setelah itu, terdengar ucapan terima kasih dari sang penyanyi yang kemudian mengundurkan diri dengan gembira, tampaknya karena mendapat persenan yang besar.
"Anakku," kemudian terdengar suara Wanyen Lieh, "tahukah kau bahwa syair Liu Eng itu ada hubungannya dengan Negeri Kim kita yang besar?"
"Anakmu tidak tahu, mohon Ayah menjelaskannya," terdengar jawaban Yo Kang.
Mendengar mereka saling memanggil "ayah" dan "anak", Kwee Ceng dan Oey Yong kembali saling melirik.
Kwee Ceng merasa mendongkol sekaligus masygul. Jika bisa, rasanya ia ingin menjambak Yo Kang untuk memaksanya memberi penjelasan.
Syair Liu Eng yang dimaksud adalah syair "Bong Hay Tiauw" atau "Memandang Gelombang" yang tadi didendangkan oleh sang penyanyi.
Terdengar penjelasan dari Wanyen Lieh selanjutnya, "Pada tahun Ceng-liong dari Negeri Kim yang agung, kaisar kita Liang melihat syair Liu Eng yang memuji keindahan Danau See Ouw. Oleh karena itu, ketika mengirim utusan ke Selatan, dikirim pula seorang pelukis untuk menggambar panorama Kota Lim-an. Di dalam lukisan itu, digambarkan pula kaisar kita sedang berdiri bersama kudanya di puncak Bukit Gouw San. Kemudian, kaisar sendiri yang menuliskan syair pada lukisan tersebut, menceritakan impiannya memimpin pasukan besar ke See Ouw dan berdiri di puncak tertinggi Bukit Gouw San."
"Sungguh luar biasa!" puji Yo Kang.
Kwee Ceng meremas tangannya sendiri saking dongkolnya.
Terdengar Wanyen Lieh menghela napas seraya berkata dengan nada menyesal, "Sayang sekali cita-cita Kaisar Liang untuk membawa pasukan ke Selatan guna mendaki puncak Gouw San tidak tercapai. Walaupun begitu, cita-cita tersebut kini akan diteruskan oleh anak cucunya. Hasrat luhur beliau terbukti dari syair yang ditulisnya pada sebuah kipas, yang berbunyi: 'Jika gagang kipas berada di genggaman, maka angin sejuk akan memenuhi kolong langit'."
Saat mengucapkan hal itu, tampak semangat Wanyen Lieh tengah terhanyut oleh impiannya.
Setelah itu, terdengar tawa nyaring dari Auwyang Hong yang berkata, "Jika kelak Pangeran memegang kekuasaan besar, pastilah cita-cita untuk berdiri di puncak Bukit Gouw San itu akan tercapai!"
"Semoga apa yang Sianseng katakan menjadi kenyataan," kata Wanyen Lieh perlahan. "Di sini banyak telinga yang mendengar, mari kita minum saja."
Setelah itu, pembicaraan mereka bertiga pun beralih. Mereka mulai memperbincangkan keindahan tempat tersebut dan adat istiadat penduduknya.
"Mereka minum dengan sangat gembira, aku justru akan membuat mereka tidak bergembira!" bisik Oey Yong di telinga Kwee Ceng, lalu mengajaknya pergi ke taman belakang.