Chapter 221
"Apakah surat wasiat Gak Bu Bok berhasil mereka curi?" tanya Kwee Ceng.
Itulah hal pertama yang ia ingat.
Oey Yong merasa gembira mendengar pemuda itu sudah bisa berbicara, meskipun suaranya masih sangat lemah.
"Jangan khawatir, penjahat itu tidak berhasil merebutnya," sahut Oey Yong.
Sebenarnya ia ingin menanyakan keadaan luka pemuda itu ketika tiba-tiba merasakan telapak tangannya hangat akibat darah segar yang mengalir dari pinggang Kwee Ceng.
"Eh, Yong-er, mengapa kamu menangis?" tanya Kwee Ceng yang baru menyadari air mata berlinang di pipi gadis itu.
"Aku tidak menangis," kata Oey Yong, memaksakan diri untuk tersenyum.
"Tadi dia menangis!" sela Sa Kouw tiba-tiba. "Kamu mau mengelak? Apa tidak malu? Lihat, wajahmu masih basah oleh air mata!"
"Yong-er, jangan takut," Kwee Ceng menghibur. "Di dalam Kitab Sembilan Rembulan terdapat cara-cara untuk mengobati luka. Aku tidak akan mati."
Mendengar hal itu, Oey Yong merasa seolah-olah mendapatkan seberkas cahaya di dalam kegelapan. Ia merasa sangat gembira. Tadinya ia ingin meminta penjelasan lebih lanjut mengenai cara pengobatan itu, namun ia mengurungkan niatnya karena khawatir pemuda itu akan kelelahan. Maka ia pun mengambil obor dari tangan si gadis tolol.
"Kakak, tadi aku tidak sengaja menyerangmu, apakah terasa sakit?" tanya Oey Yong sambil tersenyum.
"Ah, kamu menangis, kamu tidak bisa mengelak lagi!" kata si gadis tolol yang tidak memedulikan pertanyaan Oey Yong. Ia hanya mengingat bantahan gadis itu.
"Ya, benar, aku menangis," kata Oey Yong sambil tersenyum. "Kamu sendiri tidak menangis, kamu hebat sekali."
Mendengar dirinya dipuji, Sa Kouw menjadi sangat gembira.
Sementara itu, Kwee Ceng berusaha keras mengatur pernapasannya agar rasa sakitnya berkurang.
"Tolong gunakan jarum emasmu untuk menusuk beberapa titik nadi pentingku, *ceng-ciok* dan *siauw-yauw*," bisiknya perlahan kepada Oey Yong.
"Ah, bodohnya aku!" seru Oey Yong terkejut. Dengan cepat ia mengeluarkan sebatang jarum emasnya dan langsung bertindak.
Tiga kali ia menusukkan jarum ke pinggang kiri, tepat di kedua titik nadi yang disebutkan tadi. Tusukan ini membantu memperlambat aliran darah sekaligus mengurangi rasa nyeri.
"Luka di pinggangku ini, Yong-er, meskipun dalam, tidaklah berbahaya," kata Kwee Ceng lagi dengan suara yang tetap lirih. "Yang berbahaya adalah serangan *Hap-mo-kang* dari si Racun Barat. Untunglah ia tidak menggunakan seluruh tenaganya, sehingga aku masih bisa diselamatkan. Hanya saja, kamu harus bersusah payah merawatku selama tujuh hari tujuh malam."
"Jangankan bersusah payah selama tujuh hari, menderita selama tujuh puluh tahun pun aku rela demi dirimu," sahut Oey Yong cepat.
Kwee Ceng sangat terharu. Hatinya bergetar hebat hingga hampir membuatnya pingsan lagi. Ia diam sejenak untuk menenangkan diri.
"Sayang sekali Guru juga terluka," katanya kemudian.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir," sela Oey Yong mencoba menghibur. "Sekarang fokuslah untuk mengobati lukamu sendiri agar aku bisa tenang."
"Pertama-tama, kita harus mencari tempat yang tenang," kata Kwee Ceng. "Di sana aku akan mengobati diriku dengan bantuanmu. Menurut ajaran kitab, kita harus menyatukan tenaga dalam secara bergantian sambil menyelaraskan napas. Dengan cara itu, kamu dapat membantuku mengalirkan tenaga dalammu. Seperti yang kukatakan tadi, kesulitannya adalah proses ini membutuhkan waktu tujuh hari tujuh malam tanpa putus, dan selama itu kedua telapak tangan kita tidak boleh terlepas. Pikiran kita harus menyatu sepenuhnya. Kita boleh berbicara, tetapi tidak boleh ada orang ketiga yang menyela atau mengganggu. Kita juga tidak boleh berdiri atau melangkah barang selangkah pun. Jika ada orang yang mengganggu kita, maka..."
Oey Yong memahami metode pengobatan tersebut yang mirip dengan meditasi tingkat tinggi. Sebelum prosesnya selesai, tidak boleh ada gangguan sama sekali, karena gangguan apa pun bisa menggagalkan pengobatan dan mendatangkan bahaya maut. Itulah sebabnya seseorang yang sedang bersemedi membutuhkan penjaga di sampingnya untuk menghalau gangguan.
Ia pun berpikir keras, "Aku harus membantunya, tetapi di sini tidak ada orang lain. Siapa yang bisa melindungi kami? Sa Kouw tidak bisa diandalkan karena dia terlalu bodoh, malah mungkin dialah yang akan mengacau nanti. Di mana pula kami bisa menemukan tempat yang sunyi dalam waktu singkat ini? Seandainya Kakak Seperguruan Ciu datang ke sini, belum tentu ia sanggup menjaga kami selama tujuh hari tujuh malam tanpa bosan. Bagaimana baiknya sekarang?"
Oey Yong kembali berpikir keras sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada lemari tempat menyimpan mangkuk dan peralatan makan.
"Ah, ada jalan!" pikirnya seketika. "Mengapa kami tidak bersembunyi saja di dalam kamar rahasia itu? Dulu, ketika Bwee Tiauw Hong tidak memiliki pelindung, dia juga bersembunyi di dalam gua."
Saat itu fajar mulai menyingsing, dan Sa Kouw pergi ke dapur untuk memasak bubur.
"Kakak Ceng, istirahatlah dulu," kata Oey Yong. "Aku akan keluar sebentar untuk membeli bahan makanan. Begitu aku kembali, kita akan segera bersembunyi dan memulai pengobatan."
Kwee Ceng menurut dan membiarkan kekasihnya pergi.
Oey Yong berjalan menuju desa terdekat. Sambil berjalan, ia memikirkan bahan makanan apa yang harus dibelinya. Makanan biasa tidak akan tahan selama tujuh hari tujuh malam tanpa membusuk dan menimbulkan bau. Namun, ia tidak perlu berpikir terlalu lama. Ia segera membeli dua pikul semangka, lalu meminta pedagangnya mengantarkan buah-buah itu ke rumah Sa Kouw.
Setelah menerima pembayaran, pedagang semangka itu berkata, "Nona, ini adalah semangka asli dari Desa Gu-kee-cun. Rasanya sangat manis dan segar. Sekali mencoba, Anda pasti ketagihan!"
Oey Yong terkejut mendengar nama desa itu.
"Kalau begitu, ini adalah kampung halaman Kakak Ceng," pikirnya.
Ia khawatir pikiran pemuda itu akan terganggu jika mengetahui mereka berada di desa kelahirannya. Maka dari itu, ia hanya menyahut seadanya agar si pedagang lekas pergi, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Ia mendapati Kwee Ceng sedang tertidur lelap dan darah di lukanya sudah berhenti mengalir. Selagi pemuda itu tidur, ia mulai bekerja. Ia membuka pintu dapur, memutar mekanisme rahasia untuk membuka pintu kamar rahasia, lalu mengangkut seluruh semangka ke dalamnya.
Kepada Sa Kouw, ia berpesan dengan sangat serius agar tidak memberi tahu siapa pun tentang keberadaan mereka di dalam kamar rahasia tersebut. Ia juga mewanti-wanti agar apa pun yang terjadi di luar, Sa Kouw tidak boleh membuat keributan atau bersuara.
Sa Kouw sebenarnya tidak memahami maksud Oey Yong, tetapi ia mengerti bahwa situasi ini sangat penting dari raut wajah dan nada bicara tamunya yang sangat serius.
"Baik," katanya sambil mengangguk. "Kalian ingin bersembunyi di kamar ini sambil makan semangka. Setelah semua semangkanya habis, baru kalian keluar. Baik, sekarang aku tidak akan bicara!"
"Benar, Sa Kouw tidak boleh bicara!" puji Oey Yong, sengaja membujuknya. "Sa Kouw adalah anak yang baik. Kalau Sa Kouw bicara, dia jadi anak nakal!"
"Sa Kouw tidak akan bicara, Sa Kouw anak baik!" si gadis tolol menirukan dengan gembira.
Tidak lama kemudian Kwee Ceng terbangun. Oey Yong menyuapinya semangkuk besar bubur hangat, lalu ia sendiri juga memakan semangkuk. Usai makan, gadis itu memapah Kwee Ceng masuk ke dalam kamar rahasia. Ketika menoleh ke arah pintu, ia melihat Sa Kouw sedang mengawasi mereka sambil menyeringai jenaka dan berkata, "Sa Kouw tidak akan bicara!"
Melihat kebodohan gadis itu, Oey Yong mulai merasa cemas.
"Dia begitu bodoh, sangat mungkin dia akan kelepasan bicara kepada siapa saja. Bagaimana jika nanti dia berkata, 'Mereka bersembunyi di dalam sana makan semangka, tetapi Sa Kouw tidak boleh bicara'? Tampaknya, satu-satunya cara untuk melenyapkan ancaman ini adalah dengan membunuhnya."
Oey Yong yang berwatak eksentrik tidak memedulikan belas kasihan, kepantasan, ataupun kebenaran moral. Ia bahkan tidak mau ambil pusing mengenai hubungan darah antara Sa Kouw dan Kiok Leng Hong. Saat ini, pikirannya hanya terfokus pada keselamatan Kwee Ceng yang harus dilindungi dengan segala cara. Demi Kwee Ceng, ia bahkan rela membunuh Sa Kouw. Maka, ia pun mengambil pisau belati milik pemuda itu.
Namun, saat hendak melangkah keluar, tatapan matanya beradu dengan pandangan Kwee Ceng yang memperlihatkan rasa terkejut dan heran.
Oey Yong membatin, "Apakah dia bisa menangkap hawa membunuh di wajahku?"
Ia pun berpikir kembali, "Membunuh Sa Kouw memang mudah, tetapi bagaimana setelah Kakak Ceng sembuh nanti? Apa yang harus kukatakan jika ia menanyakannya? Dia pasti akan sangat marah dan meributkannya."
Gadis itu mulai ragu-ragu.
"Kakak Ceng sangat baik dan berbudi luhur," pikirnya lagi. "Mungkin saja ia tidak akan membahas tentang Sa Kouw, tetapi bagaimana jika ia justru menyimpan dendam dan membenciku selamanya? Ah, sudahlah, biarlah kami mengambil risiko ini."
Oey Yong akhirnya mengurungkan niatnya dan segera mengunci pintu kamar rahasia itu dari dalam.
Kemudian ia memeriksa seluruh ruangan rahasia tersebut. Di ujung barat terdapat sebuah lubang ventilasi tempat masuknya cahaya matahari, sehingga pada siang hari ruangan itu cukup terang. Di dinding terdapat lubang intip kecil yang tertutup debu, lalu ia membersihkan debu tersebut.
Kwee Ceng duduk bersandar pada dinding sambil tersenyum. "Tidak ada tempat istirahat yang lebih baik daripada tempat ini," katanya.
"Kamu akan menemani dua mayat di sini, apakah kamu tidak takut?" tanya Oey Yong sambil tertawa, meskipun sebenarnya ia sendiri merasa agak risi.
"Yang satu adalah kakak seperguruanku, dia tidak mungkin menggangguku," sahut Kwee Ceng. "Sedangkan yang satu lagi hanyalah perwira tidak berguna. Saat hidup saja aku tidak takut kepadanya, apalagi setelah dia menjadi mayat!"
Sambil berkata demikian, Oey Yong menggeser kerangka-kerangka itu ke sudut utara, lalu menggelar tumpukan rumput kering untuk tempat berbaring. Ia juga mendekatkan semua buah semangka agar mudah dijangkau hanya dengan mengulurkan tangan.
"Bagaimana, bagus tidak?" tanya Oey Yong akhirnya.
"Bagus sekali!" jawab Kwee Ceng. "Sekarang, mari kita mulai latihannya."
Oey Yong membantu pemuda itu untuk duduk di atas rumput kering, sementara ia sendiri mengambil posisi duduk bersila di hadapannya agak ke kiri. Dari posisi itu, ia cukup menoleh sedikit untuk mengintip ke luar melalui lubang di dinding. Betapa gembiranya ia ketika menemukan sebuah cermin kecil di dekat lubang tersebut, yang memungkinkannya memantau keadaan di luar dengan jelas.