Chapter 11
"Kamu jangan ganggu aku." Tiba-tiba wajah pemuda itu menjadi dingin.
"Baik, baiklah," kata Oen Cong dan Bun Kay dengan cepat.
"Tayjin masih membutuhkan apa lagi? Tolong sebutkan, nanti hamba siapkan." Yen Lieh mendongak. Ia tidak menyahut, hanya tangannya diayunkan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Oen Cong dan Bun Kay mengundurkan diri dengan hormat, dan tanpa bersuara semua pengawal mengikuti mereka.
Pelayan yang menyaksikan itu semua, wajahnya menjadi pucat pasi, seolah darahnya lenyap.
"Bukankah residen dan camat pun harus berlutut terhadap tamu itu?" Tidak ayal lagi, dengan dipimpin oleh penguasa hotel, pelayan itu berlutut seraya memohon ampun.
Yen Lieh mengambil sepotong perak dari atas nampan, ia melemparkannya ke atas tanah.
"Ini untukmu!" katanya sambil tertawa.
"Cepat pergi!" Pelayan itu tercengang, ia ragu. Namun, ketika penguasa hotel melihat wajah tamu itu tenang dan ramah, khawatir tamu itu marah, ia lekas-lekas memungut uang itu. Ia berlutut dan mengangguk-angguk, lalu dengan cepat ia menyeret pelayan itu pergi.
Sampai di situ Pauw Sek Yok menjadi heran, hatinya pun lega, hingga ia bisa tertawa.
"Sebenarnya suratmu itu berisi apa?" ia bertanya.
"Seorang pembesar sampai ketakutan demikian rupa!" Yen Lieh tertawa.
"Sebenarnya aku tidak berniat mempedulikan mereka," ia menyahut.
"Pembesar itu sendiri tidak berguna. Orang-orang bawahannya Tio Kong semuanya tak lebih dari kantong nasi. Kalau negara mereka tidak musnah, benar-benar tidak pantas!" Sek Yok heran.
"Siapa itu Tio Kong?" tanyanya.
"Tio Kong adalah Kaisar Leng Cong yang sekarang!" Nyonya Yo Tiat Sim menjadi terperanjat.
"Dia mengaku sebagai sahabat Han Sinsiang. Semua pembesar sipil dan militer menghormati dan menakutinya. Aku menyangka dialah kerabat kaisar," pikirnya.
"Atau setidaknya dia pembesar berpangkat sangat tinggi."
"Kenapa dia sekarang berani terang-terangan menyebut nama kaisar? Kalau hal ini didengar orang, bukankah itu berarti sangat kurang ajar?" Maka lekas-lekas ia berkata, "Bicara hati-hati!
Nama raja mana boleh disebut sembarangan?" Yen Lieh senang mengetahui nyonya ini menyayanginya.
"Tidak ada halangannya bagiku untuk menyebutkan namanya," ia menyahut sambil tertawa.
"Setibanya kita di Utara, kalau kita tidak memanggilnya Tio Kong, lalu kita harus memanggil apa?" Sek Yok kembali terkejut.
"Ke Utara?" dia bertanya.
Yen Lieh mengangguk.
Ia baru mau menyahut, tetapi di luar hotel terdengar derap langkah dari beberapa puluh ekor kuda yang terhenti tepat di depan hotel.
Ia lantas saja mengerutkan kening, tampaknya ia sangat tidak puas.
Sek Yok sebaliknya terkejut.
Segera terdengar langkah kaki banyak orang yang bersepatu kulit memasuki ruang hotel, terus menuju depan kamar pemuda itu.
Itulah beberapa puluh serdadu dengan pakaiannya yang tersulam.
Begitu mereka melihat Yen Lieh, semua menunjukkan wajah sangat girang, hampir serentak mereka menyerukan, "Ongya!" Lantas semuanya memberi hormat sambil berlutut.
"Akhirnya kamu dapat menemukanku!" kata Yen Lieh sambil tertawa. Sek Yok mendengar orang dipanggil "Ongya" atau "Sri Paduka", ia tidak terlalu heran.
Ia hanya heran menyaksikan rombongan serdadu itu, yang terus bangkit untuk berdiri dengan tegak.
Mereka semua bertubuh besar dan kekar.
Penampilannya rapi.
Mereka berbeda dari tentara Tionghoa.
"Semua keluar!" kemudian Yen Lieh berkata, tangannya diayunkan.
Sambil menyahut serentak, semua serdadu itu mundur teratur.
"Bagaimana kau melihat semua orangku dibandingkan dengan tentara Song?" ia bertanya.
"Apakah mereka bukan tentara Song?" nyonya itu bertanya balik.
Yen Lieh tertawa.
"Sekarang baiklah aku berterus terang padamu!" katanya, riang gembira.
"Semua serdadu itu adalah tentara pilihan dari Kerajaan Kim yang besar!" Dan dia tertawa panjang dan puas sekali.
"Kalau begitu kau ini, kau?" kata Sek Yok dengan suara yang gemetar.
Yen Lieh kembali tertawa.
"Terus terang Nyonya, namaku harus ditambahi satu huruf "Wan" di depannya," dia menyahut.
"Sebenarnya hamba ini adalah Wanyen Lieh, putra keenam dari Raja Kim. Pangeran Tio Ong adalah hamba." Sek Yok terperanjat, ia tercengang.
Pernah dahulu ia mendengar ayahnya bercerita bagaimana bangsa Kim telah menggilas wilayah Tionghoa, bagaimana dua kaisar Tionghoa telah ditawan, dibawa pulang ke negeri Kim, bahwa rakyat di Utara telah diperlakukan dengan kejam oleh bangsa Kim itu.
Kemudian, setelah ia menikah dengan Yo Tiat Sim, ia juga mengetahui bagaimana hebat suaminya itu membenci bangsa Kim.
Sekarang, di luar dugaannya, orang yang bersamanya siang dan malam selama beberapa hari, adalah putra Raja Kim, yang menjadi musuh Tionghoa.
Wanyen Lieh melihat air muka orang berubah, senyum nyonya itu lenyap.
Ia lantas berkata, "Telah lama aku mengagumi keindahan wilayah selatan. Karena itu, pada tahun baru yang baru saja berlalu, aku telah memohon Ayahanda Raja mengirimku ke Lin'an sebagai utusan untuk memberi selamat Tahun Baru kepada Kaisar Song.
Di samping itu, kebetulan Kaisar Song belum membayar upeti tahunannya yang berjumlah beberapa puluh laksa tael perak, maka dari itu Ayahanda Raja menitahkan aku sekalian menagihnya." "Upeti tahunan?" Sek Yok heran.
"Ya," sahut putra Raja Kim itu.
"Kerajaan Song memohon negeriku tidak menyerangnya. Ia berjanji setiap tahun mengirim upeti uang dan sutra, tetapi dengan alasan penghasilan negaranya tidak mencukupi, seringkali Kaisar Song tidak menepati janjinya. Maka kali ini aku tidak segan-segan lagi menghadapi Perdana Menteri Han To Cu. Aku menegaskan kepadanya, apabila dalam tempo satu bulan upeti tidak dibayar penuh, aku sendiri akan memimpin angkatan perang untuk mengambilnya dan dia tidak perlu lagi bersusah payah mengurusnya!" "Apa katanya Han Sinsiang?" Sek Yok bertanya.
"Apa lagi yang bisa ia katakan? Belum lagi aku meninggalkan Lin'an, uang dan sutra sudah diseberangkan melewati sungai. Hahaha!" Sek Yok terdiam. Alisnya mengernyit.
"Menagih upeti adalah urusan yang remeh, cukup dengan mengutus satu menteri," Wanyen Lieh berkata pula.
"Namun aku datang sendiri, karena aku ingin menyaksikan keindahan wilayah selatan ini. Maka di luar dugaanku, aku bertemu dengan Nyonya. Sungguh aku sangat beruntung." Pauw Sek Yok tetap bungkam.
"Nah, sekarang aku hendak pergi membeli pakaian," kata Wanyen Lieh kemudian.
"Tidak usah," kata Sek Yok, tertunduk.
Putra Raja Kim itu tertawa ketika ia berkata pula, "Uang pribadi Han Sinsiang sendiri yang dibekalkan kepadaku. Kalau aku pakai itu untuk membeli pakaian, tidak akan habis kau pakai selama seribu tahun, Nyonya!
Kau jangan takut, di keempat penjuru sini telah berjaga-jaga pasukan pribadiku, tidak akan ada orang jahat yang berani mengganggumu!" Mendengar itu, Sek Yok menduga bahwa ia telah diancam secara samar, bahwa ia tidak dapat melarikan diri apabila ia berpikir demikian karena hotel itu telah dijaga rapat. Ia hanya heran sekali, apa maksud putra Raja Kim itu yang ia seorang wanita dari rakyat jelata, diperhatikan sedemikian rupa.
Itulah perlakuan istimewa.
Ketika ia mengingat suaminya, yang sangat mencintainya, ia lantas merebahkan diri di pembaringannya dan menangis sedih sekali.
Dengan membekali diri dengan uang, Wanyen Lieh pergi ke bagian kota yang ramai.
Ia melihat penduduk kota memiliki gerak-gerik yang halus, walaupun hanya kuli, tampak berbeda juga. Karena itu, diam-diam ia mengaguminya.
Ia lantas memikirkan untuk nanti, ketika ia memimpin angkatan perang mendatangi wilayah ini, ia akan memohon ayahnya mengangkatnya menjadi Gouw Ong, pangeran wilayah selatan ini, supaya ia dapat tinggal tetap di Kanglam.
Dengan perasaan puas, bangsawan ini berjalan dengan perlahan-lahan, matanya memandangi sekitarnya hingga mendadak ia mendengar derap lari kuda.
Jalan besar di sana tidak lebar, orang-orang yang berlalu lintas kebetulan banyak, dan pinggiran jalanan pun ditempati pedagang-pedagang kaki lima dan pikulan. Kenapa ada orang yang melarikan kudanya di situ?
Ia lantas menyingkir ke pinggiran.
Sebentar saja kuda itu telah tiba.
Itulah seekor kuda kuning yang tinggi dan besar, tegap tubuhnya dan pesat gerakannya.
Jelas, itu adalah kuda asal luar perbatasan.
Melihat kuda itu, Wanyen Lieh memuji, akan tetapi ketika ia menyaksikan penunggangnya, ia jadi tertawa sendiri.
Penunggang kuda itu adalah seorang yang tubuhnya pendek dan bungkuk, dan wajahnya jelek. Dengan bertengger di atas kuda yang tinggi besar, ia mirip setumpuk daging belaka.
Sudah tangannya pendek dan kakinya pendek, lehernya pun seperti tidak ada, yang kelihatan hanya kepalanya yang besar, yang muncul mengkerut di atas pundaknya.
Selain keanehan si penunggang kuda, aneh juga cara kudanya berlari-lari.
Kuda itu tidak pernah menerjang barang atau menabrak orang. Ia dapat bergerak merdeka, seperti menghindar ke sana dan ke sini, atau melompati pikulan pedagang-pedagang.
Wanyen Lieh merasa ia adalah seorang ahli penunggang kuda, tetapi sekarang tanpa sadar ia berseru, "Bagus!"
Si pendek bungkuk mendengar orang memujinya, dia berpaling. Maka dengan itu Wanyen Lieh dapat melihat dengan jelas wajah orang itu.
Itulah sebuah muka yang merah seperti ampas anggur, dengan hidung besar dan bulat seperti buah plum merah menempel di wajahnya.
"Kuda itu hebat, lebih baik aku beli dengan harga istimewa," pikirnya.
Hampir pada saat itu, di jalan itu muncul dua bocah berlari-lari bermain kejar-kejaran melintas di depan kuda.
Kuda itu kaget, kakinya bergerak.
Tepat pada saat itu, si pendek bungkuk mengangkat tali kendalinya, tubuhnya pun terangkat dari punggung kuda. Kuda itu pun langsung melompat melewati atas kepala kedua bocah itu. Sesudahnya, tubuh si pendek turun pula, bertengger lagi di punggung kuda seperti tadi, duduk dengan aman!
Wanyen Lieh kagum hingga ia ternganga.
Lihai luar biasa si cebol itu. Di negeranya sendiri, Kerajaan Kim, tidak ada penunggang kuda sepandai dia, meskipun ia punya banyak ahli penunggang kuda.
Sekarang ia menyadari bahwa manusia tidak dapat dilihat dari wajahnya saja.