Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 192

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 192

Belum lagi kaki itu diturunkan ke tanah, tiba-tiba ia melompat ke kiri. Melihat itu, Auwyang Kongcu ikut melompat ke kiri untuk merintangi si nona. Namun, justru pada saat itulah Oey Yong mengayunkan tangannya.

Hebat si anak muda itu, ia menggerakkan sabuk bajunya untuk menangkis serangan jarum. Akan tetapi, si nona pun tidak kalah tangkas; ia sengaja menggunakan siasat. Saat pemuda itu lengah, ia melompat dan melesat keluar gua.

Auwyang Kongcu benar-benar hebat. Walaupun kerepotan, ia tetap dapat bergerak dengan kecepatan luar biasa. Ia melompat untuk menyusul, dan di tengah lari, Oey Yong mendengar desiran angin di belakangnya. Itu adalah desiran pukulan yang mengarah ke punggungnya. Ia tidak takut, justru ia menjadi girang. Bukankah ia memakai baju lapis berduri? Bukankah ia sudah nekat? Ia tidak takut mati asal bisa melukai musuhnya. Maka, ia tidak menangkis, melainkan memutar tubuhnya untuk berbalik menyerang.

Auwyang Kongcu tidak berniat membinasakan si nona; ia hanya ingin menggoda. Maka, ketika serangan itu datang, ia membatalkan serangannya, menangkis, lalu melompat jauh ke depan untuk mendahului tiba di mulut gua. Oey Yong berkelahi seolah sedang kalap. Ia menyerang tanpa memikirkan pembelaan diri. Dengan cara ini, kegigihannya tampak berlipat ganda. Maksud Auwyang Kongcu sebenarnya adalah membuat si nona letih, tetapi karena harus menghadapi serangan bertubi-tubi, ia terpaksa melayani dengan serius.

Dalam keadaan seperti itu, meskipun ia lebih sakti, ia merasa kewalahan. Pertama, ia tidak berniat membunuh si nona. Kedua, ia harus berkelahi dengan sebelah tangan, sementara tangan yang lainnya sedang cedera. Pertempuran telah berlangsung kira-kira enam puluh jurus ketika mendadak Oey Yong menubruk sambil melempar jarumnya. Auwyang Kongcu repot menangkis jarum itu dengan sabuknya. Di samping itu, hebat pula tubrukan Oey Yong yang menikam ke arah tangan kanannya yang terluka. Saat ia hendak menangkis dengan tangan kiri, sudah tidak sempat lagi. Ujung tempuling telah mengenai lukanya.

Namun, Oey Yong tidak sempat bergembira. Baru saja ia menikam, ia merasakan tangannya kesemutan, lalu senjatanya terlepas jatuh ke tanah. Di luar sangkaannya, meskipun tertikam, Auwyang Kongcu mengubah tangkisannya menjadi totokan tepat ke lengan si nona. Si nona kaget dan berlari sembari membungkuk.

Auwyang Kongcu tidak hendak melepaskan mangsanya. Ia melompat dengan pesat dan menotok kaki orang yang sedang diangkat untuk berlari. Ia berhasil menotok jalan darah *koanciong-hiat* di kaki kiri dan *tiongtouw-hiat* di kaki kanan. Hanya dalam dua langkah, si nona sudah terguling roboh. Auwyang Kongcu melompat dan membeber bajunya agar si nona jatuh di atas hamparan baju itu. Sambil tertawa ia menggoda, "Ah, jangan sampai kau merasa nyeri!"

Oey Yong mendapat pelajaran langsung dari ayahnya, sementara Auwyang Kongcu mewarisi kepandaian pamannya yang menyayanginya seperti anak sendiri. Mereka sama-sama memiliki kepandaian tinggi. Oey Yok Su gagah, begitu juga dengan Auwyang Hong; keduanya berimbang. Dengan demikian, pemuda dan pemudi ini seharusnya memiliki tingkat kesaktian yang sama. Namun, Oey Yong kalah. Hal ini disebabkan selisih usia dan lama latihan. Oey Yong baru berumur lima belas tahun, sedangkan Auwyang Kongcu sudah lebih dari tiga puluh tahun; ada perbedaan waktu belajar sekitar dua puluh tahun. Benar bahwa Oey Yong juga mendapat pelajaran dari Ang Cit Kong, tetapi belum lama dan latihannya belum sempurna. Oleh karena itu, walaupun tangan pemuda itu terluka, ia tetap lebih unggul.

Oey Yong kaget karena roboh, namun pikirannya tidak kacau. Begitu jatuh, ia berbalik sambil melempar jarumnya, kemudian berusaha bangun. Sayang, kedua kakinya tidak mau menurut, sehingga ia gagal bangkit. Ketika Auwyang Kongcu mengulurkan tangan dengan maksud membantu, Oey Yong meninju dengan tangan kirinya. Namun, si pemuda dapat melihat serangan itu dan menyambutnya dengan totokan, hingga tangan kiri si nona pun lumpuh, menyusul tangan kanannya. Ia kini seperti orang yang terbelenggu kaki dan tangannya.

Hati si nona sangat panas. Ia menyesal tidak bunuh diri saja daripada tertawan. Tiba-tiba pandangannya gelap, kepalanya pusing, dan ia jatuh tak sadarkan diri. "Jangan takut, jangan takut," kata Auwyang Kongcu dengan suara halus sambil hendak menggendong si nona.

"Kau mau hidup atau mati?" Sebuah suara keras dan dingin yang disusul tawa ejekan tiba-tiba menggelegar. Pemuda itu terperanjat dan menoleh. Betapa kagetnya ia melihat Ang Cit Kong berdiri di mulut gua dengan tongkat di tangan dan mata menatap tajam. Di otaknya teringat penuturan pamannya dulu tentang Ong Tiong Yang yang berpura-pura mati untuk mengalahkan lawannya.

"Hai, kiranya si pengemis tua ini berpura-pura mati!" pikirnya. "Ah, habislah aku hari ini!" Mengetahui kegagahan Ang Cit Kong, ia putus asa. Tanpa pikir panjang, ia berlutut dan berkata, "Aku cuma bermain-main saja dengan adik Oey ini, tidak ada niatku untuk berbuat jahat."

"Hm!" Pak Kay mengeluarkan suara bengis. "Bangsat bau, masih kau tidak hendak menotok bebas jalan darahnya? Apakah aku harus turun tangan?" Auwyang Kongcu takut. "Ya, ya," sahutnya seraya segera menotok bebas titik darah si nona.

"Lagi satu kali kau menginjak gua ini, jangan kau sesalkan aku!" ancam Ang Cit Kong. "Lekas pergi!" Sembari berkata begitu, jago tua itu bergerak ke samping. Keponakan See Tok seolah menerima pengampunan, ia segera pergi dengan cepat.

Oey Yong tidak tahu apa yang terjadi. Saat ia sadar, ia merasa seperti sedang bermimpi. Ang Cit Kong tidak dapat berdiri lama dan segera roboh. Melihat gurunya jatuh, Oey Yong kaget. Ia lupa pada tangan dan kakinya yang bekas ditotok, ia menekan tanah untuk bangun dan menghampiri gurunya. Ia melihat mulut gurunya berlumuran darah; ternyata tiga giginya copot karena terbentur tanah. Ia sangat berduka. "Suhu!" panggilnya.

Ang Cit Kong sadar, memegang ketiga giginya itu, lalu tertawa. "Gigiku! Kau tidak menyia-nyiakan aku! Aku telah dapat mencicipi segala macam hidangan lezat di kolong langit ini! Sekarang aku sudah sampai pada usiaku, kau telah mendahului meninggalkan aku!"

Memang hebat luka Ang Cit Kong, namun karena tubuhnya kuat, ia tidak langsung mati. Sialnya, ia tidak punya obat untuk mengobati luka racun ular dan gempuran jurus *Kuntauw Kodok* yang dahsyat. Cit Kong melihat kedukaan muridnya. "Selama napasku masih ada, jahanam itu tidak akan berani datang lagi mengganggu," hiburnya.

Namun, Oey Yong berpikir lain. "Kita berada di dalam gua, memang jahanam itu tidak berani masuk ke sini, tetapi bagaimana dengan makanan dan minuman kita?" Cit Kong pun merasakan lapar. Ia melihat si nona tertunduk. "Bukankah kau sedang memikirkan cara mencari makanan?" tanyanya. Oey Yong hanya mengangguk.

"Mari kau papah aku ke pesisir untuk berjemur di bawah matahari," perintah orang tua itu. Oey Yong yang cerdik segera mengerti. "Bagus!" serunya kegirangan. "Kita menangkap ikan!" Ia pun menggendong gurunya dengan perlahan-lahan.

Cuaca hari itu terang benderang dengan angin bertiup halus. Terkena sinar matahari, Ang Cit Kong merasa segar dan semangatnya bangkit. Ia melihat Auwyang Kongcu berdiri jauh dari mereka, namun saat pemuda itu sadar mereka keluar, ia segera menjauh. Rupanya ia takut. Dari tempat jauh, ia terus mengawasi.

Baik Cit Kong maupun Oey Yong merasa cemas karena jahanam itu sangat cerdas; lama-kelamaan ia pasti mengetahui keadaan mereka yang tidak berdaya. Karena itu, mereka tetap bersikap tenang. Auwyang Kongcu pun merasa lega karena tidak didekati. Oey Yong mulai bekerja. Setelah mendudukkan Ang Cit Kong bersandar pada batu besar, ia mencari cabang pohon sebagai joran, kulit kayu sebagai tali, dan menekuk jarum hingga bengkok sebagai kail. Sebagai umpan, ia mencari udang di tepian.

Tak lama kemudian, ia mulai memancing. Setelah satu jam, si nona memperoleh tiga ekor ikan yang cukup untuk mengganjal perut mereka. Ikan itu dipanggang seperti cara pengemis memanggang ayam. Setelah beristirahat sebentar, Cit Kong mulai mengajari Oey Yong ilmu *Pak-kauw-pang*.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment