Chapter 86
"Mari kita bertanding lagi!" ia menantang.
Oey Yong membawa jari-jari tangannya ke pipi. "Tak malukah kau?" tanyanya mengejek.
"Hm!" See Thong Thian berdehem menyaksikan adik seperguruannya dipermalukan seperti itu. "Budak cilik, kau licin sekali! Siapa sebenarnya gurumu?"
"Besok akan aku beri keterangan kepadamu!" jawab si nona sambil tertawa. "Sekarang aku mesti pergi dulu!"
Tanpa diketahui bagaimana gerakannya, tiba-tiba tubuh Thong Thian sudah melesat ke ambang pintu untuk menghalangi jalan. Oey Yong tadi sempat merasakan bagaimana orang bermarga See itu bergerak tanpa sepengetahuannya, hingga kedua tangannya tidak dapat digerakkan. Sekarang, saat menyaksikan cara melompat orang itu—yang merupakan bagian dari jurus "Menukar Wujud, Mengganti Kedudukan", semacam ilmu luhur—ia sangat kaget.
Namun, ia mampu menenangkan diri, wajahnya tidak menunjukkan perubahan. Ia hanya mengerutkan kening. "Mau apa kau menghalangi aku?" tanyanya berlagak pilon.
"Aku ingin tahu kau murid siapa?" sahut See Thong Thian.
"Aku ingin tahu untuk apa kau datang menyusup ke istana ini?" Sepasang alis yang indah dari si nona terangkat. "Jikalau aku tidak sudi memberi keterangan?" tanyanya menantang.
"Pertanyaan Kwie-bun Liong Ong tidak dapat tidak harus dijawab!" sahut orang bermarga See itu.
Oey Yong melihat ke sekeliling. Pintu berada di belakang Thong Thian; ia tidak mungkin memaksakan diri menerobos keluar. Tepat saat itu, ia melihat Bio Cu Ong hendak pergi ke luar, ia pun segera menegur. "Lopepe, dia menghalangi jalanku, dia tidak mau membiarkanku pulang!" katanya.
Hati Cu Ong tertarik. Suara orang itu merdu dan bernada memelas. Ia pun mulai percaya bahwa bocah ini bukan sembarang orang. Tanpa disadari, ia merasa suka kepada si nona.
"Jawablah pertanyaan See Liong Ong," katanya sambil tertawa. "Setelah kau memberikan jawabanmu, dia nanti akan memberimu izin untuk berlalu."
Oey Yong tertawa manis. "Aku justru tidak sudi menjawab dia!" sahutnya. Lantas, ia menghadap Thong Thian untuk mengancam, "Jikalau kau tidak mengizinkan aku pergi, nanti aku pergi dengan cara paksa!"
See Thong Thian tertawa dingin. "Asal kau mampu!" ujarnya.
"Tapi awas, kau tidak boleh menyerang aku!" kata si nona yang hendak menggunakan kecerdikannya.
"Untuk menghalangi kau, budak cilik, buat apa See Liong Ong sampai turun tangan?" katanya.
"Bagus!" seru Oey Yong. "Seorang laki-laki, sekali ia berucap, itu telah menjadi kepastian! Eh, See Liong Ong, kau lihat itu di sana apa?" Sambil berucap, ia menunjuk ke arah kiri.
See Thong berpaling ke arah yang ditunjuk. Oey Yong menggunakan kesempatan ketika orang itu menoleh; tubuhnya melesat melewati samping jago tunggal dari Sungai Hong Ho tersebut.
Benar-benar lihai See Thong Thian. Baru saja orang berkelebat, kepalanya sudah menghadang di depan si nona. Syukur si nona itu pun lihai; ia dapat menahan tubuhnya hingga tidak perlu menabrak kepala orang itu. Ia mundur dengan cepat.
See Thong Thian mengawasi. Sekarang jalan si nona itu telah buntu. Dua kali lagi ia mencoba, jago Sungai Hong Ho itu senantiasa menghadang di depannya.
Nio Cu Ong menyaksikan itu sambil tertawa. "See Liong Ong adalah seorang ahli ternama," katanya. "Maka janganlah kau menyia-nyiakan tenaga, mengaku kalah saja!"
Habis berkata, ia lantas hendak pergi ke kamarnya. Namun, baru saja ia tiba di ambang pintu, hidungnya mencium bau yang membuatnya sangat terkejut. "Celaka!" serunya. Ia segera menyalakan api dan menjadi tercengang. Di situ tergeletak bangkai ularnya, dan obat-obatannya berantakan tidak keruan.
Hampir ia menjerit menangis karena habislah usahanya selama beberapa puluh tahun. Som Sian Lao Koay bukan hanya pandai ilmu silat, tetapi juga paham ilmu tabib. Maka, kebetulan pada suatu waktu ia mendapatkan resep istimewa, resep untuk membuat tubuh sehat dan kuat. Untuk ini, ia berkelana mencari bahan-bahan obatnya. Setelah melalui banyak kesulitan, ia mendapatkan ular besar yang sangat berbisa itu. Lantas, ular ini diberi makan berbagai macam obat pilihan.
Mulanya tubuh ular itu berwarna hitam abu-abu, setelah makan banyak obat, warnanya berubah menjadi merah mulus. Warna merah itu menjadi matang sesudah sang ular dipelihara dua puluh tahun lamanya. Ia sudah berencana dalam beberapa hari lagi akan mengisap darah ular itu untuk membuat ia panjang umur dan menambah kekuatan tubuhnya, sebab ia berangan-angan untuk menjadi jagoan dan merobohkan segala jago lainnya. Siapa tahu sekarang ularnya itu binasa, bahkan ia tahu ular itu binasa karena darahnya telah disedot orang.
Setelah sadar, Cu Ong segera memeriksa tubuh ularnya, terutama lukanya, maka tahulah ia bahwa musuh belum pergi jauh. Tanpa ragu lagi, ia lari keluar dan melompat naik ke atas pohon besar untuk memandang sekeliling guna mencari si pencuri. Ia melihat di dalam taman ada dua orang sedang bergumul.
Bangkit pula hawa amarahnya, maka ia segera lari ke arah taman. Sebentar saja ia sudah sampai di taman tempat Kwee Ceng dan Wanyen Kang tengah bertempur. Baru saja ia datang, hidungnya telah mencium bau obat yang tercampur bau amis yang datang dari arah si pemuda.
Dalam hal ilmu silat, Kwee Ceng kalah dari Wanyen Kang, maka kali ini saat mulai bertempur, ia sudah keteteran. Akan tetapi, begitu lewat beberapa jurus, terjadilah perubahan atas dirinya. Mendadak ia merasa perutnya sangat panas seperti ada bola api di dalamnya. Saat itu, tenaganya bertambah dengan sendirinya. Sekali ia menyerang Wanyen Kang, sang pangeran menangkis, tetapi berbeda dari biasanya, sang pangeran justru terhuyung.
"Heran, kenapa tenaganya menjadi kuat?" tanya sang pangeran dalam hati.
Kwee Ceng pun merasakan perubahan itu. Tubuhnya panas hingga ia seperti tidak sanggup menahannya. Ia menjadi sangat berbahaya. Di mana-mana ia merasakan gatal pada tubuhnya. "Kali ini habislah jiwaku?" pikirnya. "Tentulah bisa ular itu mulai bekerja?" Ingat kepada bisa ular, hati pemuda ini menjadi kecil. Karena ini, ia menjadi lalai hingga dua kali punggungnya terkena pukulan sang pangeran yang sudah berhasil memperbaiki diri.
Tapi, serangan ini justru mendatangkan perubahan lain. Biasanya kalau diserang, ia merasa sakit, tetapi sekarang, bukannya merasa sakit, ia hanya merasa gatal, dan enak sekali rasa gatal itu. Ia menjadi heran berbareng girang, hingga sengaja ia memberi celah agar Wanyen Kang dapat menyerang sepuasnya. Tidak sedikit pun ia merasa sakit lagi. Siauw-ongya itu turut menjadi heran karena berbagai pukulannya tidak menyebabkan orang kesakitan atau roboh.
"Kenapa sekalipun dengan pukulan yang membahayakan, aku tidak dapat melukai dia?" pikirnya.
Sedangkan Kwee Ceng berpikir: "Heran, kenapa pukulannya empuk sekali, dia seperti menggaruki gatalku?"
Adalah aturan dari resep Bio Cu Ong itu, siapa yang habis meminum darah ular, tubuhnya harus dipukuli agar hawa darah itu tersebar dan racunnya tidak bekerja lagi; setelah itu, tubuh orang yang bersangkutan menjadi tambah kuat. Maka, kebetulan sekali Kwee Ceng bertempur dengan Wanyen Kang. Siauw-ongya tidak mengetahui rahasia itu, tidak heran kalau ia menjadi bingung.
Tatkala Bio Cu Ong tiba, Kwee Ceng telah cukup lama dihajar, maka tubuhnya menjadi kuat luar biasa. Berbagai pukulan Wanyen Kang menjadi tidak ada artinya. Menyaksikan itu, Cu Ong menjadi menyesal, penasaran, dan mendongkol.
"Hai, bangsat anjing!" tegurnya. "Siapa yang menganjurkan kau mencuri ularku?"
Ia percaya, sebagai bocah, Kwee Ceng tentunya tidak mengetahui rahasia resep itu. Pasti si bocah diberi petunjuk oleh seseorang yang berilmu. Kwee Ceng memang tidak tahu apa pun mengenai resep itu atau darah ular yang ia minum, oleh karena itu ia gusar karena telah dicaci.
"Bagus, kiranya kau yang memelihara ular berbisa itu!" serunya. "Aku sekarang telah terkena bisanya binatang jahat itu, hendak aku mengadu nyawa denganmu!"
Ia melompat maju untuk menyerang jago dari Kwan-gwa itu. Bio Cu Ong merasakan pula sambaran bau obat dan amis dari ular yang keluar dari baju atau tubuh Kwee Ceng. Mendadak hatinya menjadi panas, lantas timbul pikiran yang kejam. Ia berpikir, "Dia telah minum darah ularku, baik aku bunuh dia untuk menyedot darah dari tubuhnya itu, mungkin kekuatan obatnya masih ada atau mungkin kekuatan itu bertambah besar?"
Karena itu, ia menjadi girang dan segera menyambut serangan. Dengan cepat, ia dapat menangkap tangan si anak muda. Tenaga Kwee Ceng telah bertambah luar biasa, maka ketika ia mengibaskan tangan untuk ditarik, tangan itu segera terlepas dari cekalan lawan. Bio Cu Ong tidak heran bahwa ia tidak bisa terus mencekal tangan bocah itu; ia lantas menggunakan akal.
Ia menanti serangan berikutnya, lalu menangkap lagi. Kali ini ia menunggu sampai lawan berontak, segera ia menggunakan kakinya untuk menggaet. Jago ini lihai berlipat kali dari Kwee Ceng; ia tentu dapat berbuat sesukanya terhadap anak muda itu yang kalah pandai, kalah pengalaman, dan kalah cerdik.
Begitulah ketika kakinya terkena gaetan, Kwee Ceng segera roboh. Lantas Cu Ong menubruk untuk memegang keras pundak orang itu, yang ditekan ke tanah, setelah mana ia memajukan muka ke arah leher untuk menggigit guna menyedot darah ular tersebut.
Sementara itu, Oey Yong di dalam Hoa Cui Kok masih tidak dapat menerobos penjagaan See Thong Thian. Biarpun sangat lincah, semua percobaannya sia-sia belaka. Sebenarnya, kalau Thong Thian menghendaki, dengan gampang ia bisa membekuk nona itu dengan mencekal tangannya, tetapi di depan Chao Wang, ia hendak mempertontonkan kepandaiannya; ia sengaja mempermainkan nona itu.
Oey Yong menjadi cemas. Akhirnya ia berhenti mencoba. "See Liong Ong," katanya untuk menggunakan akal, "Asal aku dapat lolos, kau tidak dapat mengganggu aku lagi."