Chapter 35
"Asal kau menang, cincin itu menjadi milikmu!" katanya.
Chilaun tidak memandang cincin itu, ia hanya bertindak lagi.
Mukhali menarik kawannya itu.
Dia berkata, "Kita menggentarkan padang pasir, membunuh musuh. Kita telah membunuh cukup banyak, tetapi macan tutul, bisakah binatang itu memimpin tentara? Bisakah binatang itu mengatur tentara bersembunyi dan mengurung musuh?" Temujin pun segera berkata, "Saudara Sangum, kau menang!" Dan ia segera mengambil cincin itu, untuk dipakaikan di tangan saudara angkatnya.
Sangum memasukkan cincin itu ke jarinya, ia tertawa terbahak-bahak dan lama.
Ia mengangkat jarinya, ia pertontonkan ke empat penjuru.
Tentara Wang Khan lantas saja bersorak-sorai.
Jamukha mengerutkan alisnya, tetapi ia diam saja.
Temujin juga bersikap tenang dan agung.
Setelah itu, keempat pahlawannya mengundurkan diri.
Kegembiraan Yung Ji lenyap karena gagal menyaksikan pertandingan antara manusia melawan binatang liar itu. Ia tak sudi minum arak lebih jauh, lantas pulang ke tendanya untuk tidur.
Besok paginya, Tuli dan Kwee Ceng bergandengan tangan pergi bermain. Tanpa terasa, mereka melangkah semakin jauh dari tenda mereka.
Tiba-tiba, seekor kelinci putih berlari lewat di samping mereka.
Tuli mengeluarkan panah kecilnya dan memanah.
Tepat mengenai perut kelinci itu.
Tapi tenaga Tuli sangat terbatas. Kelinci itu masih dapat terus berlari dengan anak panah yang menancap di perutnya.
Tuli bersama Kwee Ceng lantas mengejar sambil berteriak-teriak.
Kelinci itu berlari sesaat, lantas roboh dengan sendirinya.
Tuli dan Kwee Ceng girang, mereka melompat maju untuk menerkam.
Justru dari samping mereka, dari arah rimba, muncul serombongan anak-anak. Salah satunya, yang berumur kira-kira sepuluh tahun, dengan sangat cepat, telah mendahului menyambar binatang itu. Dia mencabut anak panahnya lalu membuangnya ke tanah. Kemudian, setelah mengawasi Tuli dan Kwee Ceng, dia lari bersama bangkai kelinci itu!
Tuli lantas berteriak, "Eh, kelinci itu akulah yang memanahnya!
Kenapa kau bawa lari?!" Bocah itu menoleh, dia tertawa.
"Siapa yang bilang kau yang memanah?" tanyanya.
"Panah ini kan milikku!" jawab Tuli.
Bocah itu, yang telah berhenti berlari, mengangkat alisnya, matanya pun melotot.
"Kelinci ini adalah peliharaanku!" katanya.
"Sudah bagus aku tidak minta ganti rugi!" "Tidak tahu malu!" bentak Tuli.
"Jelas ini adalah kelinci liar!" Bocah itu galak, ia menghampiri Tuli dan mendorong pundaknya.
"Kau memaki siapa?!" tegurnya.
"Kakekku adalah Wang Khan!
Ayahku adalah Sangum!
Kau tahu tidak?!"
"Andaikan benar kelinci itu kaulah yang memanah, kalau aku hendak mengambilnya, lalu bagaimana?!" "Ayahku Temujin!" kata Tuli dengan sama sombongnya.
"Fuih!" bocah itu menghina.
"Ayahmu adalah hantu cilik yang nyalinya kecil, dia takut pada kakekku, dia juga takut pada ayahku!" Bocah itu adalah Tusaga, putra tunggal Sangum atau cucu Wang Khan.
Mulanya Sangum hanya memiliki satu putri. Beberapa waktu kemudian, barulah ia mendapatkan putra ini, dan setelah itu ia tidak punya anak lain lagi.
Karena itu, putranya ini sangat disayangi dan dimanjakan, hingga Tusaga menjadi besar kepala.
Temujin telah berpisah lama dengan Wang Khan dan Sangum. Karena itu, anak-anak mereka tidak kenal satu sama lain.
Tuli gusar sekali karena ayahnya diperhina orang.
"Siapa yang bilang?!" ia tanya dengan bengis.
"Ayahku tidak takut siapa pun!" "Ibumu telah dirampas orang. Ayahku dan kakekku yang menolong merampasnya kembali!" sahut Tusaga.
"Apakah kau sangka aku tidak mengetahui hal itu? Lantas apa artinya kalau aku mengambil kelinci kecil ini?" Memang, dahulu Wang Khan telah membantu anak angkatnya itu. Sangum ingat betul peristiwa itu dan menceritakannya kepada orang lain, hingga Tusaga yang masih kecil pun mengetahuinya.
Sebaliknya, Tuli tidak tahu apa-apa, sebab Temujin menganggap hal itu memalukan dan tidak pernah memberitahukan putranya, apalagi putranya itu masih kecil.
Meski begitu, Tuli gusar sekali.
"Akan kuberitahu ayahku!" katanya.
Ia memutar tubuhnya untuk berlalu.
Tusaga tertawa terbahak-bahak.
"Ayahmu takut pada ayahku, kau mengadu juga bisa apa?" katanya.
"Tadi malam ayahku mengeluarkan dua macan tutulnya, empat pahlawan ayahmu lantas tak berani bergerak!" Tuli bertambah gusar.
Di antara keempat pahlawan, Boroul adalah gurunya.
"Guruku tak takut harimau, apalagi segala macan tutul!" serunya sengit.
"Hanya guruku tidak hendak melayani!" Tiba-tiba, Tusaga maju dan tangannya melayang ke telinga Tuli.
"Kau berani membantah?!" dia membentak.
"Kau tidak takut padaku?" Tuli melengak.
Ia tidak menyangka orang berani memukulnya.
Kwee Ceng panas hati sejak tadi, sekarang ia tidak dapat menguasai dirinya.
Dia maju dan menyeruduk perut Tusaga!
Putra Sangum juga tidak menyangka-nyangka, ia langsung roboh terjengkang.
Tuli tertawa seraya bertepuk tangan.
"Bagus!" dia bersorak.
Kemudian, sambil menarik tangan Kwee Ceng, ia berlari.
Kawan-kawan Tusaga tidak tinggal diam dan mengejar. Maka itu, mereka lantas berkelahi bergumul, menggunakan kepalan tangan dan kaki.
Tusaga murka sekali, dia merayap bangun, dia pun turut menyerbu.
Pihaknya kebanyakan lebih tua, dan mereka pun berjumlah lebih banyak. Sebentar saja, Kwee Ceng dan Tuli dipukul jatuh, lalu ditindih.
Tubuh Kwee Ceng diduduki Tusaga. Sembari memukul pantatnya, ia berkata, "Kau menyerah, akan kuberi ampun!"
Kwee Ceng berontak, sia-sia saja, ia tak dapat bergerak.
Tuli pun tak dapat bergeming, ditindih oleh dua lawan.
Dalam ketegangan para bocah ini, dari kejauhan terdengar kelenengan unta. Lalu, di tepi sungai, tampak rombongan pedagang dari gurun pasir.
Salah satu di antaranya, yang menunggang kuda putih, tertawa ketika ia melihat bocah-bocah itu sedang berkelahi.
"Bagus!
Kalian sedang berkelahi!" katanya.
Tapi ketika ia telah datang mendekat dan melihat dua anak dikepung ramai-ramai, dua bocah itu telah babak belur dan lebam biru mukanya, ia berkata nyaring, "Tidak malukah kalian?!
Cepat lepaskan mereka!" "Minggir!
Jangan banyak bicara di sini!" bentak Tusaga.
Dia adalah putra seorang jagoan di Utara, dia termanjakan, siapa pun tidak berani melawannya.
Maka itu, ia menjadi besar kepala.
"Hai anak, kau galak sekali!" kata penunggang kuda itu.
"Lepaskan tanganmu!" Ketika itu, beberapa orang lainnya telah tiba. Lalu, seorang nona berkata, "Shako, jangan usil, mari kita melanjutkan perjalanan."
"Kau lihat sendiri, kau lihat sendiri!" kata orang yang dipanggil Shako itu – Shako berarti kakak nomor tiga.
Rombongan itu di antaranya terdiri dari Kanglam Cit Koay, yaitu tujuh Manusia Aneh dari Kanglam.
Mereka mendengar Toan Thian Tek kabur ke utara, mereka menyusul hingga ke gurun pasir.
Selama enam tahun, mereka mondar-mandir, tetapi selama itu tidak pernah mereka mendengar kabar si orang marga Toan itu.
Mereka semua mengerti bahasa Mongol.
Han Siauw Eng adalah nona itu. Ketika ia telah melihat dengan jelas, ia melompat turun dari kudanya. Ia menarik dua bocah yang mengerubuti Tuli, ia menyepak hingga orang berguling.
"Dua mengepung satu, tidak malukah kalian?!" tegurnya.
Tuli melompat bangun begitu lekas ia merasakan tubuhnya enteng.
Tusaga menyaksikan kejadian itu, ia heran.
Justru ketika ia melengak, Kwee Ceng berontak dan melepaskan diri seraya melompat bangun juga. Lalu, bersama kawannya, ia angkat kaki!
"Kejar!" teriak Tusaga gusar.
"Kejar!" Ia mengajak kawan-kawannya mengejar.
Kanglam Cit Koay tersenyum. Mereka ingat masa kecil mereka, yang pun bengal dan gemar berkelahi.
"Ayo jalan!" berkata Kwa Tin Ok.
"Kita jangan sampai keramaian ini bubar, nanti kita tidak dapat menanyai orang!" Waktu itu, Tusaga dan kawan-kawannya telah berhasil menangkap Tuli dan Kwee Ceng berdua, dan mereka kembali dikurung.
"Menyerah atau tidak?" Tusaga bertanya.
Tuli, dengan mata bersinar amarah, menggelengkan kepala.
"Hajar lagi dia!" Tusaga memberi komando.
Anak-anak itu pun lantas maju.
Tiba-tiba, sebuah benda berkelebat di tangan Kwee Ceng.
"Siapa berani maju!" ia berseru.
Ternyata ia mencekal sebilah pisau belati.
Lie Peng menyayangi putranya. Senjata peninggalan suaminya itu ia serahkan kepada sang putra, agar sang putra menyimpannya.
Ia berharap pisau belati itu, sebagai mustika, dapat mengusir pengaruh-pengaruh jahat.
Melihat orang bersenjata, Tusaga dan kawan-kawannya tidak berani maju.
Biaw Ciu Si-seng Cu Cong, yang telah melarikan kudanya, melihat sinar berkelebat berkilauan itu, ia menjadi heran.
Ia sudah banyak mencuri barang-barang berharga milik pembesar rakus atau hartawan jahat, maka itu matanya tak pernah salah.
"Benda itu pasti mustika," ia berpikir.
"Aku perlu melihat, benda apakah itu?" Maka itu, ia melarikan kudanya ke arah anak-anak itu hingga ia melihat Kwee Ceng dengan belati di tangan, sikapnya gagah sekali.
Ia menjadi heran.
"Kenapa sebuah mustika berada di tangan seorang bocah?" Ia pun mengawasi Kwee Ceng dan juga semua bocah lainnya.
Mereka semua mengenakan kulit binatang yang mahal, kecuali Kwee Ceng yang di lehernya pun berkalung gelang emas yang indah.
Jadi, mereka mestinya adalah anak-anak bangsawan Mongolia.
"Mestinya bocah ini telah mencuri senjata ayahnya," si setan tangan ulung berpikir lagi.
"Dia tentu mencuri itu untuk dijadikan mainan.
Bukankah tidak haram kalau aku mengambil barang bangsawan?" Dengan timbul keinginannya untuk memiliki belati itu, Cu Cong melompat turun dari kudanya. Dia mendekati semua bocah itu sambil tertawa haha-hihi.
"Jangan berkelahi, jangan berkelahi!" katanya.
"Ayo kalian bermain dengan baik!" Ia menyelip di antara bocah-bocah itu, dan dalam sekejap saja belati di tangan Kwee Ceng telah berpindah ke dalam genggamannya.
Ia melompat pula untuk naik ke atas kudanya. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia menyusul kawan-kawannya.
"Tidak jelek keberuntunganku hari ini, aku dapat mustika!" katanya.
"Jieko, kau tidak dapat mengubah tabiatmu yang suka mencopet itu!" kata Siauw Bie To Thio A Seng.