Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 182

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 182

Tepat saat itu, terjadi sambaran angin dan serangan senjata rahasia. Ia menangkis dengan torak musuh yang berada dalam cekalannya. Hasilnya, kedua torak berbenturan keras hingga terpental ke kiri dan ke kanan, lalu menyemplung ke laut. Dengan kedua tangan yang bebas, Kwee Ceng terus memanjat. Dalam waktu singkat, ia telah sampai di tengah-tengah tiang.

Sebaliknya, Ang Cit Kong tidak berhasil mencapai tiang layar karena dirintangi oleh Auwyang Hong yang terus melancarkan serangan bertubi-tubi. Kwee Ceng melihat dengan jelas kesulitan gurunya, sementara kawanan ular datang semakin dekat. Tiba-tiba ia berseru, tubuhnya merosot turun, namun tangannya tetap memeluk tiang. Bersamaan dengan itu, Ang Cit Kong menjejakkan kaki kirinya untuk membuat tubuhnya melayang, sementara kaki kanannya digunakan untuk menendang musuh. Sambil melompat menyerang, tongkatnya diulurkan ke depan.

Inilah yang diharapkan Kwee Ceng. Pemuda itu mengulurkan sebelah tangannya, menyambar tongkat gurunya, lalu menariknya dengan kuat. Saat Ang Cit Kong sedang melayang, tubuhnya tertarik hingga terangkat naik oleh muridnya. Pak Kay pun tertawa panjang. Begitu tubuhnya terangkat, tangan kirinya menyambar layar, sehingga di saat berikutnya, ia tampak tergantung di udara, berada tepat di atas muridnya.

Sejak saat itu, guru dan murid tersebut telah berada di atas tiang layar, lebih tinggi daripada kedua lawan mereka. Dengan begitu, mereka berada dalam posisi yang lebih menguntungkan. Auwyang Hong tidak berani melompat naik ke tiang layar untuk menyusul karena ia sadar posisinya tidak menguntungkan.

"Baiklah!" serunya menyusun siasat. "Mari kita bersiap! Putar haluan ke timur!"

Benar saja, dalam tempo sedetik, arah perahu telah berputar. Sementara itu, di kaki tiang layar, kawanan ular sudah berkumpul. Ang Cit Kong duduk bersila. Tampaknya ia gembira sekali karena ia langsung menyanyikan lagu "Lian Hoa Lok", atau "Bunga Teratai Rontok", nyanyian istimewa bangsa pengemis. Sebenarnya di dalam hati, ia sangat gelisah. Ia menyadari bahwa mereka terus terancam bahaya.

"Berapa lama aku dapat bertahan di sini? Bagaimana kalau makhluk beracun itu menebang tiang ini?" pikirnya. "Kalau ular itu tak mau pergi, mana bisa aku turun? Mereka boleh makan dan tidur enak, sedangkan kita berdua mesti makan angin..."

Mendadak ia teringat sesuatu. "Anak Ceng, beri mereka minum air kencing!" serunya tiba-tiba kepada muridnya, sementara ia sendiri segera mengendurkan ikat celananya.

Dasar masih kekanak-kanakan, Kwee Ceng menuruti anjuran itu. "Nah, silakan minum! Silakan minum!" serunya.

Maka, mereka berdua menyiram ke bawah!

"Lekas singkirkan ular!" teriak Auwyang Hong kaget. Ia sendiri segera melompat mundur beberapa langkah agar tidak terkena siraman air tersebut. Auwyang Kongcu heran melihat seruan pamannya; ia tercengang. Tepat saat itu, air kencing mengenai mukanya. Ia menjadi sangat marah dan gusar karena ia adalah seorang pemuda yang sangat menjaga kebersihan.

Bersamaan dengan itu, ia teringat bahwa ularnya takut pada air kencing. Segera terdengar suara seruling kayunya, yang membuat rombongan ular di kaki tiang bergerak untuk menjauh. Meski begitu, beberapa puluh ekor ular basah kuyup dan terus berguling-guling dengan mulut terbuka seolah ingin menggigit satu sama lain, hingga mereka menjadi kacau balau. Ular-ular itu adalah koleksi Auwyang Hong dari Lembah Ular di Gunung Pek To San (Gunung Unta Putih) di See Hek, Wilayah Barat. Semua ular itu beracun, tetapi memiliki kelemahan, yaitu takut terhadap kotoran atau air kencing manusia maupun binatang berkaki empat. Inilah sebabnya mereka menjadi korban dan kacau.

Ang Cit Kong dan Kwee Ceng menyaksikan sepak terjang kawanan ular itu dan tertawa lebar. "Jikalau Ciu Toako ada di sini, dia tentu sangat bergembira," pikir Kwee Ceng sambil teringat kakak angkatnya. "Ah, sayang ia terjun ke laut yang luas ini, ia pastilah menghadapi lebih banyak bencana daripada keselamatan."

Auwyang Hong tetap mampu menguasai diri. Ia tidak memedulikan lawannya yang sedang bersenang hati. Ia membiarkan waktu berlalu kira-kira dua jam. Saat cuaca mulai gelap, ia memerintahkan anak buahnya menyiapkan hidangan serta arak. Sengaja ia makan di tempat terbuka, bukan di dalam gubuk perahu, dengan harapan bau harum arak dan lezatnya hidangan terbawa angin hingga ke atas tiang layar dan tercium oleh dua orang yang ada di sana.

Cit Kong, yang gemar makan dan minum, nafsu makannya segera terpancing. Ia pun segera mengambil cupu-cupunya untuk menenggak arak hingga kering seketika. Untuk menjaga diri, Pak Kay bergantian dengan Kwee Ceng untuk tidur atau beristirahat. Akan tetapi, di bawah, beberapa orang memasang obor terang-terangan dan rombongan ular diatur mengurung kaki tiang, hingga tidak ada jalan untuk turun.

Auwyang Hong menempatkan diri di dalam gubuknya dan tidak memedulikan Ang Cit Kong yang mencoba membangkitkan amarahnya dengan mencaci-maki hingga mengangkat leluhurnya. Ang Cit Kong mengoceh sampai ia letih sendiri dan mulutnya kering, lalu ia tertidur.

Saat malam berlalu, Auwyang Hong memerintahkan anak buahnya berteriak di bawah tiang layar, "Ang Pangcu! Kwee Siauwya! Auwyang Looya sudah menyajikan hidangan pilihan serta arak yang wangi, silakan Pangcu dan Siauwya turun untuk bersantap!"

"Kau suruh Auwyang Hong keluar, kami mengundang ia minum air kencing!" sahut Kwee Ceng.

Jawaban ini tidak dipedulikan. Tak lama kemudian, di kaki tiang itu, mereka mengatur meja serta hidangan yang sayurnya masih mengepulkan asap, hingga wangi lezat sayur dan harumnya arak membubung naik. Kursi disediakan hanya dua, diperuntukkan khusus bagi Ang Cit Kong dan Kwee Ceng.

Dalam kemarahannya, Cit Kong mencaci lagi dengan makian kasar. Pada hari ketiga, Cit Kong dan muridnya merasakan kepala mereka pusing karena menahan lapar dan dahaga. "Coba murid wanitaku ada di sini," kata Ang Cit Kong. "Dia sangat cerdik, pasti ia dapat mencari akal untuk menghadapi si racun tua ini. Kita berdua cuma bisa membuka mata dan menahan lapar."

Kwee Ceng menghela napas dan memandang ke sekeliling. Di tiga penjuru, ia tidak melihat apa pun kecuali laut. Namun, di barat, terlihat dua titik putih yang bergerak. Mulanya tampak samar seperti gumpalan awan kecil, namun ketika ia melihat dua titik itu semakin jelas, ia menjadi sangat girang. Itulah dua ekor rajawali putih yang terbang mendekat hingga suaranya terdengar.

Tanpa membuang waktu, Kwee Ceng memasukkan jari tangan kirinya ke dalam mulut untuk mengeluarkan suara nyaring dan panjang. Mendengar itu, kedua burung tersebut terbang berputar lalu menukik dan hinggap di pundak si pemuda. Mereka adalah dua ekor rajawali yang dipelihara Kwee Ceng sejak kecil di gurun pasir.

"Suhu!" seru Kwee Ceng girang. "Mungkin Yong-jie mendatangi kita dengan naik perahu!"

"Itu bagus!" seru Ang Cit Kong. "Kita terkurung dan tidak berdaya, biar dia datang menolong kita!"

Kwee Ceng mencabut pisau belatinya, memotong dua helai kain layar, lalu mencoretkan tulisan "dalam bahaya" serta gambar cupu-cupu. Ia mengikat kain tersebut pada kaki kedua burung itu dan berkata, "Lekas terbanglah kembali, ajak Nona Yong ke mari!"

Dua ekor burung itu mengerti, keduanya berbunyi nyaring, lalu terbang pergi setelah berputar di atas kepala, menuju ke barat, arah dari mana mereka datang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment