Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 71

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 71

"Ongya pandai bergaul, siapa saja tak dapat ia undang?" kata si rambut ubanan itu.

"Umpama kau sendiri, Haouw Laotee. Kau biasa menjagoi di dua provinsi, Shoatang dan Shoasay, kenapa kau juga berada di istana ongya?" Si kate kecil itu mengangguk.

Si ubanan langsung mengawasi kedua anak muda yang sedang bertempur itu. Ia melihat Kwee Ceng mengubah silatnya; gerakannya menjadi ayal, namun tubuhnya terjaga rapat. Sia-sia saja beberapa kali siauw-ongya menyerang kepadanya.

"Haouw Laotee, coba lihat, dari partai mana asalnya ilmu silat si bocah itu?" tanyanya.

"Kelihatannya kepandaiannya itu kacau, dia tentu tidak belajar dari satu guru," sahut si kate kecil itu kemudian.

"Pheng Ceecu benar," kata seseorang di pinggiran. "Bocah ini adalah murid dari Kanglam Cit Koay." Bok Ek memandang orang itu; mukanya kurus dengan sinar mata biru, dan di jidatnya ada tiga tahi lalat.

Ia berkata dalam hatinya, "Dia memanggil Pheng Ceecu, mungkinkah si kate kecil ini adalah kepala berandal? Nama Kanglam Cit Koay sudah lama tidak terdengar, apa benar mereka masih hidup?" Selagi Bok Ek berpikir, si muka biru dan kurus itu melompat maju ke tengah kalangan seraya berseru, "Hai bocah, kemari kau!" Ia menarik keluar sebatang kongce atau cagak dari dalam sakunya.

Orang banyak terkejut, ada yang berteriak. Bok Ek pun tidak kalah kagetnya, tapi ia segera bersiap untuk membantu Kwee Ceng. Tentu saja ia tidak kenal orang ini; dia adalah Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay, paman guru dari Hong Ho Su Koay.

Hauw Thong Hay tidak menyerang Kwee Ceng. Dia hanya maju ke antara orang banyak, di mana ada seorang anak muda bertubuh kurus lemah dengan pakaian compang-camping. Begitu anak itu melihatnya, ia menjerit, "Ayo!" seraya memutar tubuh untuk melangkah panjang.

Thong Hay mengejarnya terus, diikuti oleh empat orang lainnya yang bukan lain adalah Hong Ho Su Koay. Kwee Ceng yang sedang bertempur heran mendengar suara bentakan itu. Ketika ia melihat siapa yang dikejar Thong Hay, ia terkejut. Pemuda dengan pakaian tidak karuan itu adalah Oey Yong, sahabat barunya. Karena teralih perhatiannya, ia terkena tendangan si kongcu.

"Tahan dulu!" seru Kwee Ceng seraya melompat keluar kalangan. "Aku hendak pergi sebentar, segera aku kembali!"

"Lebih baik kau mengaku kalah!" ejek si kongcu.

Kwee Ceng tidak berniat berkelahi terus. Pikirannya kusut karena khawatir akan keselamatan Oey Yong. Namun, justru saat ia hendak melompat lari, ia melihat sahabatnya itu berlari mendatanginya dengan sepatu kulit yang diseret hingga berisik terdengar. Ia pun tertawa.

Di belakangnya, Thong Hay tampak tengah mengejar sambil mencaci maki. Setelah dekat, berulang-ulang ia menikam pantat orang yang dikejarnya itu. Oey Yong sangat lincah, selalu dapat mengelak. Kongce itu memiliki tiga cagak yang tajam; di bawah cahaya matahari, sinarnya berkilauan, ditimpali suara nyaring dari tiga gelang yang bergerak setiap kali senjata itu digerakkan. Namun, senjata itu tidak dihiraukan oleh Oey Yong. Ia menyelinap di antara orang banyak hingga penonton tertawa riuh.

Pada pipi kiri dan kanan Hauw Thong Hay, tampak tanda tapak lima jari tangan berwarna arang hitam. Terang sudah bahwa ia telah ditampar oleh lawannya yang licin itu.

"Mari! Mari!" tantang Oey Yong. Setiap kali ia dapat memisahkan diri jauh dari lawannya, ia berdiri diam, menoleh, mengejek, dan menggapai-gapai dengan tangannya.

"Jikalau aku tidak berhasil menggeset kulitmu dan mematahkan tulang-tulangmu, aku Sam-tauw-kauw tidak sudi menjadi manusia!" Thong Hay sesumbar sambil berteriak mengejar. Oey Yong menanti sampai orang itu datang dekat, lalu kembali lari. Kelakuannya ini, ditimpali oleh kepanikan Thong Hay, membuat orang banyak tertawa riuh.

Dalam saat itu, terlihat datang memburu tiga orang dengan napas tersengal-sengal. Merekalah tiga Siluman dari Hong Ho. Song-bun-hu Cian Ceng Kian, siluman yang keempat, tidak tampak. Waktu itu barulah Kwee Ceng menyadari bahwa sebenarnya Oey Yong sangat lihai ilmu silatnya. Ialah yang selama di hutan cemara Hek-siong-lim di Kalgan telah menggantung Hong Ho Su Koay di atas pohon dan memancing Hauw Thong Hay.

"Bagus perbuatannya," pikir Kwee Ceng.

Kelakuan Hauw Thong Hay yang dipermainkan Oey Yong menarik perhatian rombongan Leng Tie Siangjin. Leng Tie adalah seorang pendeta dari Tibet, dari partai Cong Gee, yang memiliki keistimewaan ilmu Tay-ciu-in atau Tapak Tangan yang lihai. Kawannya yang ubanan tapi bermuka segar adalah Nio Cu Ong, ketua dari partai Tiang Pek Pay dari Gunung Tiang Pek San. Ia awet muda karena sejak kecil gemar makan ginseng dan tanaman obat lainnya, hingga dijuluki Som Sian Lao Koay, Dewa Ginseng-Siluman Tua.

Orang yang matanya tajam bagaikan kilat itu adalah tokoh terkenal di Tionggoan, namanya Pheng Lian Houw, dengan julukan Cian-ciu Jin Touw, Pembunuh Seribu Tangan. Di selatan dan utara Sungai Besar, namanya dikenal luas, bahkan anak-anak yang menangis akan berhenti jika ditakut-takuti dengan namanya.

Berkatalah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong, "Selama aku di Kwan-gwa, telah aku dengar nama besar dari Kwie Bun Liong Ong bahwa ia lihai sekali. Kenapa adik seperguruannya ini begini tidak berguna, sampai satu bocah pun tidak sanggup dilayani?"

Pheng Lian Houw mengernyitkan kening dan bungkam. Dia bersahabat erat dengan Kwie-bun Liong Ong See Thong Thian, si Raja Naga Pintu Iblis. Ia tahu Houw Thong Hay lihai, maka ia heran mengapa hari ini orang itu menjadi begitu tidak berdaya.

Selagi Oey Yong mempermainkan Hauw Thong Hay, pertempuran antara Kwee Ceng dan si siauw-ongya telah berhenti. Siauw-ongya telah menjatuhkan Kwee Ceng lima-enam kali, sehingga ia sangat letih. Tangan dan kakinya terasa ngilu; ia haus dan lapar, lalu menyeka keringat dengan sapu tangannya. Di pihak lain, Bok Ek telah menurunkan bendera Pie-bu Ciauw-cin dan menghampiri Kwee Ceng untuk menghibur serta mengajaknya pulang ke penginapan agar bisa beristirahat.

Namun, sebelum mereka sempat berangkat, mereka mendengar derap langkah serta suara berisik gelang kongce. Oey Yong berlari kembali dengan tetap dikejar oleh Hauw Thong Hay. Tangan Oey Yong mengibar-ibarkan dua potong kain. Sebaliknya, Hauw Thong Hay tampak berantakan; baju di dadanya robek putus, hingga kelihatan baju dalamnya yang putih. Jauh di belakang mereka, terlihat Gouw Ceng Liat serta Ma Ceng Hiong, yang satu bersenjatakan tombak dan yang lainnya ruyung, lari mendatangi dengan napas memburu.

Ketika mereka datang dekat, Oey Yong dan Hauw Thong Hay sudah lenyap kembali. Para penonton merasa lucu dan tertarik untuk terus menonton. Justru saat itu, terdengar bentakan-bentakan riuh dari arah barat. Belasan polisi dan pengiring dengan cambuk di tangan muncul, menyerang ke sana kemari untuk mengusir orang banyak ke pinggir jalan.

Menyusul rombongan hamba-hamba itu, terlihat enam orang menggotong sebuah joli besar yang indah. "Ong-hui datang! Ong-hui datang!" seru pengikut siauw-ongya berulang-ulang.

Siauw-ongya mengernyitkan kening. "Rewel!" gerutunya. "Siapa yang pergi membawa berita kepada ong-hui?" Tidak ada yang berani menjawab.

Segera joli sampai di lapangan pibu, semua pengikut maju untuk memberi hormat. Dari dalam joli yang tertutup rapat, terdengar suara seorang wanita yang halus, "Kenapa berkelahi? Baju luar pun tidak dipakai! Nanti masuk angin!"

Bok Ek mendengar suara itu dengan jelas dan hatinya tercekat. Suara itu seperti mengaung di kupingnya; ia terdiam sambil berpikir keras. "Kenapa suara ini sama dengan suara orangku ini?" pikirnya. Tiba-tiba ia tertawa sendiri, "Orang ini adalah onghui dari negeri Kim, apakah aku sudah pikun sampai memikirkan istriku? Sungguh gila memikirkan yang tidak-tidak."

Ia tidak dapat melenyapkan pikirannya itu, maka ia bertindak untuk mendekati joli indah tersebut. Kebetulan saat itu, dari dalam joli terulur sebelah tangan putih halus yang memegang sapu tangan putih untuk menyeka peluh dan debu di muka si siauw-ongya. Sembari berbuat begitu, sang wanita mengucapkan beberapa kata halus. Mungkin ia sedang menegur sekaligus menghibur pangeran muda itu.

"Ibu, aku senang bermain-main," terdengar suara pangeran muda itu.

"Tidak apa-apa, lekas pakai bajumu, mari kita pulang bersama!" kata sang onghui kembali.

Bok Ek kembali terperanjat. "Benarkah di kolong langit ini ada dua orang yang suaranya sangat mirip?" tanyanya dalam hati yang terus berdebaran.

Seorang pengiring menjemput jubah sulam milik siauw-ongya, lalu memandang Kwee Ceng dengan bengis sembari memdamprat, "Binatang cilik! Lihat, kau telah bikin kotor jubah ini!" Pengiring lain yang tangannya mencekal cambuk segera menghajar ke arah kepala si anak muda. Kwee Ceng berkelit, sebelah tangannya diangkat untuk menangkap lengan orang itu, berbarengan dengan satu kakinya yang menyapu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment