Chapter 52
"Bukankah suaminya terbinasa di tangan si Ceng?" Semua orang terdiam; mereka menggigil sendirian. Begitu hebat ancaman bahaya yang mereka khawatirkan itu. Tin Ok menghantam tanah dengan tongkatnya. "Sekarang mari kita pulang!" ajaknya. "Kita berpura-pura tidak tahu. Kita tunggu si Ceng datang kepada kita, lalu tiba-tiba kita hajar dia hingga cacat. Biarpun ia lihai, mustahil kita berenam kalah padanya?"
Siauw Eng kaget. "Anak Ceng hendak dibikin cacat?" serunya. "Habis, bagaimana dengan janji pibu?"
"Lebih penting nyawa kita atau pibu itu?" tanya Tin Ok. Si nona terdiam, begitu pun yang lainnya.
"Tidak bisa!" seru Hie Jin kemudian.
"Tidak bisa apa?" tanya Po Kie.
"Dia tidak dapat dibikin cacat!" jawab Hie Jin.
"Tidak dapat?" Po Kie menegaskan pula. Hie Jin mengangguk.
"Aku setuju sama sie-ko," bilang Siauw Eng. "Lebih dulu kita mesti mencari kepastian, baru kita pikir pula."
"Tapi urusan ini sangat penting," Cu Cong memperingati. "Kalau kita salah tindak karena merasa kasihan terhadapnya, tak dapat diduga bagaimana hebatnya bencana yang bakal terjadi. Bagaimana kalau tindakan kita bocor?"
"Memang inilah bahayanya," kata Kim Hoat.
"Samtee, bagaimana kau?" tanya Tin Ok. Po Kie bersangsi, akan tetapi ketika ia menyaksikan air mata adiknya, ia lantas menetapkan hatinya. "Aku di pihak sietee," jawabnya.
Dari enam bersaudara itu, tiga setuju Kwee Ceng dibikin cacat dan tiga tidak. Akhirnya, Cu Cong menghela napas. "Coba ngotee ada di sini, kita pasti akan memperoleh putusan; salah satu pihak tentulah lebih satu suara."
Mendengar disebut-sebutnya A Seng, berhenti mengucur air mata Siauw Eng. Ia berkata, "Sakit hati ngoko mana dapat tidak dibalaskan! Toako, kami dengar titahmu!"
"Baiklah!" kata toako itu. "Mari kita pulang dulu!"
Di dalam kemah, mereka masih tetap ragu-ragu dan hati mereka tidak tenang. Maka Tin Ok bilang, "Kalau benar ia datang, jietee sama lioktee, kamu halangi mereka, nanti aku yang turun tangan!" Demikian mereka bersiap sedia.
Tin Ok bersama Cu Cong dan Coan Kim Hoat bukan orang sembrono, akan tetapi menyaksikan keanehan Kwee Ceng dan di atas jurang didapati sembilan tengkorak dari Bwee Tiauw Hong, kuat kepercayaan mereka bahwa Bwee Tiauw Hong adalah orang yang mengajari ilmu Iweekang kepada murid mereka. Nyatanya, tidaklah demikian duduk perkaranya.
Kapan tadi malam Kwee Ceng tiba di atas jurang, si imam sudah menantikan dia. Imam itu segera menunjuk seraya berkata, "Kau lihat, apakah itu?" Di bawah sinar rembulan yang suram, Kwee Ceng melihat sembilan tengkorak. Tentu saja ia menjadi kaget.
"Adakah ini diatur oleh Hek Hong Siang Sat?" ia tanya.
"Eh, kau pun kenal Hek Hong Siang Sat?" si imam bertanya heran.
Kwee Ceng mengangguk. Ia menuturkan pertempuran gurunya dengan Hek Hong Siang Sat yang berakhir dengan tewasnya guru kelimanya. Ia pun menceritakan bagaimana secara kebetulan ia dapat menikam mati Tan Hian Hong.
Si imam itu tertawa. "Kiranya si Mayat Perunggu yang lihai itu terbinasa di tanganmu!" katanya.
"Tetapi totiang, adakah si Mayat Besi itu datang? Apakah totiang dapat melihatnya?" tanya Kwee Ceng.
"Aku belum lama sampai di sini," sahut si imam. "Tempo aku sampai, tumpukan ini sudah ada. Tadinya aku menyangka ini permainan gila dari murid Oey Yok Su dari Tho Hoa To. Kalau begitu, tentulah si Mayat Besi datang untuk mencari guru-gurumu itu."
"Dia telah buta kedua matanya kena dihajar toasuhu, kami tidak takut," kata Kwee Ceng.
Si imam menjumput satu tengkorak, ia periksa, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Orang ini hebat ilmu silatnya," katanya kemudian. "Aku khawatir gurumu itu bukan tandingannya. Umpama kata aku pun membantu pihakmu, masih belum tentu kita menang."
Si imam bicara dengan sungguh-sungguh. Kwee Ceng kaget dan heran. "Pada belasan tahun lalu dia masih belum buta, dia masih tidak dapat melawan tujuh guruku," ia bilang. "Dan sekarang kita ada berdelapan."
"Sebelum kau datang, aku pun telah memikirkannya," kata si imam. "Tidak dapat aku menduga sampai di mana lihainya jari-jari tangannya itu, maka sekarang kita harus mengerti, setelah dia datang untuk mencari, dia pasti punya andalannya."
"Sebenarnya mau apa dia menyusun tengkorak-tengkorak di sini?" Kwee Ceng tanya. "Apakah bukan sengaja dia hendak membikin kita mengetahui dan bersiap sedia?"
"Aku pikir tidak demikian. Tengkorak ini ada hubungannya sama Kiu Im Pek-ku Iauw, maka itu aku percaya, dia rupanya menyangka orang tak bakal datang ke tempat ini. Siapa tahu, kita justru biasa datang kemari hingga kita mempergokinya."
Hati Kwee Ceng menjadi tidak tenang. "Kalau begitu baiklah aku lekas pulang untuk memberitahukan guru-guruku," katanya.
"Baiklah," sahut si imam. "Sekalian kau bilangi bahwa ada satu sahabatnya memesan dengan perantaraan kau, bahwa lebih baik mereka menyingkir dari dia, untuk memikirkan daya perlawanannya. Tak dapat dia dilawan keras."
Kwee Ceng menerima pesan itu dan hendak berlalu, tetapi tiba-tiba si imam menyambar pinggangnya untuk dipondong dan segera diajak melompat ke belakang batu besar. Kagetlah bocah ini. Hendak ia menanyakan sebabnya, tetapi mulutnya dibekap untuk diajak mendekam.
"Jangan bersuara," bisik si imam yang terus mengintai. Dalam herannya, Kwee Ceng berdiam dan turut mengintai juga.
Tidak perlu menunggu lama, terlihat berkelebatnya satu bayangan, disusul munculnya satu tubuh yang tampak nyata di bawah sinar rembulan. Itulah Tiat-sie Bwee Tiauw Hong, si Mayat Besi, dengan rambutnya yang panjang dan terurai. Setahu bagaimana dia naiknya, padahal di sebelah belakang jurang itu tebingnya lebih terjal daripada bagian depan. Kwee Ceng terkejut ketika Bwee Tiauw Hong memutar tubuh; matanya memandang ke tempat sembunyi mereka. Tapi si Mayat Besi tidak melihat siapa pun, dari itu dia terus duduk bersila di atas batu di mana biasa si anak muda bersemadi. Di situ ia lantas meyakinkan ilmu dalamnya.
Melihat ini, insyaflah Kwee Ceng akan pentingnya ilmu yang diajarkan si imam padanya. Karenanya, ia menjadi sangat bersyukur kepada si imam konde tiga yang tidak dikenal itu.