Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 213

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 213

"Kalau begitu, kita harus mencari cara untuk membayar uang sewa kamar dan makanan." Oey Yong tidak segera menjawab. Ia hanya menarik keluar empat kantong uang dari sakunya.

"Untuk apa harus ditebus?" katanya sambil tertawa.

"Rumah gadai itu aku yang mengelolanya. Jadi, berapa pun yang kuinginkan, sebanyak itu pula yang boleh kuambil!" Pek Thong sangat kagum melihat orang yang bisa pergi dan kembali dengan begitu cepat untuk mengambil kembali gelangnya beserta uang. Ia pun melontarkan pujian.

Katanya, "Nona kecil ini benar-benar mewarisi keahlian keluarganya. Dia hebat sekali!"

"Jika aku dibandingkan dengan Biauw Ciu Sie-seng yang menjadi guru kedua Kakak Ceng, kepandaianku ini sungguh tidak berharga sepeser pun!" kata gadis itu sambil tertawa.

"Oh, ada orang yang begitu lihai?" kata Pek Thong. "Aku ingin bertemu dengannya!"

Sementara itu, penyakit Ang Cit Kong tampak kian parah, sedangkan di kota itu tidak ada tabib terkenal. Oleh karena itu, Kwee Ceng bertiga menyewa sebuah kereta keledai untuk Pak Kay, lalu mereka berangkat menuju ke utara, ke Kota Lim-an.

Pada suatu hari, tibalah mereka di Sungai Cian Tong, tempat mereka akan keluar dari Kota Lim-an. Mereka tidak sempat masuk ke dalam kota karena hari mulai gelap dan burung-burung gagak tengah terbang pulang. Oleh karena itu, mereka berniat mencari rumah penduduk untuk menumpang menginap.

Agak jauh dari situ, mereka melihat aliran air yang mengitari tujuh atau delapan rumah.

"Kampung itu bagus, mari kita singgah di sana," ajak Oey Yong.

"Bagus apanya?" tanya Pek Thong dengan mata membelalak.

"Lihatlah, bukankah pemandangannya indah bagaikan lukisan?" ujar gadis itu.

"Kalau indah bagaikan lukisan, lalu kenapa?" tanya Loo Boan Tong.

Gadis itu heran hingga terperangah. "Jika kau bilang jelek, kita tidak usah singgah di sini," katanya kemudian. "Tetapi kita tidak bisa pergi ke tempat lain."

"Kalau kalian tidak pergi, untuk apa aku pergi sendiri?" kata si orang tua yang sedang kumat sifat kekanak-kanakannya.

Sementara itu, mereka telah tiba di kampung tersebut. Ternyata itu adalah sebuah kampung yang kumuh dan miskin, karena di sana-sini terlihat tembok-tembok yang runtuh.

Di bagian depan kampung sebelah timur, tampak sebuah kedai arak. Mereka pun menuju ke sana. Di bawah atap teras, terdapat dua meja kayu yang berdebu tebal.

"Halo!" panggil Pek Thong.

Dari dalam kedai, muncullah seorang gadis berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun. Rambutnya kusut masai, tetapi dihiasi sebatang tusuk konde. Gadis itu membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mengamati ketiga orang itu.

"Beri kami nasi dan arak," pinta Oey Yong.

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

"Kau tidak punya arak dan nasi, lalu untuk apa kau membuka kedai makan?" tegur Pek Thong.

"Aku tidak tahu," sahut gadis itu sambil kembali menggelengkan kepalanya.

"Ah, kau benar-benar gadis bodoh!" kata Pek Thong.

Gadis itu tertawa. "Memang aku si Sa Kouw!" sahutnya. "Sa Kouw" berarti "gadis bodoh".

Mendengar jawaban itu, Oey Yong bertiga merasa senang. Oey Yong segera masuk ke dapur untuk memeriksa keadaan. Di sana ia menemukan banyak sarang laba-laba. Makanan yang tersisa hanyalah nasi dingin. Di atas pembaringan, terdapat tikar yang sudah usang dan robek. Semua itu menunjukkan kemiskinan yang amat sangat, hingga membuatnya merasa iba.

"Apakah kau tinggal sendirian di sini?" tanyanya kepada gadis pemilik rumah itu.

Sa Kouw mengangguk sambil tersenyum.

"Ibumu?" tanya Oey Yong lagi.

"Sudah meninggal," sahut gadis itu sembari mengusap matanya seolah hendak menangis.

"Ayahmu?" Gadis itu menggelengkan kepala tanda tidak tahu.

Oey Yong melihat tangan dan wajah gadis itu sangat kotor, seolah sudah berbulan-bulan tidak tersentuh air. Dalam hati ia bergumam, "Andai saja dia yang memasak nasi, aku pasti tidak akan sanggup memakannya." Namun, ia tetap bertanya, "Apakah ada beras?"

Gadis itu mengangguk dan kembali tersenyum. Ia pergi lalu mengeluarkan sebuah tempayan besar yang berisi beras setengahnya.

Oey Yong akhirnya turun tangan sendiri untuk mencuci beras dan memasaknya. Kwee Ceng pergi ke kampung sebelah barat untuk membeli dua ekor ikan dan seekor ayam, lalu mereka mengolahnya bersama-sama.

Ketika nasi dan lauk-pauk selesai dimasak serta disajikan, malam pun tiba. Oey Yong meminta minyak untuk menyalakan lampu, tetapi Sa Kouw menggelengkan kepala. Terpaksa Oey Yong mencari sebatang kayu cemara lalu menyulutnya sebagai obor. Ia pergi ke dapur untuk mencari mangkuk dan sumpit.

Saat membuka lemari, ia mencium bau busuk yang menyengat. Dengan bantuan cahaya obor, tampaklah tujuh atau delapan mangkuk hijau yang sudah sompek di sana-sini. Di dalamnya terdapat belasan bangkai tikus kecil.

Kwee Ceng membantu mengambil mangkuk-mangkuk itu. "Pergilah cuci sampai bersih, sekalian ambil beberapa ranting pohon untuk digunakan sebagai sumpit," kata Oey Yong. Pemuda itu menurut dan pergi membawa mangkuk-mangkuk kotor tersebut.

Ketika Oey Yong mengambil mangkuk yang terakhir, ia merasakan mangkuk itu sedingin es, sangat berbeda dari mangkuk biasa. Ia mencoba mengangkatnya, tetapi mangkuk itu tetap bergeming di tempatnya seolah telah terpaku. Ia menjadi semakin heran. Karena khawatir mangkuk itu pecah, ia tidak berani menariknya dengan paksa. Ia mencoba sekali lagi, tetapi tetap gagal.

"Mungkinkah karena sudah terlalu lama dibiarkan di sini, mangkuk ini berdebu dan menjadi lengket?" pikirnya.

Ia mengamatinya dengan saksama, hingga akhirnya menyadari bahwa mangkuk itu berkarat karena ternyata terbuat dari besi. Gadis itu tertawa geli sendiri dalam hati. "Mangkuk emas, mangkuk perak, mangkuk kemala, semuanya sudah pernah kulihat. Tetapi belum pernah kudengar ada mangkuk besi."

Ia mencoba menariknya lagi dengan sedikit mengerahkan tenaga, tetapi mangkuk itu tetap tidak bergeming. Ia sangat heran. Seharusnya mangkuk itu bisa terangkat bersama dengan papan alasnya. Ia pun menduga bahwa papan alas itu juga terbuat dari besi. Ia segera menyentilnya dan terdengarlah suara dentingan yang nyaring. Dugaannya ternyata benar.

Oey Yong memegang mangkuk itu lalu memutarnya ke kiri. Mangkuk itu tetap diam. Ia mencoba memutarnya ke kanan, dan mangkuk itu bergerak sedikit. Ia terus memutarnya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang keras. Sebagian tembok dapur itu terbelah dua, menyingkapkan sebuah lubang yang gelap gulita. Dari dalam lubang berembus bau busuk yang sangat menyengat hingga membuat Oey Yong mual. Ia bergegas melompat ke samping.

Kwee Ceng dan Ciu Pek Thong yang mendengar keributan itu segera datang untuk memeriksa.

"Jangan-jangan ini adalah kedai makan gelap," kata Oey Yong dengan penuh curiga. "Mungkin Sa Kouw hanya berpura-pura bodoh."

Tiba-tiba ia melompat ke arah gadis bodoh yang sedang berada di dapur itu, lalu menjulurkan kedua tangannya untuk mencengkeram lengan gadis tersebut.

Ruangan itu gelap, tetapi Sa Kouw mendengar desau angin serangan. Ia menarik tangannya dengan jurus "Melepas jubah menyerahkan kedudukan". Setelah berhasil lolos, ia balas menyerang ke arah pundak Oey Yong.

Oey Yong awalnya menduga gadis itu tidak bermaksud jahat, tetapi ia tidak menyangka gerakan gadis itu begitu lincah dan serangannya sangat ganas, membuatnya terkejut. Dengan tangan kiri ia menangkis, lalu membalas dengan dua serangan beruntun menggunakan tangan kanannya. Setelah menguasai ilmu *Ie-kin Toan-kut-pian*, gerakannya menjadi sangat cepat dan tenaganya pun bertambah besar. Sa Kouw seketika menjerit kesakitan karena lengannya terkena pukulan, tetapi ia tetap terus melawan.

Oey Yong benar-benar tidak menyangka bahwa di dusun sesepi ini terdapat kedai makan yang mencurigakan, apalagi pelayannya yang dekil itu ternyata memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh hingga mampu bertahan sampai tujuh atau delapan jurus.

Kwee Ceng dan Pek Thong pun turut heran. Ketika Pek Thong mendengar desau angin dari serangan Oey Yong yang semakin gencar, ia segera berteriak, "Hei, Nona Oey, jangan bunuh dia!"

Sementara itu, Kwee Ceng berjaga-gaga di dekat Ang Cit Kong karena khawatir ada komplotan jahat lain yang mengendap-endap dan menyerang gurunya dari belakang.

Setelah beberapa jurus lagi, Oey Yong berhasil menghantam lengan Sa Kouw hingga terkulai dan tidak dapat digerakkan lagi. Jika mau, ia bisa saja menghabisi nyawa gadis itu, tetapi ia merasa iba.

"Berlututlah!" perintahnya. "Aku akan mengampunimu!"

"Aku tidak sudi!" jawab gadis itu. Tiba-tiba ia menyerang lagi menggunakan tangan kanannya. Jurus yang digunakannya ternyata adalah jurus *Lok Eng Ciang-hoat* ajaran Oey Yok Su!

Oey Yong sangat terkejut sekaligus heran. Sambil menangkis, ia bertanya, "Dari mana kau mempelajari jurus *Lok Eng Ciang-hoat* ini? Siapa gurumu?"

Gadis bodoh itu tertawa. "Aku tidak mau menjawab! Memangnya kau mau apa?" tantangnya.

Mendengar nada bicara gadis itu yang tidak lagi terdengar seperti orang bodoh, Oey Yong melancarkan kembali serangannya. Kedua tangannya bergerak cepat saling menyusul, diikuti dengan serangan kelima untuk mengecoh, sementara kakinya ikut menyapu ke bawah.

Terdengar suara berdebam saat Sa Kouw roboh terguling ke tanah.

"Ah, kau menggunakan trik licik!" serunya. "Mari kita bertarung lagi!" Ia berusaha merangkak bangun.

Oey Yong tidak memberinya kesempatan. Ia langsung menerkam dan menindih tubuh gadis itu, lalu merobek sebagian pakaiannya untuk mengikat kedua tangannya.

"Bukankah jurus *Lok Eng Ciang-hoat*-ku jauh lebih baik daripada milikmu?" kata Oey Yong.

"Kau menggunakan kelicikan, aku tidak terima!" bela gadis itu, mengulang-ulang perkataannya.

Melihat si gadis bodoh telah berhasil diringkus, Kwee Ceng bergegas keluar lalu melompat ke atas atap untuk mengawasi keadaan sekeliling. Ia tidak melihat tanda-tanda mencurigakan. Ia pun turun kembali dan berjalan mengitari kedai makan tersebut. Kedai itu berdiri terasing dan hanya memiliki satu pintu masuk. Dengan perasaan lega, ia kembali ke dalam.

Oey Yong sedang mengancam Sa Kouw dengan mengarahkan belatinya ke mata gadis itu. "Siapa yang mengajarimu ilmu silat?" tanyanya. "Cepat katakan! Jika kau tidak mau bicara, akan kutusuk kau sampai mati!"

**Bab 47. Tempat Rahasia**

Sa Kouw sama sekali tidak merasa takut, ia bahkan tertawa terpingkal-pingkal. Ia seolah tidak menyadari bahaya dan mengira tamunya itu hanya sedang mengajaknya bermain.

Oey Yong merasa penasaran dan mengulangi pertanyaannya.

"Aku tidak punya guru," sahut gadis bodoh itu akhirnya. "Siapa pula yang bilang ada orang yang mengajariku?"

"Gadis ini keras kepala dan tidak mau bicara. Mari kita masuk ke dalam lubang ini untuk menyelidikinya," kata Oey Yong kemudian. "Kakak Ciu, tolong lindungi guruku dan awasi gadis ini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment