Chapter 125
Begitu tangan dan kakinya bergerak, ia terkejut sendiri, namun segera memantapkan hatinya.
Ia melihat ular-ularnya mulai mendekati bawah pohon, kepalanya diangkat tinggi-tinggi, bergerak-gerak mengikuti irama seruling.
Hampir pada saat yang sama, si penggembala ular bersama tiga pria dan belasan wanita berpakaian serba putih sudah berada di bawah pohon, tempat mereka mulai menari.
Gerakan tari mereka luar biasa, sebab mereka tidak hanya menari, tetapi juga merobek-robek pakaian serta mencakari luka mereka sendiri, namun mereka tetap tertawa. Mereka menari bagaikan orang kalap, tak lagi merasakan sakit.
Auwyang Kongcu terkejut bukan main. Ia sadar telah bertemu dengan musuh yang tangguh. Ia lantas mengeluarkan enam biji senjata rahasianya, torak perak beracun, dan dengan sekuat tenaga menyerang orang itu di tiga jurus: kepala, dada, dan perut.
Dalam hal senjata rahasia, ia adalah seorang ahli yang belum pernah gagal. Namun anehnya, kali ini toraknya disampok oleh ujung seruling dan jatuh, sementara seruling itu tidak pernah lepas dari mulut orang tersebut.
Di sisi lain, saat pemuda ini mengembangkan kipasnya, ia pun mulai ikut menari. Ia sangat terkejut dan mencoba menguasai dirinya, menahan gerakan tangan dan kakinya. Dalam hati ia berkata, "Segera robek bajumu, sumpal telingamu, jangan dengarkan lagi suara seruling itu!"
Namun, suara seruling itu luar biasa; meskipun telinga telah disumbat, suaranya tetap terdengar. Pemuda itu sangat terkejut dan khawatir. Baru kali ini ia merasakan ketakutan hingga bermandikan keringat dingin.
Bwee Tiauw Hong sendiri duduk bersila di tanah dengan kepala menunduk. Jelas ia sedang bersemedi untuk menguasai dirinya. Beberapa perempuan pengikut Auwyang Kongcu telah roboh ke tanah dengan tubuh bergulingan setelah merobek pakaian mereka sendiri.
Liam Cu, yang jalan darahnya tengah tertotok sehingga tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya, merasa hatinya terguncang mendengar suara seruling itu. Ia kini rebah di tanah dengan perasaan yang tidak karuan.
Auwyang Kongcu menderita hebat. Kedua belah pipinya memerah, kepalanya terasa panas sekali, serta lidah dan tenggorokannya kering. Namun, ia masih ingat untuk membela diri. Ia menggigit lidahnya, dan saat rasa sakit muncul, gangguan suara seruling itu berkurang dengan sendirinya.
Segera ia bergerak, melompat ke arah Liam Cu, lalu menggendongnya untuk melarikan diri. Setelah menempuh jarak beberapa *lie*, suara seruling tadi tidak lagi terdengar. Di sini ia merasa lega, namun tenaganya habis, tubuhnya basah kuyup oleh keringat, dan ia merasa seolah sakit berat. Meski begitu, ia menguatkan hati untuk terus berlari. Agar tidak perlu berhenti di tengah jalan, ia membebaskan totokan pada tubuh Liam Cu dan menyuruh nona itu ikut berlari menuju kota Souwciu.
***
Oey Yong dan Kwee Ceng, setelah menunjukkan jalan kepada Liam Cu, langsung kembali ke kamar untuk tidur. Mereka tidak terpikir untuk mencari tahu apa yang dilakukan Nona Bok. Keesokan siangnya, mereka berjalan-jalan di tepi telaga Thay Ouw. Malamnya, mereka berkumpul bersama tuan rumah, melihat lukisan-lukisan, dan berbincang tentang ilmu surat.
Bagaimanapun juga, hati Kwee Ceng tidak tenang. Dengan kepergian Liam Cu, berarti Bwee Tiauw Hong pasti akan datang. Ia tahu Tiauw Hong kejam, sehingga ada kemungkinan Kwie-in-chung berada dalam bahaya. Siapa di rumah ini yang sanggup melawan si Mayat Besi? Karena itulah, saat berduaan dengan Oey Yong, ia mengutarakan kekhawatirannya.
"Apakah tidak lebih baik kita memberitahukan tuan rumah perihal Bwee Tiauw Hong, supaya Wanyen Kang dibebaskan, agar rumah ini lolos dari bahaya?" katanya kepada sang gadis.
"Jangan," Oey Yong menggelengkan tangan. "Mulanya aku percaya Wanyen Kang itu baik hati, tetapi setelah mendengar suara Enci Bok, biarlah ia mengalami lebih banyak penderitaan. Kalau ia tetap tidak mengubah kelakuannya, kita bunuh saja dia!"
"Bagaimana kalau Bwee Tiauw Hong sampai datang?" tanya pemuda itu lagi.
"Kita justru bisa mencoba kepandaian ajaran Ang Cit Kong terhadap dirinya!" sahut sang gadis sambil tertawa.
Oey Yok Su terkenal sebagai Tong Shia, si Sesat dari Timur. Putrinya ini mewarisi sifat ayahnya yang kukuh, keras, dan luar biasa. Kwee Ceng mengenal sifat ini dengan baik, sehingga ia tidak membantah, bahkan ikut tertawa. Namun, dalam hatinya ia telah mengambil ketetapan: mengingat kebaikan sang tuan rumah, sudah selayaknya ia membantu melindunginya.
Selama dua hari berikutnya, kedua tamu itu tidak mengutarakan niat untuk melanjutkan perjalanan. Tuan rumah tetap melayani mereka dengan ramah, bahkan berharap mereka berdiam lebih lama.
Pada hari ketiga di pagi hari, saat tuan rumah sedang duduk berbincang dengan Oey Yong dan Kwee Ceng di kamar tulis, Koan Eng muncul dengan raut wajah yang tidak biasa. Bersamanya ada seorang pelayan yang membawa nampan berisi barang yang ditutupi kain hijau.
Anak itu memberitahukan bahwa baru saja ada yang mengantar barang tersebut. Setelah kain hijaunya disingkap, terlihatlah sebuah tengkorak dengan lubang bekas lima jari tangan. Sudah jelas, itulah tanda mata dari Bwee Tiauw Hong.
Oey Yong dan Kwee Ceng telah menduga hal ini akan terjadi, sehingga wajah mereka tidak berubah. Sebaliknya, wajah tuan rumah pucat pasi dan suaranya terbata-bata saat bertanya, "Siapa... siapakah yang membawa ini kemari?" Ia pun mencoba bangkit dengan bantuan tangannya.