Chapter 135
"Mustahilkah di kolong langit ini ada orang yang lebih lihai daripada ayahku?"
"Tidak bisa, kita harus bertempur satu kali lagi!" Tiauw Hong berkukuh. Ia menutup perkataannya itu dengan sambaran tangannya. Kwee Ceng berkelit. Sampai di situ, ia habis kesabarannya.
"Kalau begitu, silakan Bwee Cianpwee memberikan pengajaran kepadaku!" katanya. Ia lantas menyerang dengan hebat, suara anginnya mendesir. Tiauw Hong mengancam dengan cengkeramannya.
"Kau menggunakan serangan yang tak ada suaranya!" kata wanita sakti ini. "Dengan pukulanmu yang bersuara itu, aku bukan tandingannya!"
Kwee Ceng melompat beberapa tindak. "Guruku yang bermarga Kwa, yang besar budinya, tidak leluasa matanya," ujar Kwee Ceng. "Kalau orang lain menggunakan tinju tak bersuara untuk menghina dia, aku mestinya sangat membenci lawannya itu. Karena itu, mana mungkin aku berlaku demikian terhadapmu? Tadi aku telah terkena racunmu, untuk membela diri aku menggunakan tinju tanpa suara itu. Kalau sekarang kita bertempur lagi dengan aku menggunakan cara itu, aku tidak berlaku secara terhormat."
Mendengar suara orang itu bersungguh-sungguh, hati Tiauw Hong tergerak juga. "Anak muda ini baik hatinya," pikirnya. Namun, ia membentak, "Aku memerintahkan kau berkelahi dengan tinjumu tanpa suara, aku punya cara untuk memecahkannya! Perlu apa kau banyak rewel seperti wanita tua?"
Kwee Ceng melirik ke arah si baju hijau. Ia berpikir, "Mungkinkah dalam sekejap saja ia telah mengajarkan wanita ini ilmu memecahkan pukulanku tanpa suara itu?" Namun, karena orang sangat mendesak, ia menyahuti, "Baiklah, Bwee Cianpwee, akan aku coba melayani kau lagi lima belas jurus!"
Pemuda itu berpikir untuk mengulangi lima belas jurus tersebut. Jika ia tidak bisa menghajarnya, setidaknya ia dapat membela diri. Ia lantas melompat maju dan mulai menyerang dengan perlahan. Justru itu, ia mendengar suara "ser" di sampingnya. Ia melihat tangan Tiauw Hong sudah menangkis ke arah lengannya. Karena orang seolah melihat gerakan tangannya—tangan kiri yang dipakai untuk menyerang itu—ia terus menggeser ke kiri juga untuk mengulangi serangan, tetap dengan cara yang sama.
Kembali ia menjadi heran. Baru tangannya dikeluarkan, Tiauw Hong seolah sudah mengetahui serangannya dan mendahului menyerang; cepat melawan lambat. Ia berkelit, namun kurang sebat, hampir saja ia terjambret. Segera ia melompat mundur. "Sudah aneh dia tahu aku bakal menyerang, tetapi sekarang ia malah dapat mendahului aku, ini lebih aneh lagi," pikir pemuda ini.
Ia lantas menyerang untuk ketiga kalinya dengan *Hang Liong Ya Hui* atau "Naga Menyesal", pukulannya yang paling lihai. Kembali terdengar suara "ser" seperti tadi, kembali tangan berkuku dari Tiauw Hong menyambar ke lengan penyerangnya. Pengalaman membuat Kwee Ceng cerdik. Ia menduga asal suara "ser" itu. Ia lalu menyerang pula untuk keempat kalinya, sembari menyerang, ia melirik ke arah orang berbaju hijau itu. Sekarang ia melihat nyata orang tersebut menyentil sebutir batu kecil ke udara, lalu suara "ser" terdengar pula.
"Ah, benar-benar dialah yang memberi petunjuk!" pikirnya. "Hanya kenapa ia kenal ilmu silatku ini? Kenapa ia tahu ke mana tinjuku bakal menuju?" Ia berpikir terus hingga teringat, "Ya, aku ingat sekarang. Tempo hari Yong-jie bertempur sama Nio Cu Ong, Ang Cit Kong saban-saban memecahkan dulu rahasia pukulan Cu Ong itu. Sekarang orang itu menggunakan cara yang sama. Baiklah, setelah lima jurus, aku mengaku kalah."
Pertempuran itu berlangsung terus, Kwee Ceng selalu menjadi pihak penyerang. Kemudian terdengar tiga kali suara "ser", yakni sentilan si baju hijau. Atas petunjuk itu, Tiauw Hong berbalik menjadi pihak penyerang. Tiga kali beruntun ia menyerang, Kwee Ceng bisa membebaskan diri, lalu dua kali ia membalas. Sekarang para penonton pun dapat melihat si baju hijau itu memberi petunjuk kepada Bwee Tiauw Hong, mereka pun heran. Pertempuran berjalan bertambah hebat, angin berdesir, saban-saban di sela-sela pertempuran tercampur suara "ser" tersebut.
Oey Yong benar-benar cerdik, ia segera memikirkan akal. Diam-diam ia memungut pecahan bata, lalu meniru orang tersebut. Ia berlaku licin; ada kalanya ia menyerang ke udara atau ke tempat kosong, di lain saat, ia menyerang langsung ke arah batu si baju hijau. Dengan ini, ia hendak mengacaukan Tiauw Hong. Tapi hebat si baju hijau, kapan pun batunya terkena terpukul, batu itu justru mengeluarkan suara lebih nyaring, sehingga petunjuknya tidak terganggu.
Tuan rumah beserta keluarga dan Kanglam Liok Koay heran. "Kenapa sentilan itu demikian lihai? Panah peluru pun tidak sehebat itu! Bukankah celaka kalau orang terkena sentilan?" Oey Yong berhenti mengacau, ia terpaku mengawasi si baju hijau.
Di gelanggang pertempuran, Kwee Ceng sudah terdesak, serangan si Mayat Besi menjadi lebih berbahaya. Tiba-tiba terdengar dua suara nyaring, lalu terlihat dua butir batu menyerang ke udara; yang di depan agak kendor, yang di belakang lebih cepat. Batu yang di depan terkena susulan, maka terdengarlah suara beradunya kedua batu itu yang memancarkan percikan api dari hancurannya yang terbang berhamburan.
Justru itu, Tiauw Hong melompat ke arah lawannya untuk menubruk, sedang Kwee Ceng melompat untuk menyingkir. Sekonyong-konyong Oey Yong menjerit, "Ayah!" lalu ia lari ke arah si baju hijau itu dan langsung menubrukkan diri dalam rangkulan orang tersebut. Ia menangis terus saat berkata, "Ayah, kenapa, kenapa muka ayah berubah menjadi begini rupa?"
Itulah kejadian di luar dugaan, karenanya si baju hijau itu berdiri mematung. Kwee Ceng lekas berpaling, ia mendapati Tiauw Hong berdiri di hadapannya, telinganya sedang dipasang untuk mendengarkan suara "ser" seperti tadi. Inilah kesempatan baik yang tidak mau ia lewatkan, maka ia mengulurkan tangannya perlahan-lahan ke arah pundak wanita lihai itu. Ketika ia menepuk, ia menggunakan tenaganya seluruhnya. Ia menyerang dengan tangan kanan yang segera disusul dengan tangan kiri! Tidak lama kemudian, Bwee Tiauw Hong roboh terjungkal, ia terjatuh dan tidak dapat bangkit lagi!
Seng Hong mendengar Oey Yong memanggil ayah, ia sempat terdiam sejenak, lalu kaget bercampur girang hingga melupakan kakinya yang sakit. Ia mencelat dengan niat melompat ke arah si baju hijau itu, tapi celaka baginya, ia terguling di tempat kosong. Si baju hijau lantas merangkul Oey Yong dengan sebelah tangannya, tangannya yang lain dibawa ke mukanya. Di situ ia menarik kulit mukanya, maka di lain saat ia telah memperlihatkan wajah yang asli. Nyatalah ia memakai topeng kulit yang tipis sekali.
Belum kering air mata Oey Yong, ia berseru kegirangan, merampas topeng kulit itu untuk dipakai di mukanya sendiri, setelah mana ia merangkul pula ayahnya itu. Sembari memeluk leher orang tersebut, ia tertawa dan berjingkrak. Sebab si baju hijau yang aneh kelakuannya dan luar biasa sebat gerakan tubuhnya, adalah Oey Yok Su, tocu pemilik dari Tho Hoa To, pulau Bunga Tho.
"Ayah, kenapa kau datang kemari?" si anak bertanya kemudian. "Tadi si tua bangka bermarga Kiu mencaci kau, kenapa kau tidak memberi hajaran padanya?"
"Kenapa aku datang kemari?" si ayah balik bertanya dengan roman muka yang keren.
"Aku justru mencari kau!" Oey Yong girang bukan kepalang.
"Ayah, maksud hatimu telah kesampaian!" serunya.
"Bagus! Bagus!" ia menepuk tangan.
"Maksud hati apakah?" tanya si ayah.
"Apakah untuk mencari kau, si budak!" Oey Yong terharu. Ia tahu ayahnya pernah mengangkat sumpah yang berat, yaitu telah menetapkan untuk berdiam terus di Tho Hoa To demi meyakini *Kiu Im Cin-keng* agar menjadi jagoan yang tak tertandingi di kolong langit. Maka, bukan main menyesalnya tempo ia mendapat kenyataan sebagian dari kitabnya itu dicuri Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya. Tentu saja, lenyapnya kitab itu menggagalkan keyakinannya. Dalam murkanya, ia bersumpah tidak akan meninggalkan pulaunya lagi. Tapi anak daranya nakal dan melarikan diri; untuk mencari si anak, ia telah melanggar sumpahnya sendiri.
"Ayah," kata si anak kemudian, "Selanjutnya aku akan menjadi anak yang baik, yang sampai mati nanti akan mendengar katamu."
Mendapatkan putrinya tidak kurang suatu apa, Oey Yok Su sudah girang, sekarang mendengar janji anaknya itu, hatinya menjadi lega sekali. "Kau pimpin bangun suci-mu," perintahnya. Oey Yong membantu membangunkan Bwee Tiauw Hong. Koan Eng pun segera membantu membangunkan ayahnya untuk memberikan hormat kepada guru atau kakek gurunya.
Oey Yok Su menghela napas. "Seng Hong, kau baik sekali, bangunlah," katanya. "Dulu hari itu aku sudah terburu nafsu, aku telah berbuat tidak pantas terhadapmu." Sang murid menangis sesegukan. "Apakah guru baik?" tanyanya dengan susah payah. "Syukur aku tidak mati karena orang membuat aku mendongkol," sahut gurunya itu.
Oey Yong memandang ayahnya, ia tertawa nakal. "Toh ayah maksudnya bukan aku?" katanya.
"Kau pun termasuk sebagiannya!" kata sang ayah.
"Hm!" Anak itu menjulurkan lidahnya panjang. "Ayah, mari aku ajak kau kenal dengan beberapa sahabat!" katanya kemudian. "Inilah Kanglam Liok Koay yang kesohor dalam dunia kangouw, merekalah guru dari Engko Ceng."
Oey Yok membuka lebar matanya, ia tidak memedulikan Liok Koay. "Aku tidak mau bertemu orang luar!" katanya kaku. Kanglam Liok Koay tidak puas dengan keangkuhan orang itu, tetapi karena orang tersebut terlalu besar namanya, mereka terpaksa berdiam diri.
Kemudian Oey Yok Su berkata kepada anaknya, "Kau punya barang apa hendak dibawa pulang? Pergilah lekas ambil, mari kita pulang bersama!"
"Tidak ada apa-apa," sahut si anak tertawa. "Ada juga yang hendak dipulangkan kepada Liok Suko." Ia merogoh sakunya, mengeluarkan obat *Kiu-hoa Giok-louw-wan*, yang kemudian ia serahkan kepada Seng Hong. Ia berkata, "Suko, terimalah kembali obatmu ini."