Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 76

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 76

"Bagaimana bocah ini bisa bermasalah dengan Saudara See?" tanyanya.

"Coba jelaskan duduk perkaranya supaya kami dapat menimbangnya." Sebelum menjawab, See Thong Thian berpikir, "Imam ini lihai, tidak berada di bawahku. Kalau ia mengotot, bocah ini pasti tidak bisa dibiarkan tinggal di sini. Untuk melawannya, aku mesti mendapatkan pembantu yang lihai." Maka ia duduk kembali dan menghabiskan isi cawannya.

Kemudian ia berkata, "Sebenarnya aku tidak bermusuh langsung dengan anak bermarga Kwee ini. Aku punya empat murid tolol yang turut bersama Yang Mulia Chao Wang pergi ke Mongolia untuk suatu urusan. Saat mereka bekerja dan tampaknya bakal berhasil, tiba-tiba mereka diganggu oleh bocah ini. Yang Mulia Chao Wang menjadi sangat gusar karenanya. Coba Tuan-tuan pikir, kalau satu bocah begini saja tidak dapat dibereskan, bagaimana cara kami melakukan usaha yang besar?" Kata-kata itu berpengaruh bagi para hadirin.

Kecuali Cie It dan Kwee Ceng, mereka adalah orang-orang undangan Wanyen Lieh yang diundang dengan kehormatan dan bingkisan berarti. Mereka pun berpikir untuk menahan si bocah guna diserahkan kepada Chao Wang. Diam-diam Cie It bingung melihat semua mata diarahkan kepada Kwee Ceng. Ia memikirkan cara untuk meloloskan bocah itu. Ia bingung karena semua musuhnya tangguh. Sejak turun gunung, ia pernah menghadapi pelbagai pertempuran, tetapi tidak seperti kali ini, di mana ia harus melindungi seorang bocah. Ia melihat jalan yang terbuka adalah memperlambat tempo sambil mencoba mencari tahu sikap sebenarnya dari para hadirin.

"Nama besar Tuan-tuan telah lama pinto dengar," katanya. "Hari ini pinto berjodoh bertemu dengan Tuan-tuan, itulah hal yang sangat menggembirakan. Tentang bocah ini," tambahnya seraya menunjuk Kwee Ceng, "ia muda dan tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi. Ia mendapat masalah dengan Yang Mulia Chao Wang, pinto tidak dapat berkata apa-apa. Tuan-tuan berniat menahan dia, pinto juga tidak dapat menentang. Cuma sebelumnya, dengan membesarkan nyali, pinto minta Tuan-tuan mempertunjukkan dulu ilmu kepandaian kalian agar bocah ini dapat melihatnya, supaya nanti ia tidak mengatakan pinto tidak sudi melindunginya, sedangkan sebenarnya pinto tidak sanggup berbuat demikian."

Hauw Thong Hay sudah menahan sabar sekian lama. Mendengar perkataan Giok Yang Cu, ia mendahului bangkit untuk menyingsingkan lengan bajunya. "Biarlah aku yang belajar mengenalmu lebih dulu," katanya menantang sang imam.

"Kebiasaanku tidak berarti, mana berani pinto mengadu kepandaian dengan Tuan-tuan," Ong Cie It berkata lagi. "Maka itu, Saudara Hauw, aku minta sukalah kau mempertunjukkan sesuatu agar pinto dapat membuka mata, sekalian untuk memberi pengajaran kepada bocah ini supaya ia insaf bahwa di luar langit ada langit lainnya, di atas orang pandai ada pula yang lebih pandai lagi, agar di kemudian hari ia tidak berani banyak tingkah!"

Hauw Thong Hay mendongkol sekali. Ia tahu orang itu mengejeknya, tetapi tidak tahu bagaimana harus menjawab. Perkataan orang itu diatur dengan halus. See Thong Thian juga berpikir, "Imam-imam dari Coan Cin Pay tidak bisa dibuat permainan, memang lebih baik tidak usah bertempur dengannya." Maka ia lantas mengawasi Thong Hay dan berkata, "Sutee, coba kau perlihatkan Soat-lie May Jin untuk meminta Ong Cinjin memberi pengajaran padamu!"

"Itulah yang tidak berani," Cie It membilang dengan keras.

Ketika itu hujan salju masih belum berhenti. Hauw Thong Hay pergi ke pelataran dan dengan kedua tangannya ia menumpuk salju sampai setinggi tiga kaki. Untuk membuatnya padat, ia menginjak-injaknya, lalu mundur tiga langkah. Mendadak ia melompat maju, kepala di bawah dan kaki di atas, lalu menancap masuk ke dalam tumpukan salju itu sampai sebatas dada.

Kwee Ceng heran. Ia tidak tahu ilmu silat apa itu, meski ia tahu namanya seperti yang disebutkan See Thong Thian, yaitu "Soat-lie May Jin" atau "Mengubur orang di dalam salju". See Thong Thian lantas berkata pada pengiring-pengiring Wanyen Kang, "Tolong Tuan-tuan memadatkan salju di sekitar Tuan Hauw!" Kawanan pengiring itu gembira sekali dan melaksanakan permintaan itu.

Sebenarnya See Thong Thian bersama Hauw Thong Hay adalah jagoan di Sungai Hong Ho. Mereka pandai berenang dan tahan menyelam lama. Karena inilah Thong Hay dapat menyelusup ke dalam salju dengan menahan napas. Orang-orang heran dan kagum, tetapi mereka terus minum arak. Selang sekian lama, baru kedua tangan Thong Hay bergerak, tubuhnya ikut menyusul, lalu sejenak saja ia sudah keluar dari salju dan berdiri tegak. Saking kagum, Kwee Ceng yang polos memuji sambil bertepuk tangan. Thong Hay melirik bocah itu, lalu kembali ke kursinya.

"Kasar kepandaian suteeku ini, ia hanya mendatangkan tertawaan," kata See Thong Thian. Sembari bicara, ia mengulurkan tangannya ke piring kwaci untuk menjumput, lalu jari tengahnya disentilkan tak henti-hentinya. Biji kwaci itu meluncur ke tembok putih di hoa-thia tersebut, menancap di tembok membentuk satu huruf "Yauw". Jarak ke tembok kira-kira tiga tombak. Biji kwaci itu enteng, tetapi dapat disentilkan sedemikian rupa, itulah bukti tenaga dalam yang terlatih sempurna.

Kata Ong Cie It dalam hatinya, "Tidak heran Kwie-bun Liong Ong menjagoi Sungai Hong Ho, dia memang lihai sekali." Di tembok sekarang terlihat lagi dua huruf, "Bu" dan "Yang", maka dapat diduga See Thong Thian hendak menuliskan empat huruf "Yauw Bu Yang Wie" yang artinya menantang pengaruh atau menjagoi.

Menyaksikan itu, Peng Lian Houw menjadi gatal tangannya. Ia berkata, "See Toako, kepandaianmu ini membuatku takjub sekali! Kita biasa bekerja sama, maka setelah Totiang ini hendak menguji kepandaian kita, aku pun ingin mempertunjukkan sesuatu." Ia melompat ke tengah ruangan.

Ketika itu See Thong Thian baru menyelesaikan separuh huruf "Wie", akan tetapi Peng Lian Houw sudah memotong laju biji-biji kwaci itu. Mulanya ia merintangi, lalu semua biji beruntun dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu ia mengunyah seperti burung menyisip; isinya dimakan dan kulitnya dilepehkan!

"Bagus!" orang banyak berseru memuji.

"Ah, aku tidak sanggup memakan lebih jauh!" seru Peng Lian Houw yang langsung melompat kembali ke kursinya.

Setelah itu, barulah See Thong Thian merampungkan huruf "Wie" itu. Gangguan Peng Lian Houw tidak membuat Thong Thian kecil hati, ia malah tersenyum. Persahabatan mereka sudah berjalan selama tiga puluh tahun, mereka telah mengenal baik satu sama lain. Kemudian Thong Thian menoleh kepada Auwyang Kongcu, "Auwyang Kongcu hendak mempertunjukkan apa agar kami dapat membuka mata?" Kongcu itu mendengar suara orang yang mengandung nada menyindir, ia diam saja.

Ia menunggu sampai pelayan membawa tambahan makanan dan semua sumpit bekas ditukar dengan yang baru. Sumpit bekas itu ia ambil dari tangan pelayan. Segera setelah memegangnya, ia mengayunkan tangannya; lantas semua sumpit—dua puluh pasang—terlempar ke salju dan menancap. Hal yang luar biasa, semua sumpit menancap rapi membentuk empat tangkai bunga bwee!

Kwee Ceng dan Wanyen Kang kurang mengerti ilmu kepandaian itu, tidak demikian dengan Ong Cie It, See Thong Thian, dan lainnya yang lihai. Mereka diam-diam terkejut. Malah Ong Cie It segera berpikir, "Kenapa orang-orang lihai ini dapat berkumpul di sini? Biasanya, untuk menemui satu saja sudah sukar! Apakah mungkin mereka mengandung sesuatu maksud?"

Selagi sang imam berpikir, Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong bangkit sambil tertawa. Ia pergi ke samping tambur batu di depan hoa-thia itu dan mengulurkan tangan kanannya ke pinggang batu. Begitu ia mengerahkan tenaganya, batu seberat tujuh atau delapan puluh kati itu terangkat. Batu itu kemudian dilemparkan mencelat naik setinggi dua tombak. Sebelum batu itu turun, dua batu lainnya diangkat dan diapungkan seperti yang pertama. Ketika batu pertama turun, ia menanggapi dengan dahi, maka batu itu diam di dahinya. Lalu menyusul batu kedua dan ketiga; ketiganya saling susul.

Dengan merangkapkan kedua tangan untuk memberi hormat kepada orang banyak, Cu Ong berjalan perlahan ke tengah latar. Dengan satu lompatan, ia tiba di atas tancapan sumpit Auwyang Kongcu tadi. Berdiri di atas itu, ia bersilat memainkan ilmu "Yan Ceng Kun". Ia menjunjung tiga buah batu yang beratnya dua ratus kati lebih, tetapi barang berat itu tidak mengurangi kegesitannya, dan setiap injakan kakinya tidak pernah meleset dari ujung sumpit. Baru setelah semua jurus selesai, ia melompat turun dari tancapan sumpit dan kembali ke kursinya dengan senyum tanpa tanda letih.

Sudah biasa bagi tukang sulap mempertunjukkan permainan batu seperti Nio Cu Ong ini, hanya yang istimewa adalah ini dimainkan di atas tancapan sumpit dan tidak ada satu pun yang patah atau miring karena tertindih tubuh dan batu yang berat itu. Kwee Ceng kagum bukan main dan memuji tak henti-hentinya.

Kelihatannya pesta bakal ditutup sampai di situ. Pelayan-pelayan telah datang dengan baskom berisi air hangat untuk para tamu membersihkan tangan. "Cuma Leng Siangjin yang belum menunjukkan kepandaiannya," pikir Cie It. "Mungkin setelah dia, mereka baru akan turun tangan?" Maka itu, sang imam segera melirik paderi dari Tibet itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment