Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 21

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 21

Kouw Bok menghela napas kembali.

"Singa batu ini telah dirusak oleh sang imam dengan menggunakan tenaga Tie-kek-ceng. Anehnya, ia justru mendorong tubuh singa batu yang satunya lagi."

Tiba-tiba saja, singa batu itu hancur dan rubuh, bertumpuk bagaikan puing. Tentu saja ia kaget hingga wajahnya pucat. "Eh, mengapa jadi begini?" katanya.

"Luar biasa sempurnanya tenaga dalam dari imam itu," kata Kouw Bok dengan suara perlahan dan penuh rasa penyesalan. "Singa batu, singa batu, selama beberapa ratus tahun engkau bersusah payah menjaga pintu kuil ini, maka sekarang, pergilah dengan tenang."

Kemudian dia berpaling kepada Toan Thian Tek dan berkata pula, "Dia demikian lihai, apa mungkin ia sudi melayani engkau yang begitu hina dan memperebutkan segala bunga berjiwa?"

Thian Tek kaget dan tidak berani membuka mulutnya.

"Adik seperguruanku, Ciauw Bok Taysu, sepuluh kali lipat lebih pandai daripadaku. Mungkin dia sanggup melayani imam itu," kata Kouw Bok kemudian. "Pergilah engkau ke sana, kepada sute-ku itu."

Menyaksikan kehebatan Khu Cie Kee, Thian Tek tahu tidak aman jika ia terus berdiam di Kong Hauw Sie. Oleh karena itu, ia tidak membantah pamannya. Ia hanya meminta surat pengantar, lalu dengan menyewa perahu, malam itu juga ia mengajak Lie Peng berlayar ke Kee-hin untuk menumpang pada Ciauw Bok Taysu.

Paderi dari Hoat Hoa Sian Sie itu tidak menduga apa-apa. Ia tidak menyangka bahwa kawan Thian Tek adalah seorang wanita dalam penyamaran, sehingga ia menerima mereka untuk menumpang.

Hati Khu Cie Kee sangat keras; ia berhasil menyusul Thian Tek. Kebetulan ia melihat Lie Peng di dalam taman kuil. Ia mengawasi dan kecurigaannya pun timbul. Sayangnya, ia terlambat. Ketika kemudian ia melompat masuk ke dalam pekarangan, Lie Peng sudah disembunyikan oleh Thian Tek di dalam ruang bawah tanah.

Mengingat Lie Peng, Khu Cie Kee teringat pada Nyonya Pauw. Ia meyakini bahwa Nyonya Pauw pun disembunyikan di dalam kuil Hoat Hoa Sian Sie tersebut. Maka dari itu, ia menemui Ciauw Bok Taysu dan meminta supaya Lie-sie dan Pauw-sie diserahkan kepadanya. Karena ia telah melihat Lie-sie dengan matanya sendiri, ia tidak mau percaya pada sangkalan paderi itu dan terus bersikap keras.

Ciauw Bok Taysu merasa tidak sanggup melawan imam itu sendirian. Begitu teringat pada Kanglam Cit Koay, ia pergi meminta bantuan kepada tujuh manusia aneh dari Kanglam tersebut. Demikianlah mereka berkumpul di Restoran Cui Sian Lauw, sampai setibanya Tiang Cun Cu dengan jambangan araknya yang istimewa itu.

Setelah selesai menuturkan ceritanya, Ciauw Bok Taysu menambahkan, "Telah lama aku mendengar bahwa Tiang Cun Cu sangat lihai, dan sekarang kita dapat membuktikannya. Menurut penglihatanku, dia sepertinya bukan hendak mengacau, maka aku percaya pasti ada kesalahpahaman di sini."

"Aku pikir baiklah kita memanggil dua orang yang diperkenalkan oleh kakakmu itu," saran Coan Kim Hoat. "Coba kita tanyakan keterangannya."

"Benar," kata Ciauw Bok Taysu setuju. "Aku memang belum pernah menanyakan sesuatu kepada mereka."

Paderi ini hendak menyuruh orang untuk memanggil Thian Tek ketika Tin Ok memperingatkan, "Ciauw Bok Suheng, mungkin imam itu sedang menyusul kita. Jika kita bertempur lagi, jalannya tidak akan sama dengan di rumah makan tadi; dia tidak akan berlaku murah hati lagi. Pastilah dia menyangka kita telah bekerja sama dengan pihak Kim."

"Kwa Toako benar, karena itu kita harus mencari jalan agar bisa saling mengerti," kata sang paderi.

"Yang dikhawatirkan justru kesalahpahaman ini sukar dijelaskan," kata Tin Ok pula.

"Jika terpaksa, bagaimana kalau kita maju berdelapan?" Cu Cong turut berbicara.

"Delapan orang melawan satu orang? Rasanya itu tidak benar," Han Po Kie merasa sangsi.

"Aku pikir tidak apa-apa," kata Coan Kim Hoat. "Kita tidak berniat membinasakannya, melainkan hanya menghendaki agar dia sabar mendengarkan penjelasan Ciauw Bok Taysu."

"Apakah nama kita tidak akan tercemar jika tersiar kabar bahwa Ciauw Bok Taysu bersama Kanglam Cit Koay mengepung satu orang?" Han Siauw Eng pun merasa ragu.

Belum selesai pembicaraan mereka, mereka dikagetkan oleh suara keras yang datang dari pendopo besar. Suara itu seperti dua genta yang beradu dengan keras, lalu mengaung dan mengalun.

"Nah, si imam datang!" seru Kwa Tin Ok sambil melompat.

Berdelapan mereka memburu ke depan. Sekali lagi mereka mendengar suara nyaring seperti tadi, namun kali ini disusul oleh suara logam yang pecah. Terlihat Khu Cie Kee dengan jambangan arak di tangannya sedang menghantam genta di pendopo itu. Dia menyerang beberapa kali hingga jambangan perunggu itu retak.

"Citmoay, mari kita maju lebih dahulu!" Han Po Kie meneriaki adiknya.

Ia dan adiknya memang yang paling tidak sabar di antara Cit Koay. Ia lantas menarik Cambuk Emas Naga dari pinggangnya. Dengan sabetan "Naga Hitam Menggoyang Ekor", dia mencoba melilit lengan sang imam yang memegang jambangan. Di pihak lain, Han Siauw Eng sudah menghunus pedangnya yang tajam mengkilap, lalu melompat untuk menikam punggung imam itu.

Diserang dari depan dan belakang, Khu Cie Kee tidak gugup. Dengan satu gerakan tangan kanannya, ia menciptakan suara nyaring. Cambuk Emas Naga bukannya melilit tangan, melainkan justru menghantam jambangan perunggu. Bersamaan dengan itu, dengan satu egosan tubuh, sang imam membebaskan diri dari ujung pedang sang nona. Cara ia berkelit sangat lincah.

Siauw Eng merasa penasaran dan mengulangi serangannya beruntun beberapa kali, namun tetap gagal. Cepat sekali Khu Cie Kee mengenali ilmu silat pedang nona tersebut.

Pada zaman dahulu, Negeri Gouw bermusuhan dengan Negeri Wat. Untuk dapat menaklukkan Negeri Gouw, Raja Wat yang bernama Kouw Cian melatih keuletan diri dengan tidur di atas tumpukan kayu sambil mencicipi empedu yang pahit. Sayangnya, ia harus menghadapi Ngow Cu Sih, panglima tangguh dari Negeri Gouw yang pandai mengatur tentara. Ia merasa sangat tidak puas dan berduka.

Pada suatu hari, ia kedatangan seorang gadis cantik yang pandai ilmu silat pedang. Ia sangat girang dan meminta gadis itu mengajarinya. Kali ini ia berhasil, dan Negeri Gouw pun dimusnahkan. Kota Kee-hin adalah tapal batas antara Negeri Gouw dan Wat, tempat kedua negara tersebut biasa berperang. Di sanalah tersiar luas perihal ilmu pedang gadis Wat tersebut, yang kini dikuasai oleh Han Siauw Eng.

Ilmu silat itu asalnya terdiri dari tiga puluh enam jurus. Di tangan Nona Han, jurus tersebut diperbaiki dan ditambah hingga menjadi empat puluh sembilan jurus. Penambahan ini penting bagi sang nona karena ia berkecimpung di dunia persilatan, sementara Raja Wat menggunakan ilmu itu dalam peperangan untuk membinasakan panglima dan menjatuhkan kuda perang. Oleh karenanya, orang-orang persilatan menjuluki sang nona sebagai Wat Lie Kiam atau "Pendekar Pedang Gadis Wat".

Begitu mengenali ilmu silat sang nona, sambil melayani Han Po Kie di sisi lain, Tiang Cun Cu mendesak Siauw Eng dengan maksud merampas pedangnya. Hal ini membuat Nona Han kewalahan. Beberapa kali Han Siauw Eng menghindari ancaman bahaya hingga ia terdesak mundur ke tepi patung Buddha.

Melihat adik angkatnya terancam, Lam Han Jin dan Thio A Seng maju bersamaan. Yang satu menggerakkan pikulan istimewanya, sementara yang lain memainkan golok jagalnya yang berujung lancip. Sikap kedua saudara ini sangat berbeda. Lam San Ciauw-cu, si tukang kayu dari Gunung Selatan, tetap bungkam, sedangkan Siauw Mie To si "Buddha Tertawa" terus mengoceh tidak karuan hingga Khu Cie Kee tidak mengerti apa yang diucapkannya.

Segera sang imam menyerang si tukang bicara itu dengan sambaran tangan kirinya. A Seng berkelit seraya mendongak; ia tidak menyangka akan diakali. Justru saat ia mendongak itulah, kaki Khu Cie Kee melayang tepat mengenai lengannya. Tanpa ampun lagi, goloknya terlepas dan melayang.

Tendangan itu menimbulkan rasa sakit dan kekagetan. Walaupun begitu, sebagai seorang jagoan, ia tidak menghiraukan senjatanya yang terbang. Sebaliknya, ia membalas menyerang dengan tangan kiri setelah memberikan tipuan dengan tangan kanan. Karena gerakannya sangat cepat, ia sudah berhasil memperbaiki posisinya.

"Bagus!" Tiang Cun Cu memuji lawannya. Ia berkelit untuk membalas serangan, dan sambil berkelit ia berkata, "Sayang! Sayang!"

"Eh, apa yang sayang?" tanya Siauw Mie To.

"Sayang ilmu silatmu yang sempurna ini!" sahut Cie Kee sambil terus melayani musuh-musuhnya. "Kau begitu lihai, tetapi kau merendahkan diri dengan takluk kepada musuh negara!"

"Hai, imam bangsat, kau bicara omong kosong!" damprat A Seng dengan murka. Mana mungkin ia sudi dikatakan takluk pada musuh, dalam hal ini bangsa Kim.

Beruntun tiga kali ia menyerang lawannya. Cie Kee melawan sambil berkelit, tetapi untuk dua serangan terakhir, ia menangkis menggunakan jambangannya. Lebih tepatnya, ia memasang jambangan itu sebagai sasaran, sehingga dua kali kepalan tangan A Seng menghantam jambangan hingga bersuara nyaring.

Biauw Ciu Sie-seng merasa tidak enak karena meskipun mereka berempat mengepung, nyatanya mereka berada di posisi sulit. Melihat hal itu, Coan Kim Hoat merasa penasaran. Dengan memberi tanda kepada kakaknya yang kedua, ia melompat menerjang, diikuti oleh kakak angkatnya. Keduanya maju dari samping.

Senjata Lauw-sie In Hiap adalah sebatang dacin—alat penimbang barang—yang bisa digunakan sekaligus sebagai toya, pengait, dan pemukul. Sementara Biauw Ciu Sie-seng, si "Sarjana Tangan Cerdik" yang pandai ilmu menotok, terus mencari titik meridian lawan dengan kipasnya.

Khu Cie Kee tidak peduli meski dikepung oleh enam orang. Ia tetap memainkan jambangannya sebagai senjata sekaligus tameng untuk membela diri. Untuk membalas serangan, ia menggunakan tangan kirinya yang bebas tanpa senjata.

Ciauw Bok Taysu menjadi gelisah menyaksikan jalannya pertempuran yang semakin hebat itu. Akhirnya ia tidak dapat bersabar lagi.

"Tahan! Tahan!" serunya. "Tuan-tuan, tahan! Dengar, aku hendak bicara!"

Namun, di tengah pertempuran yang hebat itu, tidak ada seorang pun yang bersedia mendengarkan larangannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment