Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 131

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 131

"Jikalau kau tidak kuat jalan, nanti aku gendong!" Sampai di situ, Oey Yong ikut bicara.

"Bwee Suci! Liok Suko! Pergi kau menuntut balas untuk ayah! Engko Ceng, mari kita menyusul ayahku!" Sesaat setelah berkata begitu, si nona menghunus senjatanya, Ngobie kongcie, untuk menikam tenggorokannya.

Cu Cong awas matanya dan sebat gerakannya. Ia merampas senjata orang itu. "Nona, tanyalah dulu biar terang!" ia memperingatkan.

Ia terus menghampiri Kiu Cian Jin, membersihkan debu di tubuh orang itu beberapa kali. Ia berkata, "Muridku belum tahu apa-apa, dia lancang, harap locianpwee memaafkannya." Tapi Kiu Cian Jin murka sekali.

"Aku sudah tua, mataku lamur!" serunya. "Mari kita bertempur pula!"

Cu Cong menepuk pundak orang itu dengan perlahan, menggenggam tangan kirinya, sembari tertawa berkata, "Locianpwee lihai sekali, tak usahlah main-main pula!" Ia menarik orang itu duduk, lalu tangan kirinya mengambil cawan arak, sementara mulutnya ditutup dengan tangan kanannya yang diputar, atau mendadak tangan kanan itu dipapaskan ke arah luar.

Maka heran sekali, cawan itu lantas terpapas putus separuhnya, tepat seperti cara Kiu Cian Jin tadi. Selagi orang lain terperanjat karena heran, Cu Cong tertawa dan berkata kepada orang tua itu, "Hebat kepandaian locianpwee, barusan aku dapat mencurinya, maka itu harap locianpwee memaafkan aku! Terima kasih, locianpwee!"

Wajah Kiu Cian Jin berubah pucat. Orang heran tetapi tetap tidak mengerti.

"Anak Ceng, mari!" Cu Cong memanggil muridnya. "Kepandaian yang gurumu ajarkan padamu lain kali kau boleh gunakan untuk membikin orang kaget, untuk memperdayakan orang!"

Kwee Ceng menghampiri gurunya itu, lalu dari jari tengah tangan kiri si guru, ia meloloskan sebuah cincin. Ia berkata, "Inilah kepunyaan locianpwee, tadi aku meminjamnya. Silakan locianpwee memakainya pula."

Kiu Cian Jin kaget dan heran. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana cincin di tangannya dapat berpindah ke tangan orang lain.

Cu Cong berkata lagi, "Cincin ini bertabur sepotong intan yang sifatnya keras luar biasa. Kau gunakan itu untuk menempelkan di cawan, lalu kau putar." Kwee Ceng menurut dan melakukan titah gurunya. Baru sekarang semua orang mengerti duduk perkaranya, dan mereka semua tertawa.

Oey Yong pun tertawa, tetapi sesaat kemudian ia menangis lagi sebab teringat ayahnya.

"Jangan menangis, Nona!" Cu Cong menghibur. "Kiu locianpwee ini paling suka memperdayakan orang, kata-katanya belum tentu benar!"

Oey Yong heran dan mengawasi guru kawannya itu. Cu Cong tertawa lagi, "Ayahmu sangat lihai, bagaimana mungkin dia dapat dibinasakan orang? Lagipula Coan Cin Cit Cu adalah orang-orang terhormat, mereka juga tidak bermusuh dengan ayahmu, kenapa mereka jadi bisa bertempur?"

"Mungkin ini disebabkan urusan Ciu Pek Thong, pamannya Khu Totiang," Oey Yong mengutarakan dugaannya.

"Bagaimana itu?" tanya Cu Cong.

"Kau tentunya belum tahu." Si nona menangis lagi.

"Biar bagaimana, aku percaya kata-kata orang tua bangka ini busuk!" Cu Cong memberi kepastian. "Apakah kau maksudkan dia melepas..."

"Melepas..." Cu Cong menyahuti dengan sikap wajar. "Tidak salah, dia melepaskan angin busuk! Di dalam lengan bajunya masih ada rupa-rupa barang yang aneh, kau tebaklah apa perlunya itu?"

Ia merogoh ke lengan baju orang itu dan mengeluarkan barang-barang tersebut: dua potong batu bata, seikat rumput kering, sepotong wol untuk menyalakan api, dan sepotong baja untuk membangkitkan api. Oey Yong menjumput batu bata itu, ia pencet, lantas batu itu hancur luluh.

Karena ini, berkuranglah kesedihannya dan ia dapat tersenyum. Ia berkata, "Jie suhu, bata ini terbuat dari tepung! Tadi dia memencetnya dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya yang lihai sekali!"

Kiu Cian Jin malu bukan main. Mukanya berganti merah dan pucat karena tak ada tempat untuk menyembunyikan wajah. Ia mengibaskan lengan bajunya dan hendak bergegas pergi.

Bwee Tiauw Hong menggerakkan tangannya, menyambar tubuh orang itu, lalu membantingnya. "Kau bilang guruku meninggal dunia, katakan yang benar atau dusta!" si Mayat Besi bertanya dengan bengis.

Hebat bantingan itu hingga Kiu Cian Jin merintih kesakitan. Oey Yong melihat seikat rumput itu ada bekas terbakar, maka sadarlah ia.

"Jie suhu," katanya pada Cu Cong, "coba kau sulut rumput itu dan kau masukkan ke dalam lengan bajumu, lalu kau sedot dan tiup keluar." Cu Cong menurut, ia melakukannya sambil menutup kedua matanya dan menggoyang-goyangkan kepalanya.

Oey Yong bertepuk tangan dan tertawa gembira. "Engko Ceng, lihat, bukankah begini caranya si tua bangka ini memainkan tenaga dalamnya?" katanya.

Ia menghampiri orang tua itu dan memerintah, "Kau bangunlah!" Ia mencekal tubuh orang itu untuk membuatnya bangun, lalu mendadak dengan tangan kirinya ia menotok jalan darah sintong-hiat di punggung orang tersebut. Membarengi itu, ia membentak, "Kau bilang, sebenarnya ayahku mati atau tidak? Jikalau kau bilang benar mati, aku menghendaki jiwamu!" Di lain pihak, Ngobie kongcie sudah mengancam dada orang itu.

Semua orang merasa lucu mendengar pertanyaan Oey Yong ini. Orang ditanya tetapi dilarang menyebutkan kematian ayahnya. Kiu Cian Jin sendiri merasakan penderitaan hebat. Ia merasakan sakit dan gagal secara bergantian.

"Aku khawatir mungkin juga ia belum mati?" sahutnya kemudian.

"Aneh pertanyaan sumoyku ini," pikir Liok Seng Hong. Maka ia turut bertanya kepada orang tua itu, "Kau bilang guruku dibinasakan Coan Cin Cit Cu, kau melihat dengan mata sendiri atau hanya mendapat dengar cerita orang?"

"Aku hanya mendengar kata orang," jawab Kiu Cian Jin.

"Siapa yang memberitahumu?"

Kiu Cian Jin berdiam sebentar, lalu bergumam, "Ang Cit Kong."

"Kapan Ang Cit Kong memberitahu itu?" tanya Oey Yong.

"Satu bulan yang lalu," sahut Kiu Cian Jin.

"Di mana Ang Cit Kong bicara denganmu?" Oey Yong bertanya lagi.

"Di atas puncak Gunung Tay San," sahut si orang tua. "Di sana kita mengadu kepandaian, dia kalah, dan dengan tidak disengaja dia mengatakannya."

Bukannya kaget, Oey Yong sebaliknya girang luar biasa mendengar jawaban itu. Ia berjingkrak, tangan kirinya menyambar dada orang itu, tangan kanannya mencabut kumis. Ia lantas tertawa cekikikan. "Ang Cit Kong kalah olehmu, tua bangka busuk!" katanya.

"Bwee Suci, Liok Suko, jangan dengar, dia melepas..." Sebagai wanita, tak dapat si nona meneruskan kata-katanya.

"Melepas angin!" Cu Cong yang melanjutkan sambil tertawa, tetapi ia membekap mulutnya sendiri.

Oey Yong berkata lagi, "Pada sebulan yang lalu itu terang-terangan Ang Cit Kong ada bersama-sama aku dan Engko Ceng! Eh, Engko Ceng, kau hajarlah dia dengan satu tanganmu lagi!"

"Baik!" jawab Kwee Ceng, lalu tubuhnya bergerak.

Kiu Cian Jin ketakutan, ia memutar tubuhnya untuk berlari, tetapi di muka pintu ada Bwee Tiauw Hong yang menghalangi. Ia berputar pula untuk lari ke dalam, tetapi segera dirintangi Liok Koan Eng. Ia mendorong pemuda itu hingga terhuyung.

Biar bagaimana, ia pernah mendapat nama, meskipun nama itu didapat kebanyakan karena penipuan dan ilmu sulapnya. Ia hanya bernyali besar, karena itu berani menantang Liok Koay dan Kwee Ceng. Koan Eng pastilah bukan tandingannya.

Oey Yong melompat menghampiri untuk memotong jalannya. "Kau menjunjung jambangan besi, kau jalan di air, ilmu apakah itu?" si nona bertanya.

"Itulah kepandaianku yang istimewa," sahut si orang tua yang masih terengah-engah. "Itu dinamakan ilmu ringan tubuh menyeberangi air dengan menaiki kapu-kapu!"

"Ah, kau masih saja mengoceh!" kata si nona tertawa. "Sebenarnya kau mau bicara jujur atau tidak?"

"Usiaku sudah lanjut, ilmu silatku tidak seperti dulu lagi," Kiu Cian Jin menjawab. "Meski begitu, ilmu ringan tubuhku masih belum aku sia-siakan."

"Baiklah!" kata Oey Yong. "Di luar sana ada sebuah jambangan besar berisi ikan mas, coba kau jalan di atas jambangan itu agar kami bisa menyaksikannya! Kau lihat tidak jambangan itu? Sekeluarnya dari ruang ini, di sebelah kiri, di bawah pohon, itulah dia!"

"Di dalam jambangan, mana bisa orang melatih diri?" kata Kiu Cian Jin.

Tapi belum berhenti suaranya, mendadak ia melihat sesuatu berkelebat di depan matanya. Saat berikutnya, ia mendapati tubuhnya sudah berjumpalitan dan kakinya tergantung.

"Kematianmu sudah menanti, kau masih omong jumawa!" bentak Bwee Tiauw Hong. Si Mayat Besi telah mengangkat tubuh orang itu dengan Tok Liong Gin-pin, cambuk perak Naga Berbisa. Saat cambuk itu dikebaskan, tubuh si orang tua terlempar ke arah jambangan dan tepat jatuh ke dalamnya.

"Jikalau kau tidak memberi keterangan, aku tidak izinkan kau keluar dari sini!" bentaknya.

Kiu Cian Jin mencoba menjejak dasar jambangan, baru saja tubuhnya mencelat, pundaknya sudah ditekan si nona hingga ia terjatuh kembali. Ia pun basah kuyup berikut kepalanya. Ia meringis.

"Sebenarnya jambangan itu terbuat berlapis besi," ia mengaku akhirnya. "Di dalamnya jambangan pun ditutup sebatas tiga dim, di atas itulah hanya ada isinya air. Dan itu kali kecil, di dasar itu aku telah menancapkan banyak pelat, yang dibuat tenggelam lima-enam dim dari permukaan air hingga jadi tidak kelihatan."

Oey Yong tertawa, terus ia bertindak masuk ke dalam, tak sudi lagi mempedulikan orang itu. Maka Kiu Cian Jin dapat keluar dari jambangan ikan tersebut, lalu sambil tertunduk ia kabur.

Bwee Tiauw Hong dan Liok Seng Hong merasa tidak enak hati. Tadi mereka menangis dengan percuma disebabkan lagak-lagu si tua bangka itu. Setelah orang kabur, mereka masih terdiam. Tiauw Hong adalah yang dapat menenangkan diri lebih dulu.

Maka berkatalah ia pada tuan rumah, "Seng Hong, kau merdekakan muridku! Dengan memandang kepada guru kita, urusan hari itu tidak akan aku ungkit lagi." Liok Seng Hong menghela napas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment