Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 110

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 110

"Sekarang aku mau pergi beli sayur!" Lantas dia lari pergi.

"Bocah itu cerdik melebihi kau seratus kali lipat!" kata Cit Kong kepada si anak muda saat nona jenaka itu berlalu.

"Memang."

"Barusan aku melihat *lojinkee* bersilat, mataku kabur, aku cuma ingat tiga-empat jurus." Cit Kong tertawa tanpa berkata apa-apa, lalu ia pulang ke pondokan. Kwee Ceng diam saja mengikuti.

Maka puaslah Cit Kong mengganjal perutnya. Habis bersantap, ia heran melihat muda-mudi itu tidur terpisah kamar.

"Apa-apaan? Apakah kamu belum menikah?" dia menegaskan.

Oey Yong tukang bergurau, tetapi ditanya begitu, merah mukanya hingga di antara cahaya api dia tampak makin cantik.

"Awas, Cit Kong!" dia mengancam. "Kalau kau ngaco lagi, besok aku tidak akan memasakkanmu makanan yang lezat!"

"Apa, eh? Apakah aku bicara salah?" tanya si pengemis kaget.

Tapi segera ia mendusin, "Ah, aku tolol betul! Bukankah kamu baru mengikat janji sendiri, belum mendapat perkenan orang tua, belum ada rekokan comblang? Jangan takut, aku si pengemis yang nanti jadi comblangnya! Jikalau ayahmu tidak mau menerima, Nona, nanti aku tempur dia! Biar kita bertempur lagi tujuh hari tujuh malam, sampai ada yang mampus atau hidup!"

Senang hatinya Oey Yong, sembari tersenyum ia memasuki kamarnya.

Besoknya pagi-pagi, Kwee Ceng sudah pergi ke rimba untuk menyakinkan kembali pukulan *Kang Liong Yoe Hoei*, yang sebenarnya adalah satu jurus dari *Hang Liong Sip-pat Ciang*, ilmu silat Menakluki Naga. Hanya kali ini ia berlatih kosong, tidak lagi menghajar pohon sebab khawatir merusak pohon kayu penduduk situ. Baru menghajar dua puluh lebih kali, ia sudah mandi keringat, tetapi girang sekali karena telah memperoleh kemajuan.

Selagi ia beristirahat, tiba-tiba ia mendengar suara orang di luar rimba. "Suhu, kali ini mungkin kita telah melalui tiga puluh *lie* lebih!" demikian pendengarannya. Terang orang itu adalah murid yang berbicara kepada gurunya.

"Nyatanya ilmu larimu telah ada kemajuannya," jawab yang lain.

Kwee Ceng kaget. Ia mengenali suara orang yang belakangan. Saat ia melihat orangnya—berempat—ialah *Kaoy Nio Cu Ong*, si tua yang romannya tetap muda. Ia mengeluh, lalu kabur mengambil arah ke penginapan. Nio Cu Ong segera melihat dan mengenali pemuda itu.

"Kau hendak ke mana!" dia membentak seraya mengejar.

Tiga yang lain benar adalah murid-muridnya *Soam Sian Loa Kaoy*. Mereka lantas turut memburu dengan berpencaran untuk memegat dan mengurung. Kwee Ceng lari terus. Ia mengerti, asal bisa keluar dari rimba, dekat sudah ia dengan pondokannya. Tapi ia dipegat oleh murid kepala musuhnya itu.

"Bangsat cilik, tekuk lututmu!" bentak si pemegat yang langsung menyerang.

Kwee Ceng menekuk kaki kirinya, tangan kanannya diputar, lalu ia menolak. Itulah jurus *Kang Liong Yoe Hoei* yang baru saja ia pelajari. Murid Nio Cu Ong itu hendak menjambak, namun karena ditolak, ia hendak menangkis. Inilah hebatnya; segera ia terserang hingga lengannya patah dan tubuhnya terpental enam-tujuh kaki, roboh tak sadarkan diri. Sekalipun ia berkelit, belum tentu ia bebas. Kwee Ceng sendiri heran; sebenarnya ia memakai tenaga cuma lima bagian, tapi akibatnya dahsyat sekali. Untuk sejenak ia tercengang, lalu lekas lari lagi.

Nio Cu Ong melihat muridnya dirobohkan, ia kaget berbareng gusar dan mengejar terus. Tepat di muka rimba, ia berhasil memegat. Kwee Ceng khawatir karena musuh tangguh menghalangi jalan. Hampir tanpa berpikir, ia tekuk lagi kaki kirinya, tangannya dilingkarkan, lalu menolak dengan keras. Kembali ia menggunakan jurus Naga Menyesal itu.

*Soam Sian Loa Koay* terperanjat. Ia tidak kenal pukulan itu, namun karena nampaknya hebat, terpaksa ia berkelit dengan menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan. Dengan begitu ia bebas, tapi justru itu memberi celah bagi Kwee Ceng untuk menerobos. Ketika ia melompat bangun dengan niat mengejar, ia mendapati bocah itu sudah tiba di muka pondokannya.

"Yong-jie! Yong-jie!" Kwee Ceng berteriak. "Lekas minta Cit Kong menolongku!"

Oey Yong mendengar teriakan itu dan muncul seketika. Segera ia melihat Nio Cu Ong. "Eh, kenapa siluman bangkotan ini berada di sini?" pikirnya. "Bagus ia datang, hendak aku menguji *Yan Siang Hoei*!"

Terus ia berteriak, "Engko Ceng, jangan takut! Lawan dulu dia, nanti aku bantu!"

Kwee Ceng cemas hatinya karena tahu Nio Cu Ong lihai dan Oey Yong belum tahu apa-apa. Tapi tidak sempat berpikir lama, musuhnya sudah menyerang. Ia memutar tubuhnya, kembali menyerang dengan *Kang Liong Yoe Hoei*. Nio Cu Ong melompat ke samping; kali ini ia kurang sigap, meski bebas, tangan kanannya terserempet juga hingga merasakan sakit dan panas.

Kwee Ceng melihat lawan berkelit, ia menyusuli serangannya dengan pukulan serupa. Nio Cu Ong cerdas dan lihai, segera ia menyadari pukulan orang hanya serupa itu. Maka setelah berkelit pula, dia tertawa dan berkata, "Ha, bocah, kau hanya punya satu jurus ini?"

Kwee Ceng polos, ia tidak tahu orang memancingnya. "Ya," jawabnya. "Toh kau tidak mampu menangkis!" Ia lantas menyerang lagi.

Nio Cu Ong melompat. Sekarang ia tahu bagaimana harus mengelakkan diri. Tiga kali lagi ia diserang, tiga kali ia berkelit, di samping itu ia membalas menyerang. Kwee Ceng gagal berulang-ulang, ia lantas menjadi repot.

Oey Yong menonton pertempuran itu dan melihat kawannya terdesak. "Engko Ceng, nanti aku lawan dia!" ia berseru. Ia melompat ke arah dua orang itu, tubuhnya melayang bagaikan seekor burung walet. Begitu tiba, kepalan kiri dan kaki kanannya segera bekerja berbarengan. Nio Cu Ong melompat mundur, lalu membalas menyerang. Kwee Ceng lantas mengundurkan diri dan berdiri menonton.

Oey Yong menggunakan *Yang Siang Hoei* dengan baik, tetapi karena masih baru dan kalah *iweekang*, ia tidak berdaya merobohkan jago tua itu. Sebaliknya, hampir-hampir ia kena dihajar beberapa kali oleh lawannya, syukur ia memakai tameng *joan-wie-kah*. Habis tiga puluh enam jurus, ia terdesak. Dua murid Nio Cu Ong menolong kakak seperguruannya; mereka menonton pertempuran itu, dan mendapatkan guru mereka unggul, mereka berteriak-teriak menganjurkan guru mereka.

Kwee Ceng khawatir untuk kekasihnya dan terpaksa maju membantu. Justru itu ia mendengar suara nyaring dari Ang Cit Kong yang berada di balik jendela: "Dia bakal menggunakan jurus Anjing Galak Memegat Jalan!"

Oey Yong mendengar itu dan melengak. Ia melihat Nio Cu Ong memasang kuda-kuda terpentang dengan kedua tangan rata. Ia kenali itu sebagai sikap jurus Harimau Galak Memegat Jalan. Ia tertawa di dalam hatinya; kiranya Cit Kong menukar "Harimau" dengan "Anjing". Ia hanya heran mengapa Cit Kong dapat menebak niat orang. Ia lantas membela diri.

Kembali Cit Kong berseru: "Dia bakal menggunakan Ular Bau Mengambil Air!"

Oey Yong sangat cerdas; lantas ia mengetahui, tentulah itu dimaksudkan jurus Naga Hijau Menyedot Air. Jurus itu lihai di depan, tetapi kosong di belakang. Karenanya, dengan lincah ia melompat menyamping, terus ke belakang lawannya. Nio Cu Ong benar-benar menyerang dengan pukulan Naga Hijau Menyedot Air itu. Tentu saja ia gagal karena si Nona sudah mendahului menghindar, malah punggungnya jadi terbuka. Syukur ia lihai, dapat berkelit dari serangan si Nona. Segera ia memandang ke arah jendela penginapan.

"Orang pandai siapa di situ? Mengapa kau tidak mau memperlihatkan diri?" tanyanya.

Ang Cit Kong mendengar suara menantang itu, namun karena merasa Oey Yong sudah berani, ia tidak muncul. Oey Yong pun makin berani. Ia menerjang. Dalam murkanya, Nio Cu Ong melawan dengan bengis, menggunakan pukulan-pukulan yang membinasakan. Tentu saja si Nona segera terdesak lagi.

"Jangan takut!" terdengar pula teriakan Cit Kong. "Dia bakal menggunakan Pukulan si Kunyuk Kempolan Biru Memanjat Pohon!"

Oey Yong tertawa cekikikan, ia lantas mendahului menyerang dengan tinjunya. Nio Cu Ong benar-benar hendak menyerang dengan jurus yang disebut Cit Kong itu—hanya si pengemis aneh itu sengaja menukar nama jurus tersebut, yang sebenarnya adalah Kera Sakti Memanjat Pohon. Melihat ia diserang, terpaksa ia membatalkan niatnya untuk membela diri guna menukar jurus, karena ia tahu percuma melanjutkan serangan dengan tipu silat itu. Dasar lebih lihai, tidak sukar baginya menolong diri, hanya ia semakin heran.

Ia bertanya dalam hati, "Kenapa orang itu tahu aku bakal menyerang dengan jurusku?"

Oey Yong menyerang terus. Nio Cu Ong membela diri, habis itu ia melompat keluar kalangan. Ia berteriak ke arah pondokan, "Saudara yang baik, jikalau kau tetap tidak hendak memperlihatkan diri, jangan menyesal apabila aku tidak berlaku murah hati lagi!"

Di mulutnya, *Som Sian Lao Koay* mengatakan demikian, tangannya bekerja. Ia maju menyerang Oey Yong dengan hebat, maka dalam beberapa jurus saja si Nona terdesak lagi. Cit Kong tidak bersuara lagi, ia pun tidak muncul. Kwee Ceng melihat kekasihnya terdesak hingga harus berkelit saja, ia lantas maju membantu. Segera ia menyerang dengan pukulan Naga Menyesal itu. Nio Cu Ong mengetahui hebatnya jurus itu dan ia melompat mencelat.

"Hajar dia, Engko Ceng!" Oey Yong menganjurkan. "Serang terus-terusan hingga tiga kali beruntun!"

Habis menganjurkan, Nona itu memutar tubuhnya dan lari ke dalam pondokan. Kwee Ceng menuruti anjuran pacarnya, ia memasang kuda-kudanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment