Chapter 126
"Perahu telah disiapkan, maka dari itu silakan Tuan berdua segera berangkat meninggalkan telaga ini," kata tuan rumah itu lagi.
"Di tengah jalan, jika terjadi sesuatu, kuharap kalian tidak perlu peduli. Aku minta kalian memerhatikan pesanku ini." Sebenarnya Kwee Ceng hendak memberitahukan bahwa mereka berdua ingin tetap tinggal di telaga itu untuk memberikan bantuan, tetapi Oey Yong mengedipkan mata kepadanya, sehingga ia terpaksa mengangguk.
"Aku lancang, aku ingin menanyakan suatu hal," kata Oey Yong.
"Apakah itu, Nona?" tanya si tuan rumah.
"Pemilik pondok sudah mengetahui musuh sangat lihai dan tidak dapat dilawan, mengapa Anda tidak hendak menyingkir darinya? Menyingkir untuk sementara waktu. Peribahasa mengatakan, seorang budiman tak akan menerima malu di depan mata." Pemilik pondok itu menghela napas.
"Tapi dua orang itu telah membuatku menderita," katanya masyguL. "Cacat tubuhku ini pun adalah pemberian mereka. Selama dua puluh tahun, karena tidak dapat berjalan, aku tidak bisa mencari mereka untuk membuat perhitungan. Sekarang mereka datang sendiri; inilah kesempatan baik yang dihadiahkan Langit!"
Oey Yong heran mendengar orang itu menyebut dua orang. "Ah, ia tentunya masih mengira si Mayat Perunggu Tan Hian Hong masih hidup. Sebenarnya, apa permusuhan mereka? Sayang aku tidak dapat menanyakannya." Namun ia tertawa, lantas bertanya, "Pemilik pondok, Anda mengenali penyamaranku, ini tidak aneh. Namun, mengapa Anda tahu kami belum menikah? Padahal kami tinggal dalam satu kamar."
Ditanya begitu, tuan rumah tertegun. "Kau adalah gadis yang suci, mana mungkin aku tidak melihatnya? Hanya saja, sulit bagiku untuk menjelaskannya," pikirnya.
Selagi ia ragu, Koan Eng datang dan berbisik di telinganya, "Pesan Ayah sudah disampaikan, tetapi keempat ketua, Thio, Kouw, Ong, dan Tam, tidak mau pulang. Mereka berkata biarpun kepala mereka dipenggal di sini, mereka tidak akan meninggalkan Kwie-in-chung!"
Liok Chungcu menghela napas. "Sungguh mereka baik sekali," katanya. "Nah, antarlah kedua tamu kehormatan kita ini keluar dari telaga."
Oey Yong bersama Kwee Ceng lantas memberi hormat. Di luar, mereka mendapati kuda dan keledai mereka. "Naik perahu atau tidak?" bisik Kwee Ceng. "Kita pergi untuk kembali!" sahut Oey Yong, juga berbisik.
Koan Eng tengah bingung. Ia hanya tahu harus segera mengantar kedua tamunya pergi, sehingga ia tidak memerhatikan sikap mereka. Saat Oey Yong dan Kwee Ceng hendak naik ke perahu yang disediakan, mendadak mereka melihat pemandangan luar biasa, yaitu seseorang yang berjalan sangat cepat di tepi telaga sambil menjunjung sebuah jambangan besar di atas kepalanya. Kwee Ceng dan Koan Eng pun melihatnya, lalu turut mengawasi seperti si nona.
Tak lama kemudian, orang itu mendekat. Terlihat nyata bahwa ia adalah seorang tua berkumis ubanan dengan baju kuning. Tangan kanannya memegang sebuah kipas besar. Ia melangkah mantap dan cepat. Jambangan itu rupanya terbuat dari besi, beratnya mungkin beberapa ratus kati. Ia melewati Koan Eng dan yang lainnya seolah tidak melihat mereka.
Beberapa langkah kemudian, ia terhuyung, lalu air dari jambangan itu tumpah sedikit. Air itu sendiri mungkin seberat seratus kati atau lebih. Seorang tua dapat membawa jambangan seberat itu benar-benar hebat. "Mungkinkah dia musuh Ayah?" duga Koan Eng. Ia lantas menyusul. Oey Yong dan Kwee Ceng segera mengikuti.
Orang tua itu berjalan cepat, dalam sekejap sudah menempuh beberapa li. Koan Eng dapat berjalan cepat dan berhasil menyusul. Namun, ia heran terhadap orang tua itu. Oey Yong dan Kwee Ceng pun turut heran. Kwee Ceng malah menyangsikan apakah orang ini lebih lihai daripada Khu Cie Kee. Ia ingat cerita gurunya tentang pertandingan mereka dengan Tian Cun Cu yang pandai mempermainkan jambangan besar, tetapi jambangan ini jauh lebih besar.
Si orang tua berjalan ke tempat belukar yang berliku-liku. Koan Eng tinggal di tempat yang sunyi, tetapi ia tidak mengenal tempat ini sehingga ia menjadi ragu. Ia pikir, "Orang tua ini saja tidak dapat kulayani, bagaimana jika di sana ia menyembunyikan kawan-kawannya? Sebaiknya aku kembali?"
Namun di depannya ada sungai, dan ia heran. Pikirnya pula, "Di depan tidak ada jembatan, ingin kulihat bagaimana dia melewatinya. Apakah dia akan berjalan di tepian timur atau barat?" Selagi ia menduga-duga, Koan Eng berdiri tertegun. Orang tua itu berjalan terus menyeberangi sungai, kakinya terbenam di air hanya sebatas betis. Dia terus berjalan hingga ke seberang. Setibanya di sana, ia meletakkan jambangan di rumput, lalu kembali terjun ke sungai dan berjalan selangkah demi selangkah kembali ke darat.
Kwee Ceng dan Oey Yong yang berhasil menyusul mengawasi dengan penuh kekaguman. Tiba-tiba si orang tua mengusap-usap kumisnya sambil tertawa lebar.
"Tuan, apakah kau pemilik pondok muda yang memimpin jago-jago dari Thay Ouw?" tanya orang itu.
"Maaf," kata Koan Eng merendahkan diri, lalu ia balik menanyakan marga dan nama orang tersebut.
"Ah, masih ada dua anak muda di sana!" kata si orang tua itu menunjuk Kwee Ceng dan Oey Yong. "Marilah kalian sama-sama ke mari!"
Koan Eng menoleh. Baru sekarang ia tahu bahwa Kwee Ceng dan Oey Yong mengikutinya. Dia merasa heran karena tidak menyangka mereka dapat berlari secepat itu tanpa suara langkah kaki. Kwee Ceng dan Oey Yong memberi hormat sambil bersoja. Mereka menyebut diri sebagai orang muda dan memanggil orang itu dengan sebutan *Thay-kong*—orang tua yang dihormati.
Orang tua itu tertawa pula. "Sudah, sudah!" ia mencegah mereka terus menghormat. Kemudian ia menatap Koan Eng dan berkata, "Di sini bukan tempat yang tepat untuk berbincang, mari kita mencari tempat untuk duduk-duduk."
Koan Eng tetap ragu apakah orang ini musuh ayahnya atau bukan. "Apakah *Thay-kong* mengenal ayahku?" tanyanya.
"Maksudmu pemilik pondok yang tua? Belum pernah aku bertemu dengannya," sahut si orang tua.
Tampaknya orang itu tidak berdusta, maka Koan Eng bertanya lagi, "Hari ini Ayah menerima sebuah bingkisan luar biasa, apakah *Thay-kong* mengetahuinya?"
"Bingkisan aneh apakah itu?" si orang tua balik bertanya.
"Sebuah tengkorak dengan lima lubang bekas jari tangan," sahut Koan Eng.
"Benar-benar aneh! Apakah ada orang yang bergurau dengan ayahmu?" tanya si orang tua lagi.
Mendengar itu, Koan Eng mendapat kesan berbeda. Ia berpikir sebaiknya mengundang orang ini ke rumahnya; orang ini tentu gagah dan mungkin dapat membantu ayahnya. Karena itu, ia menampakkan wajah gembira. "Jika *Thay-kong* tidak keberatan, aku mengundang Anda ke rumahku untuk minum teh," ajaknya.
"Begitu pun baik," sahut orang tua itu setelah berpikir sejenak.
Koan Eng merasa sangat girang. Ia lantas meminta si orang tua berjalan di depan. "Apakah kedua anak muda itu juga dari rumahmu?" tanya si orang tua seraya menunjuk Kwee Ceng dan Oey Yong.
"Kedua tuan ini adalah sahabat-sahabat ayahku," jawab Koan Eng. Orang tua itu tidak memedulikan lagi dan berjalan cepat.
Kwee Ceng dan Oey Yong mengikuti di belakang Koan Eng. Mereka segera tiba di Kwie-in-chung. Tuan rumah muda meminta tamunya menunggu di ruang tamu, sementara ia sendiri lari ke dalam untuk memberi tahu ayahnya. Tak lama kemudian, tuan rumah muncul dengan digotong oleh dua orang. Ia berbaring di atas pembaringan bambu yang berfungsi sebagai balai-balai. Ia memberi hormat kepada tamu tua itu dan berkata, "Maaf, aku tidak tahu akan kedatangan Tuan sehingga tidak bisa menyambut dengan selayaknya."
Orang tua itu membalas hormat hanya dengan membungkuk sedikit. Suaranya terdengar datar ketika berkata, "Tak usah terlalu banyak upacara, Liok Chungcu."
Tuan rumah tidak memedulikan sikap itu dan menanyakan marga serta nama tamunya.
"Margaku Kiu, namaku Cian Jin," sahutnya.
Tuan rumah terkejut. "Jadi, Locianpwee adalah Tiat-ciang Sui-siang-piauw!" katanya. Ia mengenal baik nama dan gelar tersebut, yang berarti "Si Tangan Besi Mengambang di Air".
"Bagus sekali ingatanmu, Liok Chungcu, kau masih ingat julukanku! Sudah dua puluh tahun sejak aku tidak muncul lagi di dunia persilatan, aku menyangka orang telah melupakanku." Memang dua puluh tahun yang lampau, nama Tiat-ciang Sui-siang-piauw sangat masyhur, lalu ia mengasingkan diri hingga orang-orang seakan melupakannya. Liok Chungcu sangat terperanjat.
"Untuk urusan apa Locianpwee datang ke sini?" tanyanya. "Bila aku sanggup, aku senang sekali bisa berbuat sesuatu untukmu."
"Tidak ada urusan penting," sahut si orang tua sambil tertawa. "Atau mungkin aku bakal ditertawakan sahabat-sahabat kalangan rimba persilatan. Sebenarnya aku ingin meminjam tempat sunyi untuk melatih diri. Tentang ini, baiklah nanti malam saja kita bicarakan pelan-pelan."
Liok Chungcu tidak melihat niat buruk pada wajah orang tua ini, namun hatinya tetap kurang tenang. "Apakah Locianpwee pernah bertemu dengan Hek Hong Siang Sat?" tanyanya.
"Hek Hong Siang Sat? Apakah kedua iblis itu belum mati?" si orang tua balik bertanya.
Hati Liok Chungcu merasa lega mendengar jawaban itu. "Anak Eng, antarlah Locianpwee beristirahat di kamar tulis," katanya kemudian. Kiu Cian Jin mengangguk, lalu mengikuti Koan Eng.
Liok Chungcu belum tahu kepandaian Kiu Cian Jin yang sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa dulu ketika Tong Shia bersama See Tok, Lam Kay, Pak Tee, dan Tiong Sin Thong berlima mengadu ilmu di atas Gunung Hoa San, orang ini pernah diundang hadir, namun ia tidak bisa datang karena ada urusan. Fakta bahwa ia diundang menandakan dia bukan sembarang orang. Sekarang ia berada di sini; jika Hek Hong Siang Sat datang, ia tidak perlu terlalu khawatir.
"Kalian berdua belum berangkat, ini bagus sekali," katanya kemudian kepada Kwee Ceng dan Oey Yong.