Chapter 161
See Tok, si Racun Barat, memegang sebatang tongkat berwarna putih yang memiliki banyak lekukan seperti rotan. Ujung tongkat tersebut diukir menyerupai kepala orang dengan mulut yang sedang tertawa. Di dalam mulut itu terlihat barisan gigi yang tajam dan putih bersih. Yang aneh, pada kepala tongkat itu melingkar dua ekor ular panjang dengan kulit yang berkilau putih seperti perak. Kedua ular itu tampak merayap turun dan naik.
Auwyang Hong tertawa saat menjawab, "Dulu, kepandaianku tidak dapat menyamai kepandaianmu. Sekarang, setelah menyia-nyiakan waktu selama dua puluh tahun, pasti aku kalah jauh. Saat ini kita menjadi sanak, aku berpikir untuk menumpang tinggal beberapa hari di Pulau Tho Hoa To milikmu ini agar aku memperoleh kesempatan meminta pengajaran darimu."
Ketika pertama kali Auwyang Hong mengirim utusan kepada Oey Yok Su untuk melamar Oey Yong, Oey Yok Su berpikir bahwa di zamannya, orang yang dapat menandinginya sudah tidak seberapa, dan Auwyang Hong adalah salah satunya. Ia tahu betul putrinya sangat nakal; jika mendapat suami sembarangan, anak itu pasti akan menghina suaminya. Oleh karena itu, ia senang melihat kepandaian Auwyang Kongcu yang berani melayani Bwee Tiauw Hong. Ia menganggap Auwyang Kongcu jauh lebih baik daripada Kwee Ceng yang menjadi pilihan putrinya sendiri. Terlebih lagi, ia merasa sebal terhadap pemuda bermarga Kwee itu. Inilah alasan mengapa ia dengan mudah menerima lamaran Auwyang Hong.
Namun sekarang, mendengar suara See Tok yang berputar balik, merendah sekaligus sombong, ia menjadi curiga. Ia menduga apakah Auwyang Hong telah pulih kesehatan dan kepandaiannya setelah ilmu yang dimilikinya sempat dipecahkan oleh Ong Tiong Yang. Ia tahu betul See Tok ini bermulut tajam, berhati berbisa, licin, dan licik. Tentu saja, Oey Yok Su tidak sudi mengalah karena ia pun seorang yang angkuh. Maka, ia segera menarik keluar serulingnya sambil berkata, "Tetamu yang terhormat telah datang dari tempat yang jauh, baiklah aku membunyikan sebuah lagu untuk menyenangkan hatimu. Silakan duduk, sahabatku, supaya kau dapat mendengarnya perlahan-lahan."
Auwyang Hong tersenyum. Ia bisa menerka tuan rumah ini hendak memperdengarkan lagu "Thian Mo Bu Kiok" atau "Lagu Tarian Hantu Langit" untuk mempengaruhinya. Ia segera mengibas tangan kirinya, lalu tiga puluh wanita berseragam putih yang memegang alat musik *tengloleng* bergerak maju sambil menekuk lutut, memberi hormat kepada tuan rumah.
Ia berkata, "Tiga puluh dua nona ini adalah gadis-gadis yang aku perintahkan murid-muridku mencarinya di berbagai tempat. Sebagai bingkisan yang tidak berharga, aku menghadiahkan mereka kepadamu, Saudara Yok. Mereka pernah mendapat pengajaran dari guru-guru yang pandai; mereka dapat menari, bernyanyi, dan menabuh *khim* secara lumayan. Hanya sayangnya, mereka berasal dari Wilayah Barat, kecantikan mereka kalah jauh dibandingkan dengan nona-nona dari Kanglam!"
Oey Yong memandang nona-nona itu. Mereka memiliki kulit yang putih bersih, tubuh yang tinggi besar, namun wajah yang berbeda-beda; ada yang hidungnya mancung dengan mata yang dalam, serta rambut kuning dan mata biru. Mereka jauh berbeda dari gadis-gadis Tionggoan. Auwyang Hong menepuk tangan tiga kali, lantas delapan nona mengeluarkan alat musik mereka dan mulai memainkan lagu, diikuti dengan tarian dari dua puluh empat nona lainnya. Mereka berdiri tegak, lalu merendah, dan berputar ke kiri serta ke kanan dengan gerakan yang halus dan lembut. Ada kalanya mereka berbaris seperti seekor ular panjang sambil menggerak-gerakkan jari tangan.
Oey Yong teringat pada ilmu silat "Kim Coa Kun" atau "Ular Emas" milik Auwyang Kongcu, lalu ia melirik pemuda itu. Ternyata, ia mendapati orang tersebut tengah mengawasinya. Ia menjadi sebal dan memikirkan cara untuk menghajarnya. Ia menyesal usahanya tadi digagalkan oleh ayahnya. Ia menganggap lagak orang itu sangat menjemukan. "Kalau aku berhasil membunuh dia, biar Ayah memaksa aku menikah, toh sudah tidak ada orangnya yang dapat kunikahi," pikirnya. Karena pikiran itu, ia pun tersenyum. Auwyang Kongcu yang melihat senyuman sang nona menduga hati Oey Yong telah berubah. Saking girangnya, sejenak ia melupakan rasa nyeri di dadanya.
Nona-nona yang menari itu gerakannya menjadi semakin cepat namun tetap lembut. Di sisi lain, para lelaki yang memegang galah, yaitu para penggembala ular, telah menutup mata rapat-rapat. Mereka takut jika menyaksikan tarian itu, hati mereka tidak cukup kuat untuk bertahan dan akhirnya runtuh.
Oey Yok Su menonton dengan senyum berseri-seri. Selang sekian lama, barulah ia membawa seruling ke bibirnya untuk mulai meniup. Baru beberapa kali ia meniup, tarian para nona tampak kacau. Dan saat tuan rumah terus meniup, mereka akhirnya menari mengikuti irama seruling tersebut. Auwyang Kongcu kaget bukan main. Ia pernah merasakan hebatnya lagu seruling orang itu. Jika seruling berlangsung terus, bukan saja para nona itu akan menari hingga mati, dirinya sendiri pun tidak akan luput menjadi korban. Mau tidak mau, ia berseru, "Paman!"
Tepat saat itu, Auwyang Hong menepuk tangan, lalu seorang nona yang memegang *tiat-ceng* (alat musik bertali dua belas) maju menghampirinya. Hati Auwyang Kongcu sudah goncang keras, sementara para penggembala ular mulai berlari dan melompat di antara kawanan ular mereka. Auwyang Hong lantas memetik alat musiknya, menghasilkan suara yang seolah berkata, "Tombak-tombak emas saling beradu dan besi kaki kuda berketukan." Hanya beberapa kali suara itu terulang, nada halus dari seruling pun buyar sebagian.
Oey Yok Su tertawa. "Mari, mari! Mari kita berdua bersama-sama memainkan lagu!" Hebat sekali sambutan dari Tong Shia, si Sesat dari Timur. Para penari menjadi sangat kacau, gerak-geriknya seperti orang gila.
"Semua tutup kuping!" teriak Auwyang Hong menyaksikan kehebatan itu. "Nanti aku mainkan lagu bersama-sama dengan Oey Tocu!" Semua orang tampak panik, namun karena mendengar perintah majikannya dan mengerti bahaya yang mengancam, mereka segera merobek ujung baju untuk menyumbat telinga. Auwyang Kongcu yang sudah cukup lihai turut menyumpal telinganya.
Menyaksikan itu, Oey Yong tertawa. Ia sendiri tidak terpengaruh suara kedua alat musik tersebut. Ia berkata, "Orang lain memainkan lagu justru khawatir orang tidak dapat mendengarnya, tetapi kalian sebaliknya, justru menutupi kuping! Tidak, aku sendiri tidak sudi menyumbat kupingku!"
Oey Yok Su mendengar perkataan putrinya dan menegur, "Ilmu kepandaian memetik *tiat-ceng* dari pamanmu ini sangat kesohor di kolong langit. Kau punya kepandaian apa berani mendengarnya? Apa kau kira bisa mencoba-coba?" Dari sakunya, ia mengeluarkan sapu tangan, merobeknya menjadi dua, lalu menyumbat kedua kuping anaknya.
Kwee Ceng merasa heran dan tertarik untuk mendengar lagu tersebut. Tanpa mengenal bahaya, ia justru maju beberapa langkah agar dapat mendengar dengan lebih jelas. Oey Yok Su berpaling kepada tetamunya. "Semua ularmu tentunya tidak dapat menutup kupingnya," katanya. Ia menoleh kepada bujangnya yang bisu dan memberi isyarat. Bujang itu mengerti lalu memberi tanda kepada kawanan gembala ular untuk menyingkir. Mereka memang menantikan hal itu. Setelah Auwyang Hong memberi tanda dengan mengangguk, mereka segera membawa ular-ularnya menyingkir mengikuti bujang bisu.
"Jika aku tidak sanggup, sudilah Saudara Yok mengalah sedikit," kata Auwyang Hong. Dengan lima jari tangan kanannya, ia mulai memetik alat musiknya. Suara *tiat-ceng* itu sangat nyaring. Kwee Ceng merasakan setiap petikan membuat hatinya goncang. Saat lagu bertambah cepat, goncangan hatinya pun semakin hebat, dadanya bergerak-gerak, dan ia merasa tidak enak. Ia terkejut dan segera sadar. "Kalau suara ini makin hebat, tidakkah hatiku akan hancur?" pikirnya. Ia segera duduk bersila untuk memusatkan pikiran dan mengerahkan tenaga dalamnya.
Sesaat kemudian, suara *tiat-ceng* itu tidak dapat lagi menggoncangkan hatinya. Suara *tiat-ceng* itu semakin lama semakin keras, bagaikan bunyi tambur dan gembreng yang beradu, seperti ribuan ekor kuda yang berpacu. Di lain saat, terdengar suara seruling yang halus namun tegas, seolah menembus suara *tiat-ceng*. Kwee Ceng merasa hatinya kembali goncang dan wajahnya panas. Ia segera memusatkan perhatian hingga hatinya tenang kembali. Ia menyadari bahwa meski suara *tiat-ceng* sangat hebat, suara itu tidak dapat menindih suara seruling yang perlahan namun tegas. Kedua suara itu terdengar bersamaan; jika *tiat-ceng* bagaikan pekik kera di atas gunung atau suara hantu di tengah malam, suara seruling laksana nyanyian burung hong atau bisikan lembut seorang gadis. Keduanya tinggi dan rendah, keras dan pelan, maju dan mundur, sama-sama tidak mau mengalah.