Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 53

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 53

Ia menyingkap tenda lebih tinggi untuk melihat dengan jelas si pembunuh yang kebetulan menoleh, maka ia lantas mengenali bahwa orang itu adalah Sangum, putra Wang Khan.

Orang itu lantas menyusuti goloknya pada sepatu.

"Sekarang kau tidak akan sangsi lagi, bukan?" kata Sangum.

Di sana ada satu orang lain yang berkata, "Saudara angkatku Temuchin pintar dan gagah, belum tentu kau akan berhasil." Sangum tertawa dingin, ia berkata, "Jikalau kau menyayangi kakak angkatmu, nah, pergilah kau melaporkannya!" Orang itu menyahut, "Kau adalah adik angkatku, ayahmu juga memperlakukan aku dengan baik sekali, sudah tentu aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu!" Kwee Ceng mengenali orang itu adalah saudara angkat sehidup semati Temuchin, yaitu Jamukha, dan ia menjadi heran sekali.

Pikirnya, "Mustahilkah mereka bersekutu untuk mencelakai Khan yang agung? Bagaimana ini bisa terjadi?" Lalu terdengar suara orang lain, "Setelah kita berhasil, maka semua ternak, perempuan, dan harta Temuchin akan jatuh ke tangan Sangum, semua bawahannya untuk Jamukha, dan dari pihak kami negara Kim yang besar, Jamukha bakal diangkat menjadi *Tin Pak Ciauw-touw-su*." Pangkat itu adalah pangkat tertinggi untuk wilayah utara dengan tugas memanggil, menaklukkan, dan menghukum pemberontak.

Kwee Ceng tidak melihat dengan jelas muka orang itu karena ia berdiri membelakanginya, maka ia menggeser posisi. Ketika ia melihat dari samping, ia merasa seperti mengenalinya.

Orang itu memakai jubah bulu yang mahal dengan dandanan mewah.

Ia tidak perlu mengingat-ingat lama dan berkata dalam hatinya, "Ah, ialah pangeran keenam dari negara Kim!" Jamukha tertarik dengan janji itu, ia berkata, "Asal saja ayah angkatku Wang Khan memberikan titahnya, aku tentu menurut." Sangum menjadi girang sekali, ia berkata, "Berapa susahnya bagi ayahku untuk memberi titahnya? Sebentar akan aku minta titahnya itu, tidak mungkin ia tidak memberikannya!" Wanyen Lieh, putra keenam Raja Kim itu, berkata, "Negeriku yang besar bakal segera berangkat ke selatan untuk menumpas kerajaan Song. Saat itu kamu berdua masing-masing boleh memimpin dua puluh ribu serdadu untuk membantu. Setelah usahanya berhasil, kamu bakal mendapat hadiah lainnya lagi!" Sangum girang sekali, ia berkata, "Kabarnya negara di selatan itu adalah negeri yang indah permai, seluruh tanahnya penuh dengan emas dan perempuan-perempuannya bagaikan bunga-bunga. Jika Tuan Pangeran mengajak kita bersaudara pergi ke sana, sungguh bagus sekali!" Wanyen Lieh tersenyum.

"Sekarang tolong kedua tuan beritahu aku, cara bagaimana kamu hendak menghadapi Temuchin?" tanyanya.

Selagi Kwee Ceng memasang telinga, ia merasa si imam menarik ujung bajunya. Saat ia menoleh, ia mendapati imam itu menunjuk ke belakang.

Ia lantas berbalik.

Maka ia melihat Bwee Tiauw Hong sedang membekuk satu orang, rupanya sedang menanyakan sesuatu.

"Biar apa pun yang ia lakukan, untuk sesaat ini guru-guruku tidak bakal menghadapi bahaya," pikir Kwee Ceng.

"Biar aku dengarkan persekutuan mereka ini yang hendak mencelakai Khan yang agung." Maka itu ia mendekam terus seraya memasang telinga.

Terdengar Sangum berkata, "Temuchin itu telah menjodohkan putrinya kepada putraku, baru saja ia mengirim utusan untuk membicarakan hari pernikahan." Ia menunjuk orang utusan Temuchin yang telah ia binasakan itu.

Ia melanjutkan kemudian, "Aku sudah lantas mengirim orang untuk memberi balasan, aku minta ia besok datang sendiri untuk berembuk bersama ayahku. Aku percaya ia bakal datang dan tentunya tanpa membawa banyak pengiring, maka itu baiklah kita sembunyikan orang di sepanjang jalan. Temuchin boleh mempunyai tiga kepala dan enam tangan, tidak akan mungkin ia lolos dari jaring perangkapku ini! Ha-ha-haha!" Kwee Ceng kaget dengan berang dan gusar.

Ia tidak menyangka ada orang sedemikian jahat yang hendak membinasakan saudara angkatnya sendiri.

Ia masih hendak mendengar lebih jauh ketika ia merasa si imam menyambarnya untuk ditekan, menyusul kemudian Tiauw Hong berkelebat lewat dengan seseorang yang dikempit di tangannya.

Sekejap saja, si Mayat Besi sudah lewat jauh.

Si imam menarik tangan bocah itu dan pergi meninggalkan kemah beberapa puluh tindak, lalu ia berbisik, "Tiauw Hong sedang mencari orang untuk menanyakan tempat kediaman gurumu. Mari lekas, kalau terlambat bisa gagal!" Kwee Ceng terpaksa menurut, maka bersama-sama mereka lari pesat menuju kemah Kanglam Liok Koay.

Ketika itu hari telah siang.

Di sini si imam berkata, "Sebenarnya aku tidak hendak memperlihatkan diriku, akan tetapi urusan ini begitu penting, bahaya tengah mengancam, tidak dapat aku berkukuh lebih lama lagi. Pergilah kau masuk ke dalam, bilang pada gurumu bahwa Tan-yang-cu Ma Goik mohon bertemu dengan Kanglam Liok Koay." Dua tahun Kwee Ceng mengikuti imam ini, baru sekarang ia mengetahui namanya. Hanya saja ia tetap belum tahu siapa imam yang semestinya sakti ini.

Ia mengangguk, tanpa ayal ia lari ke dalam kemah.

"Suhu!" serunya begitu ia menyingkap tenda.

Baru saja ia memanggil, mendadak ia merasakan dua tangannya sakit karena disambar orang, disusul rasa sakit di kakinya yang kena ditendang, hingga ia rubuh. Setelah itu, sebatang tongkat melayang ke kepalanya!

Bukan main kagetnya ia, apalagi ketika ia mengenali penyerangnya adalah Kwa Tin Ok, gurunya yang nomor satu.

Ia lantas meramkan mata untuk menantikan ajalnya.

Segera setelah itu terdengar suara senjata beradu, disusul satu orang melompat ke arah anak tanggung itu.

Kwee Ceng segera mengenali gurunya yang ketujuh, ialah Han Siauw Eng, yang terus berseru, "Toako, tahan!" Pedang guru itu telah terpental.

Tin Ok menghela napas, ia menancapkan tongkatnya.

"Citmoay, hatimu lemah sekali!" katanya perlahan.

Sekarang Kwee Ceng melihat, orang yang menyambar tangannya adalah Cu Cong dan Coan Kim Hoat.

Ia menjadi sangat bingung.

"Mana dia gurumu yang mengajarkan kau ilmu dalam?" tanya Tin Ok kemudian dengan dingin.

"Dia ada di luar, dia mohon bertemu dengan suhu semua," sahut Kwee Ceng.

Bukan main kagetnya Tin Ok berenam!

Bagaimana mungkin Bwee Tiauw Hong datang di waktu siang hari bolong? Maka bersama-sama mereka melompat keluar tenda.

Tapi di bawah terangnya sinar matahari, di sana mereka melihat seorang imam tua, Bwee Tiauw Hong sendiri tidak ada bayangannya sedikit pun.

"Mana itu siluman perempuan?" Cu Cong membentak muridnya.

"Teecu telah melihat dia tadi, mungkin sebentar lagi dia bakal datang kemari," sahut murid itu.

Kanglam Liok Koay berdiam, lalu mereka mengawasi Ma Giok; mereka berenam menjadi ragu-ragu.

Imam itu bertindak tenang, ia menjura.

"Sudah lama pinto mengagumi tuan-tuan, sekarang kita dapat bertemu, sungguh pinto merasa sangat beruntung," katanya.

Cu Cong melepaskan tangan Kwee Ceng yang masih dipegangnya.

Ia membalas hormat dan berkata, "Tidak berani, mohon tanya gelaran Totiang." Sekarang Kwee Ceng ingat, belum lagi ia menolong si imam menyampaikan berita, ia lantas berkata, "Inilah Tan-yang-cu Ma Goik Ma Totiang." Liok Koay heran, mereka terperanjat.

Mereka tahu Ma Giok adalah murid kepala dari Ong Tiong Yang yang menjadi *kauwcu* atau kepala agama dari Coan Cin Kauw.

Setelah wafatnya Ong Tiong Yang, dengan sendirinya ia menjadi pengganti kepala agama itu. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee adalah adik seperguruan dari Ma Giok ini.

Ia biasanya berdiam di dalam kelentengnya, jarang sekali ia melakukan perjalanan. Oleh karena itu, dalam hal nama ia kalah terkenal dengan Khu Cie Kee, sedang tentang ilmu silatnya, tidak ada orang yang mengetahuinya.

"Kiranya *ciang-kauw* dari Coan Cin Kauw!" kata Tin Ok.

"Maafkan kami! Entah ada pengajaran apa dari *ciang-kauw* sehingga datang ke gurun Utara ini? Adakah kiranya berhubungan dengan janji sutemu mengenai *pibu* di Kee-hin nanti?"

"Suteeku itu adalah seorang pertapa, tetapi ia masih gemar sekali dalam urusan pertaruhan," kata Ma Giok. "Mengenai tabiatnya itu, yang bertentangan dengan agama kami, sudah beberapa kali pinto menegurnya. Mengenai pertaruhan itu sendiri, pinto tidak ingin mencampurinya. Kedatanganku ini adalah untuk urusan lain. Pertama-tama pinto ingin bicara tentang anak ini. Pinto bertemu dengannya pada dua tahun yang lalu, pinto lihat dia polos dan jujur. Dengan lancang, pinto ajari dia cara untuk membantu panjang umurnya. Tentang itu pinto belum mendapat perkenanan tuan-tuan, maka sekarang pinto mohon tuan-tuan tidak berkecil hati."

Liok Koay heran tetapi tidak dapat tidak mempercayainya.

Coan Kim Hoat lantas saja melepaskan cekalannya kepada muridnya itu.

Siauw Eng menjadi girang sekali.

"Adakah Totiang ini yang mengajarkan kamu ilmu?" tanyanya kepada muridnya. "Kenapa kau tidak memberitahukannya dari tadi, hingga kami menjadi keliru menyangka terhadapmu?" Ia mengusap-usap rambut muridnya itu, nampaknya ia sangat menyayanginya.

"Totiang melarang aku bicara," jawab Kwee Ceng kepada gurunya ini.

"Pinto biasa berkelana, tidak suka pinto diketahui orang tentang diriku," Ma Giok berkata. "Itulah sebabnya walaupun pinto berada dekat dengan tuan-tuan, pinto tidak membuat kunjungan. Tentang ini pinto pun memohon maaf." Ia lantas menjura pula.

Kanglam Liok Koay membalas hormat.

Mereka melihat orang ini sangat alim, berbeda daripada saudara-saudaranya, kesan mereka lantas berubah.

Di saat enam saudara ini hendak menanyakan hal Bwee Tiauw Hong, justru itu terdengar suara derap banyak kuda, lalu tampak beberapa penunggang kuda tengah mendatangi ke arah kemah Temuchin.

Kwee Ceng menjadi sangat bingung. Ia tahu itu adalah orang-orangnya Sangum yang hendak memancing Temuchin.

"Toasuhu, hendak aku pergi sebentar, sebentar aku akan kembali!" kata anak muda itu dalam bingung dan khawatirnya.

"Jangan, jangan pergi!" cegah Tin Ok. "Kau berdiam bersama kami." Tin Ok mencegah karena ia menyesal atas perbuatannya yang sembrono tadi.

Ia menjadi sangat menyayangi muridnya ini, karena itu ia menjadi khawatir terhadap ancaman bahaya dari pihak Bwee Tiauw Hong.

Bagaimana kalau si Mayat Besi datang dengan tiba-tiba? Kwee Ceng jadi semakin bingung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment