Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 95

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 95

Setelah itu, ia berkata kepada Bwee Tiauw Hong, "Kau masih harus melakukan satu hal lagi. Jika tidak, kau boleh menyiksaku, aku akan tutup mulut!"

"Masih ada apalagi?!" tanya Tiauw Hong yang murka.

"Aku punya seorang sahabat, seorang nona kecil," sahut si anak muda itu. "Sahabatku itu sedang dikejar-kejar lawannya. Kau mesti turun tangan untuk menolongnya!"

"Hm!" Tiauw Hong mendengus ejek. "Bagaimana aku bisa mengetahui di mana sahabatmu itu berada? Sudah, jangan ngoceh terus! Lekas jelaskan ilmu itu!"

Dia pun kembali menekan tubuh Kwee Ceng. Kwee Ceng menahan sakit; hatinya cemas dan mendongkol. Ia membandel. "Kau mau menolong atau tidak, terserah padamu!" katanya keras.

"Aku mau bicara atau tidak, terserah padaku!" Tiauw Hong kewalahan. "Baiklah, bocah. Aku menerima permintaanmu," ucapnya. "Bocah cilik bau, aku tidak menyangka Bwee Tiauw Hong, seorang jago yang telah malang melintang di kolong langit ini, sekarang mesti menyerah kepada..."

Kwee Ceng tidak menyahuti, ia hanya berseru, "Yong-jie, kemari! Yong-jie! Yong-jie!"

Baru dua kali Oey Yong dipanggil, tiba-tiba ia muncul dari balik gerombolan pohon mawar di samping mereka. Ia menyahut, "Sudah lama aku ada di sini."

Memang nona itu sudah lama bersembunyi di sana, sehingga ia mendengar percakapan antara Tiauw Hong dan Kwee Ceng. Ia merasa terharu dan tertarik kepada si pemuda yang begitu perhatian dan menyayanginya. Tanpa sadar, air matanya meleleh di kedua belah pipinya yang halus. Namun, ia tidak terus menangis, ia lantas berkata kepada Bwee Tiauw Hong, "Bwee Jiak Hoa, lekas kau merdekakan dia!"

Kwee Ceng heran, begitu pula Bwee Tiauw Hong. Bwee Jiak Hoa adalah nama asli Tiauw Hong sebelum ia berguru, nama yang tidak dikenal kaum persilatan. Nama itu pun sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. Sekarang, saat mendengar namanya disebut, Tiauw Hong terperanjat.

"Kau siapa?" tanyanya dengan suara gemetar.

Oey Yong menjawab, "Di dalam tumpukan cita menyembunyikan pedang mustika, dalam suara seruling dan tambur ada si bintang tetamu... Aku bermarga Oey."

Tiauw Hong semakin kaget. "Kau... kau..." tanyanya membentak.

"Bagaimana denganmu?" balas Oey Yong. "Masih ingatkah kau kepada puncak Cek Cui Hong, gua Twie In Tong, dan paseban Sie Kiam Teng dari pulau Tho-hoa-to di Laut Timur?"

Tiauw Hong terdiam, ia merasa tubuhnya melayang. Semua tempat itu adalah tempat ia biasa pesiar semasa masih belajar silat. Ia heran mendengar semua itu disebut.

"Ada hubungan apa kau dengan Oey Suhu, yang namanya Yok di atas dan Su di bawah?" tanyanya kemudian.

"Bagus!" seru si nona. "Kau ternyata belum melupakan ayahku! Tapi ayahku juga belum melupakanmu! Dia telah datang sendiri untuk menjengukmu!"

Tiauw Hong ingin bangkit, tetapi kakinya tidak menurut. Ia menjadi kaget seolah semangatnya terbang. Ia bingung sekali.

"Lekas lepaskan dia!" seru Oey Yong.

Tiba-tiba Tiauw Hong teringat, "Selama ini suhu tidak pernah meninggalkan Tho Hoa To, bagaimana mungkin dia bisa datang kemari? Bukankah aku sedang diperdaya?"

Menyaksikan keraguan tersebut, Oey Yong melompat tinggi setombak lebih. Saat melompat, ia memutar tubuh dua kali sebelum menyerang ke arah Tiauw Hong. Itulah jurus "Burung Garuda Terbang ke Langit" dari *Cwie-sim-ciang*.

Sembari menyerang, ia bertanya, "Kau telah mencuri kitab *Kiu Im Cie Keng*, apakah kau mengerti jurus ini?"

Tiauw Hong merasakan angin serangan itu dan mengangkat tangannya untuk menangkis seraya berkata, "Sumoay, marilah kita bicara baik-baik! Di mana suhu?"

Oey Yong tidak segera menjawab. Saat tubuhnya turun, ia mengulurkan tangan untuk menyambar Kwee Ceng agar bisa ditarik menjauh.

Memang Oey Yong adalah putri dari Oey Yok Su, pemilik pulau Tho-hoa-to di Laut Timur. Ia adalah anak tunggal yang sangat disayang. Ibunya meninggal dunia karena kesulitan bersalin saat melahirkannya. Dalam kedukaannya, Oey Yok Su menghibur diri dengan merawat dan memanjakan putrinya dengan bantuan sejumlah pelayan. Karena sangat disayang, ia menjadi nakal. Ia sangat cerdas, tetapi dalam pelajaran ilmu silat, ia kurang bersungguh-sungguh karena ayahnya tidak memaksanya. Maka, walaupun Oey Yok Su adalah jago yang lihai, anaknya baru mendapat permulaan dari kepandaian tersebut.

Pada suatu hari, Oey Yong pesiar di pulaunya dan tiba di gua tempat ayahnya mengurung musuhnya. Ia bicara dengan musuh itu dan memberinya sedikit arak. Belakangan, Oey Yok Su mengetahui perbuatan anaknya dan menegurnya. Karena belum pernah ditegur, Oey Yong merasa tidak senang, lalu ia pergi kabur dengan menaiki rakit kayu.

Ia menyamar sebagai pemuda melarat dan pergi ke mana pun ia suka. Sampai di Kalgan, di luar dugaannya, ia bertemu Kwee Ceng. Keduanya tertarik satu sama lain hingga menjadi sahabat erat. Oey Yong pernah mendengar ayahnya bercerita tentang Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua murid ayahnya, sehingga ia tahu nama asli Tiauw Hong.

Tentang kata-katanya tadi, itulah nyanyian Oey Yok Su yang sering dinyanyikan sehingga setiap muridnya mengenalnya dengan baik. Ia sengaja menyebutkannya untuk menggertak Tiauw Hong. Benar saja, Tiauw Hong menjadi takut dan melepaskan Kwee Ceng.

Tiauw Hong masih berpikir, "Suhu telah datang, entah dengan cara apa ia akan menghukumku?" Mukanya menjadi pucat saat membayangkan kebengisan Oey Yok Su. Ia buta, tetapi seolah membayangkan gurunya yang berbaju kuning muda sedang berdiri di hadapannya dengan membawa pacul kecil untuk menggali obat-obatan.

Mendadak tubuhnya lemas seolah ilmunya hilang. Ia mendekam ke tanah seraya berkata, "Teecu tahu dosaku berlimpah, tetapi mohon Sudikah guru mengampuni teecu dari hukuman mati, mengingat mata teecu telah buta dan separuh tubuhku cacat?"

Kwee Ceng heran menyaksikan orang yang biasanya galak dan kejam itu menjadi demikian ketakutan dan pasrah. Oey Yong tertawa dalam hati. Ia menarik tangan Kwee Ceng dan menunjuk ke luar jendela, mengajak sahabatnya itu lari menyingkir dari istana.

Kwee Ceng baru menoleh ke tembok tatkala mendengar suara seruan yang disusul tertawa panjang. Di sana muncul seseorang yang sedang menggoyang-goyangkan kipas.

"Anak baik, aku tidak bisa kau kelabui!" ucap orang itu sambil tertawa.

Oey Yong mengenali Auwyang Kongcu. Ia tahu orang itu memiliki ilmu silat tinggi dan hendak membekuknya. Ia mengerti bahwa ia sulit lolos, tetapi ia sangat cerdik. Ia segera menghadapi Bwee Tiauw Hong dan berkata, "Bwee Suci, ayah paling mendengar perkataanku. Sebentar lagi aku akan memohonkan ampun kepadamu. Hanya saja, sekarang kau mesti melakukan jasa baik supaya ayah mau mengampunimu."

"Jasa baik apa itu?" tanya Bwee Tiauw Hong.

"Ada orang busuk yang menghina aku," terang Oey Yong. "Aku akan berpura-pura tidak sanggup melawan, kaulah yang mesti menghajarnya. Sebentar lagi saat ayah datang dan melihat kau membantuku, hatinya tentu girang."

Tiauw Hong bersedia membantu. Perkataan *sumoay*-nya itu memberikan harapan hingga semangatnya bangkit dengan mendadak. Sementara itu, Auwyang Kongcu datang bersama keempat murid wanitanya. Begitu tiba di depan mereka, Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng untuk berlindung di belakang Bwee Tiauw Hong.

Auwyang Kongcu melihat Tiauw Hong yang sedang duduk di tanah. Ia mengulurkan tangan untuk menyambar Oey Yong. Mendadak, ia merasakan angin menyambar ke arah dadanya. Ia melihat tangan si wanita menyambar dengan hebat dan ia kaget bukan main. Belum pernah ia mendapat serangan sehebat itu. Dengan cepat, ia mengetok lengan si wanita dengan kipasnya dan melompat mengelak. Walaupun begitu, ia masih kurang cepat; ujung bajunya robek dan kipasnya patah menjadi dua.

Yang membuatnya sangat terkejut adalah keempat muridnya telah roboh. Saat ia memeriksa, mereka semua telah mati dengan otak yang dilubangi lima jari. Itulah cengkeraman *Kiu Im Pek-kut Jiauw*.

Kongcu itu menjadi murka. Tanpa banyak bicara lagi, ia melompat maju untuk menyerang Bwee Tiauw Hong dengan kepandaian istimewanya, yaitu *Sin To Soat San Ciong* atau "Unta Sakti Gunung Salju". Bwee Tiauw Hong melawan dengan *Kiu Im Pek-kut Jiauw*. Kedua tangannya bergerak panjang dan pendek, sambungan tulang-tulangnya mengeluarkan suara meretak hingga Auwyang Kongcu tidak berani merapatkan diri.

Oey Yong hendak menggunakan kesempatan itu untuk menyingkir, namun tiba-tiba ia mendengar bentakan di belakangnya yang disusul serangan dua tangan. Itulah Hauw Thong Hay yang telah datang dan langsung menyerang ke arah muka, sebab ia tahu si nona mengenakan lapis berduri. Segera setelah itu, datang pula See Thong Thian bersama Nio Cu Ong dan Pheng Lian Houw.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment