Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 148

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 148

"Hu-ong, mari bersembunyi di sini terus," kata Yo Kang.

"Kalau kita keluar sekarang, ada kemungkinan kita terlihat oleh mereka. Tidak mungkin mereka menyangka kita berada di sini. Setelah mereka pergi jauh, barulah kita beranjak." Wanyen Lieh mengangguk.

"Benar, Anak Kang," sahutnya. "Kenapa kau memanggil aku hu-ong dan bukan ayah?" Yo Kang tidak menjawab. Ia teringat almarhum ibunya, pikirannya bekerja keras.

"Apakah kau sedang memikirkan ibumu?" tanya Wanyen Lieh. Ia memegang tangan Yo Kang, dan tangan itu terasa dingin bagaikan es. Dengan perlahan-lahan, Yo Kang menarik tangannya.

"Pemuda bermarga Kwee itu bernama Kwee Ceng, ia sangat gagah," beritahu Yo Kang. "Untuk membalas sakit hati ayahnya, ia bakal mencelakai hu-ong. Untuk itu, dia akan menggunakan segala daya upaya. Dia pun mempunyai banyak sahabat. Maka dari itu, dalam setengah tahun ini, sebaiknya hu-ong jangan pulang ke Pak-khia."

"Benar, baiklah kalau aku menyingkir daripadanya," sahut pangeran itu. "Apakah kau pernah pergi ke Lim-an? Apakah kata Perdana Menteri Su?"

"Aku belum pergi ke sana," jawab Yo Kang dengan suara tawar. Mendengar nada bicara itu, Wanyen Lieh menduga anak ini telah mengetahui asal-usul dirinya. Ia hanya heran, mengapa ia justru ditolong. Selama delapan belas tahun, keduanya menjadi ayah dan anak yang saling menyayangi, akan tetapi pada detik ini, di dalam sebuah kamar, Yo Kang merasakan ada permusuhan hebat di antara mereka. Yo Kang bimbang, terombang-ambing di antara kecintaan dan kebencian.

*Asal aku menggerakkan tanganku, pasti sudah dapat aku membalas sakit hati ibuku,* pikir Yo Kang. *Tetapi, bagaimana aku dapat turun tangan? Lagi pula, apakah benar aku selamanya tidak sudi menjadi putra raja? Apakah aku harus hidup seperti Kwee Ceng, yang harus merantau terus?*

Wanyen Lieh seperti dapat menerka isi hati Yo Kang. "Anak Kang, kita pernah menjadi ayah dan anak, maka itu untuk selamanya, kau tetap anakku yang aku cintai," katanya. "Negara Kim kita, tak usah sampai sepuluh tahun, bakal dapat merampas kerajaan Song. Maka itu, saat kekuasaan besar berada di tanganku, kebahagiaan kita tidak ada batasnya. Negara yang luas dan indah ini adalah kepunyaanmu!"

Yo Kang dapat menangkap maksud ayahnya yang hendak menguasai kerajaan. Hatinya terguncang mendengar kata-kata "kebahagiaan yang tak ada batasnya". Ia berpikir, *Dengan ketangguhan kerajaan Kim sekarang, memang gampang untuk menaklukkan kerajaan Song. Hu-ong pun sangat cerdas dan pandai bekerja; raja saat ini pun tidak dapat melawannya. Kalau usaha hu-ong ini berhasil, bukankah aku akan menjadi raja di kolong langit ini?* Dengan pemikiran itu, darahnya mendidih. Ia mencengkeram tangan Wanyen Lieh dengan keras.

"Ayah, anakmu akan membantu kau membangun usahamu yang besar!" janjinya.

Wanyen Lieh merasakan tangan pemuda itu panas dan ia girang bukan main. "Aku menjadi Lie Yan, kau menjadi Lie Sie Bin!" katanya. Lie Yan dan Lie Sie Bin adalah ayah dan anak dalam pendiri kerajaan Tong.

Selagi Yo Kang hendak menjawab, tiba-tiba ia mendengar suara berkeresek di belakangnya. Keduanya terkejut dan segera berpaling. Cahaya terang mulai menembus jendela, memperlihatkan tujuh atau delapan peti mati berisi jenazah yang menanti tanggal penguburan. Bagian belakang rumah abu ini ternyata digunakan sebagai kamar penyimpan jenazah.

"Suara apakah itu?" tanya Wanyen Lieh dengan hati berdebar.

"Rupanya tikus," sahut anaknya.

Namun, segera terdengar suara bincang dan tawa Oey Yong dan Kwee Ceng yang lewat di luar kamar itu. Mereka mencari Wanyen Lieh sambil membicarakan kopiah emas yang mereka temukan.

*Celaka!* pikir Yo Kang. *Kenapa aku tidak tahu kopiah hu-ong terjatuh?* Ia lantas membisiki ayahnya, "Aku akan memancing mereka pergi." Ia mendorong daun pintu, melompat keluar, lalu naik ke genting.

Oey Yong melihat bayangan orang berkelebat. "Bagus! Dia di sini!" serunya, lalu ia melompat menyusul. Namun, sesampainya di ujung rumah, bayangan itu lenyap. Kwee Ceng mendengar suara si nona dan segera menghampirinya.

"Dia tidak bakal lolos, tentu dia bersembunyi di dalam sana," kata Oey Yong.

Selagi keduanya hendak menerobos masuk ke dalam pepohonan lebat, dedaunan bergerak dan tersingkap; di situ muncul Yo Kang. Kwee Ceng kaget dan heran.

"Eh, Adik, kau pergi ke mana?" tanyanya. "Apakah kau melihat Wanyen Lieh?"

"Kenapa Wanyen Lieh ada di sini?" Yo Kang balik bertanya dengan nada heran.

"Dia datang kemari memimpin pasukan serdadunya," sahut Kwee Ceng. "Ini kopiahnya."

"Oh, begitu!" Yo Kang berpura-pura. Oey Yong mengawasi wajah Yo Kang dan merasa curiga.

"Kami mencari kau, ke mana kau pergi?" tanya Oey Yong.

"Kemarin aku salah makan, perutku mulas," sahut Yo Kang. "Aku buang air di sana," ia menunjuk ke arah gerombolan pohon. Oey Yong tidak bertanya lagi, tetapi ia tetap menaruh curiga.

"Adik Kang, mari kita lekas mencari!" ajak Kwee Ceng.

Hati Yo Kang berdebar. Ia menduga-duga apakah Wanyen Lieh sudah kabur atau belum. Ia berusaha menenangkan diri agar kecemasannya tidak terlihat. "Dia datang mengantarkan nyawa, itu bagus!" katanya. "Pergilah Toako bersama Nona Oey mencari ke timur, aku akan mencari ke barat."

"Baik," sahut Kwee Ceng yang terus pergi ke jurusan timur. Di sana ia mendorong daun pintu kamar Ciat-hauw-tong, ruang kebaktian dan kesucian diri.

Oey Yong berkata, "Yo Toako, mungkin ia bersembunyi di barat, mari aku turut kau memeriksa ke sana."

Yo Kang khawatir bukan main, tetapi ia menjawab, "Mari lekas, jangan memberinya waktu untuk kabur!" Ia pun mendahului untuk menggeledah setiap kamar, namun sengaja menghindari kamar penyimpanan jenazah.

Keluarga Lauw di Po-eng adalah keluarga besar di zaman Song, maka rumah abunya pun besar luar biasa, meski gedung itu sempat mengalami kerusakan akibat peperangan. Hati Oey Yong merasa aneh memandangi rumah abu itu. Ia melihat Yo Kang memasuki kamar-kamar yang berdebu dan memeriksa dengan teliti. Saat sampai di kamar barat yang debunya tebal, di mana terdapat banyak jejak kaki dan tangan di pintu, ia mendadak berseru, "Di sini!"

Kwee Ceng dan Yo Kang mendengar suaranya; yang satu girang, yang lain kaget. Mereka berlari memburu. Oey Yong menendang pintu hingga terbuka, namun ia berdiri melongo saat melihat isi kamar itu hanyalah beberapa peti mati.

Yo Kang lega. Ia percaya Wanyen Lieh sudah lolos. Namun, ia berpura-pura maju ke depan sambil berseru, "Wanyen Lieh, manusia licin, di mana kau bersembunyi? Lekas keluar!"

"Yo Toako, dia sudah mendengar suara kita sejak tadi!" kata Oey Yong sambil tertawa. "Tak usah kau begitu baik hati memberitahukan kedatangan kita kepadanya!"

Yo Kang gusar karena rahasia hatinya terbongkar. "Nona Oey, kenapa kau bergurau begini padaku?" katanya dengan muka merah.

Kwee Ceng tertawa. "Jangan dimasukkan ke hati, Adikku. Yong-jie hanya main-main saja." Ia lantas menunjuk ke lantai. "Lihat, itulah bekas orang duduk! Benar-benar ia pernah datang kemari!"

"Lekas kejar!" seru Oey Yong. Ia hendak memutar tubuh, namun tiba-tiba terdengar bunyi nyaring di belakang mereka. Ketiganya terkejut dan segera berbalik. Mereka melihat sebuah peti mati bergerak-gerak.

Oey Yong memiliki nyali besar, tetapi terhadap peti mati, hatinya gentar, maka ia segera memegangi tangan Kwee Ceng. Pemuda itu tercengang sebentar, lalu berkata, "Jangan takut, Yong-jie, si jahanam berada di dalam peti mati!"

"Lihat, ia lari ke sana!" seru Yo Kang sambil menunjuk ke arah luar. Ia sangat pintar, ia segera melompat untuk mengejar.

Oey Yong tetap mencurigai Yo Kang; ia menyambar tangan pemuda itu, hendak mencekal nadinya. "Jangan kau main gila!" katanya dengan tertawa dingin. Nona Oey jauh lebih lihai; saat dicekal tangannya, Yo Kang merasakan tubuhnya lemas hingga tidak bisa bergerak, namun ia tetap tenang.

"Eh, kau mau apa?" tanyanya berpura-pura.

"Engko Ceng, apakah itu di dalam peti mati?" tanya Oey Yong pada kawannya tanpa memedulikan Yo Kang.

"Aku rasa dialah si jahanam!" sahut Kwee Ceng.

"Kau menakut-nakuti aku?" kata Oey Yong kepada Yo Kang. Ia masih penasaran, tetapi mengenai peti mati itu, ia tetap bimbang karena khawatir akan "mayat hidup". Ia memperingatkan, "Hati-hati, Engko Ceng..."

Kwee Ceng sudah bertindak menghampiri ketika ia menghentikan langkahnya. "Apa katamu?" tanyanya.

"Kau tutup saja peti itu supaya makhluk di dalamnya tak dapat keluar," saran Oey Yong.

"Mana ada mayat hidup?" kata Kwee Ceng tertawa. Ia tahu kekasihnya itu ketakutan, lalu ia melompat ke peti mati itu. "Dia tidak bisa merayap keluar!" Di zaman Song, umumnya orang sangat percaya pada hantu atau setan.

"Engko Ceng," kata si nona masih dengan keraguan, "Nanti aku coba menyerang dengan pukulan Memukul Udara. Tidak peduli dia mayat hidup atau Wanyen Lieh, mari kita dengar jeritan atau tangisannya." Sembari berkata, si nona maju dua tindak dan mengerahkan tenaganya. Dalam ilmu pukulan Pek-hong-ciang, ia belum semahir Liok Seng Hong, karena itu ia perlu berada lebih dekat.

Belum lagi serangannya dikeluarkan, mendadak ia mendengar tangisan bayi dari dalam peti itu. Ia kaget hingga melompat mundur, tubuhnya menggigil, dan mulutnya mengeluarkan seruan tertahan, "Setan perempuan!"

Kwee Ceng justru berani. "Adik Yo, mari kita buka tutup peti ini!" ajaknya.

Yo Kang tengah bermandi keringat dingin karena cemas. Untuk membantu Wanyen Lieh, ia merasa takut terhadap dua muda-mudi lihai ini. Namun, betapa leganya hati Yo Kang saat mendengar tangisan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment