Chapter 07
Tiat Sim berlari menuju wanita itu dengan kegirangan karena ia dapat menemukan istrinya. Sek Yok terkejut dan gembira, ia melompat ke dalam pelukan suaminya. "Di mana Enso?" Tiat Sim bertanya. Dia lalu mengingat istrinya, Siauw Thian. "Ia ada di sebelah depan, ia juga dibawa lari oleh serdadu jahanam itu!" jawab Pauw-sie.
Ketika Tiat Sim menoleh, ia melihat sebuah barisan lain mendekat. "Toako telah menemui ajalnya, aku harus menolong Enso!" kata adik angkatnya, ia berbicara dengan istrinya. "Turunan toako harus dilindungi. Jika Thian mengasihi kita, kita berdua dapat bertemu lagi?" Sek Yok merangkul leher suaminya dengan keras, ia menangis dengan sedih. "Kita tidak bisa berpisah!" katanya. "Kau sendiri yang bilang, jika kita harus binasa, kita harus binasa bersama! Bukankah benar kau pernah mengatakan demikian?" Tiat Sim memeluk istrinya, hatinya sangat sedih.
Tapi ia tiba-tiba mengeras hati, ia menolak dengan keras, ia menyambar tombaknya, dan berlari. Ketika ia sudah berlari beberapa puluh langkah, ia melihat istrinya menangis bergulingan di tanah, dan barisan serdadu yang mendekati istrinya itu. Ia mengusap mukanya, peluhnya bercampur dengan darah. Ia berlari lagi.
Tekadnya sudah bulat untuk menolong Lie-sie. Di sebelah depan, ia dapat merebut seekor kuda, maka ia menjadi lebih semangat. Keberuntungan ia dapat menangkap satu serdadu, atas pertanyaannya, serdadu itu bilang Lie-sie berada di sebelah depan. Maka ia memacu kudanya.
Tiba-tiba dari samping jalan, di mana ada perpohonan lebat, terdengar cacian seorang wanita. Ia segera menahan kudanya, yang ia putar untuk mendekati tempat lebat itu. Dengan tombaknya, ia menyingkap cabang-cabang pohon. Maka di hadapannya terlihat dua serdadu sedang menyeret-nyeret Lie-sie. Tidak ampun lagi, Tiat Sim menikam mereka satu demi satu.
Lie-sie berbangkit dengan rambut kusut dan pakaian penuh tanah tidak karuan. Di waktu begitu, tidak ada waktu untuk berbicara banyak, maka Tiat Sim mengangkat tubuh iparnya itu, dan memasukkannya ke atas kudanya, untuk mereka menunggang bersama. Ia berlari balik untuk mencari istrinya di tempat di mana tadi mereka berpisah.
Untuk kedukaannya, ia tidak dapat menemukan Pauw-sie, tempat itu sunyi senyap dari segala apa. Ia turun dari kudanya untuk memeriksa tanah. Ketika itu sudah fajar. Ia melihat tapak-tapak kaki dan tanda bekas orang diseret, maka sakitlah hatinya. Ia percaya istrinya telah jatuh pula ke dalam tangan musuh.
"Mari!" katanya seraya melompat naik ke atas kudanya, yang ia terus kasih lari, perut kudanya pun dijepit hingga binatang itu kesakitan dan berlari kabur. Sedang kuda berlari keras, tiba-tiba dari samping jalan muncul belasan orang yang hitam semua pakaiannya, orang yang terdengar segera menyerang dengan tombaknya.
Tiat Sim sempat menangkis, dapat ia menikam. Orang itu gesit, ketika ia membuat perlawanan, nyata permainan tombaknya pun lihay. Hal ini membuat heran kepada orang she Yo itu. Pernah Tiat Sim dan Siauw Thian berbicara tentang ilmu silat, bahwa di jamannya kawanan Liang San, Pek-lek-hwee Cin Beng adalah yang terlihay ilmu tombaknya, tetapi di jamannya itu orang Kim-lah yang terkenal.
Maka itu sekarang ia curigai lawannya itu ada satu perwira Kim. Ia hanya heran, kenapa perwira Kim bisa muncul di situ. Tapi ia tidak bisa berpikir lama-lama, ia lantas menyerang dengan hebat. Kali ini ia berhasil membuat lawan itu terjungkal, karena mana barisan serdadunya lantas kabur.
Segera Tiat Sim menoleh, hatinya lega akan dapatkan iparnya tak kurang satu apapun. Ia masih mengawasi iparnya itu ketika "Ser!" sebatang panah menyambar kepadanya, menyambar dari arah pepohonan yang lebat, hingga ia tidak sempat menangkis atau berkelit, panah itu tembus di punggungnya.
"Encek, kau kenapa?" tanya Lie-sie kaget. Tiat Sim tidak menyahuti, hanya di dalam hatinya ia kata: "Aku tidak sangka bahwa aku bakal habis di sini. Sebelum aku terbinasa, aku mesti labrak dulu musuh, supaya enso dapat lolos!" Ketika ia gerakkan tombaknya, ia menjadi kaget. Ia merasa sakit hingga ke peparunya.
"Cabut panah ini!" ia kata. Lie-sie tapi hatinya lemah, tenaganya tidak ada, tak dapat ia menolong. Tiat Sim lantas mendekam di atas kudanya, tangan kirinya diapakai mencekal gagang panah, dengan satu kali sentak, ia cabut panah itu terus ia pandangi.
Anak panah itu nancap dalam kira tiga dim, gagangnya memakai bulu burung rajawali, batangnya terbuat dari perunggu. Itu bukanlah sembarang panah. Tempo ia memeriksa lebih jauh, pada gagang itu ada terukir tiga huruf "Wanyen Lieh". Ia terkejut.
"Wan-yen" itu adalah she, yaitu nama keluarga dari bangsa Kim, dari golongan keluarga raja. Biasanya dari raja hingga jenderalnya, bangsa itu memakai nama keluarga tersebut. "Bagus!" serunya. "Benar-benar si pembesar jahanam itu telah bersekongkol sama bangsa asing, bersama-sama mereka mencelakai rakyat negeri!" Ia serahkan panah itu kepada Lie-sie.
"Enso ingat baik-baik nama ini!" ia pesan. "Pesanlah anakmu untuk menuntut balas!" Habis berkata, ia putar tombaknya, ia menerjang ke antara musuh, tetapi darah di punggungnya membanjir keluar, tiba-tiba matanya menjadi gelap, tak dapat ia menahan diri lagi, ia rubuh dari kudanya.
Hatinya Pauw-sie sakit bagai disayat-sayat karena tolakan suaminya, tempo ia mengawasi suaminya itu, sang suami sudah lantas lenyap, di pihak lain, rombongan serdadu telah mendatangi ke arahnya. Ia mencoba lari, tetapi sudah kecapean, ia kena kecandak dan ditawan, tubuhnya segera dikasih naik ke atas seekor kuda.
"Saudara kita!" berkata satu perwira sambil tertawa. "Tapi sekarang kita toh peroleh hasil!" kata satu perwira lain. "Eh, sahabatku Ciong, untuk cape kita ini kita bakal dapat persen tiga atau empat puluh tail perak!" "Hm!" menyahut si Ciong itu. "Aku harap asal saja potongannya dikurangi sedikit!" Terus ia menoleh kepada barisannya, akan beri titahnya: "Kumpulkan barisan!" Serdadu tukang terompet sudah lantas kasih dengar suara alat tiupnya.
Pauw-sie menangis tersedu-sedu, ia lebih memikirkan suaminya yang ia tidak tahu bagaimana jadinya. Ketika itu sang fajar telah tiba, di jalan sudah ada beberapa orang yang berlalu lintas, akan tetapi mereka nampak serdadu, mereka lalu menyingkir jauh-jauh. Mulanya Pauw-sie berkhawatir sangat kawanan serdadu itu nanti perlakukan kasar atau kurang ajar terhadapnya, kemudian ia merasa sedikit lega.
Ia tidak saja tidak diganggu, ia malah diperlakukan dengan manis dan hormat. Barisan ini baru berjalan beberapa lie, tiba-tiba mereka dicegat oleh belasan orang yang mengenakan pakaian serba hitam, yang semua berbekal senjata. Mereka itu muncul dengan tiba-tiba dari pinggir jalan.
Seorang yang berada di paling depan sudah lantas kasih dengar suaranya yang bengis: "Kawanan serdadu tak tahu malu dan kejam, tukang ganggu rakyat, kamu semua turun dari kuda kamu dan serahkan diri!" Perwira yang pimpin barisan itu menjadi gusar. "Kawanan berandal dari mana yang berani mengacau di wilayah kota raja!" dia balas membentak. "Lekas menggelinding pergi!" Pihak baju hitam itu tidak menggubris bentakan itu, sebaliknya mereka buktikan ancaman mereka, ialah tanpa bilang suatu apa lagi, mereka maju menerjang, dengan begitu pihak jadi bertempur kalut.
Kawanan baju hitam itu berjumlah lebih kecil akan tetapi mereka mengerti ilmu silat dengan baik, dengan begitu pertempuran menjadi berimbang. Menyaksikan pertempuran itu, diam-diam Pauw-sie bergirang. "Bukankah mereka ini adalah kawan-kawannya suamiku, yang mendengar kabar dan telah datang menolong?" demikian ia menduga-duga.
Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba satu panah nyasar menyambar punggung kudanya Pauw-sie. Binatang itu kaget dan kesakitan, ia berlompat dan lari kabur. Sek Yok kaget dan ketakutan, ia mendekam di kudanya itu yang lehernya ia peluki keras-keras. Ia takut jatuh.
Kuda itu kabur terus hingga beberapa lie, sampai di sebelah belakangnya, terdengar datangnya kuda lain, lalu tertampak satu penunggang kuda datang memburu. Cepat sekali larinya kuda pengejar ini segera ia menyandak dan lewat di samping Pauw-sie, si penunggangnya sendiri sambil melarikan kudanya itu memutar sehelai dadung panjang di atasan kepalanya, apabila ia melepaskan sebelah tangannya, dadung itu ialah lasso, lantas menyambar ke kudanya Sek Yok.
Sekarang kedua kuda jadi lari berendeng, si penunggang kuda menahan dengan perlahan-lahan, dari itu sesaat kemudian kedua kuda itu larinya perlahan, akan akhirnya selang beberapa puluh lie, kuda si penunggang berhenti dengan tiba-tiba, sebab mulutnya penunggang itu perdengarkan tanda. Dengan begitu kuda Sek Yok pun berhenti seketika.
Kuda itu meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya. Pauw-sie kaget dan ketakutan, ia pun ngantuk dan lelah, karena kuda itu berlompat berdiri habislah tenaganya, tak dapat ia memeluki lagi leher kuda lantas saja ia rubuh ke tanah dan pingsan.
Ia mendusin setahu beberapa lama kemudian, ia hanya dapatkan tubuhnya rebah di atas sebuah pembaringan yang empuk kasurnya dan tubuhnya pun dikerebongi selimut kapas yang membuat ia merasa hangat. Ia buka matanya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat ialah langit kelambu kembang.
Maka sadarlah ia yang ia telah tidur di atas pembaringan. Ia menoleh ke samping, ia dapatkan sebuah meja dan satu pelita. Di tepi pembaringan berduduk satu orang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Kapan pria itu melihat orang mendusin dan tubuhnya bergerak, lekas-lekas ia bangun berdiri, untuk singkap kelambu dan menggantungnya.
"Oh, kau sudah mendusin?" pria itu tanya, perlahan suaranya. Biar bagaimana, Sek Yok belum sadar sepenuhnya. Samar-samar ia seperti kenal pria itu, maka ia mengawasi. Si pria ulur tangannya, untuk meraba jidat si nyonya.
"Oh, panas sekali!" katanya. "Tabib akan segera datang?" Sek Yok meramkan pula matanya, terus ia tidur pula. Ia baru sadar tempo dengan samar-samar ia merasa orang pegang nadinya, disusul mana orang memberi ia makan obat.