Chapter 15
Orang yang pertama kali tiba di restoran adalah si kate terokmok yang menunggang kuda jempolan. Ia adalah Ma Ong Sin Han Po Kie, atau si Malaikat Raja Kuda.
Dialah yang ketiga.
Orang tani yang membawa pikulan adalah yang keempat, yaitu Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin, atau si Tukang Kayu dari Lam San (Gunung Selatan).
Yang kelima, yang tubuhnya kekar tegap mirip pembantai, adalah Siauw Mie To Thio A Seng, atau si Buddha Tertawa.
Yang keenam adalah orang yang mirip pedagang, bernama Coan Kim Hoat, bergelar Lauw-sie In Hiap, atau Pendekar Sembunyi di Kota.
Nona nelayan adalah Wat Lie Kiam Han Siauw Eng, atau si Ahli Pedang Gadis Wat. Ia adalah yang termuda dari Kanglam Cit Koay.
Selama Ciauw Bok Taysu memperkenalkan, Khu Cie Kee tetap memegang wadah arak istimewanya. Ia sama sekali tidak tampak lelah. Beberapa orang yang melihat kejadian itu, tanpa ada kecelakaan sedikit pun, diam-diam naik ke loteng untuk berbicara.
Mereka berkata, "Kami menonton." Setelah perkenalan itu, Kwa Tin Ok mendahulukan ketujuh saudaranya untuk berbicara. "Sudah lama kami mendengar Totiang lihai ilmu silatnya, baik ilmu silat tangan kosong maupun bersenjatakan pedang. Tidak ada tandingannya, hingga kami sangat mengaguminya."
"Sementara itu, Ciauw Bok Taysu juga adalah seorang sahabat sejati. Maka, walaupun Totiang berdua berasal dari dua golongan yang berbeda, satu Hud-kauw yang lain To-kauw, tetap kedua-duanya adalah orang-orang Rimba Persilatan."
"Oleh karena itu, kami tidak tahu, dalam hal apakah Taysu telah berbuat salah terhadap Totiang. Umpama kata Totiang sudi memandang rendah kami bertujuh saudara, ingin sekali kami menjadi juru pendamai, supaya perselisihan dapat disingkirkan, untuk kita minum arak bersama. Sudikah kau, Totiang?"
"Sebenarnya, aku dan Ciauw Bok Taysu tidak kenal satu sama lain, dan kita juga tidak punya dendam dan tidak punya permusuhan," sahut Khu Cie Kee. "Oleh karena itu, asal Taysu sudi menyerahkan dua orang kepada kami, pastilah lain hari kami akan berkunjung ke Hoat Sian Sie untuk menghaturkan maaf."
"Siapakah orang yang harus diserahkan?" tanya Kwa Tin Ok.
"Dua sahabatku," sahut Tiang Cun Cu, menjelaskan. "Mereka telah difitnah dan dicelakai oleh pembesar negeri yang bekerja sama dengan tentara bangsa Kim. Tidak beruntung bagi mereka, mereka telah menemui kebinasaan, hingga mereka harus meninggalkan janda mereka yang tidak ada lagi sandaran, hingga mereka harus hidup sengsara sebatang kara. Lihat, Kwa Tayhiap, pantas atau tidak permintaan kami ini?"
"Jangan kata mereka adalah janda sahabat-sahabat Totiang," sahut si buta. "Walaupun mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal, asal kami mengetahui perkaranya itu, pasti kami akan bekerja sekuat tenaga untuk menolong mereka. Untuk itu, kami tidak akan menolak lagi."
"Jelas!" seru si imam. "Sekarang ini kami menghendaki Ciauw Bok Taysu menyerahkan dua orang wanita yang sengsara dan harus dikasihani itu!"
Mendengar itu, bukan hanya Kanglam Cit Koay yang heran, melainkan juga Wanyen Lieh, putra raja Kim itu. "Mustahilkah dia bukannya menyebutkan istri-istri Yo Tiat Sim dan Kwee Siauw Thian atau wanita yang lain?" pikir putra raja asing ini.
Mukanya Ciauw Bok Taysu menjadi kuning pucat, tidak dapat ia membuka mulut. "Kau... kau ngaco belo!" serunya kemudian.
Khu Cie Kee menjadi gusar. "Kau juga orang Rimba Persilatan yang kenamaan, bagaimana kau berani melakukan kejahatan semacam ini?" ia menegur dengan bengis. Lantas ia mengayunkan tangan kanannya, hingga wadah pembakaran kertas perunggu itu, yang beratnya ratusan kati, terbang menyambar ke arah kepalanya si pendeta.
Semua orang menjadi kaget. Mereka yang tadinya datang menonton dengan diam-diam, berhamburan mundur hingga mereka saling bertabrakan dan terguling jatuh ke tangga loteng. Di antara Kanglam Cit Koay, adalah Tio A Seng yang tenaganya paling besar. Ia percaya ia sanggup menangkis jambangan itu. Ia lantas melompat ke depan Ciauw Bok Taysu, untuk mendahului jambangan itu. Ia terus menyambutnya dengan kedua tangannya sambil berucap, "Bagus!" Akan tetapi, ia harus memasang kuda-kuda yang teguh sekali. Sedang lantai loteng tidak begitu kuat, maka dengan suara berderit, kaki kirinya melesak masuk, hingga orang-orang di bawah loteng menjadi kaget dan semuanya menjerit.
Dalam saat yang berbahaya itu, karena kakinya bisa jeblos terus, lekas-lekas Thio A Seng mengerahkan tenaganya untuk mengayun balik jambangan itu ke arah Tiang Cun Cu. Itulah gerakan "Twie chong bong goat" atau "Menolak daun jendela untuk memandangi si putri malam".
Khu Cie Kee mengulurkan tangan kanannya, dengan tenang ia menyambut. "Kanglam Cit Koay bukan bernama kosong saja!" ia memuji sambil tertawa. Ia tertawa sebentar, segera wajahnya menjadi muram pula. Kembali ia memandang si pendeta dan membentak dengan pertanyaan, "Bagaimana dengan dua wanita yang celaka itu? Hai, pendeta jahanam, kalau kau ganggu sehelai saja rambut mereka itu, akan aku patah-patahkan hingga menjadi abu semua tulang-tulangmu dan akan kubakar musnah hingga menjadi tanah putih kuilmu, Hoat Hoa Sian Sien!"
Cu Cong tidak lantas dapat mempercayai kata-kata imam itu. "Ciauw Bok Taysu adalah seorang pendeta beribadah," katanya sambil mengipas-ngipas dan menggeleng-gelengkan kepala. "Bagaimana caranya dia dapat melakukan perbuatan sekeji itu? Totiang, mestinya kau telah keliru mendengar omongan segala manusia rendah! Itu ngaco belo, pasti tidak dapat dipercaya!"
Khu Cie Kee menjadi mendongkol. "Aku menyaksikan itu dengan mataku sendiri, bagaimana bisa jadi dusta!" dia berkata.
Kanglam Cit Koay melengak semuanya. "Taruh kata benar kau sengaja datang ke Kanglam ini untuk mengangkat namamu," akhirnya Ciauw Bok Taysu dapat membuka mulutnya. "Kenapa untuk itu kau mesti menodai nama baikku? Kau... kau pergi ke seluruh kota Kee-hin untuk menyelidiki! Mana bisa aku, Ciauw Bok Taysu, melakukan perbuatan semacam itu!"
Cie Kee tertawa mengejek. "Bagus betul, ya!" katanya dingin. "Kau telah mengundang banyak kawan, kau berpikir menggunakan jumlah yang banyak untuk mendapatkan kemenangan! Tidak, hari ini tidak akan kuberikan kau lolos!"
"Sabar, Totiang!" Kwa Tin Ok memotong. "Totiang menuduh Taysu menyembunyikan kedua nyonya itu, Taysu sebaliknya menyangkal. Inilah sulit. Mari kita bersama pergi ke Hoat Hoa Sian Sie, untuk melihat sendiri guna membuktikan siapa sebenarnya yang benar, siapa yang salah! Mataku memang tidak dapat melihat, akan tetapi orang-orang di sini tidak buta semuanya."
Cu Cong dan kelima temannya memberikan persetujuan mereka.
"Apa? Menggeledah kuil?" kata Khu Cie Kee dengan datar. "Aku sudah menggeledahnya di luar dan di dalam, sampai beberapa kali, tetapi walaupun aku melihat dengan mataku sendiri kedua nyonya itu masuk ke situ, buktinya mereka tidak kedapatan, hingga aku habis daya! Tidak ada jalan lain daripada si pendeta menyerahkan mereka itu!"
"Jadinya, dua wanita itu bukannya manusia!" berkata Cu Cong.
Khu Cie Kee melengak. "Apa?" katanya. Dengan sikapnya yang wajar, Cu Cong menyahuti, "Mereka itu bangsa dewi. Jika mereka bukannya menghilang, tentunya mereka sudah menyingkir dengan ilmu pinjam tanah."
Mendengar ini, mau tidak mau, semua orang tersenyum. Imam itu menjadi gusar. "Bagus! Kamu mempermainkanku!" dia berseru. "Kanglam Cit Koay pasti membantu pihak si pendeta, bukankah?"
Kwa Tin Ok menjawab imam itu; "Kami tidak punya kepandaian sesuatu apa pun, akan tetapi untuk Kanglam ini, nama kami terkenal juga sedikit. Mereka yang mengenal kami semua dapat mengatakan sepatah kata: 'Walaupun Kanglam Cit Koay sedang edan lagak lagunya, mereka bukanlah manusia-manusia yang takut mati.' Kamu tidak berani menghina orang lain, tetapi kami juga tidak dapat mengizinkan orang lain menghina kami!"
Khu Cie Kee tidak ingin melayani tujuh orang aneh dari Kanglam itu. "Perkaraku dengan si pendeta, biarlah aku yang bereskan sendiri!" katanya kemudian. "Maafkan aku, tidak dapat aku temani kau lebih lama! Eh, pendeta, mari pergi!" Ia pun mengulurkan sebelah tangannya, dengan niat menarik si pengikut Buddha itu.
Ciauw Bok Taysu paham ilmu dalam Hoat Hoa Lam Cong. Begitu ia menurunkan lengannya, ia lolos dari cekalan si pendeta. Ma Ong Sin Ho Po Kie bertabiat keras, tak senang ia melihat orang mulai menggunakan kekerasan. "Sebenarnya kau hendak menggunakan aturan atau tidak?" dia menegur si imam.
"Habis bagaimana, Han Samya?" imam itu membalik bertanya.
"Kami percaya habis Ciauw Bok Taysu, sekali dia bilang tidak, pasti tidak!" kata Cit Koay yang ketiga itu. "Seorang laki-laki sejati kangouw, mana ia dapat bicara dusta!"
Cie Kee tampaknya kehilangan sabar. "Aku mencari pendeta ini, itulah sudah pasti!" dia berkata. "Tuan-tuan bertujuh hendak campur tangan urusan ini, telah pastikah itu?"
"Tidak salah!" sahut Cit Koay serempak.
"Baik!" seru si imam. "Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Tuan bertujuh dengan satu cawan arak. Habis minum, barulah Tuan-tuan gerakkan tanganmu!" Habis berkata, imam ini menurunkan tangannya yang memegang jambangan arak itu. Dengan mulutnya sendiri, ia hirup arak satu cegukan. "Silahkan!" katanya habis menenggak. Sembari berbuat begitu, ia mengayunkan tangannya kepada Siauw Mie To Thio A Seng.
Si Buddha tertawa sudah lantas berpikir. "Kalau aku menyambut jambangan seperti tadi, dengan dipegang dan diangkat di atas kepalaku, bagaimana caranya aku dapat meminumnya?" demikian katanya dalam hati kecilnya. Meskipun begitu, ia sudah lantas mundur dua tindak, kedua tangannya ditaruh di depan dadanya. Tepat ketika jambangan menyambar ke dadanya, ia bentangkan kedua tangannya itu. Ia bertubuh kekar, dadanya itu penuh dengan daging yang lembek, tetapi ketika jambangan itu sampai, ia kerahkan tenaga dalamnya untuk menyambut jambangan dengan kedua dadanya itu, berbareng dengan mana kedua tangannya bergerak untuk memeluk jambangan. Adalah di saat ini, dengan sebat ia tunduk, mulutnya dimasukkan ke dalam jambangan, menghirup arak di dalamnya!
"Oh, arak yang harum!" dia memuji.