Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 06

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 06

Perwira itu berkata, "Baik-baik saja ikut kami ke kantor, kau akan bebas dari kesalahan berat. Di sini ada surat titah!" Tiat Sim membentak, "Kasih aku lihat!" Perwira itu mengatakan, "Masih ada satu pemberontak lainnya, yaitu she Kwee." Siauw Thian tiba-tiba muncul di muka jendela, panahnya telah siap sedia, dan berkata, "Kwee Siauw Thian ada di sini!"

Perwira itu terkejut dan takut. Ia meminta Siauw Thian meletakkan panahnya dan membacakan surat titah. Siauw Thian memerintahkan perwira itu untuk segera membaca surat titah. Perwira itu membaca surat titah yang menyatakan bahwa Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim, dua penduduk Gu-kee-cun, dituduh berontak melawan negara dan bersekongkol dengan penjahat besar.

Siauw Thian bertanya dari mana surat titah itu berasal. Perwira itu menjawab bahwa surat titah itu ditulis oleh Han Sinsiang sendiri. Kedua pria itu terkejut dan berpikir bahwa ini mungkin karena rahasia Khu Cinjin telah terbuka dan banyak hamba negara telah binasa. Siauw Thian bertanya siapa yang mendakwa mereka dan apa buktinya. Perwira itu hanya mengatakan bahwa mereka harus menangkap orang-orang itu dan membiarkan mereka berbicara di depan pembesar.

Tiat Sim tidak percaya dan mengatakan bahwa Han Sinsiang suka menfitnah orang baik-baik. Ia meminta istrinya untuk mempersiapkan diri dan melompat ke kuda perwira itu. Tiat Sim kemudian menembak perwira itu dengan panah, dan perwira itu jatuh dari kudanya. Semua serdadu berteriak dan menyerang, tetapi Tiat Sim dan Siauw Thian melawan dengan panah dan tombak.

Siauw Thian kemudian berpikir bahwa mereka tidak bisa menerobos kurungan musuh dan memutuskan untuk menemui pembesar negeri untuk berbicara dengannya. Tiat Sim setuju, dan mereka meletakkan senjata mereka. Perwira pemimpin tentera memerintahkan menunda penyerangan, tetapi mereka mengurung rapat-rapat. Tiat Sim dan Siauw Thian ditangkap dan dibelenggu.

Tiat Sim berdiri tegak dan tertawa dingin, kemudian perwira itu memukulnya dengan cambuk. Tiat Sim tidak takut dan mengawasi perwira itu dengan bengis. Ia kemudian meludah ke muka perwira itu, dan perwira itu menjadi sangat marah. Ia mencabut golok dan membacok Tiat Sim, tetapi Tiat Sim berkelit dan menghindar. Siauw Thian melompat maju dan mendupak perwira itu, tetapi perwira itu menangkis dan membacok Siauw Thian, melukai pundaknya.

Siauw Thian kemudian jatuh dan pingsan. Tiat Sim sangat berduka dan mendongkol. Ia kemudian berpaling ke arah istrinya dan ensonya, tetapi tidak menemukan mereka. Ia berteriak dan berlari ke arah barisan serdadu, yang menyambutnya dengan hujan anak panah. Tiat Sim maju terus, menghalau setiap busur dengan tombaknya.

Ia kemudian menemukan satu perwira yang membawa seorang perempuan, dan ia memanah perwira itu. Perwira itu jatuh dari kudanya, dan Tiat Sim memanahnya lagi, membuatnya tidak bisa bangun lagi. Tiat Sim kemudian menemukan istrinya dan ensonya, dan ia sangat lega. Ia kemudian berjanji untuk membalaskan sakit hati Siauw Thian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment