Chapter 91
Hal ini membuat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw sangat kagum.
"Siapa yang keluar dari lingkaran ini, dia yang kalah," ujar Auwyang Kongcu seraya melangkah masuk ke dalam lingkaran itu.
"Bagaimana jika kami berdua sama-sama keluar?" tanya Oey Yong kembali.
"Tetap saja aku dianggap kalah," jawab Auwyang Kongcu.
"Jika kau kalah, kau tidak akan merintangi aku lagi, bukan?" tegas si nona.
"Tentu saja! Tapi jika kau yang kalah, kau harus patuh kepadaku. Semua orang tua di sini menjadi saksinya!" kongcu itu memberikan kepastian.
"Baik!" kata Oey Yong, lalu melangkah memasuki lingkaran tersebut.
Begitu masuk, kedua tangannya langsung bergerak. Tangan kirinya menggunakan jurus "Angin Menyambar Yanglui". Satu gerakan terasa ringan, yang lain berat, satu lemah, yang lain keras, namun menerjang secara bersamaan.
Auwyang Kongcu segera mengegos, namun usahanya sia-sia. Kedua tangan si nona mengenai tepat di pundaknya. Si nona justru terkejut karena saat tangannya menyentuh sasaran, ia merasakan sesuatu yang tidak wajar.
Kongcu itu memiliki tenaga dalam yang lihai. Meskipun ia berjanji tidak akan membalas serangan, ia menggunakan kepandaiannya dengan meminjam tenaga lawan untuk menyerang balik. Saat serangan Oey Yong mengenainya, ia merasakan pukulannya memantul hingga ia terhuyung dan hampir melewati garis lingkaran.
Ia tidak berani menyerang untuk kedua kalinya. Sebaliknya, dengan kecerdikannya, ia berkata, "Aku hendak pergi sekarang! Kau tidak dapat keluar dari lingkaran untuk menyusulku! Tadi kau sendiri yang mengatakannya, jika kita berdua sama-sama keluar, kau yang kalah!"
Auwyang Kongcu tertegun keheranan. Ia hanya bisa berdiri mematung tanpa mampu berkata apa-apa.
Si nona tidak menghiraukannya lagi. Ia melangkah tenang keluar dari lingkaran. Begitu berada di luar, ia segera mempercepat gerakannya karena mengerti bahwa situasi bisa berubah sewaktu-waktu. Gelang rambut emasnya berkilauan dan bajunya yang putih berkibar. Baru saja ia tiba di dekat pintu, tiba-tiba sebuah benda besar melayang jatuh di depannya.
Ia segera berkelit ke samping dan menghentikan langkahnya. Ternyata, benda itu adalah sebuah kursi thaysu. Di atasnya duduk seorang pendeta Tibet bertubuh tinggi besar yang mengenakan jubah merah. Ia duduk terpaku hingga bisa melompat bersama kursinya.
Oey Yong hendak menegur pendeta itu, namun ia didahului oleh Leng Siangjin yang mengeluarkan sepasang cecer tembaga dari balik jubahnya. Begitu kedua tangannya dirapatkan, dentuman alat musik itu terdengar memekakkan telinga. Sebelum Oey Yong sempat bereaksi, sepasang cecer menyambar ke arahnya; satu di atas, satu di bawah.
Dalam keadaan terdesak, Oey Yong tidak gugup. Ia tidak melompat mundur, melainkan menjejakkan kaki dan melesat ke depan. Tangan kanannya menjulur untuk menahan cecer bagian atas, sementara kaki kirinya menekan cecer bagian bawah. Sekejap kemudian, ia berhasil lolos di antara kedua senjata rahasia itu.
Namun, karena melompat maju, ia justru mendekati si pendeta. Leng Tie Siangjin mengangkat tangannya dan melancarkan ilmu pukulan "Tay Ciu In" atau "Tapak Tangan Besar" ke arah tubuh si nona. Oey Yong tampak tidak bisa menahan laju tubuhnya, sehingga ia terus maju seolah hendak merangsek ke pelukan lawannya.
Orang-orang berseru kaget. Nona yang cantik itu pasti akan remuk di tangan kasar sang pendeta; tulang-tulangnya akan patah dan isi perutnya hancur. Saat bahaya tak terelakkan, sebuah suara keras terdengar. Serangan Leng Tie Siangjin tepat mengenai sasaran di punggung si nona.
Di tengah keterkejutan semua orang, si nona melayang bagaikan layangan putus hingga mendarat di luar gedung. Mereka semakin heran saat melihat tangan kanan Leng Tie Siangjin mengucurkan darah karena telapak tangannya pecah menjadi sepuluh luka kecil.
Pheng Lian Houw berseru kaget, "Budak itu memakai Joan-wie-kah! Itulah mustika dari Pulau Tho-hoa di Tang Hay!"
See Thong Thian pun menimpali, "Dia masih sangat muda, kenapa bisa memiliki Joan-wie-kah?"
Sementara itu, Auwyang Kongcu berlompat keluar untuk mengejar. Ia tidak bisa melupakan nona manis itu, namun di tengah gelapnya petang, ia tidak lagi melihat bayangannya. Ia merasa penasaran dan menyuruh para gundiknya ikut mencari. Di dalam hati ia menghibur diri, "Dia berhasil lolos, mungkin dia tidak terluka, nanti dia pasti mau dirangkul."
Hauw Thong Hay, yang tidak tahu apa itu Joan-wie-kah, menanyakannya kepada kakak seperguruannya.
"Pernahkah kau melihat landak?" tanya Pheng Lian Houw.
"Tentu saja!" sahut Hauw Thong Hay.
"Di dalam bajunya, ia mengenakan pakaian pelapis yang lemas," jelas Lian Houw. "Baju itu kebal terhadap senjata tajam seperti golok dan tombak. Baju itu memiliki duri seperti duri landak, jadi siapa pun yang memukul atau menendangnya akan menderita karena tertusuk."
Hauw Thong Hay mengulurkan lidahnya, "Syukur aku tidak sampai menghajar budak itu."
Sembari berbincang, Thong Hay, Lian Houw, dan Thong Thian pergi mengejar. Bahkan Chao Wang memerintahkan Thung Couw Tek untuk memimpin barisan pengiring guna melakukan pencarian. Istana pangeran pun menjadi gempar.
Sementara itu, Kwee Ceng yang bertemu dengan Nio Cu Ong merasa ketakutan luar biasa. Ia berlari ke arah mana saja asal tempat itu gelap. Cu Ong terus mengejarnya dengan hebat; Som Sian Lao Koay ingin menangkapnya untuk menghisap darahnya.
Kwee Ceng terus berlari di tempat yang gelap hingga lama tidak tertangkap. Tak lama, ia sampai di sebuah tempat yang dipenuhi pohon berduri dan batu-batu tajam yang menonjol seperti rebung atau pedang. Ia heran ada tempat seperti itu di pekarangan istana.
Ia semakin kaget saat kakinya tertusuk duri. Mendadak kakinya lemas dan ia terjatuh ke dalam sebuah liang sedalam beberapa tombak. Saat mendarat, ia tidak menginjak batu, melainkan benda licin. Ia meraba benda tersebut dan terkejut saat menyadari itu adalah tengkorak manusia.
"Rupanya ini tempat pembuangan mayat di istana," duga Kwee Ceng.
Saat ia sedang berpikir, terdengar suara Nio Cu Ong dari atas, "Bocah, cepat naik!"
"Aku tidak segila itu untuk naik dan menyerahkan nyawa," pikir Kwee Ceng. Ia tidak menjawab dan memilih mundur perlahan sambil meraba-raba dinding di belakangnya sebagai antisipasi jika Nio Cu Ong melompat turun.
"Biarpun kau kabur ke istana Raja Akhirat, akan kusul kau!" teriak Nio Cu Ong sembari melompat turun.
Kwee Ceng ketakutan dan terus mundur. Karena tidak bisa meraba apa pun di belakangnya, ia memutar tubuh dan berjalan dengan kedua tangan di depan. Liang itu ternyata sebuah terowongan. Setelah menyusuri sekitar dua tembok, Nio Cu Ong berhasil menyusul. Ia bertindak hati-hati dalam gelap agar Kwee Ceng tidak mengetahui posisinya.
Kwee Ceng gemetar, "Terowongan ini pasti ada ujungnya, dan di sana ajalku tiba."
Beberapa tombak kemudian, Kwee Ceng tiba di sebuah ruang terbuka yang cukup terang. Itu adalah sebuah kamar atau ruang bertembok tanah. Nio Cu Ong segera menyusul dan tertawa lebar, "Ha, bocah, ke mana lagi kau hendak kabur!"
Kwee Ceng bingung dan menatap sekeliling. Tiba-tiba, dari pojok kiri terdengar suara dingin dan menyeramkan, "Siapa yang berbuat kurang ajar di sini!"
Kwee Ceng kaget dan hatinya bergetar. Tak disangka ada penghuni di tempat seperti itu. Bahkan Nio Cu Ong yang bernyali besar pun terkejut.
Suara dingin itu kembali terdengar, "Siapa pun yang masuk ke gua ini harus mati dan tidak akan hidup lagi!"