Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 191

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 191

Ia juga memikir, "Kita sekarang berada di pulau kosong ini, di bulan dan tahun kapan kita dapat kembali ke tanah Tiongkok? Lagipula, Engko Ceng sudah meninggal dunia, aku tidak ingin hidup lebih lama. Sekarang, Suhu menyuruh aku mengepalai pengemis dari seluruh negeri?" Maka ia pun berdiam diri.

Ang Cit Kong berkata pula, "Tahun ini tanggal lima belas bulan tujuh ada rapat besar tahunan yang bakal diadakan di Kota Gakyang di tepi Telaga Tong Teng Ouw. Di sana akan berkumpul semua kepala pengemis dari pelbagai tempat."

"Rapat itu diutamakan agar semua pemimpin mendengar aku menunjuk bakal penggantiku sebagai Pangcu. Siapa sangka sekarang aku terbengkalai di sini."

"Kau telah menjadi penggantiku, kau dapat pergi ke sana untuk memegang jabatan pemimpin."

"Dengan kau mencekal dan membawa tongkat ini, semua saudara akan segera mengerti maksudku."

"Di dalam urusan Kay Pang, keempat tianglo lainnya akan membantumu, maka tak usahlah aku memesan banyak."

"Hanya aku menyesal sekali, tanpa sebab dan secara mendadak begini aku memaksamu, satu nona yang manis, untuk merendahkan diri masuk ke dalam kalangan bangsa pengemis." Walaupun ia mengucap demikian, Pak Kay toh tertawa girang.

Tapi, karena tertawanya itu, ia merasakan lukanya nyeri. Setelah meringis, ia batuk-batuk tak henti-hentinya. Oey Yong mengusap-usap punggung gurunya itu.

"Aku si pengemis tua benar-benar sudah tak punya gaya," kata Cit Kong setelah berhenti batuk-batuk.

"Karena aku tidak tahu kapan aku bakal berpulang ke alam baka, mesti aku lekas-lekas menurunkan ilmu silat Pa-kauw-pang kepadamu!" Sudah puluhan macam ilmu silat didapat Oey Yong dari gurunya ini, namun belum pernah ia mendengar Pa-kauw-pang, yang berarti ilmu silat pentungan menghajar anjing.

Ia memikir-mikir, kenapa tak enak sekali disebutnya nama ilmu silat itu—mementung anjing.

"Bagaimana galaknya seekor anjing, dia dapat dihajar mampus dengan sebuah kepalan," ia berpikir pula. "Maka itu, untuk apa mesti mempelajari pula ilmu silat menemplang anjing? Tapi Suhu bicara dengan sikap begini sungguh-sungguh, baiklah aku menurut." Maka mengangguklah ia, bersedia menerima warisan ilmu silat yang ia anggap aneh itu.

Ang Cit Kong mengawasi muridnya, ia tertawa.

"Meskipun kau menjadi Pangcu, kau tak usah mengubah gaya atau dandananmu, tak usah mengubah tabiat atau sifatmu," berkata ia, menjelaskan.

"Kau doyan bergurau, tetap kau boleh berpesta pora dengan kenakalanmu itu! Kami bangsa pengemis justru paling kemaruk sama kemerdekaan dan kebebasan, sebab tanpa kebebasan, tak dapat kami menjadi pengemis. Kalau tidak demikian, kenapa kita tidak menjadi saja pembesar negeri atau seorang hartawan? Nampaknya kau tidak puas dengan Pa-kauw-pang, benarkah? Kau bilanglah terus terang!" Oey Yong tersenyum.

"Muridmu sebenarnya memikirkan seberapa tangguh seekor anjing," ia menyahut. "Muridmu memikir untuk apa mesti diciptakan semacam ilmu silat..."

"Sekarang kau telah menjadi kepala pengemis, kau harus berpikir sebagai pengemis juga!" katanya.

"Tapi pakaianmu indah, romanmu mentereng sebagai seorang nona hartawan. Kalau ada anjing melihat padamu, mestinya anjing itu mengangguk-angguk dan menggoyang-goyangkan ekor terhadapmu. Dengan begitu, apa perlunya menghajar anjing itu? Tetapi kalau si pengemis tulen bertemu sama anjing, hebatlah akibatnya, sungguh menyedihkan! Bukankah pepatah kuno ada bilang, 'Seorang miskin melarat tanpa pentungan, dia diperhina oleh anjing'? Kau belum pernah menjadi orang miskin, kau tidak mengerti kesengsaraan si miskin." Mendengar itu, Oey Yong tertawa seraya bertepuk tangan.

"Suhu, kali ini kau keliru!" katanya gembira.

Cit Kong heran, ia melengak. "Kenapa keliru?" tanyanya.

"Ketika pada bulan ketiga yang baru lalu ini aku minggat dari Tho Hoa To dan aku pergi ke Utara, di sana aku telah menyamar sebagai pengemis!" sahut si nona.

"Di sepanjang jalan ada saja anjing yang menggonggong dan mengikuti aku. Hendak menggigit, selalu aku hajar dia dengan tendangan, lantas dia lari sambil menggoyang-goyangkan ekornya!"

"Ya, itulah benar," berkata Ang Cit Kong. "Hanya kalau anjing sangat galak hingga sukar ditendang, tidak dapat tidak, tongkat harus dipakai untuk mementungnya!"

Si nona menjadi berpikir. "Di mana ada anjing demikian galak dan hebat?" Tapi hanya sejenak, lantas ia insyaf. Maka ia menambahkan, "Benar! Manusia jahat pun ada sama dengan anjing galak!"

Cit Kong tersenyum. "Kau sungguh cerdas!" pujinya. "Jikalau..." Ia sebenarnya hendak menyebut bahwa Kwee Ceng pasti tidak dapat menebak, tetapi ia berduka, ia batal melanjutkannya. Ia bahkan terus berdiam. Oey Yong dapat menerka hati orang, ia berpura-pura tidak tahu. Ia pun sangat berduka.

"Pa-kauw-pang terdiri dari tiga puluh enam jurus," kemudian Cit Kong berkata pula, memberi penjelasan. "Itulah ilmu silat yang diciptakan sendiri oleh Couwsa-ya. Sampai sebegitu jauh, menurut aturan dan kebiasaan, ilmu silat ini cuma diajari dan diwariskan kepada Pangcu, tidak kepada orang kedua. Katanya dulu Pangcu yang nomor sebelas, tempo ia berada di Gunung Pak Kouw San, ia telah dikepung banyak orang jagoan. Dengan sepasang kepalannya, ia telah menghajar mati lima di antaranya. Ketika itu, ia menggunakan ilmu silat Pa-kauw-pang."

Oey Yong tertarik, tetapi ia menghela napas. "Suhu," tanyanya, "Ketika di perahu besar itu kau bertempur melawan See Tok Auwyang Hong, kenapa kau tidak menggunakan ilmu silatmu itu?"

"Menggunakan ilmu silat itu adalah urusan besar dari partai kita," menyahut sang guru. "Sekalipun aku tidak menggunakan, tidak mungkin See Tok dapat mengalahkan aku! Siapa sangka dia sangat hina dina, aku sudah menolonginya, dia justru membokong menyerang punggungku?" Di waktu mengucap demikian, wajah Pak Kay muram.

Oey Yong dapat menduga kemendongkolan dan kemasgulan gurunya itu, hendak ia menyimpang pembicaraan.

"Suhu," ia berkata, "Sekarang kau ajarkanlah ilmu silat tongkat itu kepada Yong-jie. Sesudah Yong-jie bisa, nanti Yong-jie pakai untuk membunuh See Tok guna membalaskan sakit hati Suhu!" Cit Kong tertawa secara tawar.

Ia memungut sebatang cabang kering, setelah mana mulutnya membaca, tangannya digerak-gerakkan. Ia tetap rebah, tetapi ia dapat menjalankan tiga puluh enam jurus dari Pa-kauw-pang itu. Yang mana kurang jelas, ia menambahkan dengan keterangannya. Dengan cara itu ia menurunkan ilmu silat peranti mementung anjing itu. Ia tahu Oey Yong cerdas sekali, ia mengajari dengan sungguh-sungguh. Di lain pihak ia khawatir umurnya tidak panjang lagi.

Nama ilmu silat pentungan itu tak sedap didengar, tetapi ilmu silatnya sendiri lihai dan banyak perubahannya. Kalau tidak, tidak mungkin ilmu itu menjadi ilmu istimewa dalam Kay Pang dan diwariskan secara turun-temurun. Maka itu, meskipun Oey Yong cerdas luar biasa dan ia dapat menjalankan, tak semuanya segera ia dapat menangkap maksudnya.

Habis memberi pelajaran, Cit Kong menghela napas, ia bermandikan keringat. "Aku mengajari kau terlalu singkat," ia berkata, "Itulah tidak bagus. Sebenarnya, tidak dapat aku mengajari lebih jauh?" Mendadak ia menjerit, "Aduh!" dan tubuhnya roboh rebah.

Oey Yong kaget, ia berlompat menubruk. "Suhu!" ia memanggil. Ia pun mengasih bangun. Tangan dan kaki Cit Kong dingin, napasnya jalan sangat perlahan. Nampaknya ia tidak dapat ditolong pula. Selama beberapa hari ini hebat penderitaan si nona, maka itu ia mendekam di tubuh gurunya itu, ia menangis tanpa dapat mengeluarkan suara.

Ia masih dapat mendengar denyutan jantung dari gurunya itu. Lantas ia menggunakan kedua tangannya, ia memegang kedua bagian rusuk untuk membantu sang guru bernapas. Adalah di saat genting untuk gurunya itu, ia mendengar satu suara perlahan di belakangnya, lantas sebuah tangan diangsurkan ke lengannya. Dalam kedukaan dan kekhawatiran, Oey Yong cuma ingat menolong gurunya, maka itu ia tidak tahu kapan Auwyang Kongcu masuk ke dalam gua, hingga ia seperti lupa bahwa di belakangnya ada seekor anjing yang galak.

"Berat sakitnya Suhu, lekas kau pikirkan daya untuk menolong," ia berkata pada pemuda itu. Ia berpaling, mengawasi dengan air mata berlinang-linang.

Melihat roman orang yang sangat menyedihkan itu, Auwyang Kongcu merasa kasihan. Ia berjongkok untuk melihat Ang Cit Kong, kulit muka siapa pucat dan kedua matanya terbalik. Melihat keadaan orang itu, ia justru menjadi girang sekali. Ia berdampingan sama si nona, ia mendapat cium baru harum dari tubuh si nona itu, sedang mukanya kena kebentur rambut orang. Betapa menyenangkan itu. Kembali pemuda ini tidak dapat mengendalikan diri. Kalau tadi ia cuma menyentuh lengan si nona, sekarang ia mengulur tangan kirinya untuk merangkul pinggang orang.

Oey Yong terkejut, ia menyikut dengan meninju. Tempo si anak muda berkelit, ia berlompat bangun. Auwyang Kongcu jeri kepada Ang Cit Kong, sekarang ia mendapatkan orang tengah rebah sebagai mayat, hatinya menjadi besar sekali. Kalau tadinya ia takut menggunakan kekerasan terhadap Oey Yong, sekarang ia berani. Hendak ia memaksa. Maka ia berlompat ke mulut gua untuk menghalangi.

Ia tertawa. "Adik yang baik," katanya manis, "Terhadap lain orang aku tak biasanya menggunakan kekerasan, tetapi kau begini cantik manis, kau bohai sekali, tidak dapat aku menguatkan hati lagi. Marilah, Adik, kau kasihkan aku satu cium?" Sembari mengucap demikian, pemuda itu membentangkan tangan kirinya, ia maju setindak demi setindak.

Hatinya Oey Yong bergoncang keras. "Ancaman bencana atas diriku hari ini berlipat sepuluh kali daripada ancaman bahaya semasa aku berada di Istana Chao Wang," berpikir si nona ini. "Kalau tidak dapat membinasakan dia, aku mesti membunuh diri. Hanya, mana aku puas?"

Hanya dengan satu kali menggerakkan tangannya, Oey Yong sudah siap dengan tempuling dan jarumnya. Auwyang Kongcu lantas tersenyum. Ia lantas meloloskan bajunya untuk dipakai sebagai cambuk lemas. Kembali ia maju dua tindak. Oey Yong berdiri diam, matanya mengawasi tajam. Ia menanti orang mengangkat kaki.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment