Chapter 139
"Almarhum ayahmu dan ibuku pernah mengatakan kepadaku bahwa dahulu hari ayahmu dan ayahku telah membuat perjanjian untuk kita mengangkat saudara. Aku ingin mewujudkan pesan itu, bagaimana pikiranmu?"
"Itulah yang aku harapkan," sahut Yo Kang.
Lantas keduanya menjalankan upacara penghormatan di depan *sincie*, kali ini untuk mengangkat saudara. Setelah semuanya beres, tuan rumah mempersilakan semua tamunya beristirahat.
Besok paginya, Kanglam Liok Koay berpamitan dari tuan rumah dengan mengajak Kwee Ceng dan Yo Kang. Seng Hong membekali sesuatu kepada tamunya itu, yang ia antar sampai di luar rumah.
Kwee Ceng memberitahukan gurunya bahwa bersama Yo Kang ia hendak pergi ke Utara untuk membunuh Wanyen Lieh, ia meminta petunjuk dari mereka.
"Janji di hari *Tiong Ciu* masih lama, karena kami tidak punya urusan apa-apa, mari kami antar kau," kata Kwa Tin Ok.
"Begitu pun baik," menyatakan Cu Cong dan yang lainnya.
Kwee Ceng tidak menolak, tetapi ia menegaskan sebenarnya tidak perlu gurunya ikut. Ia mengatakan ilmu silat Wanyen Lieh biasa saja, dengan adanya Yo Kang sebagai pembantu, ia sudah merasa cukup. Ia justru mengingatkan bahwa guru-gurunya itu baru saja kembali dan sudah seharusnya beristirahat di kampung halaman. Ia tidak berani membuat repot guru-gurunya yang berbudi sangat besar.
Kanglam Liok Koay memikirkan alasan muridnya ini pantas. Mereka tidak memaksa ikut, mereka hanya memberikan pesan.
"Janji untuk pergi ke Thoa Hoa To tidak usah kau penuhi," kata Han Siauw Eng kemudian. Ia berpesan demikian sebab tahu muridnya jujur dan khawatir ia pergi ke Pulau Tho Hoa To, sedangkan Tong Sia Oey Yok Su itu telengas dan tabiatnya sangat aneh.
"Jikalau *teecu* tidak pergi, apakah itu bukan berarti tidak menepati janji?" tanya si murid.
"Sama hantu itu, mana dapat kita bicara perihal kepercayaan!" kata Yo Kang.
"Toako, kau terlalu kaku!" Kwa Tin Ok berpikir lain. Mendengar ucapan Yo Kang, ia mendengus, "Hm! Anak Ceng, perkataan kita laki-laki tidak boleh dibuat permainan! Sekarang bulan enam tanggal lima, nanti pada bulan tujuh tanggal satu kita bertemu di Cui Sian Lauw di Kee-hin, dari sana kita boleh berangkat bersama-sama ke Tho Hoa To. Sekarang pergilah kau menaiki kuda merahmu menuju Pak-khia untuk membalas dendam. Syukurlah jikalau kau berhasil, kalau tidak, kita boleh minta bantuan semua *totiang* dari Coan Cin Pay. Mereka adalah orang-orang yang memuliakan kebajikan, pastilah mereka tidak akan menolak permohonan kita."
Kwee Ceng bersyukur karena guru-gurunya begitu bersungguh-sungguh; ia menghaturkan terima kasih seraya berlutut di tanah.
"Adik angkatmu adalah dari keluarga agung, aku mesti hati-hati," Lam Hie Jin berpesan. Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengamati.
Cu Cong tertawa dan berkata, "Putrinya Oey Yok Su berbeda dari ayahnya, kami sebaiknya jangan membuat ia mendongkol pula. Benar bukan, *shatee*?"
Han Po Kie memainkan kumisnya. "Anak busuk itu mengatai aku si kata terokmok, rupanya dialah yang paling cantik!" katanya yang akhirnya tertawa sendiri.
Hati Kwee Ceng menjadi lega sekali. Itu artinya guru-gurunya tidak membenci Oey Yong. Hanya saja, ketika ia teringat si nona yang entah di mana keberadaannya, ia jadi berduka.
"Nah, anak Ceng, kau lekas pergi lekas kembali!" berkata Coan Kim Hoat. "Kami menantikan kabar baik darimu di Kee-hin!"
Setelah itu, Kanglam Liok Koay lantas berangkat. Kwee Ceng berdiri di tepi jalan sambil memegangi tali kudanya. Ia mengawasi sampai semua gurunya tidak tampak lagi, baru ia menoleh kepada Yo Kang sambil berkata, "Yo hiantee, kudaku ini bisa lari kencang, untuk ke Pak-khia pergi dan pulang cukup dengan belasan hari, maka itu mari aku temani kau jalan-jalan dulu untuk beberapa hari."
Yo Kang menurut, maka mereka melakukan perjalanan dengan perlahan. Kalut pikiran Yo Kang. Ia membayangkan baru berselang sebulan ia hidup mewah dan mulia, datang ke Kanglam diiringi secara besar-besaran sebagai utusan negara Kim yang tangguh. Sekarang, ia menuju kota raja seorang diri dalam keadaan sepi. Tidakkah ia tengah bermimpi dan impiannya itu buyar dengan tiba-tiba?
Kwee Ceng dapat melihat perubahan roman muka orang itu, ia hanya menyangka Yo Kang tengah berduka karena mengingat ayah dan ibunya. Ia lantas menghiburnya.
Tengah hari itu mereka tiba di Lie-yang dan mencari tempat pemondokan. Tiba-tiba satu pelayan penginapan menghampiri mereka. "Apakah tuan-tuan adalah Tuan Kwee dan Tuan Yo?" tanyanya sembari memberi hormat dan tertawa. "Santapan sudah siap sedia, silakan tuan-tuan ikut aku bersantap dulu."
Dua pemuda itu terkejut. "Kenapa kau mengenali kami?" tanya Yo Kang.
"Aku menerima pesan, tuan-tuan," sahut pelayan itu, tetap sambil tertawa. "Tadi seorang tuan datang kepadaku memberi tahu perihal kedatangan tuan-tuan. Aku pun diberi lukisan tentang roman dan perawakan tuan-tuan." Sembari berkata, ia menuntun kuda mereka untuk dirawat.
"Sungguh baik tuan dari Kwie-in-chung itu," Kwee Ceng memuji.
Mereka duduk di meja menghadapi masakan pilihan yang mahal, begitu pun araknya. Kwee Ceng mendapati masakan ayam yang paling ia sukai. Mereka bersantap dengan lahap. Seusai makan, mereka hendak membayar.
"Tidak usah, tuan-tuan, semuanya sudah dibayar," pelayan itu menerangkan. Kwee Ceng tertawa, ia memberi upah kepada pelayan tersebut, yang mengucap terima kasih berulang-ulang dan dengan hormat mengantar mereka keluar.
Di tengah jalan, Kwee Ceng memuji Liok Chungcu, tetapi Yo Kang yang masih mendongkol karena pernah dikalahkan dan ditawan mengatakan, "Teranglah ia menggunakan muslihat ini untuk mengambil hati orang-orang gagah, pantas dia menjadi kepala di Thay Ouw!"
"Hiantee, bukankah chungcu itu paman gurumu?" tanya Kwee Ceng heran.
"Benar, Bwee Tiauw Hong pernah mengajarkan ilmu silat kepadaku, tetapi dia bukanlah guruku," jawab orang yang ditanya. "Coba aku mengetahui mereka itu dari golongan sesat, tidak mungkin aku mau belajar hingga hari ini aku mengalami kejadian ini..."
Kwee Ceng semakin heran. "Hiantee, bagaimana sebenarnya?"
Yo Kang merasa kelepasan bicara, mukanya berubah. "Aku merasa Kiu Im Pek-kut Jiauw bukanlah pelajaran murni," sahutnya.
"Kau benar, Hiantee," Kwee Ceng mengangguk. "Tian Cun Cinjin sangat lihai dan ia dari kalangan ilmu silat sejati. Kalau kau menghaturkan maaf padanya, tentulah ia dapat memaafkanmu."
Yo Kang berdiam diri. Malam itu mereka tiba di Kim-tan, di sana pun ada pelayan penginapan yang menyambut mereka dan menyiapkan makanan serta penginapan tanpa bayaran karena sudah ada yang memesan. Mereka menerima itu tanpa banyak bertanya. Kemudian, beruntun tiga hari, mereka mendapat pengalaman serupa. Mereka heran sekali hingga menyangsikan niat Chungcu dari Kwie-in-chung.
Tatkala mereka melewati Ko-yu dan masih ada penyambutan serupa, dengan menyindir Yo Kang berkata, "Hendak aku melihat sampai di mana Kwie-in-chung akan mengantar tamunya."
Kwee Ceng lebih curiga lagi, sebab pada setiap santapan tentu ada satu atau dua jenis masakan yang paling ia gemari. Kalau itu perbuatan Liok Koan Eng, sungguh luar biasa.
Habis bersantap, ia berkata, "Hiantee, nanti aku jalan lebih dulu untuk mencari tahu." Yo Kang menurut; ia membiarkan orang itu memacu kudanya sendirian.
Tiga tempat perhentian telah dilewati, setibanya di Po-eng, tidak ada lagi penyambutan serupa. Sengaja Kwee Ceng memilih penginapan yang paling besar serta meminta kamar yang paling mewah. Sore itu, selagi berada di dalam kamar, ia mendengar derap kuda dan bunyi kelenengan yang nyaring. Penunggang kuda itu berhenti di depan penginapan, masuk, lalu memesan makanan untuk besok, katanya untuk Tuan Kwee dan Tuan Yo.
Kwee Ceng sudah menduga itu perbuatan Oey Yong, tetapi mendengar suara orangnya, ia heran sekaligus girang. Ia tidak ingin langsung menemui, ia hendak bermain-main. Maka ia menunggu sampai jam dua pagi, lalu diam-diam keluar dari kamarnya. Ia naik ke atas genting, terus ke kamar si nona. Tiba-tiba ia tampak bayangan orang berkelebat, malah ia mengenali Oey Yong.
"Heran, malam-malam begini ia hendak ke mana?" pikirnya. Ia membungkam dan terus menguntit. Oey Yong lari ke luar kota tanpa menyadari ada orang yang membayanginya. Ia pergi ke tepi sebuah kali kecil dan duduk di bawah pohon *yangliu*. Dari sakunya ia mengeluarkan sesuatu, terus ia mainkan di tangannya dengan tubuh membungkuk.
Malam itu terang bulan, angin berdesir meniup daun-daun *yangliu* dan ikat pinggang si nona. Air kali mengalir terus. Di sana-sini terdengar suara serangga.
"Ini Engko Ceng... ini Yong-jie?" terdengar nona itu mengoceh sendirian.
Kwee Ceng heran. Ia mengendap-endap menghampiri ke belakang orang itu. Di bawah terangnya sinar rembulan, ia melihat dua buah boneka, satu laki-laki dan satu perempuan, keduanya gemuk dan mungil. Itu adalah boneka buatan Bu-sek yang kesohor di Thay Ouw. Hati Kwee Ceng tertarik. Ia maju lagi beberapa langkah. Di depan boneka itu ada beberapa mangkuk dan cawan kecil berisi bermacam-macam bunga.
Kembali terdengar suara perlahan dan halus dari nona itu, "Mangkuk ini untuk Engko Ceng makan, cawan ini adalah Yong-jie. Semua ini Yong-jie yang masak sendiri. Enak tidak?"
"Enak! Enak sekali!" Kwee Ceng menyahuti.
Oey Yong terperanjat, ia menoleh dengan cepat. Lalu ia tertawa, memperlihatkan wajahnya yang manis. Dengan gesit ia melompat menghampiri anak muda itu. Mereka kemudian duduk bersama di bawah pohon di tepian kali itu.