Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 157

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 157

Oleh karena itu, ketika ia jatuh, ia merasakan sakit.

Kelihatannya Pek Thong menyesal, tetapi ia lantas berkata, "Adikku yang baik, tidak percuma aku membuatmu roboh. Nanti aku akan memberi penjelasan kepadamu tentang jurus ini." Kwee Ceng menahan sakit, lalu ia merayap bangun dan mendekati kakak angkatnya itu.

Pek Thong mengangkat mangkuk nasinya. "Mangkuk ini asalnya terbuat dari lumpur. Karena bagian tengahnya dikosongkan, ia dapat dipakai untuk mengisi nasi. Coba seandainya semuanya terisi, apa gunanya?"

Kwee Ceng mengangguk. Dalam hatinya ia berpikir, "Hal ini sangat sederhana, tetapi sebelumnya aku belum pernah memikirkannya."

"Demikian juga rumah," kata Pek Thong. "Karena di dalamnya kosong serta ada pintu dan jendelanya, rumah itu dapat ditinggali. Kalau rumah itu terisi penuh dan tanpa pintu atau jendela, apa jadinya?"

Kwee Ceng mengangguk paham.

"Demikian pula ilmu silat Coan Cin Pay. Ilmu ini berpokok pada konsep kosong dan lemas. Kosong dapat diisi dan lemas dapat dibikin keras." Kwee Ceng berpikir, namun ia masih belum mengerti dengan jelas.

"Ang Cit Kong itu ahli *gwa-kee*, ilmu luar. Dia sudah sampai di puncak kemahiran, maka itu, meski aku mengerti ilmu silat Coan Cin Pay, mungkin aku bukan tandingannya. Tapi ilmu luar itu ada batasnya, tidak demikian dengan Coan Cin Pay. Buktinya, ketika kakak seperguruanku memperoleh gelar orang gagah nomor satu, ia bukannya mendapatkan itu karena beruntung, melainkan karena kepandaiannya. Coba ia masih hidup sekarang, setelah pendalaman lebih jauh belasan tahun, apabila dia diadu pula, tidak perlu waktu sampai tujuh hari tujuh malam. Aku percaya, dalam tempo satu hari saja, ia dapat merobohkan semua lawannya."

"Sayang, adikmu tidak mempunyai rezeki untuk menemui Ong Cinjin," kata Kwee Ceng. "Ang Insu dengan Hang Liong Sip-pat Ciang menjadi jagoan golongan ilmu luar, dan Toako barusan, dengan ilmu silat yang menjatuhkan aku itu, menjadi jagoan golongan lemas."

Pek Thong tertawa. "Benar, benar!" katanya. "Memang lemas bisa mengalahkan keras, hanya saja kalau kemahiranmu dalam Hang Liong Sip-pat Ciang sudah semahir Ang Cit Kong, aku tidak akan bisa merobohkanmu. Semua itu tergantung pada dalam dan ceteknya pendalaman. Sekarang, perhatikanlah."

Pek Thong lantas memberikan penjelasannya berikut gerak-gerik tangannya. Karena ia tahu Kwee Ceng lambat mengerti, ia berlaku sabar dan perlahan. Kwee Ceng belajar sambil mencoba; setelah beberapa puluh kali, barulah ia mulai mengerti.

"Kalau kau sudah tidak sakit lagi, mari aku mencoba merobohkanmu lagi!" kata Pek Thong kemudian.

Kwee Ceng tertawa. "Sakitnya sih sudah hilang, tetapi pengajaran barusan belum aku mengerti sepenuhnya," sahutnya. Ia lantas mengingat-ingat.

Pek Thong benar-benar seperti bocah, ia mendesak, "Mari, marilah!"

Hal ini justru menyebabkan Kwee Ceng harus berpikir lebih keras lagi. Setelah sekian lama, baru si anak muda itu mengerti. Maka, ia lantas melayani pula kakak angkatnya itu. Sial untuknya, walaupun ia sudah bersedia, kembali ia kena dirobohkan.

Demikian seterusnya, siang dan malam, mereka berlatih. Kwee Ceng menderita; tubuhnya bengkak di sana-sini dan memar biru. Ia bukan hanya roboh terbanting puluhan, bahkan ratusan kali. Namun, tubuhnya kuat dan ia mampu menahan sakit. Untungnya, kepandaian kakak angkatnya itu telah diwariskan kepadanya. Itulah ilmu silat "Kong-beng-kun" atau "Kepalan Kosong", yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus, yang diciptakan setelah lima belas tahun dalam kurungan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment