Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 215

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 215

"Suhu, jangan dengarkan ocehan Loo Boan Tong!"

"Ya, sudah, sudahlah!" kata Ciu Pek Thong. "Memang semuanya salahku!" Ia lalu menutup mulutnya.

Keesokan paginya, Oey Yong dan Kwee Ceng memasak nasi, lalu mereka sarapan bersama Sa Kouw. Oey Yong memikirkan tempat yang aman untuk menyimpan harta karun itu.

"Sudah, mari kita lekas pergi!" ajak Ciu Pek Thong. "Itu kan bukan barangmu! Mengapa kamu repot-repot memikirkannya?"

Gadis itu berpikir bahwa tempat tersebut memang paling aman. Bukankah harta karun itu sudah tersimpan di dalam kamar rahasia selama belasan tahun? Maka ia pun segera bekerja, menutup rapat kembali pintu rahasia dan merapikan segala sesuatunya seperti semula saat mereka tiba.

Selama proses itu, Sa Kouw tidak memedulikan apa yang dilakukan orang lain. Ia tidak tahu-menahu dan lebih suka bermain-main dengan golok tajamnya.

Saat hendak pergi, Oey Yong memberikan dua keping uang perak. Sa Kouw menerimanya, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja.

"Jika kamu lapar, gunakan uang ini untuk membeli beras dan daging," pesan Oey Yong.

Gadis itu bersikap acuh tak acuh dan hanya tertawa.

Oey Yong merasa sangat sedih dan kasihan kepada gadis bodoh itu. Ia yakin gadis itu memiliki hubungan dengan Kiok Leng Hong, mungkin kerabat atau murid dari kakak seperguruannya tersebut. Ia juga tidak tahu apakah gadis itu sudah bodoh sejak kecil atau baru saja mengalaminya akibat gangguan saraf otak. Tadinya ia berniat mencari informasi di desa itu, tetapi karena Ciu Pek Thong terus mendesaknya, ia terpaksa mengalah.

Maka mereka berempat pun pergi menuju ke kota. Ang Cit Kong tetap naik di dalam kereta. Kota Lim-an adalah Kota Hangciu yang terkenal indah. Kota ini dijadikan ibu kota karena pemerintahan Dinasti Song telah berpindah ke selatan.

Oey Yong berempat memasuki pintu gerbang timur kota. Ang Cit Kong mendesak untuk segera pergi ke istana kaisar, karena itu mereka menuju ke Pintu Gerbang Lee-ceng-mui. Ciu Pek Thong bertiga memandangi istana yang megah, berukir, bergambar, serta dilapisi cat merah dan sepuhan emas. Atapnya ditutupi dengan genting kuningan yang berkilauan, serta dihiasi ukiran naga dan burung hong.

"Bagus!" seru Pek Thong kagum. "Mari kita masuk!"

Di depan istana terdapat prajurit pengawal. Mendengar keributan itu, mereka melihat seorang tua dan sepasang muda-mudi yang mengiringi kereta keledai. Empat di antaranya segera maju mendekat untuk menangkap mereka. Para pengawal itu semuanya memegang kapak.

Ciu Pek Thong yang jenaka merasa gembira sekali. Tanpa memedulikan tubuh lawan yang kekar dan wajah yang garang, ia bersiap maju untuk meladeni mereka.

"Jangan!" cegah Oey Yong. "Mari kita lekas pergi!"

"Takut apa?!" mata Ciu Pek Thong terbelalak. "Mana mungkin mereka bisa mengalahkanku?"

"Jika kamu tidak mau mendengarkanku, lain kali aku tidak akan memedulikanmu lagi!" kata Oey Yong, yang langsung mencambuk keledai hingga keretanya melaju cepat ke arah barat. Kwee Ceng segera menyusulnya.

Ciu Pek Thong juga takut ditinggalkan sendirian sehingga tidak bisa ikut jalan-jalan. Ia pun bergegas menyusul, meninggalkan keempat pengawal gerbang tersebut. Para pengawal itu tidak mengejar, melainkan hanya tertawa terbahak-bahak. Mereka mengira rombongan itu hanyalah orang-orang desa yang udik.

Oey Yong melarikan keretanya ke tempat sepi yang jarang dilewati orang, lalu berhenti di sana.

"Mengapa kita tidak menerobos masuk saja ke istana?" tanya Ciu Pek Thong. "Para pengawal itu hanya kantong nasi, mana mungkin mereka bisa menghalangi kita?"

"Menerobos masuk memang tidak sulit," sahut Oey Yong. "Namun, apakah kita datang ke sini untuk bertarung atau pergi ke dapur istana untuk mencari makanan lezat? Dengan menerobos masuk, kamu hanya akan menimbulkan kegaduhan. Jika demikian, bagaimana kamu bisa mendapatkan Wanyan Ngo-tin-kwee untuk guruku?"

Ciu Pek Thong terdiam, tidak bisa menjawab. "Baiklah, lagi-lagi aku yang salah!" katanya kemudian.

"Memang asalnya sudah salah!" timpal Oey Yong.

"Ya, sudahlah!" kata si tua jenaka itu lagi. Ia lalu berpaling kepada Kwee Ceng dan berkata, "Semua wanita di kolong langit ini galak-galak. Karena itulah Loo Boan Tong tidak sudi menikah seumur hidupnya!"

Oey Yong tertawa. "Kakak Ceng adalah orang baik, tidak akan ada yang bersikap galak kepadanya!" katanya.

"Kalau begitu, apakah aku ini bukan orang baik?"

"Memangnya kamu orang baik? Coba katakan, kamu yang tidak mau menikah, atau gadis-gadis yang tidak sudi menikah denganmu?"

Ciu Pek Thong memiringkan kepalanya dan tidak menjawab.

"Mari kita mencari penginapan terlebih dahulu," sela Kwee Ceng menengahi. "Nanti malam barulah kita menyelinap ke istana."

"Benar," kata Oey Yong. "Setelah Suhu beristirahat di penginapan, aku akan memasak hidangan lezat untuk Suhu santap."

"Bagus, bagus!" puji Ang Cit Kong dengan gembira.

Mereka segera menuju ke Jalan Gie-gay untuk menyewa kamar di Penginapan Kim Hoa. Oey Yong pun langsung pergi ke dapur untuk memasak tiga macam hidangan. Aromanya yang harum seketika tersebar ke mana-mana, membuat orang-orang di penginapan bertanya kepada pelayan tentang koki terkenal mana yang begitu pandai memasak di sana.

Saat waktu makan tiba, Ciu Pek Thong tidak ikut bergabung. Ia merasa dongkol karena dituduh tidak ada wanita yang sudi menikah dengannya. Namun, mereka membiarkannya saja merajuk.

Seusai makan, Ang Cit Kong masuk ke kamar untuk tidur. Kwee Ceng mengajak Ciu Pek Thong jalan-jalan, tetapi si bocah tua nakal itu tetap merajuk.

"Kalau begitu, temani guruku baik-baik di sini," kata Oey Yong sambil tertawa. "Nanti aku belikan beberapa barang bagus untuk mainanmu."

Mendengar itu, kegembiraan si tua jenaka itu langsung bangkit kembali. "Apakah kamu tidak membohongiku?" tanyanya.

"Tentu saja tidak!" janji gadis itu.

Saat melarikan diri dari rumahnya pada musim semi lalu, Oey Yong pernah pergi ke Kota Hangciu yang letaknya cukup dekat dengan Pulau Tho Hoa. Namun, karena khawatir disusul oleh ayahnya, ia tidak berani tinggal lama di sana. Kini, karena memiliki waktu senggang, ia mengajak Kwee Ceng berjalan-jalan ke Danau See Ouw yang terkenal indah.

Meski demikian, Kwee Ceng tampak kurang bersemangat. Oey Yong yang melihat hal itu menduga bahwa sang pemuda sedang mencemaskan penyakit Ang Cit Kong.

Maka ia berkata, "Suhu bilang ada sejenis obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya, hanya saja obat itu sangat sulit didapatkan. Beliau bahkan melarang kita untuk menanyakannya. Bagaimanapun juga, aku akan berusaha keras untuk mendapatkannya demi mengobati Suhu hingga sembuh!"

"Yong-jie, itu bagus sekali!" kata Kwee Ceng gembira. "Apakah kamu yakin bisa mendapatkannya?"

"Aku sedang memikirkan caranya. Sebelum makan tadi, aku sempat bertanya kepada Suhu. Saat beliau hendak memberi tahu, tiba-tiba beliau tersadar dan langsung bungkam. Namun, aku akan mencari cara untuk mengorek keterangan darinya."

Kwee Ceng tahu kekasihnya sangat cerdik, sehingga hatinya menjadi lega. Sambil mengobrol, mereka tiba di Toan-kio (Jembatan Putus) di tepi danau. Ini adalah salah satu tempat terkenal di Danau See Ouw, di mana orang biasanya dapat melihat sisa-sisa salju. Namun, karena saat ini sedang musim panas, yang terlihat hanyalah tanaman teratai dengan bunga-bunganya yang mekar indah di bawah jembatan.

"Mari kita minum di sana sambil memandangi bunga teratai," ajak Oey Yong.

Di tepi danau itu ia melihat sebuah kedai makan kecil yang tampak bersih. Kwee Ceng setuju, lalu mereka berdua berjalan menuju kedai tersebut.

Mereka memesan arak dan beberapa macam hidangan yang lezat. Sambil minum, Oey Yong memandang ke sekeliling. Di dekat jendela timur, ia melihat sebuah papan puisi yang tertutup kain indah. Ia segera mendekatinya, dan ternyata di balik kain itu terdapat tulisan berbentuk syair.

"Syairnya sangat indah," katanya.

"Apa artinya?" tanya Kwee Ceng.

Oey Yong memberikan penjelasan, tetapi pemuda itu tampak tidak tertarik. Ia berkata, "Di ibu kota ini, para pejabat memiliki banyak waktu luang. Mereka hanya tahu minum arak dan bersenang-senang. Tampaknya mereka mengesampingkan urusan negara."

"Memang benar," sahut Oey Yong. "Karena itulah ayahku paling benci kepada orang-orang seperti mereka. Seandainya ayah membaca syair ini, mungkin beliau akan mencari penulisnya untuk menebas tubuhnya menjadi dua bagian."

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar seseorang tertawa dingin dan berkata, "Kalian berdua tahu apa sehingga berani bicara sembarangan di sini?"

Kwee Ceng dan Oey Yong segera menoleh. Mereka melihat seorang pria berpakaian sastrawan yang berusia sekitar empat puluh tahun sedang tersenyum sinis.

Kwee Ceng segera memberi hormat dan berkata, "Saya yang bodoh ini tidak mengerti, mohon Tuan sudi menjelaskannya."

"Tahukah kalian bahwa ini adalah karya tulis istimewa dari Thayhaksu Jie Kok Po dari tahun Sun-hie," kata orang itu. "Kala itu, Kaisar Hauw Cong berkunjung ke sini untuk minum arak. Beliau melihat syair tersebut dan sangat memujinya. Bahkan pada hari itu juga, beliau menganugerahi kenaikan pangkat kepada Jie Kok Po berkat karyanya tersebut. Itu adalah pencapaian luar biasa bagi seorang sastrawan. Jadi, mengapa kalian berdua berani bicara sembarangan?"

"Jadi, karena papan puisi ini pernah dilihat oleh kaisar, pemilik kedai menutupinya dengan kain?" tanya Oey Yong.

"Bukan hanya itu!" kata orang itu sambil terus tertawa dingin. "Coba lihat bagian kalimat 'Besok datang kembali dengan sisa mabuk'. Bukankah ada dua huruf yang telah diubah?"

Kwee Ceng dan Oey Yong memperhatikan dengan saksama. Benar saja, mereka melihat ada dua huruf yang telah diubah.

"Semula Jie Kok Po menulis, 'Besok datang pula dengan membawa sisa arak'. Namun, kaisar mengkritik tulisan itu dan menganggap maknanya terlalu sempit. Beliau lalu mengubahnya, yaitu mengganti kata 'membawa' menjadi 'menyandang' dan kata 'arak' menjadi 'mabuk'. Jika kaisar tidak cerdas, mana mungkin beliau bisa membuat ubahan seindah itu?" Setelah berkata demikian, orang itu menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas kagum.

"Cih, seorang kaisar ternyata begitu gila arak!" seru Kwee Ceng dengan gusar. Ia langsung menendang papan puisi itu hingga roboh dan hancur.

Sejak kecil, Kwee Ceng sering mendengar cerita ibunya tentang kekejaman bangsa Kim. Ia mengira hal itu terjadi hanya karena kelemahan Kerajaan Song di masa lalu. Ia sempat berharap setelah ibu kota berpindah ke selatan, sang kaisar akan giat memajukan negara untuk membalas dendam. Siapa sangka, kaisar justru gila pelesiran. Dalam kemarahannya, ia menghancurkan papan puisi tersebut, lalu menjambak sastrawan itu dan mendorongnya hingga terjatuh ke dalam tempayan arak besar dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas!

"Bagus!" seru Oey Yong gembira.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment