Chapter 204
"Hanya sayang, rahasia kepandaian aku, si pengemis tua, telah terbongkar di hadapanmu...!" Semua orang basah kuyup, dan karena tidak ada pakaian lain untuk berganti, mereka membiarkannya saja.
"Nona yang baik, bagilah sedikit makanan untuk kami," pinta Awyang Hong.
"Sudah beberapa hari kami kelaparan dan kehausan."
"Persediaan makanan di sini hanya cukup untuk kami bertiga," sahut Oey Yong.
"Membagi kepada kalian tidaklah sulit. Hanya saja, setelah itu kami harus makan apa?"
"Kalau begitu, Nona, bagilah sedikit saja untuk keponakanku," kata Awyang Hong lagi. "Kedua kakinya pun terluka, dia tidak akan sanggup bertahan."
"Jika demikian, mari kita bertransaksi," kata si nona. "Ularmu yang jahat telah melukai guruku, dan sampai sekarang beliau belum sembuh. Keluarkan obat penawar bisa ularmu!"
Awyang Hong segera merogoh sakunya dan mengeluarkan dua botol kecil. Ia menyodorkannya kepada si nona.
"Lihatlah sendiri, Nona," katanya. "Botol ini telah kemasukan air, obatnya larut dan habis."
Oey Yong memeriksa kedua botol tersebut yang kini hanya berisi air. Ia menggoyang-goyangkan dan mengendusnya.
"Sekarang, beritahukan saja resepnya," kata Oey Yong kemudian. "Kita bisa mendarat untuk membeli bahan-bahan obatnya."
"Jika aku hanya berniat menipu demi mendapatkan makanan, aku bisa saja menulis resep asal-asalan," jelas Awyang Hong. "Kau pun tidak akan tahu apakah resep itu asli atau palsu. Apakah kau mengira aku sehina itu? Baiklah, aku akan berterus terang padamu. Ularku adalah ular paling luar biasa di kolong langit ini. Bisanya sangat hebat. Siapa pun yang digigit satu kali saja, meski dia orang yang sangat gagah dan kuat, setelah lewat delapan puluh delapan hari, andai tidak mati pun, dia pasti akan cacat dan lumpuh seumur hidup. Lagipula, tidak ada rintangannya bagiku untuk memberikan resep itu kepadamu. Namun, kau harus mengerti bahwa bahan-bahannya sangat sulit dicari. Bahkan, pembuatannya memerlukan musim dingin dan musim panas selama tiga tahun berturut-turut, baru setelah itu obatnya bisa dibuat. Aku sudah mengatakannya, andai kau ingin aku menukar nyawaku dengan nyawa Saudara Cit ini, terserah kepadamu!"
Oey Yong dan Kwee Ceng cenderung memercayai keterangan orang itu. Mereka juga mengagumi ketulusan orang yang tidak takut mati tersebut.
"Yong'er, dia tidak berdusta," kata Ang Cit Kong pula. "Hidup manusia sudah ditakdirkan, karena itu aku si pengemis tua tidak takut apa pun. Bagikanlah makanan kepada mereka."
Oey Yong menjadi sangat sedih, ia hampir percaya bahwa gurunya tidak akan bisa sembuh. Meski begitu, dengan terpaksa ia memberikan sepaha daging kambing kepada paman dan keponakan itu. Awyang Hong menyayat beberapa potong untuk keponakannya, baru kemudian menyayat untuk dirinya sendiri.
Selagi Awyang Hong mengunyah, Oey Yong berkata kepadanya, "Paman Awyang, kau telah melukai guruku. Maka pada pertemuan kedua di Gunung Huashan nanti, kau pasti akan menjadi juara! Karena itu, sekarang aku mengucapkan selamat lebih dulu kepadamu!"
"Itu belum tentu, Nona," ujar See Tok. "Di kolong langit ini, masih ada satu benda yang dapat menyembuhkan penyakit Saudara Cit ini."
Oey Yong dan Kwee Ceng melonjak kegirangan mendengar perkataan itu, sampai-sampai rakit mereka miring sebelah.
"Benarkah itu?" tanya keduanya bersamaan.
Awyang Hong menggerogoti paha kambingnya lalu mengangguk.
"Hanya saja, benda ini sangat sulit didapatkan," sahutnya. "Gurumu pasti tahu benda apa itu."
Kedua murid itu segera menoleh dan memandang guru mereka.
Ang Cit Kong tertawa. "Aku memang tahu, tetapi apa gunanya menyebutkannya?" katanya.
Oey Yong menarik ujung baju gurunya. "Suhu, katakanlah," mohonnya. "Bagaimanapun caranya, kami akan mencarinya sampai dapat! Nanti aku akan meminta bantuan Ayah, dia pasti mau membantu kita mencarinya!"
"Hm!" Awyang Hong mendengus.
"Kenapa bergumam begitu?!" tegur Oey Yong dengan jengkel.
"Dia menertawakanmu karena kau menganggap ayahmu bisa melakukan segalanya," kata Ang Cit Kong. "Asal kau tahu, benda itu ada pada tubuh seseorang. Sekalipun ayahmu yang hebat, dia tidak akan bisa mengambilnya."
Gadis itu heran bukan main. "Seseorang?" tanyanya. "Siapakah dia?"
"Jangan tanya betapa hebatnya ilmu silat orang itu," jelas Ang Cit Kong pula. "Bahkan jika dia tidak memiliki tenaga untuk sekadar menyembelih ayam pun, demi kepentinganku sendiri, aku tidak akan sudi mencelakai orang lain."
"Suhu!" kata si nona yang bertambah heran. "Ilmu silat yang hebat? Oh, aku mengerti sekarang! Bukankah dia Kaisar Selatan, Toan Hong-ya? Suhu, katakanlah, benda apakah itu? Mengapa hal itu bisa merugikan orang lain?"
"Sudahlah, tidur saja," kata Ang Cit Kong singkat. "Tidak usah bertanya lagi, aku melarangmu menanyakannya lagi. Kau mengerti?"
Oey Yong menurut. Ia pergi membaringkan diri. Karena khawatir Awyang Hong akan mencuri makanan mereka, ia mengambil posisi tidur di antara tong air dan perbekalan.
Keesokan paginya, setelah terbangun dan melihat keadaan Awyang Hong serta keponakannya, Oey Yong terkejut. Wajah mereka tampak pucat kekuningan dan bengkak, tubuh mereka pun seperti mengembang. Jelas sekali itu akibat terendam di dalam air selama beberapa hari tanpa makan dan minum.
Rakit dilayarkan dengan dibantu dayung. Kira-kira pukul tiga atau empat sore, di kejauhan tampak garis hitam samar-samar yang berbentuk seperti daratan. Kwee Ceng sangat gembira hingga berseru tertahan. Setelah berlayar lagi selama waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan semangkuk nasi, garis-garis hitam itu kini terlihat jelas sebagai daratan yang sesungguhnya.
Saat itu angin reda dan gelombang tenang, hanya sang surya yang tengah menunjukkan kekuatannya yang dahsyat dengan sinar yang menyorot sangat terik. Selagi yang lain sedang memandang ke arah daratan, mendadak Awyang Hong melompat bangun diiringi gerakan kedua tangannya. Dengan masing-masing tangannya, ia mencengkeram Kwee Ceng dan Oey Yong, sementara kakinya bergerak menotok Ang Cit Kong.
Sepasang muda-mudi ini sangat terkejut. Mereka sungguh tidak menyangka hal itu akan terjadi. Seketika mereka merasakan cengkeraman yang sangat kuat hingga tubuh mereka terasa lumpuh sebelah.
"Apa yang kau lakukan?!" seru keduanya.
See Tok hanya menyeringai tanpa menjawab.
Ang Cit Kong yang tertotok tidak sanggup bergerak, tetapi ia masih bisa berbicara bebas.
"Oh, tua bangka beracun!" katanya sambil menghela napas. "Seumur hidupnya, dia tidak pernah sudi berutang budi pada orang lain. Kita telah berbaik hati menolongnya, tetapi beginilah balasannya. Mana sudi dia hidup bersama kita di dunia ini? Ah, sialnya aku, menolong orang di tengah kegelapan malam, hingga sekarang justru mencelakai kedua anak ini!"
"Bagus kalau kau sudah tahu!" kata Awyang Hong. "Lagipula, Kitab Sembilan Rembulan (*Kiu Im Cin-keng*) sudah berada di tanganku. Mana mungkin aku membiarkan bocah itu hidup lebih lama? Keberadaannya hanya akan membahayakan diriku!"
Mendengar musuhnya menyebut-nyebut *Kiu Im Cin-keng*, tiba-tiba Ang Cit Kong berseru dengan nyaring, "Nouw-jie-cit-liok, hap-kwa-jie, leng-hiat-kiat-pian, peng-to-jin?"
Awyang Hong tertegun. Itu adalah baris kalimat dari kitab *Kiu Im Cin-keng* sebagaimana yang ditulis oleh Kwee Ceng. Ia sendiri tidak dapat mengartikan maksud kata-kata itu, tetapi kini si Pengemis Utara (*Pak Kay*) ternyata bisa menghafalnya.
"Mungkinkah dia mengerti artinya?" pikir Awyang Hong. "Kata-kata itu bisa jadi merupakan kunci rahasia dari *Kiu Im Cin-keng*. Jika sekarang aku membinasakan mereka bertiga, pasti tidak ada orang lain lagi di dunia ini yang memahaminya. Jika benar demikian, percuma saja aku mendapatkan kitab itu."
"Apa artinya itu?" tanyanya kemudian kepada Pak Kay.
"Kun-hoa-cat-cat, soat-kin-hie-pat-tow, bie-jie-bie-jie?" lanjut Pak Kay lagi.
Awyang Hong berpikir keras. Ia cenderung percaya bahwa ucapan si Pengemis dari Utara itu pasti memiliki makna yang mendalam.
Selagi Awyang Hong tertegun diam, tiba-tiba Ang Cit Kong berseru, "Ceng'er, serang!"
Hebat sekali Kwee Ceng. Begitu mendengar perintah gurunya, tangan kirinya menarik, tangan kanannya menyerang, diiringi dengan tendangan kaki kirinya!
Sebenarnya, karena dicengkeram oleh Awyang Hong, Kwee Ceng dan Oey Yong sudah kehabisan akal. Siapa sangka Ang Cit Kong begitu cerdik; ia sengaja meracau untuk memecah konsentrasi lawan, dan taktiknya berhasil.
Kwee Ceng menendang dengan jurus kedua dari kitab *Ie Kin Toan-kut-pian*. Ia menendang dengan gerakan wajar, begitu pula dengan tarikan tangannya untuk membebaskan diri serta serangan susulan yang menyertainya.
Awyang Hong terperanjat. Di atas rakit yang sempit itu, ia tidak dapat bergerak dengan leluasa. Oleh karena itu, sambil tetap memegangi si nona, ia menangkis dan mengelak.
Kwee Ceng tidak menghentikan serangan setelah gebrakan pertamanya; ia langsung merangsek maju secara bertubi-tubi. Ia tahu benar bahwa jika Awyang Hong diberi kesempatan bernapas hingga sempat menggunakan ilmu silat andalannya, yaitu *Kuntauw Kodok*, mereka bertiga tidak akan selamat lagi. Benar saja, See Tok kini terdesak mundur.
Oey Yong pun tidak tinggal diam. Meskipun salah satu tangannya terkunci, ia menggerakkan tubuhnya untuk menabrak si Racun dari Barat.
Tubuh See Tok sama sekali tidak bergeming. Bahkan dalam hati ia tertawa dan membatin, "Gadis kecil ini mencoba menabrakku. Kalau dia tidak terpental ke laut, itu baru hebat!"
Sementara itu, tabrakan si nona tepat mengenai sasarannya.
Benar saja, Awyang Hong sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan malah membusungkan dadanya. Namun mendadak ia merasakan sakit yang amat sangat di dadanya. Baru saat itulah ia tersentak kaget dan teringat bahwa gadis itu mengenakan baju zirah berduri—*joan-wie-kah* dari Pulau Bunga Persik (*Tho Hoa To*).
Posisi Awyang Hong kini berada di tepi rakit, sehingga setengah langkah saja ia mundur, ia akan tercebur. Tidak ada pilihan lain, ia pun melepaskan cengkeramannya, lalu berkelit sambil mendorong.
Seketika itu juga, tubuh si nona terpelanting ke arah laut. Namun, sebelum ia tercebur, Kwee Ceng dengan sigap menyambar dan menarik tangannya, sementara tangan kiri pemuda itu terus melanjutkan serangan beruntun. Segera setelah terbebas, Oey Yong langsung menghunus belatinya untuk kembali menyerang.
Awyang Hong memasang kuda-kuda kokoh di pinggir rakit hingga air laut memercik membasahi kakinya. Betapapun hebatnya kedua muda-mudi itu mendesaknya, ia tetap tidak dapat dipaksa mundur.
Ang Cit Kong dan Awyang Kongcu yang tidak dapat bergerak hanya bisa menyaksikan pertempuran itu. Hati mereka sama-sama terguncang hebat karena mencemaskan keselamatan pihak masing-masing. Mereka pun sangat menyesal karena tidak mampu memberikan bantuan apa pun.