Halo!

Legenda Pendekar Pemanah Rajawali - Chapter 184

Memuat...
Legenda Pendekar Pemanah Rajawali

Chapter 184

Ia berkata, "Aku si pengemis tua, ilmu silatku telah menjadi satu aliran tersendiri. Aku tidak tertarik pada *Kiu Im Cin-keng*; seandainya kitab itu dibeberkan di depan mukaku pun, aku takkan meliriknya! Cuma mereka yang tidak berguna, yang ilmu silatnya tidak karuan, yang ingin sekali mencurinya! Sekarang, katakan kepada pamanmu yang berbisa itu, *Kiu Im Cin-keng* bakal ditulis untuknya agar ia bisa menutup pintu, mengurung diri, dan memahaminya. Sepuluh tahun lagi, biarkan ia muncul kembali untuk menantangku bertarung! Kitab itu memang bagus, tetapi aku tidak menghiraukannya. Lihat saja setelah ia mendapatkan kitab itu, apa yang bisa ia lakukan terhadapku!"

Auwyang Hong berdiri diam di samping pintu, mendengar semua ocehan si pengemis. Ia menjadi girang sekali. Pikirnya, "Ternyata si pengemis bangkotan ini sangat jumawa. Ia sangat mengandalkan kepandaiannya hingga bersedia menyerahkan kitab itu kepadaku; jika tidak, ia tidak bisa dipaksa."

Akan tetapi, Auwyang Kongcu menyangkal. "Paman Ang, kata-katamu barusan keliru sekali!" bantahnya. "Ilmu kepandaian pamanku sudah mencapai puncak kemahiran. Paman boleh pandai, tetapi paman tidak perlu menempel padanya. Untuk apa ia mempelajari *Kiu Im Cin-keng*? Sering pamanku mengatakan kepadaku, ia percaya *Kiu Im Cin-keng* adalah kitab kosong belaka, melulu untuk mendustakan orang. Ia ingin melihatnya untuk menunjukkan bagian yang ngawur itu agar semua ahli silat di kolong langit ini mengetahui kekosongannya. Tidakkah pembeberan itu ada faedahnya untuk dunia persilatan?"

Ang Cit Kong menyambutnya dengan tawa terbahak-bahak. "Ha, kau sedang meniup kulit kerbau apa?" sindirnya. "Anak Ceng, tulislah *Kiu Im Cin-keng* dan serahkan kepada mereka! Jika si bisa bangkotan itu dapat menemui kekeliruan dari kitab itu, nanti aku si pengemis tua akan berlutut dan mengangguk di depannya!"

Kwee Ceng menyahut, lalu Auwyang Kongcu mengajaknya ke dalam gubuk besar. Ia mengeluarkan kuas dan kertas, bahkan menggosok bak tinta sendiri untuk mempersiapkan penulisan kitab mukjizat itu. Kwee Ceng tidak lama belajar tulis-menulis, tulisannya sangat jelek. Sekarang ia harus mengubah susunan kitab asli dan menulisnya dengan sangat perlahan. Ada kalanya ia tidak bisa menulis sebuah huruf dan meminta Auwyang Kongcu yang menuliskannya.

Sampai tengah hari, saat waktu bersantap, kitab bagian atas baru tercatat separuhnya. Selama itu, Auwyang Hong sendiri tidak muncul untuk menyaksikan orang bekerja. Setiap lembar yang selesai ditulis, Auwyang Kongcu membawanya ke ruangan lain di perahu tersebut. Saban menerima tulisan, Auwyang Hong memeriksanya dengan saksama. Ia tidak mengerti isinya, tetapi memperhatikan setiap goresan dan tidak curiga. Ia menduga itu adalah huruf-huruf yang dalam artinya. Ia berpikir, sekembalinya ke See Hek, ia akan memahaminya dengan tekun. Ia percaya otaknya yang cerdas akan mampu menguasai isi kitab itu dan mewujudkan cita-citanya setelah berpuluh-puluh tahun menginginkan *Kiu Im Cin-keng*. Ia tidak memusingkan tulisan Kwee Ceng yang tidak karuan itu; sama sekali tidak terlintas di pikirannya bahwa Kwee Ceng sedang menjalankan ajaran gurunya untuk membuat isi *Kiu Im Cin-keng* menjadi jungkir balik.

Kwee Ceng menulis terus dengan ulet. Ketika cuaca mulai gelap, ia berhasil menulis lebih dari separuh bagian bawah *Kiu Im Cin-keng*. Auwyang Hong tidak menghendaki anak muda itu kembali ke gubuk perahunya untuk berkumpul dengan Ang Cit Kong karena khawatir si pengemis akan berubah pikiran dan menyulitkannya. Masih ada separuh kitab lagi yang berarti ia masih bisa dipersulit. Maka, ia memerintahkan orangnya menyajikan hidangan untuk si anak muda agar ia tetap tinggal tanpa perlu bersantap bersama gurunya.

Ang Cit Kong menanti sampai jam sepuluh malam. Ia mendapati muridnya belum kembali dan hatinya merasa tidak tenteram. Ia khawatir muridnya mendapat masalah jika Auwyang Hong curiga. Diam-diam, ia keluar dari gubuknya. Ia bisa keluar karena tidak ada lagi penjagaan ular. Hanya tak jauh dari pintu, ada dua orang berpakaian serba putih yang berjaga. Tidak sulit baginya untuk melewati mereka. Dengan tangan kiri, ia menyerang ke arah layar hingga orang-orang itu berpaling, lalu ia melompat ke arah kanan dan berhasil lewat.

Dari jendela perahu terlihat sinar terang. Cit Kong menghampiri jendela itu untuk mengintai. Ia melihat Kwee Ceng asyik duduk menulis. Dua nona berpakaian putih berdiri di sampingnya untuk memasang dupa, menuangkan air teh, serta menggosok bak tinta. Muridnya dilayani dengan baik, hal ini membuat hatinya lega. Tiba-tiba, pengemis ini mencium bau arak yang harum sekali. Ia lantas mengawasi dan mendapati arak ditaruh di depan muridnya.

"Si bisa bangkotan sangat pandai menjilat!" pikirnya. "Muridku menulis kitab untuknya, ia menyuguhkan arak jempolan, tetapi untuk aku si pengemis tua, ia menyediakan arak yang tawar seperti air!" Ia jadi ingin mendapatkan arak itu. Pikirnya lagi, "Mestinya si bisa bangkotan menyimpan araknya di dasar perahu. Baik aku meminumnya hingga puas, lalu tahangnya aku isi dengan air kencingku agar ia mencicipinya!" Pengemis tua ini tersenyum puas. Ia sangat ahli dalam mencuri arak. Dahulu di Lim-an, di dalam dapur istana kaisar, ia bisa menyelinap selama tiga bulan dan mencicipi semua arak serta santapan kaisar. Penjagaan istana sangat rapat, tetapi ia bisa datang dan pergi dengan leluasa.

Dengan berjingkat, ia pergi ke bagian belakang. Ia tidak melihat siapa pun di sana. Dengan hati-hati, ia membongkar papan lantai. Berbekal penciumannya yang tajam, ia tahu di mana arak disimpan. Ruang perahu itu gelap, tetapi tidak menghalangi pengemis lihai ini. Ia bertindak hati-hati dan menyalakan api untuk melihat dengan jelas. Di pojok, ia melihat tujuh tahang arak dan girang bukan kepalang. Segera ia mencari mangkuk, memadamkan apinya, dan menghampiri tahang. Saat hendak membuka tutup tahang, ia mendengar langkah kaki dua orang. Langkahnya sangat enteng hingga ia menduga itu adalah Auwyang Hong dan keponakannya. Ia curiga mereka hendak melakukan sesuatu yang licik. Mengapa mereka pergi ke belakang di tengah malam? Ia pun bersembunyi di balik tahang.

Pintu dibuka dan terlihat sinar api. Dua orang itu masuk dan berdiri di depan tahang. Cit Kong tidak dapat melihat, tetapi pendengarannya tajam. Ia mendengar suara Auwyang Hong, "Apakah semua minyak dan belerang di semua ruang perahu ini sudah siap?"

Auwyang Kongcu tertawa menjawab, "Semua sudah siap! Asal api disulut, kapal besar ini akan segera menjadi abu hingga si pengemis tua bangka itu bakal mampus terbakar!"

Cit Kong kaget. "Ah, mereka hendak membakar perahu?" batinnya.

Lalu terdengar lagi suara Auwyang Hong, "Pergi kumpulkan semua gundik yang paling disayangi di dalam ruang. Sebentar kalau si bocah Kwee sudah tidur pulas, ajak mereka ke perahu kecil. Aku sendiri yang akan pergi kemari untuk menyalakan api."

"Ular kita dan mereka yang merawatnya bagaimana?" tanya Auwyang Kongcu.

Auwyang Hong menjawab dengan dingin, "Si pengemis busuk itu adalah jago silat kenamaan, kepala dari suatu aliran. Pantas jika ada orang-orang yang berkorban untuknya."

Setelah itu, keduanya membuka sumbat tahang dan Ang Cit Kong mencium bau minyak. Dari peti-peti kayu, paman dan keponakan itu mengeluarkan banyak bungkusan berisi belerang. Saat minyak dituang, tatal atau serpihan kayu disebar di atasnya. Di atasnya diletakkan palangan kayu untuk menaruh bungkusan belerang. Selesai bekerja, keduanya pergi.

Cit Kong mendengar suara Auwyang Kongcu tertawa, "Paman, lagi satu jam maka bocah bermarga Kwee itu bakal dikubur di dasar laut, setelah itu di dunia ini tinggallah kau seorang yang mengetahui isi kitab *Kiu Im Cin-keng*!"

"Tidak, ada dua!" sahut sang paman. "Mustahilkah aku tidak mewariskannya kepadamu?"

Auwyang Kongcu girang dan mereka menutup pintu. Ang Cit Kong gusar sekaligus kaget. "Kalau bukan karena malaikat menyuruhku mencuri arak, mana aku tahu kekejian dua orang ini?" pikirnya. "Kalau api dilepas, bagaimana kami bisa menyingkir?"

Ia menunggu sampai langkah kaki keduanya menjauh, lalu diam-diam keluar dari tempat persembunyiannya. Ia kembali ke gubuk perahunya dan mendapati Kwee Ceng sudah tidur pulas. Ia hendak membangunkan muridnya, tetapi mendengar langkah kaki di luar pintu. Ia menduga Auwyang Hong tengah mengawasi, maka ia bersuara nyaring berulang-ulang, "Arak yang wangi, arak yang wangi! Mari lagi sepuluh poci!"

Auwyang Hong, yang berada di luar kamar itu, tercengang. "Ah, dia masih saja minum!" pikirnya.

Lalu ia mendengar lagi suara si pengemis, "Tua bangka yang berbisa, mari kita bertempur lagi sampai seribu jurus untuk memastikan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment